Dicerai Karena Binal

Dicerai Karena Binal
Status single


__ADS_3

Hati wanita mana yang tidak akan hancur berkeping-keping, ketika diceraikan hanya karena meminta haknya sebagai seorang istri yang normal. Perceraian yang tidak beralasan dari Dean, membuat Miranda tidak ingin melanjutkan perjalanan karirnya dan memilih meninggalkan kediaman Monata, setelah pertikaian keluarga dua minggu yang lalu.


Perjalanan dinas yang enggan dilakukannya, serta beberapa hari mengalami jatuh sakit karena kata talak yang diucapkan Dean dihadapan Monata juga Marisa, memberikan satu tamparan keras bagi Miranda akan kesalahan dan pengkhianatan yang dilakukannya pada awal pernikahan mereka.


Saat ini Miranda tengah duduk menikmati pemandangan minimalis kediaman pribadinya, tanpa mau menjalin komunikasi dengan orang-orang sekitarnya selain Marisa. Ia benar-benar menutup akses hingga tidak menjalin komunikasi dengan siapapun termasuk ibu suri yang ingin bertemu dengan putri semata wayangnya.


[Mir kamu dimana? Kenapa hingga saat ini tidak ada kabar? Aku mencari keberadaan mu ke kantor juga ke rumah Om Monata, tapi kamu tidak ada di sana. Kamu dimana Miranda. Balas ...]


Pesan singkat dari Heru, membuat Miranda hanya tersenyum tipis menatap layar gawainya yang entah berapa kali berdering, tapi tak diacuhkannya.


Miranda masih duduk di kursi santai kediaman pribadinya, yang ternyata sudah dilunasi oleh Tina Talisa karena tidak ingin melihat putri kesayangannya hidup susah dirantau orang.


"Kasihan sekali Miranda, Pa. Mama ingin bertemu dengan dia, bagaimana kalau kita kembali ke Pekanbaru dan menjemput Miranda pulang." Tina memelas pada Anderson, karena tidak tega mendengar cerita Marisa tentang putrinya.


Mendengar permintaan sang istri yang sudah bisa menerima Miranda setelah perceraian, Anderson sebagai kepala keluarga mengangguk setuju. "Tapi setelah Papa meeting sama rekan bisnis dulu. Mungkin kita akan terbang malam ke sana, setelah itu terserah kamu. Tapi jika Miranda tidak mau kembali bagaimana?"


Tampak Tina hanya menghela nafas berat. Ia benar-benar tidak ingin melihat Miranda hidup dalam kehancuran seperti saat ini, karena kondisi tengah mengandung. Entah itu anak Adrian ataupun Dean, bagi Tina anak yang ada dalam kandungan Miranda merupakan cucu pertama bagi keluarga mereka.


***


Lepas dari hantaman Robert dan beralih ke tangan Monata yang kekar. Dean meratapi nasibnya sendiri di kediaman keluarganya. Tidak banyak bicara, Tyas sebagai wanita yang sangat mencintai pria itu sejak dulu, mengobati luka pukulan yang bertubi-tubi menghantam wajah suami tercinta.

__ADS_1


"Akhirnya Abang sadar juga, kan? Kalau anak yang ada dalam kandungan Miranda itu merupakan benih Adrian. Bukan anak kandung Abang. Bagus jika Abang sudah menceraikan Miranda, karena itu lebih baik," senyuman Tyas menyeringai kecil karena merasa menjadi seorang pemenang. 


Tidak banyak bicara, Dean hanya bisa terdiam tanpa bisa berkata-kata. Melihat wajah Tyas saja ia sudah mengatakan muak, karena ketidakjujuran sang istri tentang buah hati mereka yang dibuka lebar ketika pertikaian pagi itu. Ia hanya diam, bibirnya mengatup tanpa mau bertanya lebih banyak.


Dean bergumam dalam hati seorang diri, 'Apa benar yang dikatakan Miranda, bahwa Zian bukan darah daging ku? Selama ini aku tidak pernah tahu bagaimana Tyas diluar sana. Ditambah kekurangan aku yang ternyata menjadi momok yang sangat menakutkan bagi kedua istri ku ...'


Kedua tangannya menutup wajah yang jauh dari kata tampan, akan tetapi memiliki kharisma tersendiri bagi dua wanita yang telah menjadi istrinya. "Tinggalkan aku sendiri, Tyas. Karena aku tidak ingin diganggu oleh siapapun saat ini." Ia menggeram menatap lekat iris mata sang istri pertama dengan nada penuh penekanan.


