Dicerai Karena Binal

Dicerai Karena Binal
Bukan bohongin lo


__ADS_3

Suasana restoran sangat sepi. Miranda dan team promosi tengah duduk disisi kanan restoran dengan penuh canda tawa, membawa surat izin untuk memasukkan barang-barang event ke hotel keluarganya yang tidak jauh dari gedung perkantoran milik orang tua Miranda.


Seperti yang sudah-sudah pihak Kelvin selalu memberikan yang terbaik untuk acara louncing produk alat berat Multy Strada dengan tenaga profesional dari semua pengisi acara.


"Oya, Mir ... kami saat ini sedang menjalin kerjasama dengan klinikum untuk pemotretan acara. Kebetulan pemilik studio itu merupakan sepupu dari Bu Raisa, jadi kita pakai dia saja, ya?" Jelas Kelvin dihadapan Beny juga Miranda.


Entah mengapa, perasaan Miranda menjadi semakin tidak tenang. Ia bergumam dalam hati dengan perasaan kacau balau, "Kenapa aku harus dipertemukan dengan Heru lagi? Bukankah dia juga sedang ada di Bali. Ogh Tuhan, kenapa semuanya serba kebetulan sih? Enggak mungkin aku membatalkan secara sepihak kerja sama ini hanya karena masalah pribadi. Agh ... mana acara sudah H-6, bisa mati berdiri aku menghadapi pria bertiga ini ..."


Sementara Beny langsung terdiam, nafasnya seakan tercekat karena pernyataan Kelvin yang sangat mengejutkan, "Hmm ... bisa cari fotografer lain enggak, Vin? Karena kami hmm, eee ..." Matanya langsung tertuju pada Miranda yang duduk disampingnya.


Seketika wajah Kelvin yang masih kebingungan, seketika terdiam sejenak karena melihat Heru sudah memasuki pintu restoran dan berjalan mendekati mereka berempat.


"Hai bro!" Heru menyapa lebih dulu dengan sangat akrab, dan menoleh kearah Miranda yang meliriknya dengan wajah cemberut.


"Hai!" Beny berdiri menyambut tangan Heru, kemudian menoleh kearah Miranda yang enggan bersalaman dengan partner ranjangnya tersebut.


Akan demikian, Beny langsung mendekatkan wajahnya pada telinga Miranda seraya berbisik pelan, "Tolong profesional dikit, dong. Jangan terlarut dalam perasaan, kita lagi kerja!"


Mendengar bisikan dari Beny, seketika Miranda berdiri dan menyambut tangan Heru yang langsung tersenyum kearahnya.


"Apa kabar, Mir?"


"Baik!" Miranda mengusap tengkuknya, kembali duduk dikursi semula.


Mereka melanjutkan pembicaraan untuk semua acara yang digelar oleh keluarga janda cantik itu, sambil saling menatap antara Miranda dan Heru.


Beny sangat mengetahui bagaimana sifat sang janda muda tersebut, bahkan memberikan ruang pada Miranda untuk duduk berdekatan dengan Heru. "Gue atur randown acara dulu sama Kelvin, lo ngobrol dulu sama Heru."


Tidak ada kata penolakan, Miranda hanya mengangguk patuh untuk duduk berdampingan dengan Heru.

__ADS_1


Sedikit berbisik Heru menyapa Miranda lebih dekat, "Lo marah sama gue, Mir?"


Miranda mendecih, menatap tajam iris mata elang milik pria yang duduk disampingnya, "Lo bohong sama gue, sekarang gue tidak ingin mengenal lo lagi. Kita profesional saja, karena gue sudah muak dengan semua kebohongan lo!"


Tak ingin wanita disampingnya itu semakin membencinya, Heru kemudian memeluk tubuh Miranda, "Tisa itu memang model gue. Gue rela membatalkan rencana pemotretan kami ke Pulau Dewata hanya demi lo, Mir. Gue enggak mau lo marah begini, please ... gue enggak pernah berniat untuk membohongi lo. Gue kangen sama lo, gue cinta, Mir ..."


Susah payah Miranda menelan ludahnya, ia tampak gugup karena di gedung perkantoran itu masih ada Adrian yang sudah menjadi kekasihnya.


Perlahan Miranda menolak tubuh Heru yang semakin mendekapnya erat sambil berkata, "Tolong jaga sikap lo ... kita lagi mengurus semua acara. Gue tidak mau partner bisnis keluarga, berpikir yang aneh-aneh. Apalagi dilantai atas ada Om Anas dan Om Monata, bisa jadi mereka akan makan siang di sini!"


Heru mengangguk setuju, ia merenggangkan pelukannya, kemudian mengusap lembut bahu Miranda dengan penuh perasaan cinta dan sayang.


Tidak ada yang dapat disembunyikan oleh pria gondrong tersebut dari Miranda. Perasaan yang tidak pernah berbalas hanya menjadikan pria itu sebagai persinggahan yang tak pernah berujung. Akan tetapi, ketulusan Heru sebagai seorang sahabat kepada Miranda terlihat sangat jelas, membuat janda cantik itu semakin berada di tepian jurang kebimbangan.


Adrian merupakan sosok tegas yang mandiri walau berstatus duda, akan tetapi multitalenta dalam berkarya yang menghasilkan banyak karya dalam menciptakan sebuah syair lagu.


