Dicerai Karena Binal

Dicerai Karena Binal
To-tolong aku, Bang


__ADS_3

Melihat pecahan gelas yang berserakan dilantai kamar hotel, bahkan membuat kepala Adrian terluka, wajah Miranda tampak ketakutan karena telah melakukan satu kesalahan yang dilakukannya karena ingin membela diri.


Tangan halus itu juga ikut terluka, karena pecahan kaca yang menorehkan luka di ruas tiga jarinya. Miranda memang berhasil meraih gelas dari kitchenette yang terletak tidak jauh dari pintu kamar.


Tampak Miranda sangat ketakutan dan merogoh gawai dari dalam tasnya dengan tubuh gemetaran. Sementara Adrian masih meringis menahan rasa sakit, akibat ulah tangan sang kekasih yang sungguh kejam padanya.


"Angkat Dean!" Miranda menggeram karena tidak mendapatkan jawaban dari sang suami.


***


Sementara itu, di tempat yang berbeda. Robert justru tengah tertawa terbahak-bahak melihat kejadian yang sempat membuat ricuh seluruh karyawan badan narkotika. Mereka tidak menyangka bahwa Miranda keponakan Monata berani melakukan hal gila dengan berselingkuh dari sang suami.


"Saya tidak menyangka, bahwa Bu Miranda akan melakukan hal senekat itu! Saya pikir dia wanita baik-baik, ternyata pemain juga," tawa salah seorang karyawan bernama Richard dan dapat didengar oleh Robert.


Tawa dua orang pria bagian intel juga tertawa kecil mendengar celotehan Richard. "Agh ... itu hal biasa saat sekarang, kalau menjalin hubungan jarak jauh ya, begini."


Richard mengangguk membenarkan kemudian berkata lagi, "Eh ... tapi aku lihat data Bu Miranda waktu test, dia itu lulusan ekonomi, lho. Dia juga berdarah campuran, namanya saja Miranda Anderson, tapi lahir di Singapura dan memiliki dua warga negara. Kenapa dia bisa masuk ke pemerintahan, ya?"


Salah satu rekan kerja Richard bernama Anto hanya menepuk pundak sahabatnya itu, "Kau lupa, siapa dibelakang Bu Miranda. Lupa kau sama Pak Monata jenderal bintang. Jangan main-main kalau jenderal sudah bertemu jenderal. Tidak menunggu waktu lama, sudah mendapatkan memo indah!"


Kembali mereka tertawa terbahak-bahak, mengingat semua identitas Miranda Anderson.


Wajah Robert, seketika berubah menjadi panas. Ia tidak menyukai jika wanita cantik yang tengah di perjuangkan untuk menjadi sekretaris menggantikan Nora, mendapatkan cemoohan yang sangat menyebalkan.


"Hei! Apakah kalian hanya bisa menertawakan orang yang sedang dalam masalah, hmm? Sana pergi! Awalnya saya ikut senang dengan kejadian ini, tapi mendengar celotehan kalian rasanya kalian tengah menertawakan anak buah saya!" Tukas Robert bak seorang pahlawan bertopeng.


Cepat Richard memberikan hormat pada sang komandan, "Siap Pak! Izin, saya lanjut dulu sama kegiatan!" 


Robert tidak menjawab, ia hanya mendengus dingin mencari keberadaan Defri sang ajudan yang suka menghilang. "Kemana anak itu, awas saja dia kalau makan sebelum jam-nya." Ia merogoh koceknya meraih gawai untuk menghubungi sang ajudan.


Akan tetapi, ketika Robert akan menghubungi Defri, benda pipih yang ada ditangannya tersebut justru berdering keras, membuat ia kaget bukan kepalang. "Dek Miranda ..." Keningnya mengerenyit dua belas dan langsung menjawab dengan nada tegas.


[Ya ...]


Terdengar suara tangis Miranda diseberang sana, membuat Robert lagi-lagi merasa khawatir akan anggota barunya tersebut.


[Dek Miranda, kamu dimana]


[Bang, bisa jemput saya. Saya disiksa oleh ...]

__ADS_1


Kembali terdengar suara teriakan Miranda dan mengakhiri panggilan telepon mereka. Membuat Robert tampak panik, mencari keberadaan Defri dan melacak keberadaan wanita cantik tersebut.


