Detektif Horror

Detektif Horror
Bab 8 - Para Gadis Cantik


__ADS_3

Gadis cantik itu, seperti sekuntum mawar yang berduri.


Memang terlihat sangat indah, jika dipandang mata.


Tapi jika tidak berhati-hati memperlakukannya, akan tertusuk oleh duri-durinya yang tajam.


***


Malam hari mulai menampakkan tabir misterinya. Kabut tipis terlihat menyelimuti malam yang diterangi cahaya bulan yang hampir penuh. Terdengar bunyi lolongan anjing bersahut-sahutan, menambah suasana mistis di desa yang penuh dengan bunga itu.


Seorang gadis muda, berlari ketakutan membelah suasana malam. Tampak beberapa sosok tubuh, sedang mengejar gadis muda yang ketakutan itu.


Tidak punya pilihan lain, gadis itu berlari menuju villa di atas bukit.


Pramuja dan Zulfikar, sedang asyik menikmati makan malam. Mereka sama sekali tidak menyadari kalau telah terjadi sesuatu di sekitar villa tempat mereka menginap.


Dari kejauhan, gadis muda itu melihat cahaya lampu dari villa tempat Pramuja dan Zulfikar. Belum sempat dia berlari ke arah villa, dua orang pria bertubuh besar, sudah berhasil mengejarnya. Para pria itu menangkap gadis itu, sambil membekap mulutnya.


Bukkk!!!


Tengkuk salah satu pria, dihantam oleh seseorang. Pria itu seketika pingsan.


Menyadari ada orang yang menyerang mereka, pria yang tersisa mulai mengambil ancang-ancang untuk melawan.


Belum sempat terjadi baku hantam, wajah pria itu disemprot oleh suatu cairan yang menyebabkan tubuhnya lemas, lalu pingsan di samping tubuh temannya yang sudah terkapar.


Gadis muda yang dikejar tadi, tidak tahu siapa orang yang telah menolongnya. Orang itu memakai pakaian serba hitam, topi kupluk rajut, dan mengenakan masker untuk menutupi sebagian wajahnya.


Merasa tidak yakin kalau orang yang menolongnya adalah orang baik, gadis itu memutuskan untuk kabur dari sosok misterius itu.


"Tunggu! Jangan takut! Aku bukan orang jahat," ujar sosok misterius itu, sambil memasukkan spray yang berisi obat bius, ke dalam saku jaket kulitnya.


"Kamu siapa? Apa kau seperti mereka?" tanya gadis muda itu ketakutan.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Siapa mereka? Aku juga tidak kenal dengan mereka," sahut sang orang misterius.


Orang misterius itu melepas masker yang menutupi sebagian wajahnya. Terlihat wajah cantiknya tertimpa sinar bulan yang temaram.


"Kamu seorang perempuan?" tanya si gadis heran.


"Iya. Perkenalkan, namaku Puspa. Aku menginap di villa atas sana." Puspa menunjuk villa besar yang letaknya tidak jauh dari villa tempat Pramuja dan Zulfikar bermalam.


"Aku Mawar. Aku tinggal di desa yang terletak di bawah kaki bukit ini." Mawar balas memperkenalkan diri.


"Ayo kita pergi dari tempat ini secepatnya. Aku takut, kedua orang ini akan segera sadar dari pingsannya. Kau berhutang cerita padaku." Puspa mengajak Mawar pergi ke villa tempatnya bermalam.


Sesampainya di depan villa, Puspa mengetuk pintu dengan agak keras. Terlihat sosok wanita cantik yang lain, mengintip dari balik tirai kaca jendela.


"Loh, Kak Puspa! Siapa dia?" tanya gadis cantik itu.


"Ceritanya panjang, Tari. Nanti aku ceritakan di dalam." Puspa mengajak Mawar untuk masuk ke dalam villa terlebih dahulu.


"Ada apa sih, Kak Puspa? Seperti sedang dibuntuti seseorang saja." Wanita cantik yang bernama Lestari itu, bertanya keheranan.


"Aku memang habis membuat dua orang pingsan. Aku takut, mereka akan mengejar sampai kemari," jawab Puspa enteng.


