
Kasus-kasus yang kita ketahui, hanya bagian dari puncak gunung es. Sebenarnya, terdapat lebih banyak kasus lagi yang belum kita ketahui.
Semuanya, masih terkubur di bawah puncak gunung es itu...
***
"Ceritakan padaku, apa yang sudah terjadi." Pak Hendarto mulai menyesap kopinya yang masih panas.
"Setelah aku mengalami mati suri, aku mempunyai kemampuan khusus untuk melihat, bahkan berkomunikasi dengan alam gaib." Pramuja menjelaskan sambil ikut menyesap kopi di hadapannya.
"Itu benar sekali, Pak. Bahkan kasus yang baru kami tangani tadi, bisa dipecahkan berkat petunjuk dari hantu wanita korban pembunuhan itu." Zulfikar ikut menjelaskan.
"Tapi tetap saja. Aku kan sudah menyuruh kalian untuk beristirahat. Ternyata kalian malah menangani kasus tanpa sepengetahuanku," keluh Pak Hendarto.
"Kami minta maaf, Pak. Keadaannya sangat mendesak. Kami harus menyelamatkan anak korban sebelum terlambat," ujar Pramuja.
"Mulai besok, kalian urus saja cuti untuk beberapa minggu. Untuk sementara, aku tidak akan memberikan misi kepada kalian." Pak Hendarto menghela napas panjang.
"Apa harus sampai mengambil cuti segala, Pak? Kami ini tidak bisa sehari saja tanpa melakukan pekerjaan," keluh Pramuja, didukung anggukan oleh Zulfikar.
"Yah, mau bagaimana lagi. Lihat dirimu Zul! Kau masih sangat lemah, bahkan jalan saja masih dibantu kursi roda. Dan kau Pramuja, kau ini baru saja bangkit dari kematian. Aku belum bisa memberi kalian misi dalam waktu dekat ini," kata Pak Hendarto.
"Sangat disayangkan sekali, Pak. Padahal Pramuja kini mempunyai kemampuan yang sangat berguna untuk pekerjaan kami," keluh Zulfikar.
"Kalian tidak sepenuhnya akan menganggur. Ada sebuah kasus yang menarik di sebuah desa. Desa itu bernama Desa Kembang Setaman. Kabarnya di sana, banyak gadis perawan yang menghilang secara misterius dalam 3 bulan ini. Polisi setempat, belum berhasil mengungkap kasus itu," papar Pak Hendarto.
"Itu kasus yang menarik. Aku tertarik untuk ke sana." Pramuja antusias.
"Hei, tunggulah beberapa hari sampai aku bisa berjalan dengan normal. Aku tidak ingin ke sana dengan kursi roda," protes Zulfikar.
__ADS_1
"Kalau begitu, besok datanglah ke kantor. Aku akan mengurus surat tugas untuk kalian. Kalian juga bisa bekerja sama dengan polisi setempat," ujar Pak Hendarto.
Pramuja dan Zulfikar mengangguk patuh.
***
Beberapa hari kemudian, keadaan Zulfikar sudah sepenuhnya pulih.
Dengan mengendarai mobil jeep, Pramuja dan Zulfikar pergi ke Desa Kembang Setaman yang lokasinya agak terpencil.
Sesuai namanya, desa itu memang banyak ditumbuhi bunga-bunga. Ada bunga yang memang sengaja ditanam warga, ada juga bunga-bunga yang tumbuh secara liar. Desa itu terlihat sangat indah.
Pramuja dan Zulfikar, telah menemui pimpinan polisi yang kantornya berada di kecamatan. Jaraknya memang cukup jauh dari desa itu. Wajar saja, sulit bergerak cepat jika ada kasus yang terjadi di desa itu.
Pramuja meminta kepala polisi untuk merahasiakan identitas mereka. Sebagai seorang intel, Pramuja dan Zulfikar memang terbiasa menyamar untuk menyembunyikan identitas asli mereka.
***
Pramuja dan Zulfikar, kini sudah berada di kantor kepala desa. Dengan berbekal kartu nama palsu dan peralatan fotografi, mereka mengenalkan diri sebagai fotografer dan meminta izin untuk menetap sementara di desa itu.
