
Jika ada seseorang berada di tempat yang tidak seharusnya didatangi orang normal, mungkin dia sedang melakukan suatu kejahatan di sana.
***
Mawar kini duduk di hadapan orang-orang yang penasaran ingin mendengarkan ceritanya. Memang di desanya banyak sekali kejanggalan yang membuat orang menjadi penasaran.
"Mungkin desa ini sudah dikutuk. Tidak pernah ada anak laki-laki yang terlahir di desa ini. Sekarang juga banyak gadis desa yang menghilang secara misterius. Mungkin mereka diculik oleh orang-orang jahat tadi. Aku sendiri tidak tahu dari mana mereka berasal. Sepertinya kali ini aku yang dijadikan mereka target penculikan," keluh Mawar.
"Tapi untuk apa mereka menculik gadis-gadis desa?" Lestari terlihat kebingungan.
"Banyak alasan yang memungkinkan. Bisa jadi mereka menjual para gadis kepada para germo, atau mengambil organ tubuhnya untuk dijual ke pasar gelap." Pramuja memberikan pendapatnya.
"Bisa juga dijadikan tumbal persugihan," celutuk Puspa.
"Kau ini ada-ada saja, Puspa! Di zaman modern seperti sekarang ini, memangnya masih ada yang menganut persugihan?" Zulfikar tertawa geli.
"Bisa saja itu benar, Mas! Beberapa hari lalu, aku melihat ada pria asing berpakaian seperti dukun. Dia pasti melakukan sesuatu di desa ini," ujar Mawar.
"Ah, aku ingat! Lelaki yang kita temui di pinggir hutan itu kan Pramuja? Yang katanya hendak mencari ular itu," seru Zulfikar.
__ADS_1
"Apa? Dia ada dekat hutan terlarang itu? Pasti dia memang mempunyai niat terselubung," kata Mawar yakin.
"Memangnya ada apa di hutan terlarang itu?" tanya Pramuja penasaran.
"Hutan itu dulunya menjadi tempat ritual aliran sesat pemuja iblis. Mungkin iblis itu masih berdiam di sana. Selain iblis, hutan itu juga dihuni banyak mahkluk halus. Warga desa tidak ada yang berani pergi ke sana. Jalan masuk menuju hutan itu sudah tidak pernah dilalui lagi," terang Mawar.
"Apa jangan-jangan aliran sesat itu masih ada dan menculik para gadis untuk dijadikan pengikut, atau bahkan tumbal." Pramuja mencoba menebak-nebak.
"Itu tidak mungkin, Mas! Pemimpin aliran itu sudah lama meninggal. Pengikutnya juga sudah tidak ada lagi. Desa ini di kutuk mungkin karena dosa para penganut aliran sesat itu," kata Mawar lagi.
"Apa mungkin orang-orang yang menculikmu itu adalah penganut aliran sesat itu?" Pramuja mencoba mencari kemungkinan lain.
"Sebaiknya kau tinggal di sini saja bersama kami. Aku takut orang-orang itu masih mengincarmu. Kau boleh meminta izin dulu kepada orang tuamu untuk tinggal sementara di sini," tawar Lestari.
Mawar terlihat tertunduk lesu. Ada kesedihan terpancar dari wayah ayunya.
"Ada apa, Mawar?" tanya Lestari.
"Orang tuaku sudah meninggal. Aku tinggal sendiri saja di desa ini. Mungkin itu sebabnya para penculik itu datang ke rumahku dan berusaha membawa paksa diriku," ungkap Mawar.
__ADS_1
"Sudahlah, tidak usah bersedih! Kau boleh menganggapku sebagai saudaramu," hibur Lestari.
Mawar tersenyum sambil mengucapkam terima kasih kepada Lestari.
Setelah menemukan solusi untuk Mawar, Pramuja dan Zulfikar pamit untuk kembali ke villa mereka sendiri.
Saat sedang dalam perjalanan menuju villa, ekor mata Zulfikar menangkap gerakan mencurigakan dari balik semak-semak.
Zulfikar berlari ke arah semak-semak yang mencurigakan itu. Terlihat seseorang kabur saat menyadari persembunyiannya telah ketahuan.
"Sudahlah Zul, tidak usah dikejar!" seru Pramuja karena sudah memperkirakan kecepatan Zulfikar tidak akan sanggup mengejar pria aneh yang sudah kabur duluan itu.
"Hei, bukankah orang itu sangat mirip dengan pria yang kita temui di pinggir hutan? Aku memang tidak bisa melihat wajahnya tadi, tapi pakaiannya itu jelas sekali mirip pria aneh yang kita temui di pimggir hutan," ujar Zulfikar.
"Aku juga berpikir begitu saat melihatnya sekilas tadi," sahut Pramuja.
Pramuja dan Zulfikar saling berpandangan seolah-olah mempunyai pemikiran yang sama. Mereka meyakini bahwa pria aneh yang mereka temui di dekat hutan terlarang itu, ada hubungannya dengan misteri yang menyelimuti desa itu.
***
__ADS_1