Detektif Horror

Detektif Horror
Bab 39 - Pertarungan Hidup Dan Mati


__ADS_3

Di luar, tampak si Penjaga Vila dan penduduk pulau yang berjumlah sekitar 30 orang, sudah berdiri di halaman depan rumah yang berisi rombongan Pramuja beserta rombongan film.


"Serang!!!"


Si Penjaga vila memberi perintah kepada para penduduk pulau yang terlihat haus darah itu.


Penduduk pulau dipimpin oleh si Penjaga Vila, mulai mengepung rumah. Salah seorang penduduk pulau yang membawa linggis, berusaha memecahkan kaca jendela belakang.


Zulfikar berdiri di depan kaca jendela yang sudah pecah dalam sekali ayunan linggis si Pembunuh.


Si Pembunuh itu menyerbu masuk tapi dihalangi oleh Zulfikar. Sementara Puspa masih berdiri tepat di belakang Zulfikar dengan pisau terhunus tepat di depan punggungnya.


Si Pembunuh itu mengayunkan linggisnya ke arah Zulfikar, tapi dengan mudah ia berkelit. Zulfikar melancarkan serangan ke arah si Pembunuh itu. Sebuah tendangan berhasil mengenai kepala si Pembunuh dan membuatnya terhempas ke tembok. Tidak kehabisan akal, si Pembunuh mengambil pisau yang diselipkan di pinggangnya, lalu menyerang Zulfikar. Dari belakang, muncul dua orang pembunuh lagi yang siap mengeroyok Zulfikar.


Puspa hanya terdiam melihat posisi Zulfikar yang terdesak. Para pembunuh itu memang bukan penjahat biasa. Mereka terlihat sudah terbiasa berkelahi, bahkan membunuh orang.


Zulfikar agak kewalahan menghadapi tiga orang sekaligus, apalagi mereka semua memegang senjata tajam. Yang seorang memegang golok, sementara seorang lagi memegang celurit.


Sreeeet!!!


Sabetan golok melukai lengan Zulfikar. Darah segar mengucur deras dari lengannya yang terluka. Dia kehilangan konsentrasi karena merasakan perih akibat lukanya yang menganga.


Si Pembunuh yang membawa golok, menjilati darah Zulfikar yang menempel di goloknya sambil menyeringai. Dia mencoba mengayunkan goloknya lagi ke arah Zulfikar. Kali ini dia mengarahkan goloknya ke leher Zulfikar.


"Dasar psikopat!"


Puspa terlihat kesal. Dia melemparkan pisaunya tepat menancap di dada Pembunuh Bergolok itu, sebelum sempat mengayunkan goloknya ke leher Zulfikar.


Pisau yang dilempar Puspa menancap sangat dalam sampai menembus ke jantung Pembunuh Bergolok itu. Ia pun langsung roboh dan tak bergerak lagi. Puspa mengambil golok dari tangan pembunuh yang tewas itu.


Kedua pembunuh yang tersisa beralih menyerang Puspa. Mereka tidak terima Puspa membunuh teman mereka.


Dengan golok di tangan, Puspa melawan kedua pembunuh itu. Senjata yang mereka bawa hanya celurit dan linggis, sementara Puspa memegang sebilah golok.


Salah seorang pembunuh mengayunkan linggis ke arah kepala Puspa, namun dengan sigap ia berkelit. Golok pun ditebaskan ke arah si Pembunuh.


Sreeeet!!!

__ADS_1


Golok tepat mengenai leher si Pembunuh. Ia pun tumbang. Melihat temannya tewas, pembunuh yang membawa celurit segera kabur lewat jendela yang pecah. Dia bermaksud meminta bantuan kepada teman-temannya di luar.


Puspa melompati jendela dan mengejar pembunuh bercelurit itu.


"Jangan!!!"


Zulfikar berteriak mencegah Puspa keluar. Sedari tadi dia hanya terpaku melihat Puspa membantai para pembunuh tanpa ampun. Dia merasakan aura yang mengerikan dari diri Puspa, tapi dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya bisa melihat aksi Puspa tanpa berkedip.


Sementara di pintu luar, Pramuja sibuk menyuruh orang-orang untuk menggeser lemari kayu guna menghalangi pintu masuk. Dari arah luar, terlihat beberapa orang pembunuh berusaha mendobrak pintunya.


Untung saja jendela depan dipasangi teralis, begitu pun jendela samping. Hanya jendela belakang yang tidak berteralis. Tujuan untuk memudahkan keluar jika terjadi bencana seperti kebakaran atau hal mendesak lainnya.


Zulfikar dan Puspa yang tadi bertugas menjaga jendela belakang karena memungkinkan untuk akses masuk para pembunuh itu.


"Cepat cari batang kayu untuk mendobrak pintu ini!" perintah si Penjaga Vila dari luar rumah.


Beberapa orang segera berlari ke arah semak belukar untuk mencari benda yang dimaksud pimpinan mereka itu.


