Dicerai Karena Binal

Dicerai Karena Binal
Tidak menceritakan masa lalu


__ADS_3

Malam semakin panas, Dean yang tak kuasa mendominasi permainan Miranda mengaku kalah dan hanya bisa pasrah menerima sentuhan jemari tangan janda cantik yang semakin lama semakin membuatnya mabuk kepayang.


Entah berapa kali Dean menyirami benih cintanya didalam rahim janda cantik yang terus saja aktif diatas tubuhnya. Membuat sesuatu dibawah sana semakin tak mampu untuk kembali mengeeras, "Ahh sayang, please ... ini sudah kali ketiga, akuhh lelah Mir ..." ucapnya seraya memohon agar Miranda menghentikan goyangan yang membuat benda tumpul itu benar-benar kelelahan tak berdaya.


Tubuh Miranda yang tampak mengkilap, karena perasaan kasihan dengan lawan mainnya, ia merubah posisi untuk menjauh dari tubuh sang mantan. "Agh, ternyata kau payah, untung cinta, kalau tidak aku buang kau dari apartemen ku ...!" Ia mengumpat dalam hati, kemudian membalikkan tubuhnya agar bisa mendekap pria segagah Dean.


Kecupan-kecupan manis yang diberikan Dean, membuat hati Miranda semakin bahagia sehingga menutup akal dan pikirannya dari kekurangan sang mantan kekasih hati.


Wajah cantik itu tersenyum, tangan mulusnya mengusap lembut bibir Dean yang tipis namun terlalu sopan jika berada diatas ranjang, "Kamu tidak pernah mencari tahu tentang bagaimana caranya memuasskan wanita, hmm?"


Ada guratan kekecewaan dari raut wajah Miranda yang terpancar, membuat Dean harus berkata jujur padanya, "Agh ... maafkan aku, Mir. Inilah yang menjadi kelemahan aku, tapi Tyas tidak pernah mengeluh karena dia selalu menikmati apa yang kulakukan padanya."


Kening Miranda mengerenyit masam, kedua netra yang awalnya saling menatap satu sama lain dengan penuh perasaan cinta, seketika berubah menjadi wanita yang sangat garang. Nafas masih menderu karena sisa percintaan mereka berdua, akan tetapi pria itu justru membandingkan dirinya dengan Tyas istri sahnya. "Maksud kamu, aku harus menerima begitu saja? No Dean ... aku Miranda Anderson, bukan Tyas istrimu!"


Gegas Miranda membalikkan tubuhnya menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya kemudian memaksa memejamkan mata karena perasaan kecewa semakin menganga.


Sementara Dean, hanya terdiam membisu dengan perasaan bercampur aduk. Pikirannya menerawang jauh akan masa depan rumah tangganya bersama Tyas yang kini berada diambang kehancuran, jika mengecewakan Miranda. "Mau tidak mau, aku harus menikahi Miranda. Jika tidak ... maka aku akan mendapatkan masalah besar ..."


***


Pagi yang cerah, setelah pergulatan panas Miranda dan Dean. Janda kembang itu meraih gawainya yang ada di nakas kirinya, tanpa mau melihat kearah samping karena masih terbawa suasana hati kecewa untuk mencari nomor Adrian sang kekasih. "Kenapa anak itu tidak mengantarkan mobil ku ..."


Miranda menata rambut panjangnya, meraih pakaian yang berserakan dilantai dekat ranjang kemudian mengenakannya. Lagi-lagi ia tidak menemukan Dean berada diranjang peraduan itu, "Kemana anak itu? Agh ... ternyata kau seorang laki-laki berengsek, Dean. Kenapa aku harus jatuh hati padamu, sampai-sampai kamu tidak pernah menghargai aku ..."


Dengan demikian, Miranda tak begitu menghiraukan keberadaan Dean yang ia ketahui sudah kembali ke apartemen milik perusahaan keluarganya.


Gegas Miranda memasuki kamar mandi untuk melakukan ritualnya seperti biasa, sehingga melupakan tujuan awal yang akan menghubungi Adrian.


Setelah melakukan ritual cukup lama dan mengenakan seragam kantor, Miranda berjalan santai keluar dari kamar untuk mencari asupan nutrisi sarapan pagi. Namun, betapa terkejutnya ia karena mendapati Adrian tengah tertidur di sofa dengan kaki mengangkang dan mulut ternganga lebar. Masih terdengar suara dengkuran karena merasa lelah dengan kegiatannya hingga malam.


