
Mengingat percakapan Heru dan dirinya ketika berada di salah satu cafe perpustakaan kota pemerintahan kota serumpun, Miranda dilanda perasaan gelisah. Bagaimana tidak, ia tengah berpikir 'tanggal berapa dirinya datang bulan satu bulan lalu'. "Agh ... kenapa gue jadi lupa tanggal berapa terakhir gue periode ...?" Lagi-lagi ia menghela nafas berat seraya bergumam dalam hati.
Tubuhnya sendiri memanglah tidak seramping beberapa waktu lalu. Seketika terlintas dalam benaknya wajah Adrian yang sudah lama tidak ia temui dan hanya mendengarkan kabarnya melalui Renita, wanita yang masih menjadi istri sahnya.
Tanpa menunggu lama, Miranda menghentikan kendaraannya di salah satu rumah sakit ibu dan anak tengah kota. Ia mendaftarkan identitasnya dan sengaja ingin bertemu dengan dokter spesialis kandungan terbaik di rumah sakit tersebut.
"Maaf Ibu, kita cek tensinya dulu, ya?" Senyum seorang perawat bernama Leni.
Miranda menoleh kearah gadis berhijab tersebut, kemudian membuka blazer nya untuk agar lebih leluasa untuk dilakukan pemeriksaan.
"Kalau boleh tahu, kapan Ibu terakhir datang bulan?" Leni kembali bertanya sambil mencatat tensi Miranda di berkas yang diletakkannya diatas meja, "120 per sepuluh, normal ya Ibu." Kembali ia melepaskan semua alat pengukur tensi yang menempel ditangan Miranda, sambil melihat kearah wanita cantik itu menantikan jawaban Miranda.
Sementara Miranda kembali mengenakan blazer nya, kemudian menggelengkan kepala, "Saya lupa Sus. Biasanya saya datang bulan itu pertengahan bulan. Nah, dua bulan lalu saya melupakannya dan saat ini baru teringat."
Senyuman manis dari bibir Leni menguar disudut bibirnya, "Enggak apa-apa kok, Bu. Nanti juga kelihatan kalau di USG, kalau boleh tahu ... suami Ibu kerja dimana dan ini asuransi atau pribadi?"
Gegas Miranda mengeluarkan kartu asuransi miliknya kemudian memberikan kepada Leni. Ya ... Miranda masih ditanggung sepenuhnya oleh Multy Strada yang tidak di putuskan secara kejam demi kesehatan sang putri pewaris tahta pasangan, Anderson dan Tina Talisa.
Cukup lama Miranda duduk seorang diri, sambil melihat status profil rekan kerja di aplikasi whatsApp dan memeriksa akun media sosialnya.
Betapa terkejutnya Miranda, ketika gosip dirinya menjadi istri siri seorang Dean Alexander tertulis di sana.
Pujian juga bully-an tertuju padanya, membuat jantungnya berdegup semakin tidak karuan ketika membaca satu persatu hujatan ataupun sanjungan untuk dirinya.
[Duh ... akhirnya kesampaian juga, ya Miranda. Semoga samawa dan kalau cerai dari Dean Alexander langsung cari gue di Singapura. Love you, Ardan ...]
__ADS_1
Kening Miranda mengerenyit masam, bola matanya membulat sempurna, ketika melihat satu tulisan terakhir yang tampak seperti membencinya.
[Cakep, seksi, semok, bahenol, tapi kamu terlalu murah untuk menjadi seorang istri siri. Walau sesungguhnya dinikahi, tapi tetap saja ... berat menjadi yang kedua Miranda. Kasihan istri pertama Dean, aku denger lagi ... kita juga kenal sama istrinya. Stop menjadi perebut suami orang Miranda Anderson, kasihan Mama dan Papa kamu ...]
Bibir merona nan sensual itu hanya bisa tersenyum lirih, mengalihkan pandangannya keberbagai arah ketika duduk diruang tunggu depan ruangan dokter spesialis kandungan bernama, Haris.
Seketika, seorang wanita yang mengukur tensi Miranda akhirnya mengeluarkan suara sedikit kentang menyebut nama dirinya, "Ibu Miranda!"
Mendengar namanya disebut, Miranda langsung mengangkat tangannya kemudian berdiri menghampiri suster imut tersebut. "Saya, Miranda!"
Leni memberikan senyuman manis, kemudian berkata lembut, "Ayo Bu."
Miranda mengikuti langkah kaki Leni menuju ruang pemeriksaan Dokter Haris yang tampak lebih berwibawa karena memiliki usia yang bisa dikatakan matang.
"Om Haris?" sapa Miranda yang tampak terkejut melihat sosok pria yang sangat ia kenali.
Tawa Miranda pecah, entah kenapa ... ia langsung memeluk erat tubuh Haris yang sudah berada dihadapannya, membuat kedua perawat mereka sedikit kebingungan. "Om kemana saja? Terus ... kok bisa buka praktek di sini? Enakan di Mount Elizabeth, Om! Oya, Tante Sonya apa kabar, Om?" Ia tampak lebih tenang, karena mengenal sosok dokter kandungan yang akan memeriksa kondisinya.