"Tapi Bang!" Tyas masih mengusap lembut wajah Dean, akan tetapi dielakkan oleh pria yang kini memiliki kulit sedikit gelap itu.


"Tinggalkan aku! Aku tidak ingin melihat mu lagi, karena bisa saja kamu menjebak aku agar berpisah dari Miranda!" Hardik Dean sedikit lantang, membuat Tyas langsung menjauhkan tangannya dari wajah sang suami.


Ada sedikit kesedihan yang tersirat dari raut wajah Tyas. Ia tampak semakin ketakutan akan kesalahan masa lalu yang meninggalkan benih dari pria tidak bertanggung jawab karena rasa kecewanya. Bagaimana tidak, Tyas kembali terkenang ketika bertemu dengan seorang pria yang merupakan kakak kelasnya.


"Hai!" Sapa seorang pria ketika mengurus pajak kendaraannya kala itu.


Kedua bola mata Tyas membulat, ia tidak menyangka bahwa akan dipertemukan dengan pria yang pernah dekat dengannya semasa kuliah. "Ogh, ha-ha-hai ..." Ia menjawab dengan suara pelan dan bergetar.


"Kamu dinas di sini? Long time no see Tyas. Oya, makan siang dimana? Bisakah kita makan siang bersama?" Pria berperawakan tinggi juga kurus itu langsung bertanya tanpa basa-basi.


Ya, pria itu merupakan kakak kelas Tyas yang dulu terkenal sangat kaya raya, juga merupakan pemilik perkebunan sawit dan bisnis haram lainnya yang tidak pernah diketahui oleh wanita cantik itu.

__ADS_1


Sebut saja Boni, pria yang sangat humoris dan memiliki hubungan dekat dengan Keluarga Anderson. Pria yang menjadi menantu kala itu masih dapat bermain-main jika jenuh berada di Singapura serta memilih kembali Indonesia dan menetap lama di Kota Medan.


Dengan penuh kesabaran, Boni menunggu Tyas didalam mobil mewahnya sambil tersenyum sumringah karena masih menjalin komunikasi yang baik dengan sang mantan istri Miranda.


Cukup lama Boni berbalas pesan dengan Miranda, kemudian melihat dari arah luar kendaraan bahwa Tyas sudah berjalan mendekati kendaraannya. Tentu dengan cepat, pria yang memiliki pesona luar biasa dalam menaklukkan hati wanita itu, langsung menekan tombol power windows agar wanita ramping itu bisa masuk menghampirinya.


Keduanya terlarut dalam reuni masa lalu. Tidak menyangka bahwa mereka akan bertemu lagi dalam situasi seperti saat ini, sehingga Boni memberanikan diri untuk bertanya lebih lanjut tentang status Tyas yang diketahuinya masih single.


Tangan Boni masih menahan wanita yang cantik dimatanya. Ia tampak menyeringai kecil seraya bertanya, "Apakah malam ini kamu free, Tyas?"


Mendengar pertanyaan dari Boni, Tyas tampak tersipu. Ia mengangguk dan langsung setuju akan ajakan Boni yang mengajaknya untuk makan malam disalah satu hotel mewah kota Medan.


Wanita mana yang tidak akan terpesona akan pesona Boni, pria kaya sedari orok sama halnya dengan Miranda si wanita manja Keluarga Anderson.


Malam semakin dingin, kebisingan kota nomor tiga itu masih berlanjut. Boni dengan gaya angkuhnya mengajak Tyas mengahibiskan malam bersama disalah satu restoran mewah yang berada di pusat Kota Medan.


"Benarkah tidak ada yang marah jika kita menghabiskan waktu disini, Tyas?" Kembali terdengar pertanyaan Boni kepada Tyas, membuat wanita itu langsung menggeleng cepat karena tidak ingin kehilangan momen kebersamaan bersama Boni.


"Kenapa kamu tidak percaya, sih? Lagian kalau aku menikah, pasti mengirimkan undangan sama kamu, secara kita sudah lama kenal tapi tidak pernah bertemu saja. Oya, how about you? Bagaimana dengan status mu sendiri?"


"Hmm ... aku single Tyas, sama seperti mu ..." Boni memberanikan diri untuk membohongi wanita yang ada disampingnya demi melampiaskan hasrat sesaat. Tanpa memikirkan bagaimana keluarga yang tengah kecewa karena keputusan perceraiannya dengan Miranda.

__ADS_1


__ADS_2