"Saya sangat menyambut baik kedatangan kalian. Desa ini memang sangat indah, tapi belum banyak orang yang tahu. Semoga dengan foto-foto yang akan kalian ambil nanti, bisa lebih mengenalkan desa kami ke dunia luar. Itu tentu sangat baik untuk meningkatkan sektor pariwisata kami." Kepala desa berbicara panjang lebar.
"Terima kasih, Pak! Kami akan mengambil foto-foto yang bagus untuk dipublikasikan," sahut Pramuja.
"Kami yang harusnya berterima kasih. Untuk tempat tinggal, saya akan menyiapkan sebuah rumah untuk kalian. Sebenarnya, itu villa yang sudah lama kosong. Pemiliknya, menyumbangkan villa itu untuk desa ini. Villa itu dirawat dengan baik oleh warga desa. Jika ada tamu yang berkunjung, kami biasanya menempatkan mereka di villa itu," ujar kepala desa.
"Tentu saja kami akan dengan senang hati menyambut kebaikan Bapak. Kami setuju menempati villa itu. Terima kasih, Pak." Zulfikar menjabat tangan kepala desa.
Kepala desa memerintahkan bawahannya, untuk mengantarkan Pramuja dan Zulfikar ke villa yang dimaksud.
__ADS_1
"Hmmm... Fotografer ya..." gumam kepala desa, ketika Pramuja dan Zulfikar sudah menghilang di balik pintu.
***
Villa yang dituju Pramuja dan Zulfikar, terletak di sebuah bukit di pinggir desa. Tempat itu sangat indah. Ditumbuhi banyak bunga, serta pemandangan desa penuh bunga di bawah bukit. Desa Kembang Setaman terlihat sangat jelas dari atas bukit itu.
Selain villa tempat Pramuja dan Zulfikar, ada sebuah villa lagi yang terlihat lebih besar dan memiliki halaman yang luas. Letaknya tidak begitu jauh dari villa tempat mereka berada.
"Kalau villa yang itu, milik siapa, Pak?" tanya Zulfikar penasaran.
"Itu milik orang kaya di kota. Sebenarnya, villa ini juga milik orang kaya itu. Karena dia membangun lagi villa yang lebih besar dan mewah, villa yang ini disumbangkan untuk inventaris desa," terang bapak-bapak yang mengantar mereka ke villa.
"Apa villa itu masih sering dikunjungi orang kaya itu?" selidik Pramuja.
"Sangat jarang, Mas. Tapi kemarin, ada anak dari orang kaya itu datang untuk berlibur di desa ini. Dia masih ada di villa itu. Dia bahkan, belum sempat turun ke desa di bawah," terang si bapak dari kantor kepala desa.
"Terima kasih atas informasinya, Pak," ujar Pramuja, diselingi dengan senyum khasnya.
"Sama-sama, Mas. Ini kuncinya! Fasilitas listrik dan airnya dijamin lancar. Ada TV dan lemari es yang bisa digunakan untuk menyimpan makanan. Jika ingin membeli sesuatu, Mas-Mas harus menuruni bukit ke desa di bawah. Tapi, hari sebentar lagi malam. Kalian harus berhati-hati, jika menuruni bukit di malam hari. Jalanan sangat gelap karena tidak ada lampu jalan yang terpasang."
Setelah menyerahkan kunci villa ke tangan Pramuja, bapak itu pamit. Ia segera memacu sepeda motornya, meninggalkan Pramuja dan Zulfikar. Dalam hati bapak itu, dia tidak ingin berlama-lama di villa yang menyeramkan itu. Misteri apa yang sebenarnya menyelimuti tempat itu?
Pramuja dan Zulfikar, menurunkan barang-barang mereka dari mobil. Lumayan banyak juga persiapan yang mereka bawa, termasuk bahan makanan. Tadinya, mereka berpikir tidak akan mendapatkan tempat tinggal sebagus itu. Oleh sebab itu, mereka sudah menyiapkan bahan makanan dan peralatan untuk berkemah.
Hari sudah memasuki senja. Langit sudah mulai kelabu. Pramuja dan Zulfikar, sudah memasuki villa. Di balik semak-semak tidak jauh dari villa yang ditempati kedua bersahabat itu, sepasang mata memperhatikan mereka dengan tatapan yang dingin.
***
__ADS_1