
Malam semakin larut. Suara gemerisik dedaunan dan ranting-ranting pohon yang tertiup angin menambah suasana menyeramkam di hutan terlarang itu.
Sosok Lestari bersama kedua gadis muda yang dibawanya, terus berjalan membelah suasana malam yang mistis.
"Berhenti, Lestari!" seru Pramuja yang sudah menyusul Lestari.
Lestari menghentikan langkahnya karena mendengar suara dari Pramuja.
"Menjauhlah dari gadis itu! Dia sangat berbahaya!" teriak Pramuja.
Lestari menjadi sangat kebingungan. Dia tidak mengerti dengan maksud ucapan Zulfikar.
"Apa maksudnya ini, Mas?" tanya Lestari heran.
Zulfikar dan Puspa yang sudah berhasil memenangkan pertarungan, sudah terlihat berlari ke arah Pramuja.
Di belakangnya tampak segerombolan orang berjubah berjalan terseok-seok. Mereka adalah orang-orang yang sudah dikalahkan Zulfikar dan Puspa.
"Dia tidak diculik siapa pun, tapi dia datang sendiri ke tempat ini dengan sukarela!" Pramuja mulai menjelaskan.
"Apa maksudmu, Mas?" tanya Lestari yang kini sudah berada di belakang Pramuja bersama dengan Zulfikar.
__ADS_1
"Mawar! Dia telah membohongi kalian! Apa kalian tidak merasa ada yang aneh dengan kaca pada bingkai pintu yang pecah itu?" Pramuja melempar sebuah pertanyaan.
"Apanya yang aneh, Mas? Bukankah pelaku sengaja memecahkan kacanya agar bisa meraih kunci yang ada di daun pintu sebelah dalam?" Lestari malah balik bertanya keheranan.
"Pecahan kaca yang berserakan, ada di bagian luar pintu villa. Kalau ada seseorang yang mencoba masuk dari luar dan memecahkan kacanya, seharusnya pecahan kaca yang berserakan itu ada di bagian dalam pintu villa." Pramuja menjelaskan dengan tenang.
"Berarti Mawar yang memecahkan kaca itu dari dalam untuk membuat alibi. Sayangnya dia kurang teliti. Dia malah mengambil kunci dan menaruhnya di lubang kuci pada pintu bagian luar. Itu malah justru membuatnya tampak kontras dengan pecahan kaca yang berserakan di sisi dalam itu." Zulfikar menambahkan.
"Tapi kenapa Mawar melakukan hal itu? Bukankah itu tindakan konyol dengan datang kemari untuk menyerahkan diri sebagai tumbal?" Puspa juga tampak keheranan.
"Kau salah, Puspa! Yang jadi tumbal untuk malam ini adalah, Melati. Kami mengenalnya waktu berpapasan di jalan desa. Dia adalah gadis yang terikat di tiang tadi," kata Pramuja sambil menunjuk ke arah Melati.
"Bukankah Pak Kades pemimpin sekte sesat ini? Bukankah kita tadi sama-sama melihatnya di depan altar sedang menghunus sebilah belati? Terus, untuk apa Mawar datang ke villa kami?" tanya Lestari yang belum bisa sepenuhnya menerima penjelasan Pramuja.
"Pemimpin sekte dengan pemimpin ritual itu mungkin saja berbeda. Aku rasa Pak Kades hanya bertugas sebagai pemimpin ritual saja. Mawar sengaja datang ke vila kalian, tentu saja untuk memata-matai kalian. Dengan keberadaan orang asing di desa ini, akan semakin mempersulit pergerakan sekte mereka. Orang-orang pertama yang mengejar Mawar sampai ke villa adalah orang-orangnya sendiri. Tapi, orang-orang yang hendak menculik Mawar dengan mobil waktu itu adalah orang-orang yang berbeda. Sepertinya mereka mempunyai tujuan lain," terang Pramuja.
