
Pramuja dan Lestari terlihat cemas menunggu di depan kamar operasi sebuah rumah sakit.
Puspa sedang dioperasi dan Zulfikar akan dioperasi setelahnya. Rumah sakit yang mereka datangi memang hanya mempunyai sebuah kamar operasi saja.
Tubuh Puspa diseret keluar dari kamar operasi.
"Bagaimana, Dok?" tanya Lestari cemas.
"Kami sudah mengeluarkan peluru dan menjahit lukanya. Untung saja, peluru itu meleset dari jantungnya. Lebih beruntung lagi, peluru itu tidak mengenai daerah vital lainnya. Keadaan pasien sangat stabil, tinggal menunggu dia sadar saja." Sang Dokter memberikan penjelasan.
Dokter itu kembali masuk untuk mengoperasi Zulfikar.
"Kau pergi saja bersama Puspa. Saat dia sadar, kau harus ada di sisinya. Biar aku sendiri saja yang menunggu Zulfikar," kata Pramuja.
Lestari hanya mengangguk dan pergi mengikuti para perawat mendorong ranjang yang membawa Lestari ke kamar rawat inap.
Selang beberapa jam, Zulfikar juga telah selesai dioperasi. Pramuja mengikuti para perawat yang membawa tubuh Zulfikar ke ruang rawat inap. Zulfikar ditempatkan di kamar yang bersebelahan dengan Puspa. Pramuja dengan setia menunggu sampai Zulfikar tersadar dari obat yang membiusnya.
"Di mana aku?" tanya Zulfikar lemah saat perlahan mendapatkan kesadarannya.
"Kau ada di kamar rumah sakit, Zul! Kau habis menjalani operasi tadi. Lukamu itu cukup parah dan menyebabkanmu kehilangan banyak darah. Kau harus banyak beristirahat. Aku akan menghubungi kedua orang tuamu," ujar Zulfikar.
"Jangan, Pram! Jangan beritahu orang tuaku. Aku tidak ingin mereka khawatir," pinta Zulfikar.
"Baiklah kalau itu maumu. Tapi aku sarankan, kau memberitahu mereka ketika kau sudah pulang dari rumah sakit nanti. Tidak baik menyembunyikan hal seperti ini dari orang tuamu." Pramuja menasihati.
"Puspa ... di mana Puspa?" tanya Zulfikar.
"Dia ada di kamar sebelah. Dia juga habis menjalani operasi. Aku sangat menyesal memberitahumu bahwa dia mengalami luka tembak akibat melindungiku," sahut Pramuja.
"Apa maksudmu?" tanya Zulfikar seolah tidak percaya.
"Saat kami terdesak, ada sekelompok orang misterius berpakaian ninja yang datang dan membantai para pembunuh itu. Mereka juga hendak membunuhku, tapi Puspa malah menjadikan tubuhnya sebagai tameng sehingga dialah yang ditembak oleh salah seorang ninja yang menodongkan pistol." Pramuja menceritakan kejadian yang telah dialaminya.
"Syukurlah kalau dia masih mempunyai hati nurani," gumam Zulfikar.
"Mengapa kau berkata seperti itu?" tanya Pramuja yang mendengar gumaman Zulfikar.
"Entahlah, Pram. Aku merasa kalau dia bukan gadis biasa. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu," Zulfikar mengungkapkan kecurigaannya.
__ADS_1
"Jujur, aku juga merasa kalau dia ada hubungannya dengan kelompok berpakaian ninja itu. Dan sepertinya, mereka bukanlah orang baik." Pramuja mengutarakan pendapatnya.
"Entah apa yang disembunyikan oleh Puspa. Tapi satu hal yang aku yakini, dia tidak akan berbuat jahat dengan kita." Zulfikar berkata dengan yakin.
"Mengapa kau berpikir begitu?" Pramuja tersenyum, sepertinya dia mempunyai pendapat lain.
"Karena dia rela mengorbankan nyawanya untuk melindungimu, Pram! Kau berhutang budi padanya." Zulfikar mengingatkan Pramuja.
"Oke, aku akui itu. Sudahlah, jangan memikirkan hal yang macam-macam dulu. Beristirahatlah!"
Jam di dinding menunjukkan pukul 2 pagi. Pramuja menarik selimut untuk menutupi tubuh Zulfikar, lalu keluar untuk mencari udara segar.
Dia mengintip ke kamar tempat Puspa dirawat. Terlihat Lestari sedang tertidur di kursi dengan setengah badan yang bertumpu pada ranjang.