Jantung Miranda seakan-akan berhenti berdetak, ia merasa bersalah karena melupakan Adrian malam tadi. Perlahan kaki jenjang itu melangkah mendekati sang kekasih yang jauh sempurna dari Dean jika berada diatas ranjang, membuat ia semakin berada dalam kebimbangan.


Seperti biasa setiap pagi, seorang pembantu telah datang untuk membersihkan apartemen miliknya dan mempersiapkan semua sarapan pagi untuk anak majikan tersebut.


Wanita yang biasa disapa Mimin itu menghampiri Miranda untuk bertanya lebih dulu sebelum menyelesaikan beberapa pekerjaan dengan suara sangat pelan, karena tidak ingin mengganggu waktu istirahat kekasih anak majikan, "Pagi Mba Mir, sarapannya mau dibawa ke kantor atau makan di sini?"


Miranda yang tengah duduk di sofa tempat Adrian tertidur hanya menjawab pelan, "Saya sarapan di sini saja, bik. Tolong buatin kopi dan susu coklat, ya?"


"Njeh Mba Mir."

__ADS_1


Kembali Miranda mengalihkan pandangannya kearah Adrian yang merasa terganggu dengan suara dua wanita itu seraya mengerjabkan kedua bola matanya, sambil tersenyum menatap janda cantik yang sangat menawan duduk dihadapannya.


Entah mengapa, ada perasaan bersalah dihati Miranda untuk Adrian, karena telah tega mengkhianati sang kekasih hanya karena perasaan penasaran terhadap Dean. Sedikit gugup, Miranda mencoba untuk mengalihkan pikirannya dengan hati yang penuh juga semakin sesak, "Ka-ka-kamu kapan masuk apartemen aku? Kok, enggak tidur dikamar?"


Musisi tampan itu hanya mengusap-usap lembut wajahnya, kemudian duduk disamping Miranda sambil memeluk tubuh ramping sang kekasih, mengecup pundak yang terbuka itu seraya berkata pelan, "Aku masuk ke sini jam tiga. Aku lihat pintu kamar kamu terbuka, dan aku melihat kamu sedang terlelap dengan balutan selimut. Karena aku tahu kamu tidak bisa tidur nyenyak jika ranjang bergerak, makanya aku memilih tidur di sini. Kebetulan aku menyelesaikan beberapa pekerjaan dari perusahaan yang baru mendaftar dilink aku untuk meng-audit keuangan mereka. Makanya aku tertidur di sini. Karena baru selesai pukul enam tadi, ternyata kamu bangunin aku. Kamu mau aku antar kemana, ke hotel atau kantor?"


Miranda masih terdiam, wajahnya terasa sangat panas dan hatinya kembali gelisah. Ia sangat mengetahui bagaimana sifat Adrian yang mampu menutupi semua permasalahan yang ia ketahui, untuk melakukan tindakan yang akan mengguncang permainannya. Walau hari ini Adrian tidak mempermasalahkan soal Dean, akan tetapi gitaris berstatus duda itu juga memiliki pemikiran berbeda dengan dirinya.


"Hmm ... kamu anterin aku, deh. Nanti kamu bisa istirahat diruangan aku. Hari ini aku akan kedatangan Om Anas dan mungkin pekerjaan ku akan semakin banyak." Miranda menundukkan wajahnya, karena tidak ingin menatap netra Adrian yang hanya tersenyum-senyum tipis padanya.


Terasa anggukan Adrian di pundak Miranda, "Masih jam delapan. Jadi masih bisa mandi dan hmm ..."


Miranda mendelik, ia menggeleng kemudian mengusap lembut kepala Adrian, "Enggak, aku sudah bersih dan wangi. Lagian aku lagi datang bulan, jangan macam-macam."


Kembali Adrian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis mengecup lembut pipi mulus yang tersaji dihadapannya. "Aku mandi dulu, ya? Kamu mau siapkan baju aku tidak? Ada tuh di tas ransel." Ia menunjuk kearah tas ranselnya, kemudian berlalu begitu saja memasuki kamar sang kekasih hati.