"Tante ada di sini. Mungkin hari ini akan berangkat ke Jakarta, karena Alvin sudah mau kuliah. Kamu tinggal dimana, Mir? Sudah lama kita tidak berjumpa. Sama Monata juga sudah lebih dari dua bulan tidak bertemu." Haris membawa Miranda untuk naik ke bangkar rumah sakit, dengan dibantu oleh Leni yang masih terlihat senyum-senyum sendiri.
Tangan Miranda memberi ruang kepada Leni yang memberikan gel untuk pemeriksaan USG, membuat Haris kembali teringat status wanita dihadapannya itu.
"Bukannya kamu single, Mir?" Tanya Haris sambil meletakkan alat canggih USG lima dimensi tersebut dibagian bawah pusat Miranda.
Hanya helaan nafas berat yang tersirat diwajah Miranda, sambil mengalihkan pandangannya kearah layar televisi yang ada dihadapannya. Betapa terkejutnya Miranda ketika melihat dengan sangat jelas, benih cinta yang tumbuh kembang didalam rahimnya.
__ADS_1
Ditambah ucapan Haris yang sangat mengejutkan bagi seorang wanita sepertinya. "Nih, udah kelihatan yah? Sehat yah, Mir, usianya sudah memasuki enam minggu dan bulan depan kita sudah bisa mengetahui bagaimana perkembangan janin kamu selanjutnya."
Kedua bola mata Miranda tampak berkedip-kedip. Ia terlihat sangat gugup dan ketakutan. Bagaimana tidak, ia sama sekali lupa antara Dean ataupun Adrian. "Agh ... tidak mungkin aku mengandung anak Dean dan tidak mungkin juga aku menikah dengan Adrian, karena laki-laki itu masih memiliki istri."
Keringat dingin Miranda mengucur deras membasahi keningnya. Ruangan yang terasa sangat sejuk itu kembali semakin panas dan membingungkan. Ia menoleh kearah Leni yang membantunya untuk menutupi bagian yang terbuka, sementara Haris kembali ke meja kerjanya sambil memprediksi kelahiran anak pertama Miranda sambil bertanya karena merasa penasaran dengan status keponakan Monata saat ini.
"Kapan kamu menikah Mir?" Pertanyaan Haris sedikit mengejutkan lamunan Miranda yang masih memperbaiki tatanan rambutnya.
Wajah cantik itu hanya tersenyum tipis, seraya menggigit bibir bawahnya dan menjawab dengan enteng, "Hmm ... aku ini istri siri dari kekasih masa sekolah, Om. Om Monata yang menikahkan aku dengannya, tapi saat ini ... kami belum siap untuk memiliki anak, Om! Bisa bantu aku?"
Kening Haris mengkerut dua belas mendengar kalimat terakhir Miranda. Sejujurnya ia juga terkejut mendengar kejujuran wanita cantik yang telah duduk dihadapannya kini, akan tetapi ia mulai tertarik untuk mempertanyakan semua rahasia dari keponakan teman kuliahnya tersebut.
Persahabatan Monata dan Haris, bisa dikatakan sangat dekat. Karena mereka kuliah bersama di salah satu universitas ternama Singapura, namun tidak satu jurusan karena Haris lebih memilih menjadi spesialis kandungan dinegara Singa tersebut.
Dengan santai Haris menyandarkan tubuhnya di kursi kebanggaannya, sambil berkata dengan senyuman mengembang lebar, "Emangnya kenapa kalau kamu menjadi istri siri? Tidak ada yang salah, kan? Yang salah itu di tiduri, tapi tidak ada komitmen pernikahan di sana. Itu baru masalah!"
Kembali Miranda hanya menekukkan wajah cantiknya, kemudian menjawab gugup, "Ta-ta-tapi Om!"
"Tapi apa? Kamu tidak macam-macam, kan?" Haris mendekatkan wajahnya agar dapat melihat netra kecoklatan yang tampak cemas walau berusaha tenang.
"Ta-ta-tapi aku bingung, Om!" Tutur Miranda lagi, membuat Haris tampak semakin gelisah.
Bersusah payah, ia mengubah posisi duduknya dan kembali mendekatkan wajah tampan itu dihadapan Miranda, "Bingung kenapa, hmm?"
Sambil menautkan kedua tangannya, Miranda menelan ludahnya berkali-kali, dengan wajah merah padam dan terasa sangat panas karena kedua asisten Haris ikut penasaran dengan bingungnya Miranda. "A-a-a-aku bingung Om, hamil sama siapa!" ucapnya dengan jantung berdebar kencang.
__ADS_1
Mulut Haris ternganga lebar, mendengar kejujuran Miranda yang sangat menyebalkan gendang telinganya, menoleh kearah dua wanita yang ikut membelalakkan kedua bola mata mereka.
"Tolong tinggalkan saya dengan Miranda, tulis, 'sedang melakukan tindakan' seperti biasa!" Perintah Haris, sambil melirik kearah Miranda yang semakin gelisah. "Ternyata kamu benar-benar nakal, Miranda Anderson ...!" sesalnya dalam hati.