
Sebuah desa di pelosok kabupaten Purwakarta, digegerkan dengan kematian mendadak dua orang warganya. Mayat mereka di temukan di tengah jalan tidak jauh dari rumah Kakek Paimin yang berprofesi sebagai tukang pijat. Para korban itu tadinya pergi ke rumah Kakek Paimin untuk dipijat.
Polisi setempat sudah membawa jasad para korban untuk penyelidikan lebih lanjut. Barang bukti yang disentuh para korban juga dibawa, termasuk gelas dan piring bekas makan dan minum mereka. Memang setelah selesai dipijat, mereka mampir ke warung dekat rumah Kakek Paimin untuk makan dan minum di situ. Minyak pijat yang biasa dipakai Kakek Paimin untuk memijat juga disita pihak kepolisian.
Merasa janggal dengan kematian beberapa warga desa itu, para warga desa mencurigai Kakek Paiminlah yang membunuh mereka dengan ilmu santet. Memang sebelum meninggal, beberapa orang yang tewas itu pergi untuk pijat ke rumah Kakek Paimin.
Para warga desa menjadi sangat marah dan merencanakan sesuatu untuk membalas perbuatan Kakek Paimin.
Malamnya, para warga berbondong-bondong menyerbu rumah Kakek Paimin. Mereka membawa obor, tali, dan beberapa jerigen bensin.
"Keluar kau dukun santet!" teriak salah seorang warga di halaman rumah Kakek Paimin.
"Kalau tidak mau keluar, bakar saja rumahnya!" teriak warga yang lainnya.
"Bakar!!! Bakar!!! Bakar!!!"
Terdengar beberapa orang warga berteriak sambil mengacung-acungkan obor yang ada di tangan mereka.
__ADS_1
"A-ada apa ini ribut-ribut?" Kakek Paimin yang keluar karena mendengar keributan di luar menjadi heran.
"Halah, jangan pura-pura tidak tahu! Kau telah membunuh warga desa yang datang ke rumahmu dengan ilmu santet!" hardik seorang warga.
"Mana ada maling yang mau ngaku! Kita bakar saja dia dan rumahnya!" Seorang warga mulai memprovokasi.
"Bakar!!! Bakar!! Bakar!!" teriak warga yang lain.
Para warga segera menyerbu rumah Kakek Paimin. Kakek Paimin ditangkap dan di ikat dengan tali yang sudah mereka persiapkan. Tubuhnya diikat di salah satu tiang kayu penyangga rumahnya yang reyot.
Beberapa warga mulai menyiramkan bensin ke sekeliling rumah dan tubuh Kakek Paimin.
"Tunggu! Hentikan!" teriak Pak Kades sambil merebut obor dan melemparkannya jauh-jauh dari area yang tersiram bensin.
Para polisi membantu melepaskan ikatan yang melilit tubuh Kakek Paimin. Mereka juga menimba air di sumur samping rumah Kakek Paimin dan mengguyur tubuhnya yang sudah basah disiram bensin oleh warga.
Air dingin merembes membasahi tubuh Kakek Paimin yang renta. Rasa dingin yang menusuk itu tentu saja tidak seberapa dibandingkan jika tubuhnya jadi dibakar oleh warga.
__ADS_1
"Kalau tidak dibakar, nanti semakin banyak korban yang jatuh, Pak Kades!" Salah seorang warga melayangkan protes.
"Bapak-bapak polisi ini datang kemari justru untuk menyelidiki kasus ini. Mayat para korban kini sedang menjalani proses autopsi untuk mengetahui penyebab kematiannya. Kita tunggu saja hasilnya. Jangan seenaknya menuduh orang dan bertindak main hakim sendiri!" Pak Kades terlihat geram dengan prilaku warganya.
"Itu benar, bapak-bapak ... ibu-ibu ... Kalau kalian main hakim sendiri, kalian akan berurusan dengan hukum yang berlaku. Membakar orang apapun alasannya itu tidak dibenarkan oleh hukum negara kita. Kalian bisa dikenai pasal pembunuhan berencana karena kalian sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengikat dan membakar kakek ini. Hukumannya bisa penjara seumur hidup, bahkan hukuman mati, tahu!" Seorang petugas polisi memberi peringatan.
Mendengar ancaman hukuman dari petugas polisi itu, warga desa saling berpandangan ketakutan. Mereka tidak mau ditangkap gara-gara main hakim sendiri dan harus menerima hukuman penjara seumur hidup, apalagi hukuman mati.
"Jadi bagaimana ini, Pak? Kami tidak mau ada korban jatuh lagi akibat ilmu santet yang dikirimkan Kakek Paimin." Sah seorang warga memberanikan diri bersuara.
"Untuk sementara, kami akan mengamankannya ke kantor polisi. Walaupun belum ada bukti, tapi kakek ini adalah tersangka dalam kasus ini. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kami akan mengamankannya malam ini juga." Petugas polisi segera mengambil keputusan. Membawa Kakek Paimin ke kantor polisi adalah solusi terbaik untuk mengamankannya dari amukan warga.
Warga pun setuju dengan keputusan petugas kepolisian. Setidaknya Kakek Paimin tidak akan berani berbuat macam-macam di kantor polisi.
Petugas kepolisian mengizinkan Kakek Paimin berganti pakaian sebelum berangkat menuju kantor polisi di kecamatan. Kakek Paimin hanya bisa pasrah di gelandang ke kantor polisi.
Setelah mobil polisi bergerak pergi, para warga desa membubarkan diri dengan tertib. Mereka berharap agar Kakek Paimin mendapatkan hukuman berat atas perbuatannya.
__ADS_1
***