
Kau selalu ... kurasa ... hadirmu ...
Antara ada dan tiada ...
***
Udara malam berhembus, menerpa lorong rumah sakit yang sepi. Dengan perlahan, Pramuja mendorong kursi roda yang diduduki Zulfikar.
"Kau yakin jalannya lewat sini? Sepertinya kita tersesat," keluh Zulfikar.
"Entahlah, aku juga tidak tahu kenapa bisa sampai membawamu kemari. Aku hanya mengikuti insting," jawab Pramuja.
"Terakhir kita mengikuti instingmu, kita malah masuk jebakan para mafia dan harus berhadapan dengan maut," seloroh Zulfikar.
"Oke, kuakui waktu itu aku sudah salah perhitungan. Tapi sekarang, entah mengapa aku merasa lebih peka," ujar Pramuja.
Tiba-tiba di ujung lorong yang gelap, Pramuja melihat sesosok tubuh seorang wanita.
"Hei, di sana ada orang! Mungkin kita bisa menanyakan jalan menuju pintu keluar." Pramuja menunjuk ke arah sosok wanita yang dilihatnya.
"Jangan bercanda, Pram! Aku tak melihat seorang pun di sana." Zulfikar keheranan.
"Di sana ada seorang wanita bergaun putih. Masak kau tidak melihatnya?" tanya Pramuja keheranan.
"Aku serius! Aku betul-betul tak melihat seorang pun di sana," keluh Zulfikar.
__ADS_1
Pramuja berjalan sambil mendorong kursi roda Zulfikar ke arah sosok wanita itu. Wanita itu hanya menatap Pramuja dengan tatapan sedih.
"Permisi Mbak, apa Mbak tahu jalan menuju pintu keluar rumah sakit ini?" tanya Pramuja kepada wanita itu.
Wanita itu tak menjawab, hanya memasang wajah sedih.
"Kau sedang ngomong sama siapa, Pram?" bisik Zulfikar.
"Dengan Mbak di depan kita. Masak kamu tidak lihat?" kata Pramuja.
"Aku tidak melihat siapa-siapa. Aku bersumpah!" ujar Zulfikar.
"Ini sangat aneh sekali," desah Pramuja.
"Sejak kapan aku bisa melihat hantu? Kau ini ada-ada saja, hahaha ..." Pramuja tertawa geli.
"Tolong aku ... Aku sudah dibunuh ... Tolong selamatkan anakku! Anakku bersembunyi di dalam lemari dan sepertinya dia terkunci. Mungkin aku yang mengunci lemarinya, agar anakku selamat dari para perampok itu," kata wanita itu lirih.
"Jadi kamu sudah mati?" Pramuja keheranan.
Wanita itu hanya tersenyum dingin. Dia berjalan menuju ke sebuah ruangan di ujung lorong.
Pramuja mendorong kursi roda Zulfikar, mengikuti wanita itu.
"Hei, Pram! apa benar kau sedang melihat hantu?" bisik Zulfikar.
__ADS_1
"Kalau kau tidak bisa melihat wanita itu, berarti dia benar-benar seorang hantu," kata Pramuja tenang. Entah mengapa dia tidak merasa takut dengan sosok hantu wanita itu.
"Kau mungkin mendapat kemampuan itu setelah mengalami mati suri. Tapi, apa kamu yakin mau mengikuti hantu itu? Apa itu tidak berbahaya?" bisik Zulfikar.
"Aku yakin hantu itu tidak jahat. Dia sepertinya membutuhkan pertolongan kita," kata Pramuja yakin.
Sosok hantu wanita itu berhenti di sebuah ruangan di ujung lorong. Ruangan itu bertuliskan ... KAMAR MAYAT.
Pramuja membawa Zulfikar masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Hei, mau apa kita ke sini?" tanya Zulfikar tanpa rasa takut. Sebagai seorang anggota intel, tentu hal yang sangat biasa masuk ke dalam kamar mayat.
Wanita bergaun putih itu sudah berdiri di lemari penyimpanan mayat. Matanya memandang ke arah salah satu laci.
Pramuja menarik laci yang berisi sesosok mayat wanita. Wajah mayat itu sangat mirip dengan sosok wanita yang berdiri di sampingnya.
"Ini wanita itu. Dia benar-benar sudah mati," kata Pramuja.
"Kita harus menghubungi petugas kamar mayat, untuk mendapatkan informasi dari mayat ini," usul Zulfikar. Dia sangat mempercayai kata-kata Pramuja.
Pramuja benar-benar telah mempunyai kemampuan khusus untuk berhubungan dengan dunia gaib. Dia bahkan diberi petunjuk suatu kasus, oleh hantu yang baru ditemuinya.
***
__ADS_1