"Sialan! Berani sekali preman itu menghajar kekasihnya. Liat kau, ya! Aku kremasi kau hidup-hidup jika berani menyentuh kulit halus Dek Miranda ...!" Robert mengumpat dalam hati, kemudian berteriak keras memanggil ajudannya, "Defriiii! Dimana kau!"


Dengan tergopoh-gopoh seraya mendekati Robert yang masih berdiri didepan pos security, Defri memberikan hormatnya kemudian berkata, "Izin Pak, baru selesai makan di warung depan!"


Robert mendengus dingin, kemudian memberikan gawainya kepada Defri seraya memberi perintah, "Kau lacak dimana keberadaan Miranda dan minta team Richard untuk ikut sama kita. Biar aku kasih pelajaran sama pria pengecut itu, cepat!"


"Siap Pak!"


Gegas Defri melakukan semua perintah Robert, menghubungi Richard untuk ikut bersama mereka. Membuat mereka bergegas menuju hotel yang terletak cukup jauh dari kantor badan narkotika propinsi tersebut.


"Ya elah ... kasus selingkuh begini malah diurusin. Bisa jadi mereka itu hanya berantem biasa, namanya juga selingkuh!" Sesal Richard ketika mengikuti laju kendaraan mobil milik Robert menuju hotel bintang lima itu.


***


Sementara itu, kamar yang sudah semakin panas dan tidak kondusif. Membuat Adrian semakin kalut dengan keberanian Miranda yang telah tega menyakitinya.


Walau hanya menyebabkan luka kecil di bagian kiri kepalanya, namun menyebabkan pusing tujuh keliling kemudian Adrian meraih tubuh Miranda setelah bisa berdiri dengan bantuan pintu lemari.


Tetesan darah yang masih mengalir dari kepala Adrian, membuat Miranda semakin berani untuk melepaskan diri dari dekapan sang kekasih yang sudah tega menyakitinya secara fisik.


Dengan sekuat tenaga, Adrian membanting tubuh Miranda diatas ranjang kamar, kemudian menindih tubuh itu dengan tenaga penuh mengungkungnya agar tidak dapat bergerak lagi, sambil menghardiknya dengan nada keras. "Diam! Diam Miranda. Aku ingin menikmati tubuhmu kali ini saja. Untuk yang terakhir kalinya, setelah itu ... kita putus!"


Cepat Miranda menggeleng sebagai isyarat memohon agar pria itu tidak memperlakukannya dengan sangat kasar, karena sudah tidak ada kuasa lagi untuk melawan ditambah Adrian dengan tega menahan kedua tangannya diatas kepala.


"Dri ... aku mohon lepaskan aku. Aku minta maaf, Adrian! Tolong jangan sakiti aku ..." Miranda terus menangis karena sudah tidak kuasa menahan rasa sakit yang teramat sangat menghujam kulitnya.


Beberapa bekas luka, bahkan memar di bagian lengan dan pipi Miranda membuat Adrian langsung memperlakukan tubuh indah sang kekasih sesukanya.


Tersirat dendam, amarah juga kecewa, ketika Adrian berhasil meloloskan semua bahan yang menempel ditubuh mereka berdua. Hanya tangis yang bercampur aduk dengan dessahan, membuat Adrian benar-benar kalut dan tidak memiliki belas kasih lagi memompa dibawah sana. 


"Ampunhh Dri, tolong hentikan!" tangis Miranda ketika tubuh itu lagi-lagi dibolak-balik bak seekor binatang yang sangat bringas memakan mangsanya.


Eraangan Miranda membuat Adrian memompa lebih lama sambil meracau bak kekasih psikopat ditelinga sang wanita pujaan. "Kau tahu, Mir ... aku bercerai dari Reni karena masih mengharapkan mu menjadi istriku. Tapi kau tidak pernah memberikan kesempatan padaku untuk berubah. Saat aku semakin berharap, kau justru menikah dengan Dean. Sekarang, rasakan ini Mir ... enakhh bukan, hmm!" Ia menghentakkan pinggulnya beberapa kali lebih dalam, membuat tubuh Miranda hanya menggeleng namun tak kuasa untuk menjawab.


Sakit, menyesal, telah berurusan dengan Adrian kembali, sehingga membuat tubuh itu hanya bisa pasrah menerima sentuhan kasar yang sangat menyakitkan.


Adrian melepaskan penyatuannya, kemudian mellumat penuh hasrat bibir Miranda dengan jemari lentiknya masih bermain-main dibagian inti milik Miranda.

