
Kakek Paimin dibawa ke Polsek setempat yang berada di kecamatan. Kapolsek yang bernama AKP. Wijayanto yang kebetulan masih ada di kantor, mendengarkan laporan kasusnya dengan kening berkerut.
"Sejujurnya aku tidak percaya kematian para korban itu disebabkan oleh santet. Hasil autopsinya belum keluar, hasil test lab atas racun juga belum kita terima sampai sekarang. Kita seharusnya tidak menahan Kakek Paimin ke dalam sel tahanan. Tapi demi keselamatannya, dia memang harus dibawa kemari." AKP. Wijayanto berkata kepada anak buahnya.
"Saya tidak bersalah, Pak! Saya tidak membunuh mereka. Mereka hanya saya pijat seperti biasanya. Tidak ada yang aneh. Saya juga tidak tahu mengapa mereka bisa mendadak tewas setelah pulang dari rumah saya." Kakek Paimin berkata lirih.
"Sudahlah, kita tunggu saja hasil autopsi dan test laboraturium. Mungkin besok hasilnya akan keluar. Untuk sementara, Kakek menginap dulu di sini," ujar AKP. Wijayanto.
AKP. Wijayanto mendapat panggilan masuk dari sahabatnya, AKP. Hendarto. Dia menceritakan kasus dukun santet yang sedang ditangani. AKP. Hendarto sangat tertarik dengan kasusnya.
Sebenarnya aku punya anak buah yang jago dalam memecahkan kasus-kasus misteri.
Suara AKP. Hendarto di seberang telepon.
"Wah, itu bagus sekali. Kalau tidak sibuk, mungkin kau bisa mengirim anak buahmu itu untuk membantu kami di sini," sahut AKP. Wijayanto.
Baiklah, besok aku akan membuat surat tugas dan mengirim mereka ke sana.
AKP. Hendarto menyanggupi permintaan temannya itu.
__ADS_1
Di tengah obrolan, datanglah segerombolan warga mengeruduk kantor polisi.
"Ada apa ini?" tanya AKP. Wijayanto kepada anak buahnya yang sibuk menenangkan warga desa yang terlihat sangat marah itu.
"Kami ingin Kakek Paimin dibakar hidup-hidup! Baru saja tadi ada seorang warga lagi yang meninggal secara mendadak. Dia juga tadi pagi habis pijat di tempat Kakek Paimin," ujar salah seorang perwakilan warga.
"Itu tidak bisa! Kakek Paimin ada dalam pengawasan kami. Tidak ada yang boleh menyentuhnya!" AKP. Wijayanto berkata dengan tegas.
"Tapi kalau dia dibiarkan hidup, akan jatuh lebih banyak korban lagi," kata warga desa yang lain.
"Kita harus menunggu hasil autopsi dan test laboratorium besok, baru bisa memastikan penyebab kematian para korban." AKP. Wijayanto berusaha menenangkan warga.
Warga desa tetap tidak mau meninggalkan kantor polisi. Mereka mendesak untuk membawa Kakek Paimin untuk dibakar hidup-hidup bersama rumahnya yang diduga sebagai sarang ilmu santet.
"Tunggu dulu! Saya punya seseorang yang bisa membantu memecahkan kasus ini!"
AKP. Wijayanto menghubungi AKP. Hendarto dan meminta agar Pramuja dan Zulfikar segera datang ke sana.
AKP. Hendarto menghubungi Pramuja untuk segera pergi ke Purwakarta malam ini juga.
__ADS_1
***
Pramuja sudah duduk di dalam mobil jeep yang dikemudikan Zulfikar. Setelah mendapat telepon dari atasannya, dia segera mengajak Zulfikar untuk pergi ke Purwakarta. Jarak antara Jakarta dan Purwakarta sekitar 96 km dengan jarak tempuh sekitar 1 setengah jam.
"Apa kau percaya dengan ilmu santet, Pram?" tanya Zulfikar memecah keheningan.
"Ya, harus kuakui kalau hal-hal semacam itu memang ada. Kalau benar kasus ini akibat santet, tentu akan sangat sulit bagi pihak kepolisian untuk mengungkapnya," sahut Pramuja.
"Makanya kita disuruh ke sana secepatnya malam ini juga, bukankah begitu?" Zulfikar menekan pedal gas lebih dalam lagi.
"Itu benar, Zul! Tapi ingat, jaga kecepatanmu! Jangan mengemudi di luar batas kecepatan normal." Pramuja mengingatkan.
Zulfikar pun mengurangi sedikit laju kendaraan yang dikemudikannya.
Setelah memakan waktu sekitar satu setengah jam, sampailah mereka di halaman Polsek setempat, tempat dimana Kakek Paimin diamankan.
"Sepertinya kita belum terlambat, Pram!" kata Zulfikar, saat melihat kerumunan warga yang menunggu di depan kantor polisi.
***
__ADS_1