
Pada hari yang sudah ditentukan, Pramuja, Zulfikar, Lestari, dan Puspa berangkat menuju Pulau Hantu. Mereka sudah membawa tas berisi pakaian dan perlengkapan lainnya karena akan bermalam selama 3 malam di pulau itu.
Sebuah kapal kayu yang lumayan besar sudah menunggu keempat orang yang belum terikat hubungan cinta itu di dermaga. Seseorang yang bertindak sebagai kapten kapal, mempersilakan mereka untuk naik. Kelihatannya kapal kayu yang mereka tumpangi itu sanggup menampung sekitar 25 orang.
"Mengapa kita tidak berangkat sekarang, Pak?" tanya Lestari ketika mereka sudah naik dan duduk cukup lama, tapi kapalnya belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berangkat.
"Kita harus menunggu satu rombongan lagi, Mbak. Hanya kapal saya yang hari ini akan berangkat ke pulau itu. Rombongan yang lainnya itu memang sudah membooking kapal ini dari jauh hari," terang sang Kapten Kapal.
Tidak beberapa lama, rombongan yang dimaksud akhirnya tiba di dermaga. Mereka membawa begitu banyak barang. Terlihat seperti perlengkapan untuk syuting.
Seorang gadis cantik berjalan anggun menyusuri dermaga. Dia adalah Viola Lavenia, seorang selebritas papan atas. Tampak seorang gadis lain sedang memayunginya. Mungkin dia adalah asisten pribadinya.
Selain Viola dan asistennya, yang menaiki kapal juga ada seorang sutradara spesialis film horor yang terkenal, bernama Jono Azwar beserta beberapa orang kru filmnya. Selain itu juga ada beberapa orang aktris dan aktor. Total keseluruhan anggota rombongan berjumlah 15 orang.
Kapal kayu besar itu mulai bergerak meninggalkan dermaga. Pulau yang dituju terlihat sangat kecil jika dilihat dari jauh. Setelah agak dekat, pulau itu terlihat lumayan besar. Air di sekitar pulau terlihat sangat jernih sehingga terumbu karang dan biota laut yang hidup di dalamnya terlihat sangat jelas. Bibir pantainya juga tidak kalah indah dengan hamparan pasir putih yang lembut dengan gugusan pohon kelapa yang berbaris di sepanjang pantai.
Semua orang mulai bergantian turun dari kapal dan menunggu di dermaga, sementara para kru menurunkan barang bawaan mereka dibantu sang Kapten Kapal.
Setelah semua barang bawaan selesai diturunkan, Kapten Kapal mohon pamit dan berjanji akan kembali 3 hari lagi untuk menjemput mereka.
"Wow, pulau ini benar-benar sangat indah! Aku tidak menyangka kalau pulau seindah ini diberi gelar sebagai pulau hantu." Viola berseru gembira.
"Aku juga tidak menyangka pulaunya akan sebagus ini. Aku pikir pulaunya akan terlihat gersang dan menyeramkan," sahut seorang pria bernama Wijaya yang juga seorang aktor.
"Pulaunya terlalu indah untuk dijadikan lokasi syuting film horor." Seorang lagi berkomentar. Dia adalah Anita, seorang aktris.
"Jadi kalian akan syuting film horor di sini?" Zulfikar bertanya dengan antusias.
__ADS_1
"Iya, Mas Ganteng! Kami akan syuting film di sini," jawab Anita sambil tersenyum menggoda ke arah Zulfikar.
Puspa yang melihat hal itu menjadi sedikit kesal.
"Huh, sebenarnya dia seorang aktris atau wanita penghibur sih? Gayanya genit sekali!" rutuk Puspa dalam hati.
"Hai, kalian sedang apa di sini?" Viola mendekati Pramuja yang terlihat sibuk mengangkut tasnya dan juga tas Puspa dan Lestari.
"Kami ke sini hanya untuk berlibur." Pramuja menjawab singkat.
"Oh, aku kira kalian sedang berburu hantu di sini, hahaha ..." Viola mencoba bercanda.
"Aku rasa tidak ada hantu di pulau seindah ini." Pramuja tersenyum.
