
Saat kamu berada di antara orang-orang aneh, justru orang-orang itu yang akan memandang aneh pada dirimu.
***
Zulfikar sudah kembali ke villa tempatnya menginap. Terlihat Pramuja sudah selesai memasak dan sedang menghidangkan masakannya di atas meja makan.
"Gila ya, Pram! Ternyata di sini banyak cewek cantiknya." Zulfikar terlihat sangat gembira.
"Mengapa kau sesenang itu? Apa kau habis mengintip gadis-gadis yang sedang mandi?" Pramuja langsung menaruh curiga terhadap sahabatnya itu.
"Enak saja! Memangnya aku ini lelaki apaan? Tadi itu aku tidak sengaja memeluk seorang gadis. Aku kira dia hendak bunuh diri dengan cara melompat ke jurang." Zulfikar menjelaskan.
"Dasar kamunya saja yang modus!" ledek Pramuja.
"Serius, Pram! Gadis itu menginap di villa atas sana. Dia bersama temannya yang juga tak kalah cantik." Zulfikar berusaha meyakinkan Pramuja.
"Oke ... oke ... aku percaya padamu." Pramuja akhirnya mengalah.
"Dia benar-benar gadis tipeku. Sudah cantik, seksi, jago beladiri lagi. Benar-benar menarik. Tapi sayang, dia agak sedikit galak." Zulfikar senyum-senyum sendiri mengingat sosok Puspa.
"Kau ini sedang jatuh cinta ya? Ayo kita makan dulu! Jangan bilang kalau kau sudah kenyang makan cinta," seloroh Pramuja.
Zulfikar hanya tertawa mendengar candaan Pramuja. Perutnya memang sudah lapar. Mana mungkin dia kenyang hanya dengan makan cinta.
***
__ADS_1
Dengan mengendarai mobil jeepnya, Pramuja dan Zulfikar menuruni bukit dan pergi ke arah desa yang penuh bunga.
Seturunnya dari mobil, Pramuja dan Zulfikar berjalan-jalan keliling desa sambil menenteng kamera DSLR. Orang-orang di desa memandangi mereka dengan tatapan yang aneh.
Desa itu benar-benar sangat bergantung dengan bunga. Mata pancaharian utama warga desa adalah sebagai petani bunga. Ada ladang bunga matahari yang menjadi penyuplai pabrik kuaci di kabupaten. Selain itu, ada juga petani bunga hias. Bunga-bunga itu biasanya dikirim ke toko-toko bunga di kota. Banyak florist di kota yang mempercayakan suplai bunga segar pada para petani bunga di desa.
"Hei, Pram, apa kamu tidak melihat ada yang aneh di desa ini?" tanya Zulfikar sambil berbisik.
"Tentu saja banyak keanehan yang kutemukan di desa ini. Di sini hanya ada orang tua dan para gadis muda saja. Tidak ada satupun lelaki muda yang terlihat." Pramuja balas berbisik.
"Maaf, Mas berdua ini wartawan ya?" Seorang gadis muda menghampiri dan bertanya kepada kedua bersahabat itu.
"Sebenarnya bukan wartawan sih. Lebih tepatnya fotografer," jawab Pramuja.
"Namaku Melati. Aku penduduk desa ini. Ada yang bisa kubantu?" Gadis muda itu menawarkan bantuan.
"Desa ini memang tidak pernah melahirkan anak laki-laki. Mungkin karena desa ini dipenuhi dengan bunga, jadi berpengaruh sama gen warga disini." Melati menjawab dengan jawaban yang aneh.
"Kurasa itu tidak ada hubungannya sama sekali." Zulfikar membantah.
"Kurasa juga begitu, Mas. Desa ini sepertinya sudah dikutuk." Melati berbisik, seperti takut jika ada yang mendengar.
"Melati!!! Apa yang kau lakukan di situ? Cepat bantu ibu membawa bunga-bunga ini!" Seorang wanita tua memanggil Melati.
Tanpa berpamitan, Melati segera berlari ke arah ibunya. Meninggalkan Pramuja dan Zulfikar yang saling berpandangan dengan tatapan bingung.
__ADS_1
"Sebaiknya jangan dekat-dekat dengan gadis di desa ini." Seorang pria tua yang entah dari kapan sudah berdiri di belakang Pramuja dan Zulfikar, memberikan peringatan.
"Mengapa begitu, Pak?" tanya Zulfikar heran, sambil menoleh ke arah sumber suara.
"Desa ini punya aturan sendiri. Orang asing dilarang bergaul dengan gadis di desa ini." Pria tua itu terlihat tidak senang dengan kehadiran Pramuja dan Zulfikar.
"Bapak tenang saja. Tujuan kami ke desa ini adalah untuk mengambil foto keindahan desa, bukannya mencari jodoh. Lagipula kami tidak tertarik dengan gadis desa ini." Zulfikar menjadi sedikit kesal. Gadis-gadis di desa itu memang cantik, tapi tidak secantik Puspa dan Lestari.
"Baguslah kalau begitu. Ada konsekuensinya jika kalian melanggar batasan kalian." Pria tua itu seperti sedang mengancam.
"Baik, Pak, kami mengerti." Pramuja tidak ingin berdebat.
"Kalau kalian ingin mengambil foto pemandangan yang bagus, kalian bisa pergi ke ladang bunga matahari di sana." Pria tua itu menunjuk ke arah ladang bunga yang letaknya tidak begitu jauh dari desa.
Pramuja segera mengajak Zulfikar pergi ke arah ladang bunga matahari.
"Desa ini betul-betul sangat aneh," gumam Pramuja di perjalanan.
"Kau benar, Pram. Gadis bernama Melati dan bapak tua itu betul-betul sangat aneh. Terlebih lagi tatapan orang-orang desa itu saat melihat kita," sahut Zulfikar.
Setelah berjalan cukup jauh, Pramuja dan Zulfikar akhirnya sampai ke ladang bunga matahari.
"Aku akan mengambil foto dari sana! Sepertinya itu tempat yang sempurna untuk mengambil foto." Pramuja menunjuk suatu tempat.
"Kau terlalu menghayati peranmu sebagai fotografer. Aku tunggu di sini saja." Zulfikar duduk di kursi kayu yang ada di pinggir ladang bunga itu.
__ADS_1
Pramuja segera menuju tempat yang ditunjuknya. Dia benar-benar ingin mengambil beberapa foto yang bagus. Dia betul-betul menjiwai penyamarannya itu.
***