Sementara para laki-laki sibuk memindahkan barang-barang untuk menutupi pintu masuk, para wanita hanya berdiam diri di ruang tamu. Mereka terlihat sangat ketakutan. Wijaya juga ada bersama mereka tanpa tahu harus berbuat apa.


"Ambil ini dan lindungi kami!" Anita menyerahkan sebilah pisau dapur ke tangan Wijaya.


"Kau bunuh saja orang-orang jahat itu! Bukankah kau sudah pernah membunuh sutradara? Buatlah dirimu berguna sekarang!" sahut Anita.


Dengan gemetar, Wijaya maju dan bersiap untuk melawan para pembunuh yang mencoba masuk.


"Di mana Kak Puspa, Mas?" tanya Lestari cemas. Dia memeriksa area dapur yang jendelanya telah pecah.


"Di-dia keluar mengejar pembunuh itu," jawab Zulfikar.


"Apa? Di luar sangat berbahaya. Aku tidak bisa membiarkan Kak Puspa sendirian di sana. Aku akan menyusulnya!"


Lestari berniat keluar dari jendela yang pecah, tapi langsung dicegah oleh Pramuja.


"Jangan keluar Lestari, di luar sangat berbahaya!" Pramuja yang datang untuk melihat keadaan, menarik lengan Lestari menjauh dari jendela.


"Biar aku saja yang pergi, Pram! Kalian cari benda apa saja untuk menghalangi jendela ini. Aku takut mereka akan memutar untuk masuk dari sini." Zulfikar mengambil linggis di tangan pembunuh yang tewas di lantai, lalu melompat keluar jendela.

__ADS_1


Belum sempat Pramuja mencari benda untuk menutup jendela, dua orang pembunuh masuk. Yang satu membawa pisau dan yang satunya lagi membawa geer motor yang terikat rantai besi. Dia memutar-mutar senjata buatannya itu dan mengarahkannya ke Pramuja.


Dug!!!


Senjata itu menghantam lantai karena Pramuja berhasil menghindar. Pramuja balas menyerang si Pembunuh dari jarak dekat. Dia sudah memperhitungkan kalau senjata buatan itu tidak efektif untuk serangan jarak dekat. Dan benar saja, si Pembunuh itu sangat sulit menggunakan senjatanya karena jarak Pramuja terlalu dekat dengannya.


Bukkkk!!!


Pramuja menghantamkan tinjunya ke arah perut si Pembunuh. Pembunuh itu mundur beberapa langkah karena daya dorong dari tinju Pramuja yang mematikan.


"Aaaaaaakh!!!"


Si Pembunuh bersenjatakan geer itu memekik kesakitan sambil memegangi perutnya. Dia ambruk di lantai dengan rasa sakit yang menjalari organ dalam perutnya


Sementara pembunuh yang membawa pisau terlihat menyerang Lestari. Dengan kemampuan beladirinya, Lestari berhasil memutar lengan si Pembunuh sehingga pisaunya terjatuh. Ia juga menghantam tengkuk si Pembunuh dengan pukulan mautnya hingga membuat si Pembunuh jatuh pingsan.


Tidak berhenti sampai di situ, seorang pembunuh lain mencoba masuk dari jendela yang pecah. Wijaya yang dari tadi melihat pertempuran Lestari dan Pramuja, segera berlari ke arah pembunuh yang masih berada di bingkai jendela.


Clep!!!


Wijaya menusukkan pisau dapur di tangannya tepat di perut si Pembunuh, lalu segera mendorongnya keluar.


"Cepat keluarkan lemari dari dalam kamar dan tutupi jendela ini!" Pramuja memberikan perintah kepada para kru yang terlihat ketakutan.


Tanpa pikir panjang, para kru itu segera masuk kamar untuk mengeluarkan lemari pakaian.


Wijaaya mendekati dua orang pembunuh yang pingsan karena pukulan Lestari dan Pramuja. Dia bermaksud membunuh mereka denganbpisau di tangannya.


"Jangan!!!" cegah Pramuja.


"Kenapa? Kalau mereka tidak mati, maka kitalah yang akan mati!" kata Wijaya.


"Aku tidak bisa membiarkan pembunuhan di depan mataku! Lagi pula mereka sudah dilumpuhkan. Kalau tidak karena terdesak, jangan membunuh!" Pramuja berkata dengan tegas.


"Bagaimana kalau diikat saja?" Seorang aktris mengusulkan.


Tanpa pikir panjang, beberapa orang anggota kru film, berinisiatif untuk mencari benda yang bisa mengikat kedua pembunuh yang pingsan itu.

__ADS_1


Di luar depan pintu masuk, para pembunuh yang diperintahkan si Penjaga Vila untuk memcari batang kayu, telah kembali dengan menggotong sebuah batang kayu. Mereka mengarahkan batang kayu itu ke arah pintu untuk mendobraknya.


***


__ADS_2