
Burung berkicau saling bersahutan. Sinar matahari pagi menyinari kota minyak dengan kesejukan pagi menyapa dua insan yang masih terlelap dalam tidurnya. Tangan kekar Dean masih mendekap tubuh sang istri, setelah menghabiskan malam nan indah menurut pria satu anak itu, akan tetapi kecewa bagi Miranda.
Berulang kali Miranda merengek, meminta Dean untuk menuntaskan hasratnya dengan cara yang berbeda, setelah pria itu menyemburkan benihnya dipaha mulus sang istri karena mengalami ejakulasi dini. Akan demikian, pepatah yang mengatakan 'banyak jalan menuju Roma' itu jualah yang membantu sang istri mencapai pelepasannya demi membahagiakan Miranda secara batiniah.
Perlahan Dean mengerjabkan kedua bola matanya, ketika mendengar deringan gawainya yang menggema dikamar mewah kediaman Monata. Tidak ingin mengganggu waktu istirahat Miranda, gegas Dean meraih gawai yang berada diatas nakas, melihat nama 'Tyas' tertulis dilayar pipih miliknya.
"Ngapain anak ini menghubungi aku pagi-pagi sekali ...!" Sesalnya mendengus dingin, kemudian beranjak menuju kamar mandi.
[Ya halo!]
Suara Dean masih terdengar berat, membuat Tyas langsung menghardik sang suami diseberang sana.
[Tiga jam lagi jemput aku di terminal. Aku tidak mau menunggu, karena sudah berminggu-minggu aku memikirkan rumah tangga kita yang sudah berada diambang kehancuran. Pertemukan aku dengan Miranda, agar aku bisa menghajar janda gatal itu!]
Kening Dean mengkerut dua belas. Ia tidak menyangka bahwa Tyas benar-benar berangkat dari Medan menuju Pekanbaru hanya untuk menyelesaikan pertikaian mereka. Bersusah payah Dean mengatur nafasnya, agar tidak tersulut emosi karena desakan sang istri pertama.
[Dengar Tyas, aku tidak bisa janji untuk bisa menjemput mu ke terminal. Karena aku tidak memiliki kendaraan sendiri, itu yang pertama. Kedua, Miranda hamil anak aku. Tolong jangan ikutkan amarah mu, karena aku tidak akan pernah menceraikan mu!]
Bagaikan gelombang tsunami yang menghantam relung hati seorang istri pertama, saat mendengar penjelasan tentang kehamilan Miranda yang sangat menyesakan dada Tyas diseberang sana. Tangannya bergetar, tenggorokannya seketika tercekat bahkan terasa mengering, membuat ia lagi-lagi tidak bisa menahan rasa yang bercampur aduk selama diperjalanan menuju kota sang suami tercinta.
[Abaang!? Apakah kamu yakin ba-bahwa itu merupakan anak kamu? Bu-bu-bukankah Miranda memiliki hubungan dengan Adrian! Jangankan untuk menghamili Miranda, memuaskan aku saja kau tidak bisa laki-laki keparat!]
__ADS_1
Mendengar kalimat kasar dari sang istri diseberang sana, Dean mengakhiri teleponnya agar tidak terpancing emosi karena kegilaan sang istri pertama. Ia sama sekali tak mengacuhkan ucapan Tyas yang selalu merasa tidak puas jika berhubungan intim dengannya. "Dasar perempuan, kalau sudah emosi semua-semua di ungkit ...!" Sesalnya meletakkan gawai diatas meja granit yang menghiasi wastafel mewah itu, sambil membasuh wajahnya seraya menatap cermin.
"Terserah deh, mau gugat cerai atau bahkan menampar wajah aku, yang penting aku harus melindungi Miranda karena saat ini dia tengah mengandung anak pertama kami!" Dean menyeringai kecil, sambil mengusap wajahnya lembut dengan air keran yang mengalir.
Bersusah hati, Dean mengatur nafasnya yang tersulut api amarah sebelum keluar dari kamar mandi untuk mengajak sang istri mandi bersama.
Setelah merasa hatinya cukup tenang, Dean membuka pintu kamar mandi sambil melongokkan kepalanya kearah ranjang peraduan mereka, dengan memanggil nama sang istri penuh kelembutan. "Mir, Miranda sayang ... bangunlah, hari ini kamu masuk kerja dan katanya mau melakukan pelunasan untuk rumah baru kita!"
Tampak tubuh yang hanya tertutup selimut tebal itu menggeliat, sambil tersenyum bahagia mencari keberadaan Dean dan menoleh kearah jam dinding yang berdentang. "Ogh ... kamu sudah bangun, Sayang? Masih jam setengah tujuh, aku malas ikut upacara pagi, biarin deh ... Bang Robert ngedumel sama aku!" Ia mencepol rambutnya tinggi sambil menyandarkan tubuhnya disandaran ranjang, menunggu sang suami mendekatinya.
