Dicerai Karena Binal

Dicerai Karena Binal
Rela menjadi istri kedua


__ADS_3

Suara lantunan ayat-ayat suci terdengar menggema di salah satu tempat umat muslim menunaikan kewajiban mereka. Di sana pula Miranda duduk bersimpuh dihadapan penghulu untuk melepas status janda menjadi istri dari Dean Alexander.


Tangan kedua pria itu saling berjabat, Monata yang diminta oleh Anderson untuk menikahkan putrinya, menjadi istri siri dari pria bernama Dean yang menjadi pilihan hidup Miranda untuk bahagia.


"Saya terima nikah dan kawinnya Miranda binti Anderson dengan mas kawin dua puluh gram emas dibayar, tunai!"


"Sah, sah, sah ...!" Seru ustadz yang berada dihadapan mereka.


Mereka berdoa, membuat Miranda dapat bernafas lega karena telah melepaskan masa jandanya dengan pria yang sangat ia cintai sejak beberapa tahun silam.


Keduanya saling bertatapan dihadapan para saksi yang tidak begitu banyak rekan menghadiri acara sakral tersebut. Miranda hanya didampingi oleh Monata, sementara Dean seorang diri untuk menikahi wanita yang menjadi cinta pertamanya.


"Mir, Om pulang dulu ya? Kamu baik-baik dan jaga kesehatan. Mungkin lusa, kamu sudah bisa aktif di badan narkotika propinsi yang kantornya berada di Jalan Sudirman."


Tanpa banyak bicara, Miranda menyalami punggung tangan Monata kemudian menoleh kearah Dean yang tampak angkuh setelah menikahi putri kesayangan Anderson. "Hmm ... syukurlah kalau Miranda bekerja di sini, jadi aku masih bisa pulang pergi Medan-Pekanbaru tanpa sepengetahuan Tyas dan istriku tidak curiga sama sekali ..."


Tidak banyak yang berubah. Miranda justru tak diacuhkan oleh Dean yang baru mendapatkan surat pemecatan dari pihak Anugerah Finance tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu. Kejutan luar biasa dari perusahaan membuat dirinya tampak lebih emosi pada wanita yang baru dua hari ia nikahi.


"Apa maksud dari Om Anas, Mir? Kenapa aku dipecat, bukankah kita menikah atas izin papa dan mama kamu? Ta-ta-tapi kenapa aku justru mendapatkan surat pemecatan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu!" hardiknya penuh amarah juga kecewa.


Wajah Miranda tampak kebingungan. Baru satu bulan ia merintis karirnya di badan narkotika sebagai team sosialisasi untuk masyarakat juga ke sekolah-sekolah menengah pertama dan perusahaan pemerintahan. "A-a-a-apa maksud kamu, aku sama sekali tidak tahu masalah pemecatan ini Dean, tapi kenapa aku yang kamu salahkan, hmm?"


"Ya, karena kamu putri dari Anderson! Aku sudah membuktikan bahwa aku tidak bersalah dalam penggelapan dana walau belum di acc oleh pihak perusahaan. Namun kamu sama sekali tidak mau membantu ku! Bagaimana aku tidak panik, aku harus membiayai kamu juga Tyas di Medan!" sergahnya membuat Miranda langsung terdiam. 


Tangan Miranda tampak menggeram, ia tidak menyangka bahwa Dean ternyata jauh dari kata sopan dan berkata lembut seperti dulu. Pria yang sudah memiliki anak berusia satu bulan itu, justru tampak semakin arogan ketika telah menikah dengannya. Ditambah lagi dengan pemecatan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, membuat kepala Dean tidak dapat berpikir jernih.


Cepat Miranda menegaskan pada Dean, "Maaf Dean! Kita menikah hanya untuk merubah status ku, bukan karena aku menginginkan kamu membiayai hidup ku. Disini tidak sama dengan Jakarta, aku harus bersosialisasi dengan lingkungan, masyarakat yang ternyata jauh dari kata sopan! Untung baju dinas ku lumayan sopan, jika menggunakan pakaian bebas, mungkin aku akan lebih risih karena harus menerima perlakuan hal yang tidak menyenangkan di sini!"


