Dicerai Karena Binal

Dicerai Karena Binal
Janda nakal yang gila


__ADS_3

Setelah kehadiran Tyas di apartemennya, Miranda seakan sulit untuk berdamai dengan Adrian walau mereka tinggal bersama. Namun janda cantik itu memilih diam karena tidak suka akan sikap posesif sang duda tersebut. 


Miranda tengah di sibukkan dengan berbagai laporan di ruangannya. Ia meninggalkan Adrian seorang diri di apartemen karena malas berdebat dengan alasan tidak ingin kehilangan sang janda pewaris tahta. Ia mengusap lembut wajah cantiknya, tiba-tiba teringat akan sosok Heru yang sudah tidak memberikan kabar padanya setelah tiga hari lalu.


Lagi-lagi Miranda membuka galery foto dirinya bersama Heru. Banyak kenangan mereka di alam terbuka menghabiskan waktu bersama jika jenuh melanda.


Entah mengapa, air mata Miranda tergenang melihat kemesraannya bersama sahabat sekaligus partner ranjangnya. Foto yang sangat indah, memberikan kesan bahwa Heru tidak pernah main-main dengan hobinya yang menjadi pilihannya mendapatkan pundi-pundi uang. Foto-foto bersama selayaknya pasangan muda, dari berciuman, berpelukan, hingga wajah terjelek yang mereka tampilkan dengan perasaan bahagia kala itu.


Miranda menghela nafas panjang, Heru bukanlah pria yang posesif seperti Adrian, pria gondrong itu sangat friendly dan pandai menarik perhatian janda cantik tersebut dengan caranya. Seketika pandangannya pias, ketika melihat foto makan malam bersama mereka di pantai Jogjakarta, ketika menemani pria single itu mengisi satu acara gathering satu perusahaan.


Martabak mie yang menjadi makanan favorit mereka berdua, menambah kesan indah tanpa kemewahan. Seketika Miranda tersenyum sendiri, bergumam dalam hati, "Kapan kita bisa seperti ini lagi, Ru? Jujur gue kangen sama lo, tapi gue juga tidak bisa jauh dari Adrian dan melupakan Dean. Gue yakin, suatu saat nanti kita akan kembali bersama, merajut semua impian-impian kecil kita ..."


Heru terlahir dari orang yang berada, tidak jauh berbeda dari Adrian. Ia terlahir dari seorang ibu yang berprofesi sebagai bidan di Padang, sang ayah telah meninggal dunia sejak 15 tahun yang lalu, karena kecelakaan pesawat yang ditumpangi ketika pulang dinas kala itu. Sehingga ia tumbuh dari tangan Ibu Sisvarita dan melanjutkan kuliah di kampus yang sama dengan Miranda.


Tidak banyak yang diceritakan Heru pada Miranda kala itu, karena sang bunda memilih menikah lagi dengan seorang kepala daerah dan memberikan kebebasan kepada Heru untuk memilih masa depan hidupnya.


Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar ruangan Miranda, membuat ia bergegas menutup galery foto yang menjadi privasinya selama beberapa tahun ini, semenjak menyandang status janda.


"Ya masuk!" Miranda mengusap wajahnya lembut, kemudian mengalihkan pandangannya kearah pintu.

__ADS_1


Tiba-tiba kepala Beny melongok kedalam ruangannya, sambil berkata dengan sedikit menggoda janda kembang kesayangan Anderson, "Gue pikir lo sama sang gitaris, Beib, ternyata lonely. Napa muka lo kecut gitu, enggak dikasih nafkah batin sama babang gitaris?" Ia masuk begitu saja, kemudian menutup pintu ruangan dengan rapat.


Miranda mendengus, ia hanya menghela nafas panjang kemudian beranjak menuju sofa agar duduk berdekatan dengan Beny, "Jangan sok tahu, deh. Gue lagi datang bulan kali, jadi perut mules-mules aja dari tadi."


"Tumben lo datang bulan, Beib!"


Miranda menepuk pundak Beny yang sengaja menertawakannya, "Sebel banget sama lo. Ngapain lo ke ruangan gue, hmm? Kalau cuma buat gue kesel!"


Beny dibuat tertawa terbahak-bahak oleh tingkah laku janda cantik yang duduk disampingnya tersebut. "Bukannya, kalau lo kedatangan Heru selalu ready kapan saja? Kok tiba-tiba sama gitaris datang bulan?"


"Sialan lo!" Miranda mendengus dingin, "Gue kesel saja sama Adrian, bisa-bisanya dia ngundang Tyas ke apartemen gue, coba! Walaupun gue tinggal sendiri dan doi numpang, ya ... harus izin dulu dong ngundang temennya! Jangan seenaknya aja, mentang-mentang gue kekasih, Heru saja tahu batasan gue sama dia!"


Tawa Beny pecah mendengar celotehan Miranda yang sudah mulai gerah dengan sosok pria seposesif Adrian, "Dari awal gue udah bilang sama lo, kan Nyet! Seharusnya lo jadian sama Heru! Walau Heru gondrong, enggak jelas masa depannya tapi dia memiliki tujuan dalam meniti karirnya!"


