
Ada mitos yang mengatakan bahwa, apabila seekor kucing hitam melompati jenazah atau mayat, maka mayat orang tersebut akan bangkit kembali.
***
Matahari semakin lama semakin meninggi. Pagi hari perlahan berarak menuju siang. Sudah waktunya jenazah Pramuja untuk dimandikan, disholatkan, kemudian dimakamkan.
Ayah Pramuja dibantu beberapa orang, bersiap mengangkat tubuh Pramuja menuju tempat untuk memandikannya.
Tiba-tiba seekor kucing hitam berlari masuk dan mengeong dengan keras ke arah jasad Pramuja.
"Cepat usir kucing itu! Jangan sampai melangkahi mayat!" seru seorang nenek-nenek.
Memang menurut mitos, jika mayat dilangkahi oleh kucing hitam, bisa menyebabkan mayat itu bangkit kembali.
Orang-orang berusaha memburu kucing itu dengan panik. Kucing itu pun segera pergi menjauh, karena takut disakiti oleh orang-orang itu.
"Sudah ... sudah ... kucingnya sudah pergi. Mari kita angkat jenazah ini!" kata ayah Pramuja.
Belum sempat menyentuh jenazah Pramuja, tiba-tiba saja ada angin berhembus menyeruak masuk ke dalam rumah. Angin itu menerbangkan kain jarik yang menutupi jenazah Pramuja. Dengan sigap, ibunya Peamuja menutupi jenazah anaknya yang telanjang itu.
"Pertanda apa ini? Tadi kucing hitam, sekarang angin. Ya Tuhan, jangan beri cobaan lagi buat kami," isak ibunya Pramuja.
__ADS_1
Jenazah Pramuja tiba-tiba tersentak. Jenazah itu bangkit dan terduduk. Semua orang yang ada di situ menjadi kaget dan ketakutan.
Saat orang-orang berhamburan keluar rumah, Zulfikar serta ayah dan ibunya Pramuja, tetap di tempat untuk menyaksikan apa yang terjadi pada jasad Pramuja.
Dengan susah payah, Zulfikar menggeser duduknya ke samping jasad Pramuja yang terduduk dengan mata yang masih tertutup.
Zulfikar mencoba menyentuh jasad Pramuja. Tubuhnya yang semula dingin dan pucat, mulai terasa hangat.
"Ini aneh sekali. Tubuhnya terasa hangat," ujar Zulfikar keheranan.
Ayah Pramuja pun heran, lalu ikut serta memegangi tubuh Pramuja.
Orang-orang yang semula menjauh ketakutan, perlahan mulai mendekat dan berkerumun di sekitar jasad Pramuja.
Perlahan, jasad Pramuja membuka matanya. Orang-orang memperhatikannya dengan tegang.
"Zul ... aku ada dimana?" Pramuja berkata dengan lemah ke arah Zulfikar yang ada di sampingnya.
"Kau masih hidup, Pram!" Zulfikar memeluk tubuh Pramuja dengan haru.
"Bicara apa kau? Apa kau kira aku sudah mati?" tanya Pramuja keheranan.
__ADS_1
"Apa kau lupa saat tertembak? Kau sudah tewas saat itu. Aku juga heran, kenapa kau bisa bangkit dari kematianmu," ujar Zulfikar keheranan.
"Zul benar, Pram. Lihat sekelilingmu! Bahkan kami tadinya hendak memandikan jenazahmu," terang Ayah Pramuja.
Pramuja mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi pada dirinya. Orang-orang terlihat sudah mulai tenang. Mereka dengan sabar menunggu cerita dari mulut Pramuja.
Pramuja mulai bercerita dengan gamblang. Pramuja ingat saat tertembak, dia tiba-tiba terbangun di sebuah persimpangan lorong yang gelap. Ada dua cabang di lorong itu. Pramuja bingung harus berjalan ke arah mana.
Dari salah satu cabang lorong, ada almarhum kakeknya datang. Dia mengajak Pramuja untuk ikut bersamanya. Lorong itu sangat terang, tapi tidak terlihat ujungnya.
Saat Pramuja hendak berjalan mengikuti almarhum kakeknya, tiba-tiba dari lorong satunya dia mendengar sayup-sayup suara Zulfikar sedang memanggilnya. Tapi lorong itu sangat gelap. Pramuja tidak bisa melihat apapun di sana.
Pramuja memutuskan untuk pergi ke arah lorong yang gelap itu. Dia merasa kalau dia masih harus menyelesaikan misi yang belum selesai bersama sahabatnya, Zulfikar. Akhirnya, Pramuja terbangun dengan keadaan yang sekarang.
Orang-orang mulai mencerna cerita dari Pramuja. Mereka mulai memahami arti dari kejadian bawah sadar yang dialami Pramuja.
"Sepertinya kau sudah mengalami mati suri," kata seorang bapak-bapak paruh baya.
***
__ADS_1