Pramuja masuk dan membetulkan selimut Puspa. Dia juga menyelimuti tubuh Lestari dengan jaketnya.
Pramuja beralih ke ranjang di sebelah ranjang Puspa. Ranjang itu dipisahkan oleh sebuah tirai panjang. Pramuja menyibak tirai dengan hati-hati. Tampak Viola juga sedang terbaring di ranjang. Dia memang mengalami luka robek akibat terkena pecahan kaca jendela. Walaupun tidak terlalu parah, dia tetap memaksa untuk ikut dirawat di rumah sakit itu.
Pramuja juga membetulkan selimut Viola. Asistennya tidur di lantai beralaskan tikar yang memang sudah ada di situ. Mungkin itu bekas keluarga pasien sebelumnya yang tertinggal.
Di pojok kamar, tampak hantu yang mengikuti Viola selama di pulau sedang berdiri sambil memandang ke arah Viola yang sedang tertidur.
Pramuja menyusuri koridor rumah sakit yang sepi. Sepertinya rumah sakit itu bangunannya sudah sangat tua. Suasana angker langsung menyelimuti Pramuja. Dia merasakan ada kehadiran mahkluk lain di sekitar situ.
Entah dari mana asalnya, ada seorang perawat yang sudah berdiri di belakang Pramuja. Wajahnya pucat dan pakaiannya lusuh. Dia berjalan pincang sehingga Pramuja sadar ada seseorang yang mengikutinya di belakang.
"Siapa kamu?" tanya Pramuja saat berbalik untuk mencari tahu siapa yang sedang mengikutinya.
"Hihihihi ...." Perawat itu tertawa dengan menyeramkan.
"Kembalilah ke alammu! Tempatmu bukan di sini!" Pramuja mengusir hantu perawat itu.
Tiba-tiba wajah hantu itu menjadi sedih.
"To-tolong aku ..." Hantu perawat itu berkata lirih.
"Ada apa denganmu?" tanya Pramuja penasaran.
"A-aku dibunuh ..." jawab hantu perawat itu dengan terbata.
__ADS_1
"Siapa yang membunuhmu?" tanya Pramuja lagi.
Hantu itu melihat sosok sedang berjalan ke arah Pramuja. Dia segera menghilang.
Pramuja celingak-celinguk mencari keberadaan hantu tadi.
"Ada apa, Mas? Apa Mas sedang mencari sesuatu?"
Sosok manusia yang tadi dilihat hantu itu menyapa Pramuja.
"Tidak mencari apa-apa kok. Saya hanya sedang berjalan-jalan saja," sahut Pramuja.
"Sudah lewat tengah malam, Mas. Sebaiknya Mas kembali saja ke kamar. Apa Mas tidak pernah mendengar gosip tentang rumah sakit ini?" tanya wanita cantik yang berpakaian seperti seorang dokter itu.
"Ada apa memangnya, Dok?" Pramuja balas bertanya.
"Rumah sakit ini bangunannya sudah sangat tua. Kalau malam, kabarnya sering terlihat penampakan mahkluk halus. Rumah sakit itu sering juga disebut masyarakat sebagai rumah sakit angker," terang sang Dokter.
"Kalau begitu, mengapa Dokter berkeliaran di sini? Apa Dokter tidak takut?" selidik Pramuja.
"Hahaha ... saya bekerja di sini dan hari ini mendapat giliran sebagai dokter jaga. Saya sudah terbiasa dengan lingkungan rumah sakit ini." Dokter itu tersenyum ke arah Pramuja.
"Baiklah kalau begitu, saya akan kembali ke kamar." Pramuja bermaksud pergi.
"Tunggu! Namaku Indah Hartati, biasa dipanggil, Dokter Indah. Siapa nama Mas?" tanya Dokter Indah.
"Pramuja," jawab Pramuja singkat.
"Siapa yang sakit?" tanya Dokter Indah.
"Teman-teman saya," jawab Pramuja.
"Oh, Mas ini yang dari pulau hantu itu ya?" Dokter Indah memang mengetahui kalau ada orang-orang yang selamat dari pembantaian di pulau hantu, sedang dirawat di rumah sakit itu.
"Iya." Pramuja lagi-lagi menjawab dengan singkat.
Dia segera berpamitan dengan Dokter Indah. Entah mengapa, dia merasa sangat tidak nyaman berhadapan dengan dokter cantik itu. Seperti ada suatu aura gelap yang sedang menyelimutinya.
***
__ADS_1