"Kita di sini untuk liburan, bukan untuk terlibat masalah." Lestari kelihatan khawatir.


"Tenang saja. Kalau terjadi apa-apa, aku akan melindungimu dengan nyawaku sendiri." Puspa terlihat serius.


"Baiklah. Aku harap, Kak Puspa merahasiakan hal ini dari papa. Aku takut papa akan menyuruhku pulang, jika tahu Kak Puspa terlibat masalah. Aku masih ingin pergi melihat desa penuh bunga di bawah bukit sana," pinta Lestari.


"Tentu saja. Papamu menyuruhku untuk menemanimu ke sini. Papamu ingin agar aku melindungimu, jika terjadi apa-apa. Kau sendiri tahu, kalau aku punya kemampuan beladiri." Puspa mengambil air minum di dalam kulkas, lalu menyodorkannya kepada Mawar. Dia membiarkan Mawar untuk menenangkan dirinya sejenak.


"Papa selalu menganggapku seperti anak kecil. Tapi aku senang, Kak Puspa mau menemaniku di sini. Aku merasa suasana di luar sana, sangat menyeramkan ketika malam hari." Lestari bergidik ngeri.


Puspa hanya tersenyum melihat tingkah Lestari.

__ADS_1


Lestari Nandiya Setiawan, adalah anak seorang pengusaha. Papanya adalah pemilik villa yang sekarang mereka tempati. Sedangkan Puspaningrum, adalah orang kepercayaan papanya Lestari.


Sebenarnya, papanya lestari adalah seorang boss mafia yang berkedok pengusaha. Karena terlalu polos, Lestari sama sekali tidak mengetahui sisi gelap dari papanya itu.


Puspa juga sebenarnya adalah seorang anggota mafia yang berkedok sebagai sekretaris di perusahaan papanya Lestari. Dia adalah orang kepercayaan papanya Lestari.


Puspa adalah seorang mesin pembunuh yang terlatih. Wajar saja, jika dia bisa melumpuhkan pria besar tadi, hanya dengan sekali pukulan di tengkuknya. Dia juga sebenarnya bisa mengalahkan pria yang satunya dengan tangan kosong. Hanya saja, dia tidak ingin menimbulkan keributan di sekitar villa yang bisa menarik perhatian Pramuja dan Zulfikar.


"Kau temani Mawar di sini! Aku harus menghubungi papamu untuk memberi kabar. HP-ku ada di kamar, jadi aku akan sekalian menelepon di sana saja." Puspa meminta Lestari menemani Mawar.


"Baiklah, Kak, tolong katakan keadaan di sini baik-baik saja. Aku juga sudah menelepon papa tadi. Aku bilang kalau kita di sini baik-baik saja," pinta Lestari.


Puspa mengangguk tanda setuju, lalu berjalan menuju kamarnya.


"Bagaimana keadaan di sana?" tanya suara dari seberang telepon


"Baik-baik saja Boss. Besok kami akan menuruni bukit untuk melihat-lihat desa bunga di bawah sana," sahut Puspa.


"Tugasmu memang menjaga putriku, tapi kau juga jangan melupakan misi utamamu di sana!" Sang boss mafia mengingatkan.


"Tentu saja, Boss. Aku sudah beraksi mulai malam ini. Aku akan melaporkan perkembangannya nanti," lapor Puspa.


"Baiklah, aku percaya padamu, Puspa. Kau memang tidak pernah mengecewakanku."


Sang boss mafia mengakhiri pembicaran. Puspa mendesah, seperti sedang menghempaskan sebuah beban yang ditanggungnya.


"Kau salah boss! Aku sudah melakukan kesalahan besar. Kau pasti akan kecewa jika mengetahuinya. Tapi tenang saja, aku akan membereskan semuanya." Puspa bergumam. Wajahnya terlihat dingin. Hawa pembunuh, sedang menyelimuti wajah cantiknya itu.


Puspa menghempaskan ponselnya ke atas ranjang, lalu kembali menemui Lestari dan Mawar di ruang tamu dengan memasang tampang lemah lembutnya kembali.


***


__ADS_1


__ADS_2