Darah Dean seakan menggelegak mendengar penuturan Miranda bahwa janda kembang itu menikah dengannya hanya untuk perubahan status. "Apa maksudnya, berarti kamu meremehkan aku sebagai seorang suami, laki-laki yang bertanggung jawab atas dirimu, hmm? Atau, kamu masih menjalin hubungan dengan Adrian, Miranda?"


Wajah cantik itu mematung menatap lekat iris kecoklatan milik Dean. "Siapa yang meremehkan kamu sebagai seorang suami? Aku justru rela meninggalkan keluarga demi menjadi istri kedua kamu, walau hanya sekedar menikah siri! Ya, sudahlah ... terserah kamu saja. Aku tidak mau pusing menghadapi masalah ini. Yang pasti aku tidak pernah ikut campur dalam perusahaan Multy Strada ataupun Anugerah Finance."

__ADS_1


Dengan demikian, Miranda memilih meninggalkan Dean begitu saja, karena perasaan kecewanya terhadap pria yang dicintainya. "Ternyata menjadi istrimu tidak seindah bayangan ku! Kau terlalu egois sebagai pria, Dean ..."


Entah mengapa, Miranda menangis sejadi-jadinya didalam kamar seorang diri. Dean justru tidak mengacuhkannya, bahkan memilih meninggalkannya menuju Medan.


Wajah cantik yang tampak sembab itu melebarkan pandangannya hanya untuk memastikan bahwa Dean tidak akan meninggalkannya. Ia melihat sang suami tengah mengemasi semua pakaiannya, membuat Miranda semakin naik darah.


"Kamu mau kemana, Dean?"


"Aku mau pulang ke Medan! Karena Tyas baru saja melahirkan dan aku akan mengadakan syukuran untuk kelahiran putra pertama kami!"


"What? Ki-kita baru saja menikah Dean, tapi kenapa kamu pergi meninggalkan aku seperti ini!"


Dean menghela nafasnya dalam-dalam, kemudian berkata dengan senyuman sinis yang sangat menjijikkan, "Itulah resikonya menjadi istri siri. Aku pikir dengan menikahi mu, kita bisa bahagia. Ternyata aku salah, Pak Anderson justru tengah tertawa bahagia bersama Ibu Suri karena telah berhasil memecat aku tanpa bisa melakukan apapun saat ini!"


Tidak terima dengan ucapan Dean, Miranda bangkit dari tempat tidurnya, menghampiri laki-laki itu dengan penuh perasaan kecewa yang teramat dalam, "Ogh ... kamu dipecat itu salah aku, hmm? Bukankah kamu yang menandatangani berkas tanpa dibaca? Kenapa kamu tidak melakukan banding, agar kamu mendapatkan tempat sebagai kepala cabang di Medan? Apa harus aku yang melakukannya, hmm?"


Sama sekali Dean tidak mengacuhkan pertanyaan sang istri. Kali ini ia tidak tahu harus berbuat apa. Baginya, Tyas merupakan temannya dalam berkeluh kesah jika berada dalam posisi sulit seperti ini.


Sakit kegagalan Miranda menikah dengan suami pertamanya atas perjodohan, lebih sakit ketika Dean meninggalkannya begitu saja tanpa kata.


***


Waktu begitu cepat berlalu, sudah lebih dari dua tiga bulan Miranda merintis karirnya tanpa memperdulikan status pernikahannya. Ditambah Dean tidak pernah memberikan kabar apapun walau hanya sekedar say halo atau memberikan nafkah secara lahiriah.


Miranda tengah terpaku pada layar laptop miliknya diruangan kerja yang hanya berukuran kecil dan jauh dari kata mewah. Wajah cantik itu tengah asyik mengerjakan draft sesuai permintaan kepala badan narkotika yang biasa disapa, Bang Robert. Pria paruh baya berusia 52 tahun yang sangat baik dan berkharisma sebagai seorang pemimpin bintang dua.