"Ehem!!!" Puspa berdehem sambil menyikut lengan Zulfikar. Sepertinya dia terganggu dengan kelakuan para aktris yang mendekati Pramuja dan Zulfikar.
Zulfikar dengan sigap membantu Pramuja mengangkut barang bawaan mereka menuju villa.
Pulau itu tidak terlalu luas. Jarak untuk mengelilingi pulau hanya sekitar 10 km saja. Penduduknya pun sangat sedikit, tidak sampai 50 jiwa. Mata pancaharian mereka rata-rata sebagai nelayan.
Tatapan dingin langsung dirasakan setiap berpapasan dengan penduduk pulau. Mereka terlihat tidak suka ada orang asing yang berkeliaran di sekitar pemukiman mereka, apalagi dengan orang-orang yang hendak syuting film itu.
"Kalau boleh tahu, apa tujuan kalian kemari?" tanya seorang nenek-nenek yang mencegat rombongan sutradara yang ada di depan.
"Kami akan melakukan syuting sebuah film horor, Nek," jawab sutradara dengan nada bicara sesopan mungkin.
"Film horor? Apa pulau ini sebegitu menyeramkannya? Hahaha ..." Nenek itu tertawa sinis.
__ADS_1
"Saya dengar pulau ini banyak hantunya," celutuk Viola dengan gaya cuek.
"Hantu? Justru orang-orang seperti kalian yang mengundang hantu datang kemari!" Nenek itu terlihat sangat marah. Matanya melotot ke arah rombongan.
"Justru hantu yang mengundang kami datang kemari. Kalau bukan gara-gara gosip di pulau ini banyak hantunya, tidak mungkin pulau terpencil ini dijadikan lokasi syuting. Aku aja ogah kalau disuruh berlibur di pulau ini." Viola menunjukkan ekspresi jijik.
"Ma-maafkan kami, Nek. Kami tidak bermaksud menyinggung Nenek." Asisten Viola yang sedang memayunginya berusaha meminta maaf sambil menarik lengan baju Viola untuk memperingatkan agar atasannya itu menjaga sikap.
"Tidak perlu minta maaf, gadis muda! Temanmu ini kelihatannya sangat sombong sekali. Aku takut dia adalah orang pertama yang diincar hantu itu. Aku harap kalian semua berhati-hati. Semoga tidak ada yang kehilangan nyawa malam ini." Nenek itu berkata dengan dingin. Amarahnya kelihatan mulai mereda. Dia segera berlalu pergi begitu saja.
"Lain kali jaga bicaramu, Viola!" Sutradara mengomeli Viola. Viola hanya cuek dan terus berjalan diikuti asisten yang memayunginya.
"Gadis yang sombong!" maki Puspa dengan ketus.
"Huss ... pelankan suaramu, Kak! Nanti didengar oleh mereka." Lestari mengingatkan.
"Biar saja. Aku tidak takut sama mereka," sahut Puspa.
"Kau terlihat sangat mirip dengan aktris sombong itu, Pus! Mungkin kalian akan sangat cocok untuk berteman, hahaha ..." canda Zulfikar.
Puspa langsung menyikut perut Zulfikar dengan sekuat tenaga. Tapi Zulfikar sudah memprediksi gerakan Puspa. Dia dengan mudah berkelit dari sikutan Puspa.
Pramuja yang sedari tadi diam, sibuk menerawang dengan mata batinnya. Dia merasakan ada hawa mistis yang sangat kuat ketika memasuki pulau itu, terlebih lagi saat bertemu dengan nenek penduduk pulau tadi.
Setelah mencoba menerawang, Pramuja ternyata tidak menemukan apa-apa. Tidak ada penampakan mahkluk halus dalam penerawangan mata batinnya. Itu benar-benar sangat aneh.
Sementara di sudut lain pulau yang sepi, tampak orang misterius sedang menyeret sesuatu. Yang diseretnya itu adalah mayat seseorang yang entah siapa.
__ADS_1
Sedari tadi dia sudah memperhatikan kapal besar yang datang beserta orang-orang yang turun dari kapal itu. Tentu saja dia memperhatikan dari tempat yang aman sehingga tidak ada seorang pun yang menyadari keberadaannya.
***