Detektif Horror

Detektif Horror
Bab 37 - Kenyataan Tak Terduga


__ADS_3

Pramuja kembali ke rumah di mana semua orang sedang berkumpul. Saat hendak masuk, dia melihat sosok mahkluk halus sedang mengintip di jendela. Itu mahkluk halus yang sama dengan yang mengikuti di belakang Viola, waktu Viola menyapa Pramuja tadi.


"Mau apa kamu di sini?" tanya Pramuja ke arah sosok mahkluk halus itu.


Mahkluk halus itu hanya menyeringai dengan menyeramkan.


"Pergi!" usir Pramuja.


Mahkluk halus itu pun menghilang setelah diusir Pramuja.


"Bagaimana, Pram? Apa kau sudah menemukan petunjuk?" tanya Zulfikar tidak sabar.


"Ya begitulah. Aku sebenarnya sudah mencurigai seseorang, tapi aku harus menemukan bukti untuk mematahkan alibinya," ujar Pramuja.


"Siapa pembunuhnya? Cepat katakan!" Wijaya terlihat tidak sabar.


"Mengapa kau sangat tidak sabar sekali, Tuan Pembunuh?" Pramuja tersenyum ke arah Wijaya.


"A-apa maksudmu? Jangan menuduh sembarangan!" Wijaya terlihat panik.


"Itu benar, Mas! Bukankah kami dan Mas sendiri yang membuktikan alibi Wijaya?" kata salah seorang kru.


"Aku memang bisa memastikan kalau tidak ada seorang pun yang keluar masuk dari pintu depan rumah sutradara, tapi aku tidak bisa memastikan jika ada yang keluar masuk dari jendela belakang rumah sutradara." Pramuja berkata dengan tenang.


"Jadi pembunuhnya lewat jendela? Bukankah justru Anita dan asistennya Viola yang paling memungkinkan untuk menjadi pembunuhnya? Karena mereka pergi ke rumah penjaga vila. Bukankah ada akses jalan lewat samping dan belakang rumah ini?" Aktris figuran mengutarakan pendapatnya.


"Itu tidak mungkin, karena posisi dapur di rumah ini ada di area belakang dekat dengan jendela. Jika ada orang lewat, tentu Puspa dan Lestari yang sedang memasak akan menyadarinya. Lagipula waktu untuk pergi dan kembali dari rumah penjaga vila tidak akan cukup jika ditambahkan waktu untuk membunuh. Mereka tentu tidak secepat itu melintas di hadapanku," bantah Pramuja.

__ADS_1


"Berarti hanya Wijaya yang mempunyai waktu lebih untuk membunuh? Tapi dia berada di dalam toilet cukup lama. Itu dibuktikan oleh seorang kru yang memastikan pintu toilet benar-benar terkunci," kata salah seorang kru.


"Pintu toiletnya memang terkunci, tapi apa Wijaya benar-benar ada di dalam? Aku menemukan kunci toilet tergantung di sisi dalam pintu. Bisa saja Wijaya menggunakan kunci itu untuk mengunci pintu toilet dan pergi lewat jendela belakang," ungkap Pramuja.


"Bagaimana dia melewati belakang rumah yang ditempati para aktris? Bukankah dia akan ketahuan seperti Anita dan asistennya Viola jika melewati belakang rumah ini?" Seorang kru yang lain bertanya.


"Apa kalian tidak menyadari kalau letak ruangan setiap rumah berbeda-beda? Mungkin kalian tidak menyadarinya karena melihat desain luar deretan rumah ini yang sama persis. Tidak seperti dapur di rumah kami, dapur di rumah yang ditempati para kru dan rumah yang ditempati para aktris berada di samping, bukan tepat di belakang. Tentu saja dia akan sangat mudah lewat belakang tanpa dilihat orang-orang yang sedang memasak. Setelah selesai membunuh, dia kembali lagi ke rumah para kru seolah-olah tidak terjadi apa-apa." Pramuja kembali mengungkapkan analisisnya.


"Walaupun Wijaya mempunyai kelemahan pada alibinya? Tapi dia sama sekali tidak punya motif membunuh sutradara. Hubungan mereka baik-baik saja. Justru Anita yang mempunyai motif paling kuat karena dia punya hubungan gelap dengan sutradara yang sudah beristri itu," tuding aktris figuran yang sedari tadi sibuk mencela Anita.


Mata Puspa melotot ke arah aktris figuran yang tadi sempat diancamnya itu. Membuat sang Aktris menjadi menciut.