Betapa sakitnya perasaan Adrian menutupi semua yang disaksikannya, ketika mendengar ******* sang kekasih yang sungguh menyakitkan di kamar mewah itu. Ingin rasanya ia menghajar Dean dini hari tersebut, namun ia selalu mengingat semua ucapan ibu suri yang memintanya agar tetap sabar mendampingi putri kesayangan mereka.


Pandangan Adrian semakin melebar, menatap lekat ranjang peraduan yang tengah di bersihkan oleh Mimin seraya berkata dengan nada tegas, "Bik, tolong ganti semua seprei nya, ya? Mungkin saya akan menetap di sini selama satu minggu. Jadi tolong awasi siapa saja yang masuk dan menginap di sini!"


Mimin mengangguk patuh, kembali melirik kearah pintu karena takut anak majikannya mendengar ucapan Adrian yang memberi perintah padanya, "Ba-ba-baik den. Ini mau saya bersihkan semua. Hari ini mau makan siang di sini atau di kantor?"


"Tanya Mira saja!" Adrian berlalu begitu saja, karena menyadari bahwa sang kekasih hati sudah masuk kedalam kamar mewah itu.


Mimin mengangguk, melakukan pekerjaannya tanpa mau bertanya lagi. Ia tidak pernah ikut campur dalam urusan anak majikannya sama sekali, sesuai permintaan Tina Talisa.


***


Ditempat yang berbeda, Dean justru tengah berbincang serius dengan sang istri yang berada di seberang sana melalui panggilan video call.


[Apa! Kamu mau ke Jakarta, kapan? Emang kamu harus pelatihan di sini ...]


Sedikit gelisah, Dean berusaha untuk tetap tenang dihadapan sang istri yang terus menatapnya.


[Iya bang. Aku menginap sama abang, ya? Karena pengen reuni juga sama Miranda dan Adrian. Katanya mereka mau menikah, aku lihat dari beberapa komentar teman-teman di group alumni. Emang Miranda enggak ngomong sama abang ...]


Seketika, perasaan cinta yang tengah berbunga-bunga kembali pupus. Kiasan indah yang berbaur dengan hasrat menggebu hilang entah kemana. Perdebatannya dengan Adrian dini hari itu, membuat Dean semakin ketakutan akan mulut pria cuek itu yang akan membuka aib perselingkuhannya dengan putri kesayangan Anderson.


Pintu kamar apartemen Miranda sengaja Dean buka perlahan, agar janda cantik itu tidak terjaga karena waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Kedua bola mata pria itu saling menantang, Adrian tampak tersenyum tipis ketika melihat raut wajah Dean yang tampak ketakutan dan kebingungan.

__ADS_1


Adrian dengan santai menyandarkan tubuhnya di sofa apartemen milik Miranda, sambil menikmati segelas kopi hitam yang ia pesan melalui aplikasi sejak dua puluh menit yang lalu. Dadanya bergemuruh, ingin menghajar Dean. "Hebat sekali kau bermain, sampai terdengar dessahan haram kalian hingga aku merekamnya. Apa kau ingin aku mengirimkan semua ini ke group alumni juga ke Pak Anderson, hmm?"


Wajah tampan Dean tampak tegang, rahangnya mengeras bahkan sorotan matanya semakin nyalang ketika melihat gawai itu berputar-putar ditangan sang gitaris handal tersebut. "Aku hanya menghibur Miranda, karena kau telah mengkhianatinya. Jadi di sini tidak ada yang salah, melainkan janda nakal itu yang memintanya padaku lebih dulu."


Tangan sang gitaris mengepal kuat, dadanya semakin terasa panas, berkali-kali ia mengusap wajahnya kasar, sambil menantang lekat iris mata Dean yang sangat licik. "Ogh ... jadi Miranda merasa aku telah mengkhianatinya. Baiklah ... silahkan tinggalkan apartemen ini, kita akan bermain bersama!" tukasnya tanpa mau berbasa-basi apalagi berdebat dengan pria seperti Dean.


Mendengar jawaban seperti itu, gegas Dean berlalu meninggalkan apartemen milik Miranda begitu saja dengan wajah memerah karena perasaan khawatir.


Siapa yang tidak akan khawatir, Adrian merupakan abang kelas yang satu angkatan dengan sang istri dan mengenal dekat karena mereka satu kelas juga teman sebangku.


"Sialan anak ini. Akan aku hubungi Tyas, agar tidak percaya begitu saja pada omongan laki-laki bangsat seperti Adrian ..."


