Detektif Horror

Detektif Horror
Bab 6 - Kaulah Pelakunya!


__ADS_3

Menyimpan kejahatan, ibarat menyimpan bangkai.


Mau ditutupi serapat apapun, baunya pasti akan tetap tercium.


***


Malam sudah semakin beranjak larut. Suasana di Perumahan Kejora, tampak begitu ramai. Suara sirine ambulance dan mobil polisi, membuat para penghuni perumahan berhamburan keluar. Mereka penasaran dengan apa yang sedang terjadi.


Pramuja segera membawa anak kecil yang digendongnya, ke mobil ambulance yang baru saja tiba. Dia menyerahkan anak itu ke petugas medis untuk ditangani.


"Ada apa ini Pram? Bukankah aku menyuruh agar kau dan Zulfikar mengambil istirahat panjang, sampai kalian benar-benar pulih? Kenapa kalian malah menangani sebuah kasus?" AKP. Hendarto, atasan Pramuja dan Zulfikar, mencecar mereka dengan sederet pertanyaan.


"Saya bisa menjelaskannya nanti, Pak! Kita harus menangkap pelakunya dulu, sebelum mereka kabur," kata Pramuja.


Pramuja segera memasuki mobilnya, lalu melaju dengan kencang. Sementara Zulfikar dan Pak Hendarto, ditinggalkan begitu saja.


"Hei, Pram! Tunggu aku!" seru Zulfikar. Ia meminta seorang petugas polisi untuk membantunya naik mobil dan mengikuti Pramuja. Pak Hendarto pun tidak mau ketinggalan, ikut di mobil yang sama.


Mobil Pramuja sudah sampai di tempat yang dimaksud dengan secepat kilat. Terlihat wajah pucat dari orang yang melihat kedatangannya.


"A... apa anda sudah menemukan pelakunya?" tanya orang itu gugup.


"Tentu saja. Aku dari awal sudah tahu kalau kaulah pelakunya," jawab Pramuja tenang.


Orang itu berusaha menyerang Pramuja, sementara temannya yang seorang lagi berusaha kabur.


Pramuja dengan sigap menghindari serangan orang itu. Dia melancarkan serangan balasan, membuat orang itu tersungkur tak berdaya.


Teman pelaku yang berusaha kabur, sudah berhasil dibekuk oleh petugas yang datang bersama mobil yang berisi Zulfikar dan Pak Hendarto.


"Jadi dua orang satpam ini pelaku sebenarnya dari kasus perampokan, pembunuhan, dan perkosaan wanita hantu itu?" tanya Zulfikar keheranan.


"Bagaimana kau bisa mengetahuinya Pram?" tanya Pak Hendarto penasaran.


"Mereka tanpa sadar, sudah mengakuinya sendiri tadi." Pramuja terkekeh.

__ADS_1


"Kapan aku mengakuinya?" tanya tersangka yang sudah diborgol petugas.


"Orang yang melakukan kejahatan, cepat atau lambat akan mengakui dengan sendirinya." Pramuja tersenyum penuh arti.


"Jangan ngarang! Lepaskan saya! Saya tidak bersalah!" Pria tersangka itu meronta.


Temannya yang mencoba kabur tadi, hanya tertunduk pasrah dengan tangan yang sama-sama terborgol.


"Tolong jelaskan semuanya Pram!" Pak Hendarto sudah tidak sabar. Zulfikar pun mengangguk tanda setuju. Dia juga sangat penasaran.


"Oke! Aku tadi memang mengatakan, bahwa aku ke sini untuk menyelidiki kasus perampokan dan pembunuhan. Tapi, dari mana kau mengetahui kalau korbannya adalah seorang wanita? Aku tidak mengatakan bahwa korbannya seorang wanita," kata Pramuja ke arah pelaku.


"Da.. dari berita. Tentu saja dari berita." Pelaku itu membela diri.


"Itu lebih aneh lagi. Orang yang menemukan mayat, hanya melapor ke polisi. Dia tidak mengambil foto atau video dari mayat korban, apalagi sampai mengunggahnya ke media sosial. Polisi dan wartawan pun, belum ada menurunkan berita itu di media manapun," balas Pramuja tenang.


"A... aku hanya menebaknya saja tadi," kilah pelaku.


"Tebakan yang bagus!" Pramuja memasang sarung tangan karet, lalu menarik paksa tangan pelaku. Dia berusaha melepaskan cincin emas yang melingkar di jari kelingking pelaku.


"Tidak ada apa-apa di cincin itu. Itu hanya cincin kawin milik istri saya." Pelaku itu terus saja berkilah.


