Detektif Horror

Detektif Horror
Bab 26 - Karedok


__ADS_3

Pramuja, Zulfikar, dan seorang warga bernama Pak Tejo mengendarai mobil menuju desa tempat kejadian berlangsung. Jaraknya kurang lebih 7 km dari Polsek Kecamatan. Sepertinya para warga yang mendatangi kantor polisi tadi pergi dengan menggunakan sepeda motor.


Jalan desa terlihat sangat sepi. Tidak begitu banyak kendaraan yang terlihat. Suasana desa terlihat seperti tidak dihuni orang. Mungkin karena sebagian warga desa sedang berada di kantor polisi tadi.


Pramuja, Zulfikar, dan Pak Tejo kini sudah berada di jalan dekat rumah Kakek Paimin. Pak Tejo menunjukkan lokasi tempat dia menemukan mayat korban. Lokasinya sangat terbuka dan dekat dengan jalanan desa.


"Bagaimana kondisi mayat saat bapak menemukannya?" tanya Pramuja kepada Pak Tejo.


"Matanya melotot dan mulutnya sedikit berbusa. Pokoknya mengerikan sekali, Mas! Seperti dicekik sama jin. Mungkin jin peliharaan Kakek Paimin, hiiiii ..." Pak Tejo bergidik ngeri.


"Bagaimana dengan warna kulitnya? Apakah kebiruan?" tanya Pramuja lagi.


"Bukan kebiruan, Mas, tapi kemerahan. Bibirnya yang kelihatan kebiruan. Itu jelas dibunuh sama mahkluk halus. Kalau orang mati normal kan biasanya kulitnya pucat," jawab Pak Tejo.


Pramuja hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penuturan Pak Tejo. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.


Mereka kini beralih ke rumah Kakek Paimin. Pak Tejo menolak untuk ikut masuk karena takut terkena efek dari santet Kakek Paimin.


Pramuja dan Zulfikar masuk ke gubuk reyot itu dan memeriksa seluruh sudut rumah. Tapi mereka tidak menemui sesuatu yang mencurigakan.


Setelah tidak menemukan apa-apa, Pramuja pergi ke warung dekat rumah Kakek Paimin yang sudah tutup. Dia memperhatikan sekelilingnya. Tampak di samping rumah terhampar kebun singkong. Ada singkong-singkong liar juga yang tumbuh di semak-semak.


"Makanan apa yang dijual di sini?" tanya Pramuja kepada Pak Tejo.


"Karedok, Mas!" sahut Pak Tejo menyebutkan nama salah satu masakan sunda.

__ADS_1


Pramuja tersenyum mendengar jawaban Pak Tejo Sepertinya dia sudah menemukan jawabannya.


"Hei, Pram! Apa arti senyumanmu itu? Apa kamu menemukan jawabannya?" Zulfikar menyadari ekspresi Pramuja saat sudah menemukan titik terang pada sebuah kasus.


"Sebelum aku menjelaskannya, aku harus menanyai pemilik warung ini dulu." Pramuja berkata dengan tenang. Sepertinya dia sudah benar-benar menemukan jawabannya.


"Apa kau berpikir pemilik warung meracuni makanan atau minuman para korban? Itu tidak mungkin, Pram! Hasil tes sudah keluar dan tidak ditemukan racun pada gelas minuman dan bumbu karedok di piring bekas para korban." Zulfikar menjadi keheranan.


Pramuja hanya tersenyum penuh arti. Dia mengetuk pintu rumah di samping warung kecil itu. Seorang bapak-bapak yang diketahui bernama Mang Engkus, keluar dengan heran.


"Ada apa ini Pak Tejo malam-malam datang ke rumah saya? Siapa Mas-Mas ini?" tanya Mang Engkus keheranan.


"Mereka orang yang dikirim kepolisian untuk menyelidiki kasus kematian warga desa." Pak Tejo menjelaskan.


"Betul sekali, Mas! tapi sumpah, saya tidak membunuh mereka." Mang Engkus terlihat berkata jujur.


"Apa Bapak ada menambahkan sesuatu pada makanannya?" tanya Pramuja serius.


"Tidak ada, Mas! Apa Mas menuduh saya menambahkan racun? Saya bersumpah tidak menambahkan racun pada makanannya." Mang Engkus terlihat kebingungan.


"Kalau boleh tahu, sayur apa saja yang Bapak pakai untuk karedok yang Bapak jual?" tanya Pramuja lagi.


"Seperti biasa, Mas. Semuanya sayuran mentah. Ada mentimun, taoge, kol, kacang panjang, daun kemangi, dan leunca." Mang Engkus menjelaskan.


"Apa ada tambahan sayuran lain?" selidik Pramuja.

__ADS_1


"Tidak ada, Mas. Hanya saja Pak Kusno dan Pak Paijo menambahkan daun singkong yang mereka petik di samping warung ini ke dalam karedoknya," ujar Mang Engkus.


"Baiklah, terima kasih atas kerjasamanya Pak! Kami harus segera kembali ke kantor polisi." Pramuja mohon pamit kepada Mang Engkus.


"Hei, Pram! Bagaimana? Apa kau sudah mengetahui jawabannya?" Zulfikar terlihat sangat penasaran.


"Ya, begitulah!" Pramuja tersenyum.


Pramuja mengajak Zulfikar dan Pak Tejo untuk kembali ke kantor polisi. Baru saja Pramuja hendak membuka pintu mobil, ia dikejutkan oleh kemunculan sosok pria berwajah pucat dari arah halaman rumah Kakek Paimin.


"Siapa kamu? Apa maumu?" tanya Pramuja ke arah sosok itu. Pramuja menyadari bahwa sosok itu bukanlah seorang manusia, melainkan mahkluk halus.


"Santet!!!" teriak sosok itu dengan suara serak, sebelum menghilang meninggalkan kepulan asap tipis.


"Ada apa, Pram? Apa yang barusan kau lihat?" tanya Zulfikar penasaran.


"Tidak ada. Mungkin hanya jin iseng," sahut Pramuja santai.


"Ja-jadi benar ada jin di sekitar sini? Itu pasti jin peliharaannya Kakek Paimin." Pak Tejo terlihat sangat ketakutan.


"Tenang saja, Pak! Dia sudah pergi. Ayo kita kembali ke kantor polisi." Pramuja menepuk bahu Pak Slamet yang sedang ketakutan itu, lalu mengajaknya masuk ke dalam mobil.


Mobil jeep yang dikemudikan Zulfikar segera melaju membelah jalanan desa yang gelap untuk kembali ke kantor polisi di kecamatan.


***

__ADS_1


__ADS_2