"Pantas saja selain kepala desa, aku juga merasa mengenal beberapa orang. Mereka mirip dengan orang yang pernah kulumpuhkan saat menolong Mawar," timpal Puspa.
"Hahaha ... ternyata kalian pintar juga. Aku memang pemimpin sekte Bunga Berdarah ini. Aku adalah satu-satunya penerus yang dipilih oleh Dewi Persefone dan Dewi Dementer, ibunya. Mereka adalah dewi-dewi yang kami sembah. Dengan menyembah mereka, desa ini menjadi sangat subur dengan bunga-bunga indah yang bermekaran." Mawar berkata dengan ekspresi menyeramkan.
"Aku pernah mendengar upacara ritual Yunani Kuno bernama, 'Misteri Eleusina'. Itu adalah upacara ritual yang diadakan setiap tahun untuk memuja Dementer dan Persefone di Eleusis, Yunani Kuno. Tapi kenapa bisa ada ritual semacam itu di Indonesia?" Pramuja keheranan.
__ADS_1
"Ritual ini sudah ada sejak zaman dulu dan diwariskan secara turun-temurun di desa kami. Aku juga tidak tahu siapa yang pertama kali membawa ajaran ini. Yang jelas, aku hanya meneruskan apa yang sudah menjadi takdirku. Apa kau tahu, aku adalah satu-satunya keturunan di desa ini." Mawar berkata dengan lugas.
"Apa maksudmu? Bagaimana dengan melati dan yang lainnya? Bukankah mereka juga keturunan orang-orang di desa ini?" tanya Zulfikar bingung.
"Desa ini adalah desa mandul. Hanya keluargaku saja yang bisa melahirkan anak. Oleh sebab itu, keluargaku dipercaya sebagai pemimpin sekte secara turun-temurun. Gadis-gadis yang ada di desa ini semuanya adalah anak angkat. Orang desa menculik atau memungut mereka dari panti asuhan saat masih bayi dan membesarkan mereka sebagai anaknya. Hanya bayi perempuan saja yang diculik karena ketika sudah dewasa akan dijadikan tumbal pemujaan. Itulah sebabnya mengapa di desa ini hanya ada orang tua dan para gadis muda. Tidak ada seorang pria muda pun di desa ini." Mawar lagi-lagi menerangkan panjang lebar.
"Apa kau tahu kalau dewi Dementer dan Persefone itu adalah dewi yang baik? Mereka tidak mungkin meminta tumbal. Aku tahu itu cuma akal-akalan kau dan kepala desa itu kan?" tuding Pramuja.
"Ritual ini memang sudah ada bertahun-tahun lalu. Aku hanya meneruskan tradisi saja," kilah Mawar.
"Bohong! Ritual penumbalan gadis muda tidak ada dari dulu. Itu baru dilakukan beberapa bulan belakangan ini. Kau bilang, kau mendapatkan bisikan dari Dewi-Dewi untuk melakukan penumbalan gadis desa!" Ibu Melati yang juga salah satu anggota sekte mulai buka suara.
"Benar! Aku curiga apa yang ada di dalam tenda itu! Mengapa kami tidak boleh masuk ke sana?" tanya anggota sekte yang lain.
Memang di dekat tempat pemujaan, ada sebuah tenda besar yang didirikan. Mawar tadi keluar dari sana saat mengetahui Lestari pergi membawa Melati.
"Kami membesarkan anak-anak yang diculik atau dipungut dari panti asuhan sebagai anak kandung kami sendiri. Tapi kenapa Dewi malah meminta sebagai tumbal? Memang desa ini pantang buat anak laki-laki, tapi bukan berarti anak-anak perempuan di desa ini dibesarkan untuk menjadi tumbal," kata anggota sekte yang lainnya lagi.
Pramuja hanya tersenyum ke arah orang-orang yang bertanya itu. Dia seakan-akan telah mengetahui jawabannya.
***
__ADS_1