Dicerai Karena Binal

Dicerai Karena Binal
Jangan tinggalkan aku


__ADS_3

Ketika semua mata tertuju kepada Miranda karena pangkuannya yang mengatakan bahwa ia merupakan istri dari Dean Alexander, membuat pria yang baru keluar dari ruang meeting tersebut menyapa wanita cantik itu terkesiap melihat wajah tampan, rambut gondrong dan lukisan indah ditangan kirinya.


Kening Miranda menaut tiga belas, wajah cantik nan menawan hanya bisa mengerjabkan bola mata lentiknya dan menoleh kearah Anas juga Suci. Ia tampak kebingungan dengan ujung bibirnya menyebut nama, "He-ru?"


Jantung keduanya sama-sama berdebar-debar, bagaimana mungkin mereka akan dipertemukan kembali dalam kondisi yang tampak membingungkan. Heru sebagai seorang fotografer dan tiba-tiba mengikuti meeting dengan perusahaan keluarganya juga tempat suaminya bekerja.


"A-apakah ini sebuah kebetulan? A-a-a-ada apa ini, kenapa Heru dan Beny ada di sini dan membawa Om Anas serta secretaris pribadi Papa ...?" Hanya pertanyaan-pertanyaan itu yang ada dalam benak Miranda, sebelum melangkahkan kakinya untuk berlari mendekati Heru Primadi.


Akan tetapi, ketika wajah Miranda masih tampak kebingungan. Beny mendekati wanita cantik itu sambil memeluk tubuhnya dengan sangat erat.


"Hai Dear ... how are you?" Beny memeluk tubuh ramping Miranda, disusul dengan Anas juga Suci yang langsung mendekapnya bergantian.


"Ogh fine." Kedua bola mata Miranda yang membulat sempurna hanya tersenyum tipis kemudian berkata dengan suara pelan, menghadap Anas yang berdiri di sampingnya, "Om ngapain kesini? Terus kenapa harus ada Heru juga Beny? Ini kan, kantor suami aku, Om!" Ia menggeram, menatap Anas dengan wajah kebingungan.


Melihat keponakannya itu, Anas hanya mengacak rambut Miranda, kemudian menangkup wajah cantik itu dengan penuh kerinduan, "Emang kamu lupa, bahwa leasing ini milik saham Multy Strada sebesar 40%. Wajar kami berada di sini, karena lusa ada undangan di gedung serbaguna keluarga kita, Mir."


Bibir yang seksi itu hanya bisa ternganga lebar mendengar penuturan dari sang paman yang membuat Miranda semakin kelimpungan. "Terus ... Ibu Suri kesini, Om?"


Hanya anggukan yang Anas berikan, agar Miranda dapat hadir seperti biasanya. "Ya iya dong. Mungkin sama Papa kamu juga. Jangan lupa datang, ya?"


Miranda hanya mengangguk, kemudian mengalihkan pandangannya kearah Dean yang mendekatinya.

__ADS_1


Tanpa sungkan, Miranda memeluk Dean dihadapan seluruh karyawan membuat Heru tersenyum sinis dan berlalu begitu saja, meninggalkan mereka yang berada di sana.


Tidak ingin melihat Heru yang berlalu meninggalkannya, Miranda berlari kecil mendekati sahabatnya itu seraya  berkata, "Heru ... kamu nginep dimana?"


Dengan perasaan gugup juga sungkan dihadapan Anas dan pria yang diakui Miranda sebagai suami hanya mendekatkan wajahnya ke cuping kiri sahabatnya seraya berkata sini, "Gue ... enggak tahu apa salah gue sama, lo! Sampai-sampai lo ngejar cowok seperti dia dan gue harus mendengar gosip murahan itu dari bibir Beny. Gue kecewa sama lo, selamat siang dan permisi!" Ia membuka pintu kaca dan langsung berlalu begitu saja.


Bibir Miranda bergetar, dadanya bergemuruh dan terasa sangat sesak. Ia tidak menyangka bahwa kepergiannya meninggalkan luka dihati sang sahabat terbaiknya. Dengan tatapan mata yang membayang, ia hanya melihat sosok Heru dari balik kaca kantor suaminya.


Miranda tampak gusar, bersusah payah ia menata hati dan perasaannya agar tidak diketahui oleh Dean sang suami. Namun kembali Beny menepuk pundaknya agar tersadar dari lamunan wanita cantik itu.


