
Lestari meminta Puspa untuk datang ke rumahnya. Dia ingin mengajak Puspa untuk pergi tamasya.
"Hari Sabtu dan Minggu nanti, bagaimana kalau kita pergi menginap di pulau." Lestari mengutarakan niatnya.
"Pulau mana? Bukankah waktu dua hari itu tidak cukup untuk pulang-pergi ke luar kota, apalagi pulau." Puspa sedikit bingung dengan ide Lestari.
"Pulaunya tidak jauh kok dari Jakarta, Kak. Pulaunya ada di gugusan pulau seribu, sebelah utara Jakarta. Papa punya villa di sana. Sepertinya akan sangat seru kalau kita ke sana." Lestari menjelaskan.
"Ckckck ... papamu sepertinya punya villa di setiap wilayah Indonesia. Benar-benar seorang miliarder." Puspa menggeleng-gelengkan kepala.
Tentu saja Puspa hanya basa-basi di depan Lestari karena dia tahu kalau Mr. Danu punya lebih banyak uang daripada penghasilannya sebagai pengusaha. Itu tentu saja karena bisnis gelapnya yang sangat rahasia.
"Aku mendapatkan sebuah cerita menarik dari penjaga villa di pulau itu. Kemarin dia datang ke rumah mengabarkan kalau akan ada syuting film di pulau itu. Dia juga memberitahu desas-desus yang menyebar tentang pulau itu. Pulau itu sekarang lebih sering disebut pulau hantu." Lestari sepertinya tertarik dengan hal yang berbau mistis.
"Kenapa bisa disebut pulau hantu?" tanya Puspa.
"Di sana sudah beberapa kali ditemukan mayat korban pembunuhan. Sepertinya pulau itu adalah tempat yang cocok dijadikan tempat pembuangan mayat. Tidak ada saksi, apalagi CCTV," ujar Lestari.
"Kan hanya mayat saja. Bukankah habis ditemukan, mayat itu akan dikubur lagi?" Puspa berusaha berpikir logis.
"Itu memang benar, Kak. Tapi bukan di situ letak kengeriannya. Mayat-mayat itu menjadi hantu dan menerror penghuni pulau. Mereka selalu merasa was-was saat malam hari tiba." Lestari menjelaskan sesuai cerita si Penjaga Villa.
"Sepertinya cerita yang sangat menarik. Kedua orang fotografer itu pasti tertarik mendengarnya," gumam Puspa.
"Maksudnya Mas Pram dan Mas Zul? Bagaimana kalau sekalian kita ajak mereka ke sana?" Lestari terlihat sangat antusias.
"Huh, aku malas menghubungi pria mesum itu. Terakhir dia menghubungiku untuk mengajak bertemu, tapi sampai sekarang tidak ada penjalasan. Dasar lelaki tukang PHP!" gerutu Puspa.
__ADS_1
"Jadi Kak Puspa menaruh harapan kepada Mas Zul ya? Apa salahnya kalau Kak Puspa yang menghubunginya duluan?" Lestari memberi saran.
"Ogah!" Puspa cemberut.
Tiba-tiba ponsel milik Puspa berdering. Tertera nama Zulfikar di layar sebagai panggilan masuk.
"Panjang umur nih orang!" Puspa mulai menjawab panggilannya.
Apa kita bisa bertemu hari ini?
Terdengar suara Zulfikar di seberang telepon.
"Boleh. Di mana? Tapi aku mengajak Lestari, ya! Soalnya kalau sendirian aku takut kau berbuat macam-macam." Puspa menjawab dengan sinis.
Kenapa kau sepertinya marah padaku? Apa karena aku lama baru menghubungimu? Kamu merindukanku ya?
"Sudahlah, tidak usah merayu! Kau ajak juga Mas Pramuja agar Lestari ada teman mengobrol. Lagi pula ada yang ingin kami bicarakan." Puspa tetap saja bertingkah galak.
Baiklah, akan ku kirim alamat cafenya. Kami tunggu di sana.
Zulfikar mengakhiri panggilannya.
***
Puspa dan Lestari sudah tiba di tempat yang dijanjikan. Pramuja dan Zulfikar sudah menunggu mereka di meja yang dipesan.
"Sepertinya ada yang sangat merindukanku." Zulfikar melirik Puspa dengan tatapan menggoda.
__ADS_1
"Kau jangan bermimpi, ya!" Puspa memelototkan mata ke arah Zulfikar.
"Sudahlah, kalian ini mengapa selalu bertengkar setiap bertemu?" Pramuja menepuk pundak Zulfikar.
"Tentu saja gadis galak ini sangat berbeda dengan Lestari yang lemah lembut. Jadi wajar saja kalau setiap ketemu dia selalu saja mengajak ribut," keluh Zulfikar.
"Sudahlah, Mas Zul. Justru Kak Puspa yang mengusulkan untuk mengajak kalian pergi tamasya ke villa papaku." Lestari mencoba menengahi.
"Benarkah itu? Wah, jadi kau hanya pura-pura jual mah saja? Ternyata diam-diam kamu ingin mengajakku tamasya." Zulfikar lagi-lagi menggoda Puspa.
"Siapa yang mengajak tamasya? Aku justru mengajakmu berburu hantu di pulau yang seram." Puspa berkelit.
"Bagiku itu sama saja. Yang penting kau duluan yang mengajakku." Zulfikar tersenyum nakal.
"Pulau yang sangat menarik. Aku mau ikut ke sana!" Pramuja menerima tawaran Lestari.
"Tentu saja aku juga ikut. Kalau tidak, Puspa pasti sulit tidur gara-gara merindukanku." Zulfikar melirik Puspa yang melotot galak ke arahnya.
"Memangnya ada apa di pulau itu?" Pramuja penasaran.
"Di pulau itu sudah beberapa kali ditemukan mayat korban pembunuhan. Konon kabarnya, pulau itu dihantui oleh arwah para korban pembunuhan itu. Pulau itu sekarang mendapat julukan sebagai Pulau Hantu." Lestari menjelaskan.
"Kebetulan kami ada waktu senggang. Kami akan ikut dengan kalian ke sana." Pramuja memutuskan.
Mereka pun mulai menyusun rencana untuk pergi ke pulau hantu itu. Entah misteri apa yang sudah menanti mereka di sana.
***
__ADS_1