Beny hanya menggelengkan kepalanya mendengar penuturan Miranda. Wajah tampan nan sensual dengan alis mata yang tata bak cowok metroseksual masa kini, membuat janda cantik itu kembali meledek karyawan Multy Strada tersebut, "Terus kapan lo jadian sama Popy?"


"Ighs ... yang kita bahas apa, tiba-tiba ke Popy. Dia itu masih sibuk karena mantan pacar lo, tuh. Dean Alexander penggelap dana dua puluh enam milyar!" tutur Beny dengan wajah yang sangat menyebalkan.


"Apaan sih, lo. Belum terbukti dia semua pelakunya! Bisa jadi elo, orang-orang kepercayaan keluarga gue, atau siapalah yang tidak ingin melihat Ibu Suri dan Pak Anderson hidup bahagia, bisnis ini kejam, Bro! Apalagi mereka tahu, gue masa bodoh dengan semua bisnis Pak Anderson! Mending gue jadi wanita karir, seperti Om Monata. Hidupnya tenang, lebih disiplin dan terarah pada tujuan sesungguhnya. Habis masa dinas, pensiun, deh."

__ADS_1


Lagi dan lagi Beny dibuat geleng-geleng kepala oleh pemikiran singkat Miranda, "Sebenarnya jadi lo paling enak banget, Nyet! Lo tinggal minta sama nyokap, bokap, mereka tinggal transfer. Lo bisa menghabiskan waktu bersama Heru jalan-jalan keliling dunia. Karena setahu gue, hobi kalian sama, have fun! Bedanya Heru bisa menjual karya seninya, lo ya gitu ... tahunya jual anu doang! Eh, salah ... bukan jual ding, gratis!"


Hati Miranda semakin kesal dengan candaan Beny yang sama sekali tidak pernah sopan jika bicara dengannya. Berkali-kali ia menepuk pundak rekan kerjanya itu dengan rona wajah menggeram kesal.


"Sopan kalau bicara, anak jin. Setan banget bibir, lo! Kapan gue kasih gratis, gue mau kok dinikahi sama Dean, yang penting kalau gue jadi istri pria itu ... gue traktir lo makan siang selama dua bulan!" Miranda memberikan dua jemarinya, sebagai janji seorang sahabat.


Beny yang mendengar celotehan Miranda mau menjadi yang kedua, tiba-tiba tertegun. Tangannya mengusap lembut kening janda kembang itu seraya berkata, "Bisa enggak, lo jangan gangguin rumah tangga orang, Beib! Kasihan istrinya, kasihan sama anak mereka yang akan lahir. Kalau saran gue, mending lo tetap serius sama Heru daripada Adrian. Heru itu santai banget, dan dia pakai soul, Beib ... soul ..."


Miranda menyunggingkan senyuman lirihnya dari sudut ujung bibir dengan raut wajah yang semakin kesal, "Soul, soul, soul sepatu maksud lo?" Seketika ia kembali menatap serius wajah Beny, "Emang kenapa kalau sama Adrian, apa dia kurang baik, hmm?"


"Tapi statusnya duda, punya anak lagi, emang lo mau ngurus anak orang, Beib?"


"Ya enggaklah! Iya juga sih, itu juga yang menjadi pertimbangan gue. Tapi gue jalani dulu, deh. Kali aja gue emang berjodoh dengan Dean, jadi bisa membuktikan pada lo, lo, lo pada, bahwa menjadi istri kedua itu lebih baik daripada tidak dinikahi sama sekali!"


"Yang pasti, gue tidak mengambil harta kekayaan dia, karena Tyas istrinya Dean juga tahu kalau gue punya harta sendiri, kok ... gue cuma butuh anu, Ben, bukan hartanya!"


Kedua alis Beny langsung menaut, ketidaksukaan tersirat jelas dari rona wajahnya yang tetap tidak setuju dengan ide Miranda. "Terus Adrian lo anggap apa?"


"Buat status, jika Tyas bertanya. Gue hanya penasaran, bagaimana rasanya jadi istri cinta pertama gue! Makanya gue rela melakukan apapun untuk bisa menjadi istri Dean, moga-moga bisa hamil!"

__ADS_1


Wajah polos Miranda yang tampak tersenyum bahagia membayangkan indahnya menjadi yang kedua, membuat mulutnya ternganga, matanya berkedip-kedip, Beny hanya menjawab, "Lo janda nakal yang gila, ya! Terserah, nanti lo juga bakal tahu siapa yang terbaik buat lo, jika mereka berdua mengecewakan hidup lo! Satu lagi, jangan sampai Ibu Suri mengetahui akan rencana bodoh lo ini, karena berdampak pada kemurkaan orang tua!"


"Iya, iya, iya!" Miranda tertawa terpingkal-pingkal karena berhasil membuat Beny kesal atas rencana gilanya.


__ADS_2