Detektif Horror

Detektif Horror
Bab 35 - Pria Bercangkul Misterius


__ADS_3

Dua orang kru terlihat sedang mengetuk pintu rumah yang ditempati sutradara. Mereka ingin membahas soal syuting yang akan dimulai besok pagi.


Setelah lama mengetuk pintu, tidak ada jawaban yang terdengar dari dalam rumah. Kedua kru itu merasa sangat aneh karena sang Sutradara meminta mereka untuk menemuinya setelah makan malam. Jadi tidak mungkin ia tidur atau pergi ke tempat lain.


Dengan ragu, salah seorang kru menarik gagang pintu.


Klik ... terbuka.


Mereka saling berpandangan, kemudian mengangguk tanda sepakat untuk masuk ke dalam rumah.


Kedua kru itu memeriksa dengan hati-hati seisi rumah. Mereka juga melihat ke dalam kamar sang Sutradara yang pintunya terbuka. Betapa kagetnya mereka saat melihat jasad sutradara yang sudah tidak bernyawa dengan kondisi tubuh yang mengerikan.


Tanpa mencoba masuk dan menyentuh mayat, mereka segera berlari keluar rumah dan berteriak meminta pertolongan.


Pramuja dan teman-temannya yang baru saja menyelesaikan makan malam mereka, terkejut saat mendengar teriakan di luar. Mereka segera keluar untuk mengetahui apa yang terjadi, begitu pula dengan orang-orang yang berada di dalam rumah-rumah yang lain di vila itu. Mereka semua berhamburan keluar untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.


***


Tidak jauh dari tempat itu, seorang kru yang sedang kebingungan, berjalan semakin menjauhi vila. Sepertinya dia sedang tersesat. Dia tadi hanya bermaksud untuk mengecek lokasi syuting untuk besok, tapi dia malah berjalan lumayan jauh dari vila.


Tiba-tiba, matanya menangkap pergerakan seseorang. Dia segera mengintip dari balik semak-semak. Tampak seseorang yang memanggul cangkul, sedang menyeret seonggok tubuh yang berbau busuk. Bau busuknya sampai terasa ke hidungnya. Jelas sekali kalau itu adalah mayat yang sudah membusuk.


Anggota kru itu segera memutuskan pergi dari tempat itu. Sayangnya, dia tidak sengaja menginjak ranting pohon sehingga rantingnya patah dan menimbulkan suara yang cukup didengar oleh sosok Pria Bercangkul itu.


Menyadari dirinya telah ketahuan, anggota kru itu segera berlari kabur. Pria Bercangkul mengejarnya. Karena tubuhnya yang gempal, membuat lari anggota kru itu sangat lambat. Si Pria Bercangkul berhasil menyusulnya.


Krek!!!


Bruk!!!

__ADS_1


Anggota kru itu seketika ambruk saat si Pria Bercangkul menebaskan cangkul ke arah kepalanya. Darah mengucur deras dari arah lehernya. Tulang lehernya juga sepertinya patah terkena terpaan cangkul tadi.


Dua orang temannya yang sedang mencarinya, mendengar ada suara dari arah pengeksekusian oleh Pria Bercangkul. Mereka segera memeriksa sumber suara.


Si Pria Bercangkul langsung kabur setelah membantai salah seorang anggota kru itu. Saat kedua temannya tiba, mereka melihat mayat dengan leher yang patah. Mereka mengenali korban dan langsung berlari ke arah vila untuk meminta bantuan.


***


Orang-orang sudah berkumpul di depan rumah yang ditempati sang Sutradara. Selain para tamu vila, ada juga penjaga vila yang datang ke situ.


Kedua orang kru yang menemukan mayat korban, menceritakan kronologis kejadian penemuan mayat itu.


Zulfikar mendengarkan dengan seksama, sementara Pramuja dan Puspa pergi memeriksa mayat korban di dalam kamar.


Belum habis keterkejutan semua tamu vila, mereka lagi-lagi dikagetkan oleh kedatangan dua kru yang lain dengan wajah pucat pasi. Mereka menceritakan kalau teman mereka tewas dengan luka di lehernya dan sepertinya posisi lehernya agak aneh. Mungkin lehernya patah karena dihantam sesuatu.