"Itu benar, Pram! Kondisi mayat saat ditemukan juga tidak memakai sehelai benang pun di tubuhnya. Sepertinya dia sedang bersiap untuk melakukan hubungan suami-istri." Zulfikar mengungkapkan pendapatnya.


"Yah, kau benar sekali Zul. Dia memang hendak melakukan hubungan badan. Bukan dengan Anita, melainkan dengan Wijaya." Pramuja mengungkapkan hal yang tak terduga.


"Mungkin Wijaya sudah tidak tahan lagi dengan sutradara sehingga membunuhnya. Tangan mayat yang terikat dan mulut korban yang tersumpal itu membuktikan kalau itu perbuatan seorang pria. Kekuatan Anita atau asistennya Viola tidak mungkin bisa melakukan hal itu." Zulfikar berpendapat.


"Kau salah Zul. Dia tidak diikat paksa oleh Wijaya, tapi dia merelakan dirinya sendiri untuk diikat. Kalau dia dipaksa, tentu sprei, bantal, guling, atau selimut yang ada di atas ranjang sudah acak-acakan akibat perlawanan. Buktinya semuanya masih rapi," bantah Pramuja.


"Kalau begitu, wanita tentu juga bisa melakukannya," sahut Zulfikar.


"Kau memang benar. Tapi di sini, hanya alibi Wijaya saja yang cacat," balas Pramuja.


"Yah, apa boleh buat ... sepertinya aku sudah tidak bisa berkelit lagi." Wijaya akhirnya mengaku.


"Bagaimana mungkin kau dan sutradara bisa menjadi penyuka sesama jenis?" Anita terlihat bingung.

__ADS_1


"Aku adalah pria normal, Anita. Aku terpaksa melakukannya karena ancaman sutradara itu!" tutur Wijaya.


"A-apa maksudmu?" tanya Anita bingung.


"Aku benar-benar sangat mencintaimu, Anita. Aku tak menyangka kalau kau berani tidur dengan sutradara hanya demi mendapatkan peran. Kau benar-benar membuat hatiku terluka," keluh Wijaya.


"Bukankah sudah berapa kali kujelaskan kalau itu semua hanya gosip karangan orang-orang yang iri kepadaku," bantah Anita.


"Tadinya aku sangat mempercayaimu. Hingga suatu hari, sutradara itu memperlihatkan video dan foto-fotomu sedang teridur tanpa sehelai benang pun. Bukan hanya itu saja, tangan sutradara itu juga menyentuh tubuh polosmu dengan nakal. Mungkin saat kau melayani sutradara itu, kau tidak sadar kalau dia memoto dan merekammu." Wijaya terlihat sedih mengutarakan hal itu.


"Jadi kau mengantikanku untuk melayaninya?" Anita langsung menuding Wijaya.


"Aku tidak bermaksud melakukannya, tapi sutradara itu mengancam akan menyebarkan foto-foto dan videomu. Itu tentu akan menghancurkan karier yang sudah susah payah kau raih sekarang." Mata Wijaya mulai berkaca-kaca.


"Ja-jadi kau melakukan semua ini untukku ... termasuk dengan membunuh sutradara." Anita terduduk lemas. Dia tidak sanggup menerima kenyataan yang sudah tersaji di hadapannya.


"Itu masuk akal kalau dia membunuh sutradara, tapi bagaimana dia membunuh salah seorang kru?" tanya seorang aktris.


"Bukan dia pembunuhnya, tapi ada pembunuh yang lain. Saat kita semua heboh karena mendengar teriakan para kru yang menemukan mayat sutradara, aku melihat sebuah pemandangan aneh. Penjaga vila yang seharusnya datang dari arah sebelah kiri di mana letak rumahnya berada, justru malah datang dari sebelah kanan. Tidak lama ada kru lain datang dari sebelah kanan dan memberitahu temannya sudah tewas terbunuh." Pramuja mengungkapkan apa yang dilihatnya.


"Hei, kemana penjaga vila itu?" Zulfikar menyadari kalau penjaga vila sudah tidak ada di antara mereka.


"Cepat tutup semua pintu dan jendela! Ambil benda apa saja yang bisa digunakan sebagai senjata!" seru Pramuja.


Pramuja mempunyai firasat yang sangat kuat. Firasat itu mengatakan kalau mereka semua sedang dalam bahaya sekarang.


Tidak jauh dari vila, terlihat sorot sepasang mata yang sangat mengerikan. Itu adalah tatapan seorang pembunuh berdarah dingin. Bukan hanya sepasang mata saja, tapi ada banyak pasang mata yang seperti sangat haus dengan darah. Sepertinya mereka sudah bersiap untuk melakukan pembantaian besar-besaran.

__ADS_1


***


__ADS_2