Detektif Horror

Detektif Horror
Bab 12 - Pramuja Dan Lestari


__ADS_3

Pramuja mengambil foto keindahan ladang bunga matahari itu, dengan beberapa jepretan kameranya. Dia benar-benar sangat tertarik dengan desa penuh bunga, sekaligus penuh misteri itu.


Pramuja terus melangkahkan kaki membelah ladang bunga matahari yang luas itu. Dia bermaksud ke sebuah bukit kecil di ujung ladang bunga itu. Dia berpikir mungkin pemandangan dari sana akan lebih bagus. Kamera di tangannya sudah siap dijepretkan apabila menemukan hal yang menarik.


Manik mata Pramuja tertuju pada sesosok gadis cantik yang sedang menikmati suasana ladang bunga itu dari atas bukit. Pramuja segera membidikkan lensa kameranya ke arah gadis itu.


Setelah beberapa jepretan yang diambil secara sembunyi-sembunyi, gadis itu tiba-tiba menoleh. Dia baru menyadari ada orang asing yang diam-diam memotretnya.


"Hei, apa yang kau lakukan?" seru gadis itu. Dia terlihat tidak senang dengan perbuatan Pramuja.


Merasa ketahuan, Pramuja naik ke atas bukit menemui gadis itu.


"A... aku hanya mengambil beberapa foto pemandangan saja," jawab Pramuja gugup.


Gadis itu merebut kamera dari genggaman Pramuja. Dia memeriksa hasil jepretan tadi.


"Ini apa? Ini fotoku kan? Apa aku terlihat seperti bunga matahari?" Gadis itu terlihat kesal.


"Ya, begitulah. Aku pikir kau juga secantik bunga." Pramuja bingung harus berkata apa.


"Dasar gombal!" Gadis itu menggerutu sambil berlalu pergi menuruni bukit yang jalan yang sedikit curam.


Seperti ditarik magnet, Pramuja mengikuti langkah gadis itu.


Merasa diikuti, gadis itu berbalik. Tapi sayang, dia kehilangan keseimbangan dan terpeleset. Dengan refleks, Pramuja berusaha menahannya agar tidak terjatuh.

__ADS_1


Gadis itu menarik lengan Pramuja. Memanfaatkannya sebagai tumpuan. Karena kondisi jalan yang menurun, Pramuja tidak bisa mempertahankan keseimbangannya. Dia terseret oleh gadis itu dan ikut terjatuh. Kedua tubuh yang berlainan jenis itu, kini saling berpelukan terguling jatuh ke bawah bukit.


Pramuja berusaha melindungi tubuh gadis itu. Dia mendekap erat tubuh gadis itu. Wajah gadis itudibenamkan ke dalam dada bidangnya, sementara tangan Pramuja memegangi belakang kepala gadis itu untuk melindunginya dari benturan.


Untungnya bukit itu hanya berupa gundukan tanah yang ditumbuhi rerumputan. Tidak ada lecet sedikitpun pada tubuh gadis itu. Hanya kotor sedikit saja akibat bersentuhan dengan tanah dan rerumputan.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Pramuja cemas.


"Tidak apa-apa. Terima kasih!" Gadis itu dengan canggung melepaskan diri dari pelukan Pramuja.


"Aku minta maaf soal mengambil fotomu tanpa izin." Pramuja terlihat tulus meminta maaf.


"Sudahlah, tidak usah dibahas lagi," sahut gadis itu.


"Aku Lestari. Aku juga seorang turis, bukan warga asli desa ini." Gadis yang ternyata adalah Lestari itu memperkenalkan diri.


"Tari, ayo kita pulang!" Sesosok tubuh wanita cantik, muncul dari rimbunnya ladang bunga.


"Iya, Kak Puspa! Aku juga memang sudah ingin pulang," sahut Lestari.


"Siapa dia?" selidik Puspa dengan tatapan dingin.


"Dia seorang fotografer yang kebetulan sedang bertugas di desa ini." Lestari membantu menjawab.


"Kenapa banyak sekali fotografer di desa ini? Tadi pagi saja ada fotografer kurang ajar yang berani memelukku!" Puspa mengomel.

__ADS_1


"Oh, jadi kalian gadis yang diceritakan sahabatku itu?" Pramuja sepertinya tahu kalau kedua gadis itu adalah gadis yang ditemui Zulfikar sebelumnya.


"Jadi kamu temannya si Pria kurang ajar itu? Tari, jangan dekat-dekat dengan dia!" Puspa menarik lengan Lestari agar menjauh dari Pramuja.


"Siapa yang kau maksud Pria kurang ajar?" Sebuah suara dari arah belakang mengagetkan Puspa.


Zulfikar yang bermaksud hendak menyusul Pramuja, sudah berdiri di belakang Puspa.


"Huh, ternyata kamu lagi! Kamu sengaja ya membuntutiku?" dengus Puspa.


"Jangan GR! Siapa yang membuntutimu?" sanggah Zulfikar.


"Sudahlah Zul, jangan bertengkar dengan wanita." Pramuja menasehati.


"Tuh, dengarkan apa kata temanmu! Kelihatannya dia lebih gantle daripada kamu," cibir Puspa.


"Dasar kamu!" Zulfikar menjadi geregetan.


Pramuja dan Lestari hanya tertawa geli melihat pertengkaran Puspa dan Zulfikar.


"Sebaiknya kita segera kembali ke villa," ajak Pramuja. Yang lain pun menyetujuinya.


Keempat orang itu akhirnya keluar dari ladang bunga matahari. Dari balik semak-semak tidak jauh dari situ, terlihat ada sepasang mata mengawasi dengan tatapan dingin.


***

__ADS_1


__ADS_2