Pramuja yang baru kembali dari memeriksa mayat, mendengar hal itu dan segera meminta untuk diantarkan melihat mayat anggota kru itu.


"Baik, Mas!" Puspa dan Lestari hampir menjawab bersamaan.


Dengan diantar kedua orang kru yang menemukan mayat, Peamuja pergi ke lokasi yang dimaksud. Dia melihat kondisi mayat dengan leher yang patah dan luka sobekan di lehernya.


"Dari luka dan kondisi leher yang patah, korban dihantam oleh senjata tajam yang berat sejenis cangkul atau kapak." Pramuja menyampaikan analisisnya.


"Tapi siapa yang membunuhnya? Pak Sutradara juga terbunuh malam ini. Tempat ini benar-benar mengerikan. Kita harus keluar dari pulau ini secepatnya!" Salah seorang kru terlihat ketakutan.


"Tenang dulu! Temanku sudah menghubungi polisi dan meminta kapal untuk menjemput kita. Untuk sementara, kita bawa dulu mayat ini ke vila.


Setelah mengambil foto posisi mayat di TKP asli, Pramuja membantu memegangi kepala korban yang hampir terlepas, sementara kedua kru menggotong mayat korban.

__ADS_1


"Gawat Pram! Di luar sedang terjadi badai. Polisi tidak bisa datang kemari secepatnya. Mungkin besok pagi mereka baru bisa datang." Zulfikar memberi laporan setelah Pramuja kembali dengan mayat korban yang kepalanya hampir terlepas.


"Apa boleh buat! Kita harus bertahan di pulau ini untuk malam ini. Kita harus segera mengungkap pembunuhan ini dan menangkap pelakunya." Pramuja berkata dengan tenang.


"Apa kami akan terus di sini bersama mayat korban yang mengerikan ini? Ditambah lagi ada mayat sutradara di dalam sana. Benar-benar sangat menyeramkan," keluh Anita.


"Untuk sementara, kalian semua berkumpul di satu rumah saja. Bagaimana kalau di rumah yang kami tempati. Bukankah itu cukup jauh dari mayat-mayat ini?" tawar Lestari.


Semuanya pun menyetujui dan berkumpul di rumah yang ditempati rombongan Pramuja.


"Apa aku juga harus menunggu di sini?" protes penjaga vila.


"Tidak ada pilihan, Pak! Anda juga termasuk salah seorang tersangka," kata Pramuja.


"Mungkin salah seorang penduduk desa yang membunuh para korban. Bukankah mereka tidak suka dengan kehadiran kita?" Wijaya mengungkapkan kecurigaannya.


"Itu belum bisa dipastikan. Kami akan menyelidikinya," sahut Zulfikar.


"Memangnya kalian berdua ini siapa? Seenaknya saja menentukan di sini! Kalian kan bukan polisi. Bisa saja salah satu dari kalian adalah pembunuhnya," protes Wijaya.


"Kami memang bukan polisi, tapi kami adalah detektif." Pramuja tersenyum.


"Apa? Detektif? Hahaha ... ini Indonesia, Bung! bukan Amerika," ledek Wijaya.


"Sudahlah! Biarkan saja mereka menyelidikinya. Apa kamu mau menunggu saja di sini? Siapa yang tahu kalau pembunuhnya ada di antara kita?" Viola berusaha membela Pramuja.


"Aku dan temanku ini sama sekali bukan pembunuhnya. Kami mempunyai alibi sempurna. Kami berada di rumah sampai mendengar teriakan kru yang menemukan mayat sutradara. Alibi kami bisa dibuktikan satu sama lain." Pramuja berkata dengan tenang.


"Ya, aku melihatnya ada di rumah ini tadi." Viola membenarkan.

__ADS_1


"Kalau begitu, sekarang aku yang akan memeriksa alibi kalian satu persatu." Pramuja berkata dengan sangat tenang. Dia yakin kalau pembunuhnya sudah berada di antara mereka.


***


__ADS_2