Ketika Miranda tengah fokus mengerjakan pekerjaannya, tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan munculnya Robert yang sudah berdiri didepan meja kerjanya.


"Sudah jam dua belas, kenapa kamu tidak makan siang, Mir?"


Mendengar pertanyaan Robert, Miranda hanya tersenyum seraya menjawab singkat, "Hmm ... sedikit lagi, Pak."

__ADS_1


"Sudah saya bilang, jangan panggil Bapak, panggil saja Abang. Bagaimana kita makan di restoran Padang? Kebetulan saya mau bertemu dengan Om kamu, Monata."


Miranda menelan ludah dan hanya tertawa kecil mendengar celotehan Robert, mengingat usia sang pimpinan yang sudah berusia lebih tua dari Om-nya. "Ighs ... Bapak saja deh yang pergi, eh Abang." Ia menutup bibir mungilnya, kemudian berkata lagi, "Kerjaan saya masih belum beres, karena nanti malam mau dibawa keliling sama team, Bang."


"Agh sudah ... ikut saya saja. Jam makan siang itu harus makan. Ingat ini Pekanbaru bukan metropolitan. Jadi kamu tidak perlu terlalu tepat waktu menyelesaikannya." Robert menarik tangan Miranda tanpa perasaan sungkan, membawa wanita cantik itu memasuki mobil dinasnya.


Seumur-umur, baru kali ini Miranda diperlakukan seperti itu oleh sang pimpinan sambil bergumam dalam hati, "Apakah orang tua ini tidak mengetahui bahwa aku memiliki suami? Main tarik-tarik saja ..." sungutnya dalam hati dengan wajah kurang senang.


Mobil dinas SUV itu melaju kencang menuju restoran yang dimaksud Robert, membuat Miranda teringat bahwa dirinya belum mengambil uang tunai.


Lagi-lagi Miranda berseru kepada driver yang menjadi ajudan Robert, "Def, kita berhenti di supermarket depan itu, ya? Aku belum ambil uang."


"Iya Kak," Defri menyalakan lampu sein, kemudian memarkirkan mobilnya di depan supermarket tersebut.


Entah mengapa, Robert menahan tangan Miranda sambil berkata dengan nada lembut, "Sudah, nanti saya yang kasih kamu uang, tabungan kamu biarkan saja!"


Hati wanita mana yang tidak berpikir macam-macam, ketika seorang pria berpangkat justru telah berani untuk mendekatinya. "Ogh, terserah deh, Bang. Tapi saya mau mengambil uang sekaligus mengecek tabungan saya. Mana tahu suami saya memberikan lebih bulan ini," tawanya menyeringai kecil.


Dengan satu sentuhan tangan kepada Defri, mobil itu berlalu meninggalkan supermarket ternama tersebut menuju restoran.


Tanpa pikir panjang, Miranda mengecek tabungannya melalui gawai miliknya, ia hanya ingin memastikan bahwa Dean masih memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami tanpa diminta.


Benar saja, tabungannya hanya bertambah empat juta sesuai pesan yang dikirim Dean beberapa hari lalu.


[Maaf Mir, beberapa bulan ini aku baru mendapatkan pekerjaan sebagai debkoletor di wilayah Aceh hingga Medan. Bulan depan aku akan ditempatkan dikota mu dan aku bisa berkumpul bersama keluarga. Sekali lagi aku minta maaf, lusa aku akan mengirimkan uang untuk mu ...]


Miranda hanya tersenyum tipis menatap layar gawainya sehingga ia semakin terlena akan indahnya menjadi istri kedua seorang Dean Alexander.


Akan demikian, diwaktu yang berbeda Adrian justru mengirim pesan kepada sang kekasih ...


[Hai sayang, kamu dimana? Kebetulan aku ada di kota mu, bisa kirimkan alamat tempat tinggal mu ...]

__ADS_1


"What, Adrian ada di sini? Kenapa aku bisa melupakan kekasih ku? Ogh Tuhan, bagaimana caranya aku menjelaskan kepada Adrian tentang status ku ...?"  


__ADS_2