Detektif Horror

Detektif Horror
Bab 34 - Pembunuhan Sang Sutradara


__ADS_3

Deretan vila milik ayahnya Lestari terlihat sangat mewah jika dibandingkan rumah-rumah di pemukiman warga yang mereka lewati. Ada 5 buah rumah yang berderet dengan desain serupa. Tidak jauh dari deretan vila itu, ada sebuah rumah kecil yang ditempati oleh penjaga vila.


Pramuja, Zulfikar, Lestari, dan Puspa, menempati rumah yang terletak di ujung sebelah kiri, sementara 4 rumah sisanya, ditempati oleh sutradara, kru film, beserta para aktris dan aktor.


Viola menempati sebuah rumah seorang diri bersama asisten pribadinya. Rumahnya terletak persis di samping rumah yang ditempati rombongan Pramuja.


Jika rumah rombongan Pramuja terletak di samping kirinya, di samping kanannya adalah rumah yang ditempati sang Sutradara seorang diri. Rumah di samping kanan lagi adalah rumah khusus untuk para aktris dan aktor, sedangkan yang terletak paling ujung ditempati oleh para kru beserta peralatan syuting dan wardrobe mereka.


Sementara rumah penjaga vila, terletak di sebelah kiri rumah yang ditempati rombongan Pramuja.


Syuting akan dimulai besok pagi. Karena hari sudah sore, sutradara memerintahkan rombongannya untuk beristirahat di vila masing-masing. Di dapur setiap vila, sudah tersedia banyak bahan makanan sebagai bagian dari fasilitas vila. Itu membuat para tamu tidak perlu bingung soal urusan makanan.


Di vila mereka, terlihat Puspa dan Lestari sedang sibuk memasak di dapur untuk makan malam. Pramuja sedang asyik duduk di kursi teras sambil memainkan smartphone-nya. Walaupun pulau itu sangat terpencil, sinyal sangat mudah untuk didapatkan karena masih dalam wilayah kepulauan seribu.


Zulfikar sendiri terlihat sibuk bolak-balik teras dan dapur untuk menggoda Puspa.


"Apa kau bisa masak, Pus? Kok aku tidak yakin dengan masakanmu nanti. Aku takut sakit perut jika memakan masakanmu." Zulfikar mengejek Puspa.


"Ya sudah, kau nanti tidak usah makan! Biar Mas Pramuja saja yang makan!" sahut Puspa jutek.


"Begitu saja marah! Jangan marah-marah, Pus! Nanti cepat tua!" ledek Zulfikar lagi.


Puspa mengambil seikat bayam dan melemparkannya ke arah Zulfikar, tapi dengan mudah ditangkap oleh Zukfikar.


"Kau makan saja seikat bayam itu!" ujar Puspa kesal.


"Memangnya aku ini Popaye apa!" dengus Zulfikar.


Lestari hanya senyum-senyum sendiri melihat Puspa dan Zulfikar uang saling menggoda itu.


***


Di rumah yang ditempati sutradara seorang diri, tampak dirinya sedang duduk di ruang tamu sambil melihat foto-foto dan video di ponselnya. Itu adalah foto seorang tanpa busana dan video adegan asusila orang yang ada di foto itu.


Dari arah belakang, tampak sesosok tubuh sedang mengendap-ngendap. Sutradara langsung merasakan kehadiran seseorang di belakangnya.


"Oh, kau sudah datang rupanya. Cepat sekali? Apa kau sudah memastikan datang ke sini tanpa di ketahui siapa pun?" tanya sang Sutradara.


"Eh, iya, tentu saja," jawab orang itu.

__ADS_1


"Baguslah. Kalau begitu, ayo kita mulai!" Sutradara langsung menggiring orang itu ke kamar.


Sutradara melucuti pakaiannya sendiri hingga tak ada sehelai benang pun yang melilit tubuhnya, lalu berbaring di atas ranjang.


"Ayo kemari, sayang!" renggeknya manja ke arah orang itu.


Orang itu maju mendekati sang Sutradara. Sutradara langsung menarik dan mulai menciumnya.


"Aku ingin memberimu kejutan," kata orang itu sambil berlalu pergi dan kembali dengan seutas tali dan kain penyumpal mulut.


"Untuk apa ini, sayang?" tanya sang Sutradara.


"Untuk sensasi yang lebih nikmat," sahut orang itu sambil mulai mengikat tangan sang Sutradara dengan tali.


"Sebentar, aku tadi membawa hadiah untukmu. Benda itu pasti akan membuatmu merasa lebih nikmat," ujar orang itu.