[Bang, kamu kenapa banyak bengong sih? Wajah kamu juga pucat begitu, apakah seberat itu masalah kamu sama Pak Anderson ...]


Mendengar suara Tyas diseberang sana, memecahkan lamunan Dean yang masih membayangkan kejadian dini hari tersebut ketika bertemu dengan Adrian.


[Ogh ... tidak sa-sa-sayang. Kamu jaga kesehatan, ya? Ingat, kamu harus perhatikan juga kandungan kamu sebelum berangkat, karena sudah memasuki trimester ketiga. Abang berangkat dulu, ya? Sopir kantor sudah menjemput abang ...]


Dengan mata berkaca-kaca, Tyas hanya mengangguk patuh, kemudian mematikan sambungan teleponnya lebih dulu.


Wajah Dean kembali menekuk. Ia merasa bersalah telah mengkhianati pernikahannya dengan Tyas yang tengah mengandung. Kegilaan, janji yang ia ucapkan malam tadi masih terpatri dalam benaknya yang akan menikahi Miranda dalam waktu dekat. "Agh Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menikahi Miranda atas kesalahan yang telah kami lakukan ataukah ..." Gegas ia meninggalkan apartemen pemberian perusahaan menuju kantor yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya saat ini.


***


Matahari bersinar semakin tinggi, padatnya aktivitas di kota besar sangat berbeda dengan kota nomor tiga seperti Medan. Wanita yang terlihat tegar dan biasa itu masih terus memikirkan bagaimana caranya untuk melepaskan sang suami dari jeratan hukum yang tengah mengancam karir Dean.


Tyas tengah duduk dihadapan kepala bagian yang akan memberikan surat dinasnya menuju Jakarta. Setelah mendapatkan persetujuan ketika menerima SK pengangkatannya sebagai wakil kepala bagian administrasi di samsat Medan.


"Bu Tyas, kehamilannya emang sudah memasuki trimester ke berapa? Saya rasa satu minggu dinas di Jakarta tidak memberatkan ibu yang tengah mengandung, kan?" Kepala bagian sengaja meyakinkan kondisi Tyas.


Dengan cepat Tyas menjawab, "Ogh tidak pak. Kebetulan Bang Dean ada di Jakarta. Jadi saya bisa menginap sama dia saja." Senyumnya mengembang lebar sambil mengusap lembut perut buncitnya.


"Ogh, baiklah. Lagian kita juga melakukan pelatihan di Hotel Talisa milik Pak Anderson. Itu lho, pengusaha sukses yang menikah dengan Ibu Suri Tina Talisa asal Singapura. Kamu alumni sana juga kan, setahu saya?"


Tyas mengangguk, wajah sederhana itu tersenyum tipis kemudian menjelaskan pada sang atasan, "Saya hanya sampai sekolah menengah atas di sana, pak. Setelah lulus saya kuliah di sini, karena orang tua pindah tugas ke sini. Syukurlah kalau kita mengadakan acara dihotel mereka, anak Pak Anderson kan adik kelas saya, pak."


"Ogh ya? Janda cantik yang mau jadi anggota badan narkotika di Medan. Saya baru dapat kabar dari Bang Ucok dari kepala badan narkotika di sini, katanya keponakan Monata mau dinas di Medan. Tapi saya tidak begitu jelas siapa yang mereka maksud, cuma mereka mengatakan putri kesayangan Pak Anderson dan pemilik Hotel Talisa. Kalau benar kamu mengenalnya, lebih bagus dong. Saya terkadang suka heran, orang kaya kok mau berkarir seperti ini, apakah dia kurang uang, atau justru memiliki misi yang lain."


Mendengar cerita dari sang atasan tentang status Miranda yang janda, seketika ia teringat akan pesan Adrian sang teman masa sekolah.

__ADS_1


[Tolong, jangan pernah mengganggu kebahagiaan orang lain, karena ulah suamimu. Kita berteman sejak dulu, dan aku sangat menghargai pertemanan kita, Tyas ...]


Kalimat yang dikirim Adrian melalui pesan singkat whatsApp, membuat kepala Tyas semakin berdenyut. "Apakah Dean memiliki hubungan dengan Miranda, tapi aku sangat mengetahui siapa yang menjadi mantan dari suamiku sejak sekolah, atau jangan-jangan Dean tidak mau menceritakan semua masa lalunya, hanya karena. Agh, entahlah ..."


__ADS_2