Dean merupakan sosok pemimpin yang lebih suka menghabiskan masa hidupnya untuk menjadi seorang karyawan dengan status sebagai suami. Walau kini tersandung masalah yang cukup berat sehingga mengancam karirnya sebagai karyawan di Anugerah Finance.   


Miranda memijat pelipisnya, kemudian melirik kearah pintu restoran yang terbuka. "Agh sial! Ngapain Om Anas bawa-bawa Adrian dan Dean makan siang ke sini? Igh ... matilah aku ..." geramnya mendengus kesal.


Melihat kehadiran Adrian berjalan santai kemeja mereka, gegas Miranda berdiri dari duduknya untuk menyambut sang kekasih hatinya, "Ayang mau makan apa? Aku pesankan." Ia langsung memberikan buku menu agar tidak terlihat kegelisahan hatinya.


Sementara itu Adrian yang melihat kehadiran sosok pria gondrong ada duduk disamping Miranda, ia langsung menyapa Heru, "Hai bro!"


Heru terkesiap mendengar suara Adrian yang baru ia sadari bahwa sosok mantan masa lalu Miranda telah berdiri di belakangnya. Jantungnya hampir copot, karena tidak menyangka akan bertemu dengan gitaris tersebut di gedung yang sama. "Ogh hai ...!" Ia tampak sangat gugup, memandang Miranda dengan seksama, mengisyaratkan kejujuran dari kegelisahan sang janda pujaan.


Kedua pria itu saling berpelukan, selayaknya teman lama yang tidak pernah bertemu akan tetapi memiliki dendam untuk memperebutkan wanita yang sama.


"Ngapain lo disini? Jangan bilang mau nikung cewek gue," seru Adrian sengaja berkata dengan senyuman namun memiliki kesan menegaskan ketelinga Dean dan Heru.

__ADS_1


Miranda hanya membulatkan kedua bola mata indahnya, karena tidak ingin melihat kedua pria itu saling bermusuhan hanya karena dirinya. "Ayang ... apaan sih. Heru kesini sama team event, dia yang bakal jadi fotografer di acara besar kita. Please ..."


Perlahan Adrian menganggukkan kepalanya, kemudian merangkul pinggang wanita yang berdiri disampingnya itu, sambil mengecup lembut bibir Miranda tanpa perasaan sungkan dihadapan semua para rekan mereka, untuk membuktikan bahwa janda cantik tersebut merupakan miliknya.


Dada Heru dan Dean seketika terbakar api cemburu. Entah mengapa kedua pria yang tidak saling mengenal itu hanya mendengus dingin menyaksikan adegan yang sangat mengejutkan tersebut.


"Sial ... berarti yang dibohongi Miranda sebenarnya gue, dong!" Sesal Heru mengalihkan pandangannya kearah lain.


Sementara itu dihati Dean justru berpikir, "Aku harus segera menikahi Miranda untuk tetap menjadi kepala cabang di Medan. Apapun caranya, jangan sampai kursi kebanggaan ku direbut oleh gitaris keparat ini. Pasti Adrian sengaja mendekati Ibu Suri untuk meminta restu, sehingga menjelek-jelekkan aku ...!"


Tubuh ramping janda kembang tersebut seakan terbang melayang tinggi, ketika bibir sang kekasih memberikan kecupan dengan sedikit ******* yang menghangatkan.


Adrian melepaskan ciumannya, mengusap lembut wajah mulus Miranda, kemudian membawa wanita itu dalam pelukannya, "Aku sama Om Anas dulu. Kamu lanjutkan kerjanya, nanti malam kita akan menghabiskan malam yang sangat romantis."


Hanya anggukan kecil yang Miranda berikan sebagai isyarat, bahwa ia setuju dengan semua rencana sang kekasih, kemudian kembali ke tempat duduknya.


Dengan wajah menggeram penuh selidik, Heru meremas kuat tangan Miranda tanpa perasaan kasihan, "Jelasin sama gue, lo balik lagi sama gitaris itu, Mir?"


"Please ... kita tidak ada hubungan apa-apa, Heru Permadi!"


"Ogh ya? Apakah yang kita lakukan diatas ranjang itu bukan hubungan? Ternyata lo terlalu nakal, Mir! Gue kecewa sama lo, selamat siang!" Heru berdiri dari duduknya, kemudian berlalu begitu saja tanpa mau melihat lagi kearah Kelvin ataupun Beny yang tampak terkejut dengan sikap sang fotografer.


Gegas Kelvin berseru memanggil rekan kerjanya, "Bro, Bro, lo mau kemana? Kerjaan kita belum selesai!"


"Masa bodoh, gue tunggu lo dikantor!" Heru mengibas tangannya ke udara tanpa menghiraukan lagi ucapan Kelvin.


Sementara Beny hanya melongo menyaksikan kejadian siang itu, sambil menggelengkan kepalanya, "Ogh Miranda, ternyata lo terjebak dalam permainan sendiri, kan? Dasar janda nakal, suka banget mempermainkan perasaan pria-pria tampan seperti mereka ..." 


Dengan cepat Miranda mengirimkan pesan singkat whatsApp ke nomor Heru, hanya untuk sekedar meminta maaf.

__ADS_1


[Maafin gue, Heru. Gue bukan bohongin lo, tapi semua datang begitu saja. Sekali lagi, maafkan gue ...]


Pesan terkirim, akan tetapi tidak ada balasan apapun karena masih centang satu yang menandakan pesan belum terbaca.


__ADS_2