__ADS_1


Wajah cantik itu hanya bisa menahan rasa yang bercampur aduk, merasakan sesuatu yang akan meledak di bawah sana dengan dada turun naik dan nafas tersengal panjang.


"Lepaskanhh akuhh, Drihh ..."


Ketika Miranda akan mencapai pada satu titik kebahagiaannya, Adrian justru menghujami senjata kebanggaannya dan memompa lebih cepat agar menjemput impian secara bersamaan.


Terdengar suara berat dessahan keduanya, membuat Miranda langsung mendekap tubuh Adrian dengan pinggul seakan-akan naik mengikuti semua keinginan kekasihnya.


"Ahh ..." Dessahan keduanya saling bersahutan, keringat mengucur deras membasahi tubuh yang mengkilap.


Dengan nafas tersengal-sengal, Adrian melepaskan kembali penyatuannya seraya berkata dengan liciknya, "Jika kau hamil, maka kau bisa meminta kepada Dean Alexander untuk mempertanggungjawabkan pernikahannya dengan mu!"


Seketika itu juga, Miranda kembali menangis sejadi-jadinya. Ini merupakan penghinaan yang diberikan Adrian padanya sebagai seorang wanita. Entahlah kali ini, hidup Miranda semakin hancur karena telah mengecewakan Adrian yang benar-benar masih berharap penuh padanya.


Cukup lama keduanya hanya terdiam. Miranda masih duduk diatas ranjang setelah membersihkan dirinya atas pemaksaan dari Adrian. Mengenakan pakaian yang dilemparkan oleh pria berengsek tersebut, kemudian meringkuk di dalam kamar hotel tanpa boleh keluar dari sana.


Wajah Miranda yang cantik tampak pucat, menunggu seseorang yang bersedia untuk membebaskannya dari ancaman Adrian.


"Please Dri. Lepaskan aku. Aku harus kembali ke apartemen Om Monata. Aku tidak akan menuntut apapun padamu setelah ini. Karena jika kamu tidak melepaskan aku, maka kau akan dalam masalah!" Miranda terus mengingatkan pada Adrian, karena melihat sang kekasih masih mempersiapkan bong shabu di meja rias.


"Diam kau! Aku tidak peduli dengan Om mu, ataupun siapa saja! Yang penting kau harus menemani aku dan aku akan membayar mu dua kali lipat dari Dean!"


"Bangsat kau, Adrian!" Tampak wajah Miranda yang memar itu mengerjabkan matanya dua kali dan langsung berkata kasar. Ia juga tidak menyangka bahwa sang kekasih menggunakan barang-barang haram tersebut dihadapannya.


Pikiran Miranda semakin menerawang jauh, bagaimana mungkin ia akan berada dikamar hotel bersama Adrian yang masih dalam pengaruh narkotika jenis nomor satu itu.


"Adrian, lepaskan aku! Biarkan aku pergi, karena aku tidak akan pernah mau melayani nafsu bejatmu dalam pengaruh benda haram itu!" Hardik Miranda namun ditepis oleh Adrian.


Adrian yang tengah menikmati indahnya menghirup udara segar dalam pengaruh untuk meningkatkan adrenalinnya tingkat dewa, justru tertawa cekikikan mendengar celotehan Miranda. "Kenapa sayang, jangan takut. Bukannya selama ini kamu menyukai bercinta dengan aku, hmm? Apalagi saat aku memainkan jari ku, kau menggeliat Miranda, tubuhmu menyukainya!"


Hanya kalimat mengumpat yang Miranda ucapkan diujung bibirnya. Tidak menyangka bahwa Adrian benar-benar kekasih psikopat yang terobsesi untuk memiliki utuh dirinya. "Dasar laki-laki gila, mati saja kau sana!"


Tak selang berapa lama, terdengar suara bel kamar hotel berbunyi. Menyadarkan Adrian untuk membuka pintu kamar karena memesan beberapa makanan untuk makan mereka.


Akan demikian, Miranda yang berdiri menghadap kearah pintu berharap ada bala bantuan untuk mengeluarkannya dari tangan bejat pria seperti Adrian.


Benar saja, ketika pintu terbuka lebar, Robert dan team badan narkotika telah berdiri didepan pintu kamar hotel tersebut, membuat Miranda langsung berteriak keras.


"To-to-tolong aku, Bang, tolong!"

__ADS_1


__ADS_2