Entah mengapa, Dean langsung menghampiri Miranda sambil mencium aroma tubuh yang sangat berbeda dengan Tyas, sehingga membuat dirinya semakin mabuk kepayang dan bisa melupakan istri pertamanya itu walau sesaat. "Aku sayang banget sama kamu, Mir. Walau belum mandi, tapi kamu masih saja wangi dan aromanya sangat khas dihidung aku, Sayang." Ia mengecup lembut bibir Miranda.
Melihat wajah cantik itu merajuk, Dean justru semakin bersemangat untuk menggoda sang istri yang menjadi rebutan para pria muda. "Aduh, duh, duh ... Sayang aku suka ngambek deh. Kan aku tanggung jawab. Justru buat kamu berkali-kali hanya menggunakan lidah dan permainan jariku!"
Wajah Miranda semakin terasa memanas, membuat ia tersipu malu, karena merasa bahagia dengan apapun yang dilakukan Dean pada tubuhnya. "Hmm ..." Ia mengalungkan tangannya dileher pria yang sangat dicintainya sejak sekolah, seraya tertawa kecil ketika menerima kecupan-kecupan nakal namun terasa manis karena ulah sang suami tercinta.
"Ahh ... Sayanghh, nanti Tante Marisa manggil kita buat sarapan bersama. Pasti Om Monata sudah berangkat deluanhh ..." Lagi-lagi Miranda memejamkan matanya, menikmati sentuhan lidah Dean yang mulai menggerayangi tiap lekuk tubuhnya.
"Sebentar saja Sayang, semoga hari ini kita semakin bahagia menjalani hari ..."
"Ahh ..."
__ADS_1
***
Tak ingin mendengar sahabatnya menunggu lama di terminal kota serumpun itu, Adrian yang baru kembali dari acara manggungnya malam tadi, bergerak cepat mencari kunci mobil miliknya didalam laci kamar milik wanita yang berstatus istri sah tersebut.
"Ren, kunci mobil dimana? Kok tidak ada dilaci kamar?" Adrian bertanya sambil merapikan rambutnya didepan cermin.
Renita hanya mendengkus kesal, kemudian meraih tas miliknya dan merogoh kunci mobil milik mereka berdua. Wajah manis itu hanya bisa menahan rasa kecewa terhadap perlakuan sang suami selama ini. "Kamu mau kemana, sih? Jam segini mau keluar, bukannya kamu ada janji akan menjemput Melodi kesekolah siang nanti, hmm?"
Rahang Adrian menggeram, kemudian menoleh kearah Renita yang sudah duduk dibibir ranjang kamar mereka, sambil tersenyum tipis. "Aku mau menjemput teman sekolahku. Dia datang dari Medan, karena suaminya tidak bisa menjemput ke terminal. Tolong jangan curiga terus, Ren ... aku sudah minta maaf sama kamu."
Jika mengingat semua kejadian yang sangat menyakitkan hati, karena perbuatan gila Adrian yang terus mengakui bahwa mereka telah berpisah, membuat Renita tidak bisa melupakan semua kejadian itu. "Apakah kamu mau bertemu dengan wanita yang selalu kamu akui sebagai kekasih itu, Dri? Kenapa dari dulu, kamu selalu membuat aku seperti boneka. Bahkan kamu menganggap aku tidak ada, tapi disaat kamu susah justru menangis dikaki aku!" Tukasnya mengalihkan pandangan kearah lain.
Kening Adrian mengerenyit kemudian berkata dengan entengnya, "Kamu cukup menjaga Melodi dirumah dan jangan sok mengatur semua gerak-gerik aku. Aku juga banyak kegiatan diluar sana, Ren. Ditambah team aku juga masih berada di sini. Tolong hargai aku sebagai suami, karena tugas istri itu harus menjaga buah hati kita tanpa kekurangan apapun!"
"Tapi Melodi butuh kamu, Adrian. Kamu punya anak cewek, jangan sampai wanita cantik bernama Miranda itu hamil anak kamu diluar nikah. Aku memang bodoh, mencintai orang yang tidak mencintai kita sama sekali. Sakit Adrian! Sakit banget!"
Lagi-lagi Adrian bergidik mendengar celotehan Renita barusan dan langsung menyela ucapan sang istri, "Aku tahu dan aku juga sudah berjuang untuk tetap bertahan demi Melodi. Jadi tolong pahami aku, karena sampai saat ini aku masih mencintai Miranda!"
Kedua tangan Renita mengepal kuat, ingin sekali ia menampar wajah pria yang sudah menikahinya selama enam tahun, dengan rasa sakit hati bercampur aduk sehingga tanpa sungkan ia berkata kasar pada Adrian. "Silahkan kamu hampiri wanita bernama Miranda Anderson itu, karena aku sudah tidak peduli lagi!"
__ADS_1