"Cie, cie ... sulit move on sama om gondrong! Makanya, kalau ngatur perasaan itu harus benar, jangan asal comot, habis itu menyesal seumur-umur!" Tangan Beny langsung meraih tubuh Miranda, kemudian mengecup kepala sahabat manjanya itu.


Suami mana yang tidak akan terbakar api cemburu, ketika melihat sang istri berpelukan dengan pria lain. Walau Beny merupakan team promosi dari Multy Strada, namun tetap darah Dean mendidih ketika melihat dua anak manusia itu saling berpelukan dihadapan para karyawan yang berada di sana.


"Benar ... secara cewek itu, kan anak orkay. Mana ada yang nolak kalau mau dinikahin sama doi ..."


Entah mengapa, tangan Dean mengepal kuat ketika mendengar suara-suara sumbang yang terdengar menyebalkan. Kedua bola matanya membulat besar menatap tajam kearah dua wanita bagian administrasi tersebut.


Tampak mereka langsung menundukkan pandangannya, karena tidak ingin melihat sorotan mata yang nyalang kearah mereka berdua. 


Gegas Dean mendekati Miranda dan langsung menarik tangan sang istri untuk segera membawa keruang kerjanya.

__ADS_1


Dengan demikian, Beny hanya tersenyum tipis kemudian melepaskan tangannya dari Miranda yang langsung ditarik oleh Dean.


Semua mata tertuju pada pemandangan tersebut. Mereka justru tidak menyangka Dean akan seberani itu membawa istri sirinya masuk keruang lingkup dunia pekerjaannya. "Bisa mati karir Pak Dean, jika beliau masih melanjutkan pernikahan gilanya jika istri pertama menuntut."


Lagi dan lagi, Anas dan Suci saling berpandangan. Mereka tidak menyangka bahwa sesungguhnya Miranda berada dalam posisi yang sulit saat ini.


"Kita kembali ke hotel! Saya mau menghubungi Tina juga Anderson. Kenapa anak cewek mereka justru dibiarkan menjadi seperti ini!" Anas menggeram bahkan sangat tidak bersahabat dengan keadaan yang banyak membully sang keponakan.


Tanpa pikir panjang, Suci mengangguk setuju dan berlalu meninggalkan perusahaan yang telah satu tahun menjalin kerjasama dengan keluarga mereka.


***


Diruangan sejuk itu, Miranda memeluk erat tubuh Dean. Ia menangis sejadi-jadinya di dekapan cinta pertamanya. Wajah cantik itu tampak tidak akan pernah melepaskan sang suami, karena perasaan cintanya.


Dengan bibir bergetar Miranda berkata seraya memohon, "Please ... jangan tinggalkan aku, Dean. Aku tidak bisa hidup tanpa mu. Apalagi saat ini, kamu tinggal dikediaman kakak mu. Aku butuh kamu, Dean."


Ada perasaan iba dihati Dean sebagai seorang suami, ia bersusah payah untuk mengatur nafasnya sambil menangkup wajah cantik itu, "Dengar sayang ... sampai kapanpun aku tidak pernah menceraikan mu. Kamu istriku, Miranda. Aku tidak peduli dengan semua cemoohan, tapi tolong hargai aku sebagai suami mu! Hentikan kegilaan mu dengan Adrian, karena dia tidak akan pernah melepaskan mu!"


Tangan mulus nan indah itu semakin meraih tubuh hangat sang suami. "Ta-ta-tapi Tyas?"


Mendengar nama sang istri disebutkan oleh Miranda, rahang Dean semakin tampak mengeras. Ia tidak menyangka bahwa Tyas akan menyerang Miranda hanya karena mendengar penjelasan dari musisi tersebut, Adrian.

__ADS_1


Perlahan Dean mengecup lembut bibir Miranda sambil mengeluarkan semua jurus mautnya, "Tenang saja ... untuk urusan Tyas, biar aku yang menyelesaikannya. Tyas akan datang kesini, mungkin minggu depan. Karena aku juga tidak bisa berpisah darinya demi anak kami, Mir!"


Perasaan Miranda seakan-akan dihujam sembilu. Ia tidak menyangka bahwa Dean tidak akan pernah melepaskan Tyas, walaupun pernikahan mereka hasil dari penggerebekan. "Bukankah kamu tidak mencintai Tyas, Dean? Please ... jadikan aku istrimu dan kita pergi dari kota ini, aku ingin hidup berdua menghabiskan waktu bersama mu!"


__ADS_2