"Aneh sekali, jika ada suami yang memakai cincin kawin milik istrinya. Itu bukanlah hal yang biasa. Tolong jelaskan padaku, siapa Aidil ini? Apa dia istrimu?" Pramuja menunjukkan tulisan yang ada di bagian dalam cincin, sambil tertawa mengejek.


"I... itu..." Pelaku sudah kehabisan kata-kata. Dia sudah tidak bisa mengelak, dari bukti kuat yang kini sudah berada di tangan Pramuja.


"Tentu saja namamu bukan Aidil, ini adalah nama suami korban. Bukankah sudah biasa menuliskan nama pasangan di cincin kawin?" kata Pramuja lagi.


Pelaku hanya bisa terdiam. Kejahatannya sudah terbongkar. Dia sudah tidak punya amunisi untuk membela diri.


"Huh, kalian memanfaatkan pekerjaan kalian sebagai satpam. Tentu saja bisa dengan mudah memastikan suami korban sedang tidak berada di rumah. Kalian juga bisa dengan leluasa, masuk ke lingkungan perumahan tanpa dicurigai. Bahkan korban bisa membukakan pintu dengan senang hati, karena terlalu percaya dengan kalian. Kalian juga bisa membawa pergi mayat korban dengan aman, lalu membuangnya di tepi hutan. Kalian juga sudah paham betul letak CCTV, sehingga kalian bisa mengakali agar tidak terekam. Mungkin kalian membawa mayat korban dengan mobil rental," terang Pramuja panjang lebar.


Kedua tersangka pelaku hanya bisa tertunduk lesu.


"Salahnya sendiri melawan dan berusaha kabur. Kalau dia menyerahkan harta dan tubuhnya dengan sukarela, tentu saja dia tidak akan kubunuh," ujar salah seorang pelaku.

__ADS_1


"Wanita itu tidak salah. Dia hanya berusaha mempertahankan harga dirinya." Zulfikar geram. Kalau saja tidak sedang duduk di kursi roda, ingin rasanya dia menonjok wajah pelaku.


Polisi berseragam segera menggiring kedua pelaku itu memasuki mobil patroli. Saat melewati Pramuja, pelaku itu memaksa berhenti. Ia membisikkan sesuatu ke telinga Pramuja.


"Aku tahu anak itu bersembunyi di lemari. Tadinya aku ingin sekalian membunuhnya. Tapi aku putuskan mengunci lemari dan rumah itu. Aku ingin anak itu mati secara perlahan-lahan. Dia akan mati ketakutan dalam kesunyian dan kegelapan."


"Setan alas!!!" Pramuja melayangkan tinju ke ulu hati pria itu. Pria itu meringis sambil tertawa menyeramkan.


"Dasar gila! Nikmati saja hari-harimu di penjara!" ujar Pramuja geram.


"Wah, analisa yang sangat akurat Pram!" puji Pak Hendarto. Dia segera memerintahkan anak buahnya untuk menyeret para pelaku ke kantor polisi.


"Kasihan sekali wanita itu. Tapi untung anaknya selamat," kata Zulfikar.


"Suami korban sudah dihubungi. Dia sedang dinas ke luar kota. Untuk sementara, anak korban berada dalam pengawasan kita," ujar Pak Hendarto.


"Aku masih penasaran, bagaimana kau bisa mengetahui alamat rumah korban. Bukankah kita hanya punya kata Melati, sebagai petunjuk?" tanya Zulfikar.


"Itu sangat gampang sekali Zul. Bukankah Melati dalam bahasa Inggris itu disebut Jasmine? Kau paham kan sampai situ?" Pramuja tertawa geli.


"Astaga! Kenapa tidak terpikirkan olehku! Aku dari tadi hanya mencari nama Melati di daftar nama penghuni perumahan itu." Zulfikar menepuk jidatnya sendiri.


"Hantu itu benar-benar memberi kita petunjuk. Jika bukan karena hantu itu, nyawa anak kecil itu mungkin tidak tertolong." Pramuja melemparkan pandangannya ke arah jalan yang gelap.


Dari kejauhan, tampak sosok hantu wanita bergaun putih. Dia tersenyum ke arah Pramuja, seolah-olah sedang mengucapkan terima kasih. Asap tipis pun perlahan menyelimuti sosok hantu yang semakin lama semakin samar, lalu menghilang tanpa jejak.


"Hei, hantu apa? Apa maksudnya ini? Jelaskan padaku Pram!" Lagi-lagi Pak Hendarto melontarkan pertanyaan beruntun.


"Ceritanya panjang Pak! Bagaimana kalau kita bicara sambil ngopi," ajak Pramuja, disambut anggukan dari Zulfikar.


"Dasar kalian ini!" Pak Hendarto pun mengajak Pramuja dan Zulfikar untuk pergi ke kedai kopi langganan mereka.


***


__ADS_1


__ADS_2