
Waktu sekarang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Warga yang berkumpul di depan kantor polisi masih saja berteriak-teriak agar polisi menyerahkan Kakek Paimin kepada mereka. Sudah hampir 2 jam mereka menunggu di sana dan masih tidak mau membubarkan diri.
Pramuja dan Zulfikar turun dari mobil dan berjalan melewati kumpulan warga desa yang terlihat sedang marah itu.
AKP. Wijayanto menyambut kedatangan mereka dengan senang. Karena kasus yang ditangani sangat rumit, AKP. Wijayanto terpaksa tidak pulang dulu ke rumah meskipun sudah larut malam.
"Aku sudah mendengar kemampuan kalian dari atasan kalian, AKP. Hendarto. Aku harap kalian bisa menyelesaikan kasus ini secepatnya. Kalian lihat sendiri massa di luar terlihat sangat tidak sabaran bukan?" AKP. Wijayanto menjabat tangan Pramuja dan Zulfikar bergantian.
"Kami akan berusaha semampu kami, Pak!" sahut Pramuja.
Pramuja lalu dipertemukan dengan Kakek Paimin sebagai tersangka utama kasus itu.
"Saya tidak membunuh mereka, Mas! Saya sendiri tidak tahu mengapa mereka bisa tiba-tiba tewas di jalanan tidak jauh dari rumah saya." Kakek Paimin berkata lesu.
"Kalau boleh tahu, apa saja yang mereka lakukan sewaktu di rumah bapak?" tanya Zulfikar.
"Mereka hanya meminta dipijat seperti biasa. Saya juga memakai minyak urut seperti biasa. Tidak ada hal yang aneh, Mas!" jawab Kakek Paimin.
"Apa bapak memberi mereka makan atau minum sesuatu?" tanya Pramuja.
"Tidak ada, Mas! Saya tidak memberi mereka apa-apa. Setelah selesai dipijat, mereka pergi makan di warung dekat rumah saya," jawab Kakek Paimin.
__ADS_1
"Hmmm ... mungkin saja mereka keracunan makanan atau minuman dari warung itu." Pramuja mulai menebak-nebak.
"Kami sudah menyita sisa piring dari warung itu yang belum sempat dicuci. Jika memang keracunan, pasti ditemukan bukti dari piring dan gelas sisa para korban itu." AKP. Wijayanto menjelaskan.
"Kapan hasil autopsi dan test labnya keluar?" tanya Pramuja.
"Besok baru keluar hasil seluruhnya. Tapi hasil dari pemeriksaan gelas minuman dan bumbu di piring bekas makanan korban sudah keluar tadi sore. Tidak ditemukan racun apa-apa. Masih ada beberapa bukti lagi yang harus menunggu hasil lab. Sayangnya, baru saja telah jatuh satu korban lagi. Anak buahku sudah kukirim ke sana untuk membawa mayatnya ke rumah sakit untuk diautopsi," jawab AKP. Wijayanto.
"Aku sangat yakin ini bukan kasus dukun santet, tapi kasus keracunan makanan." Pramuja menduga-duga.
"Aku juga tidak percaya ini kasus dukun santet. Tapi tidak ditemukan racun apapun di sisa makanannya ataupun gelas minumannya. Tinggal minyak urut milik Kakek Paimin yang belum keluar hasil testnya. Karena bahan-bahan minyak urut itu mengandung zat kimia, perlu waktu lebih lama untuk menelitinya." AKP. Wijayanto menimpali.
"Bagaimana kalau kita cari informasi dari warga yang berkumpul di luar?" Zulfikar mengusulkan.
"Apa Mas-Mas ini polisi?" tanya seorang warga.
"Bukan, tapi kami adalah detektif yang dimintai tolong oleh Pak Kapolsek untuk menangani kasus ini," jawab Zulfikar. Mereka memang harus merahasiakan identitas mereka sebagai intel.
"Hah, selotip? Maksudnya apa, Mas?" tanya seorang warga desa dengan polos.
"Huss ... bukan selotip, tapi detektif. Itu loh seperti yang di TV itu. Yang menyelidiki pembunuhan." Seorang warga yang lain meluruskan.
__ADS_1
"Apa ada yang bisa menjelaskan peristiwa gamblangnya?" tanya Zulfikar ke arah warga.
"Pak Kusno dan Pak Paijo itu adalah petani. Sehabis bekerja, mereka pergi ke rumah Kakek Paimin untuk dipijat. Setelah itu mereka makan di warung Mang Engkus. Kebetulan saya juga makan di situ. Tidak mungkin mereka mati keracunan karena saya memakan makanan yang sama dengan mereka," kata salah seorang warga.
"Betul itu! Mereka pasti kena santet! Siapa lagi pelakunya kalau bukan Kakek Paimin! Mereka tewas sehabis dipijat olehnya. Pasti dia sudah mengguna-gunai Pak Kusno dan Pak Paijo saat memijat," tuding seorang warga dengan penuh emosi.
"Tenang dulu, Bapak-Bapak! Kita tidak bisa menyimpulkan berdasarkan asumsi pribadi. Perlu didukung bukti-bukti yang konkret juga." Zulfikar berusaha menenangkan warga yang emosi.
"Kalau korban yang baru saja meninggal itu bagaimana kronologinya?" tanya Pramuja lagi.
"Yang baru saja meninggal tadi itu adalah Pak Slamet. Dia yang memimpin penyerbuan ke rumah Kakek Paimin. Padahal tadinya dia sehat-sehat saja, tapi setelah Pak Paimin dibawa ke kantor polisi, tiba-tiba dia mendadak meninggal." Seorang warga menjelaskan kronologinya.
"Apa dia punya riwayat penyakit jantung?" tanya Pramuja.
"Tidak ada. Dia terlihat selalu sehat. Kan aneh kalau dia tiba-tiba meninggal. Lagipula sebelum dibawa ke kantor polisi, Kakek Paimin sempat disuruh ganti baju sama polisi di dalam rumahnya. Pasti pada saat itu dia menguna-gunai Pak Slamet. Wajar kalau dia marah kepada Pak Slamet, karena Pak Slametlah orang yang pertama kali menuduhnya sebagai dukun santet dan Pak Slamet juga yang mengajak para warga untuk menyerbu rumahnya." Seorang warga menjelaskan dengan lugas.
"Hmmm ... kasus yang menarik. Ada yang bisa mengantarkan kami ke rumah Kakek Paimin? Kami ingin menyelidiki lokasi kejadian." Pramuja meminta bantuan warga.
Salah seorang warga maju mengajukkan diri. Kebetulan dia adalah orang yang pertama kali menemukan mayat para korban.
Sementara warga desa yang lain tetap bertahan di kantor polisi. Mereka tidak bisa pulang dengan tenang sebelum kasusnya terungkap dan pelakunya tertangkap.
__ADS_1
***