"Cepat ambil barangnya, sayang! Aku sudah tidak tahan!" desah sang Sutradara.


Sebelum keluar, orang itu menyumpal mulut sang Sutradara dengan kain, lalu berjalan keluar kamar untuk mengambil barang yang dimaksud.


Tidak beberapa lama, dia kembali dengan mengenakan jas hujan dan sarung tangan karet. Sebuah pisau sudah terhunus di genggamannya.


"Kau suka bermain kan? Aku akan mengajakmu bermain yang lebih seru!"


Orang itu menghujamkan pisau ke tubuh sang Sutradara. Tidak puas hanya sekali, dia menghujamkan berkali-kali sampai darah sang Sutradara muncrat ke jas hujan yang dikenakannya. Tubuh sang Sutradara mengelepar sebelum akhirnya diam tak bernyawa.


***


Di luar vila, terlihat Viola sedang keluar dan duduk di teras. Karena rumah yang ditempatinya bersebelahan dengan rumah yang ditempati rombongan Pramuja, Viola bisa dengan mudah melihat Pramuja yang duduk sendirian di teras.


"Sendirian saja, Mas?" tanya Viola ke arah Pramuja.


"Eh, iya," jawab Pramuja singkat.


"Aku temanin ya?" tanya Viola sambil memasang wajah manis.


"Tidak perlu. Sebentar lagi aku akan masuk untuk makan malam." Pramuja menolak dengan halus.


Tidak beberapa lama, terlihat asisten Viola baru tiba di depan rumah dengan membawa sesuatu.

__ADS_1


"Oh, kau sudah kembali. Kamu dapat apa yang aku suruh cari?" tanya Viola.


"Iya, ada. Aku tadi habis dari pondok penjaga vila. Aku menemukan barang yang kau cari," jawab asisten sambil naik ke teras dan menyerahkan bungkusan itu kepada Viola.


"Bagus, ayo masuk!" Viola mengajak asistennya masuk ke dalam.


Saat Viola dan asistennya berbalik, Pramuja melihat sesosok mahkluk halus sedang mengikuti mereka dari belakang.


"Tunggu!" seru Pramuja ke arah Viola dan asistennya.


"Ada apa, Mas?" tanya Viola heran.


Sosok mahkluk halus itu menatap Pramuja dengan tajam.


"Tidak ada apa-apa. Kalau kalian ada masalah atau merasa terganggu demgan sesuatu, kalian boleh meminta bantuanku." Pramuja menawarkan.


"Baiklah, Mas, terima kasih." Viola tersenyum, lalu berbalik masuk ke dalam rumahnya diikuti oleh sosok mahkluk gaib itu.


Sementara di rumah yang di tempati para aktris dan aktor, Anita yang datang dengan membawa bungkusan masuk ke dalam rumah.


"Kau habis dari mana Anita?" tanya salah seorang aktris.


"Aku habis dari rumah penjaga vila untuk mendapatkan barang-barang ini." Anita memperlihatkan isi bungkusannya.


Tidak berapa lama, Wijaya juga ikut masuk ke dalam rumah.


"Kau darimana?" tanya Anita.


"Aku tadi mencari udara segar diluar sambil merokok. Aku tahu di sini ada beberapa orang yang tidak suka denga asap rokok, makanya aku merokok di luar. Aku pergi ke rumah sebelah yang ditempati para kru karena di sana juga banyak perokok," ujar Wijaya.


Tidak beberapa lama, kelompok para aktris dan aktor terlihat menikmati makanannya. Begitu pula di rumah yang ditempati Viola, terlihat dia juga sedang makan malam dengan asistennya.


Sementara di rumah yang ditempati para kru, mereka terlihat sudah selesai makan dan sedang mengecek barang-barang. Ada beberapa orang yang sedang asyik mengobrol sambil merokok di teras depan rumah.


Pramuja, Zulfikar, Lestari, dan Puspa juga sedang menikmati makan malam mereka. Terlihat Pramuja dan Zulfikar makan dengan sangat lahap. Sepertinya masakan yang dibuat Puspa dan Lestari itu sangat lezat di lidah mereka.


Di rumah yang ditempati sutradara, tampak seonggok tubuh tak bernyawa terbaring kaku di atas ranjang tanpa sehelai benang pun melilit tubuhnya. Di sekujur tubuhnya terdapat puluhan luka tusukan. Sepertinya orang yang membunuhnya menyimpan dendam dan kebencian yang teramat dalam padanya.


***

__ADS_1


__ADS_2