Dicerai Karena Binal

Dicerai Karena Binal
Bisa perang dunia ketiga


__ADS_3

Matahari bersinar terang menyinari kota serumpun yang kaya akan minyak bumi. Waktu menunjukkan pukul enam pagi, kedua insan Miranda dan Adrian masih terlelap dalam mimpi mereka setelah menghabiskan malam panjang bersama bermadu kasih.


Sejak bertemu Adrian, Miranda sama sekali tidak pernah menghiraukan deringan gawainya yang terus saja berbunyi. Ia benar-benar melupakan semua tentang komitmen pernikahannya dengan Dean.


Seketika itu diseberang sana, Dean mendengus kesal karena tidak mendapatkan kabar dari Miranda, "Kemana anak itu, apa dia masih marah sama aku? Bagaimana ini, kalau aku minta jemput sama Kak Lia, pasti akan menjadi pertanyaan baginya, tapi Miranda dari tadi dihubungi sama sekali tidak menjawab ...!" Ia merungut dalam hati, ketika pesawat sudah landing di bandara Sultan Syarif Kasim Pekanbaru. 


Ya, Dean sengaja mengambil penerbangan pagi agar bisa menghabiskan waktu bersama Miranda sebelum masuk jam kantor pukul delapan.


Gegas Dean menghubungi rekan kerjanya menyatakan bahwa ia sudah mendarat di kota itu dan akhirnya memesan taksi online.


Tanpa menunggu lama, Dean berlalu meninggalkan bandara menuju apartemen milik Monata yang berada cukup jauh dari bandara dengan sedikit tergesa. Karena bagaimanapun ia sebagai suami merasa khawatir akan keadaan Miranda yang sudah lama tak diacuhkan.


Lebih dari tiga bulan Dean hanya fokus pada dunia pekerjaan juga mengumpulkan pundi-pundi uang, agar dapat memberi nafkah kepada kedua istrinya secara adil dan tidak berat sebelah.


Mobil hitam itu terparkir di loby apartemen, seketika pandangan Dean mengedar pada sosok wanita yang berjalan tergesa-gesa memasuki gedung apartemen. "Miranda, dari mana dia. Jam segini baru pulang ...?" Berulangkali menoleh kearah jam tangannya.


Cepat Dean keluar dari dalam mobil, kemudian berlari kencang mendekati sang istri yang masih berdiri menunggu pintu lift untuk terbuka. Jantungnya berdegup kencang, melihat sang istri yang tampak acak-acakan karena belum membersihkan diri dengan rambut panjang tercepol tinggi.


"Mira!" Suara bariton Dean Alexander berteriak memanggil nama Miranda.


Merasa sangat mengenal suara yang berteriak keras menyebut namanya, Miranda mengalihkan pandangannya kearah suara tak asing tersebut.


Benar saja, betapa terkejutnya Miranda ketika melihat sosok Dean berlari menghampirinya. Berulang kali ia mengusap mata untuk meyakinkan penglihatannya. "De-an, kok ... katanya sebulan lagi, kenapa dia ada di sini ...?"


Jujur saja Miranda tampak salah tingkah, ia tidak menyangka akan melihat sosok sang suami berdiri dihadapannya kini. Senyuman terpaksa menguar diujung bibir, berkali-kali ia membasahi tenggorokannya karena memang terasa sangat mengering.


Sementara Dean tampak memperhatikan gerak-gerik wanita yang tak mampu berkata-kata itu, kemudian langsung bertanya, "Ka-ka-kamu dari mana? Kenapa urakan sekali, terus kok pake baju kaos seperti ini?" Tangannya menyentuh baju kaos distro yang terpajang foto Adrian dan group band-nya di sana.


Tangan kanan Miranda gegas menggulung bagian sudut baju kaos selebor yang ia kenakan, sambil tersenyum tipis menatap wajah pria cinta pertamanya. Ia menghela nafas panjang, sambil memikirkan kebohongan apa yang akan diberikan kepada Dean.


"Ogh ya, ini ... ee, hmm ... tadi malam ada konser anak band di dekat gedung utama. Jadi ehm, aku beli baju ini dan langsung pakai saja!" Miranda tampak mengalihkan pandangannya semakin liar, untuk menyembunyikan semua kebohongannya.


Anggapan Miranda, Dean merupakan pria polos, lugu seperti dulu, membuat pria beristri itu hanya tersenyum tipis melihat sang wanita salah tingkah.


Wanita cantik itu justru tidak pernah tahu, bagaimana pekerjaan sang suami saat ini yang memiliki dunia berbeda dari sebelumnya. "Kamu enggak pulang, hmm. Apakah yang manggung tadi malam merupakan band Adrian, Mir, hmm ... tumben sekali kamu nonton konser seorang diri, terus nginap dimana?"


Lagi dan lagi Miranda hanya bisa tersenyum, menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak terasa gatal, kemudian mengalihkan pandangannya kearah lift, "Yuk, masuk!" Ia menarik lengan Dean, kemudian menutup pintu lift dengan sangat cepat.


Kembali Miranda melirik kearah Dean yang masih memandangi dirinya dari ujung rambut hingga kaki, membuat wanita yang sudah menjadi istrinya itu salah tingkah.

__ADS_1


"Adrian tidak di sini kan, Mir?"


Miranda bergumam dalam hati, "Duh, aku harus bicara apa sama Dean. Nanti malam Adrian mau datang ke apartemen lagi. Agh ...!" Sesalnya menggeram melirik kearah sang suami.


Dengan sedikit genit Miranda langsung mengalungkan tangannya dileher Dean, sambil tersenyum bahagia walau perasaannya bercampur aduk. "Ya enggaklah sayang. Kebetulan saja di pedagang kaki lima ada menjual baju kaos yang menunjukkan bahwa anak band indie ini sudah semakin terkenal. Makanya aku beli aja, lagian aku dinas malam. Biasa, bagian pendataan dan nengok-nengok orang mabuk, sekalian sosialisasi."


Dean menatap lekat iris mata indah milik Miranda sambil berkata, "Yeah ... mungkin kamu terlalu lelah hari ini. Bagaimana kalau kamu off dan ikut dengan aku. Kita cari rumah yang kecil saja di sini, jadi bisa aku cicil buat kamu. Biar tidak pulang pagi-pagi begini lagi."


Mendengar perkataan Dean, seketika Miranda teringat akan janjinya dengan Adrian untuk mencari rumah didaerah perumahan Monata. Ia hanya tersenyum tipis, kemudian menjelaskan sedikit, "Sepertinya aku akan pulang sekitar jam tiga, sayang. Karena ada laporan yang harus aku selesaikan untuk Pak Robert."


Entah mengapa, perasaan Dean ketika melihat Miranda seperti itu semakin memiliki firasat tidak nyaman. Namun berusaha ditepisnya, karena sang istri agresifnya langsung mellumat bibir tipis itu dengan penuh perasaan rindu.


Tangan Dean yang tengah menenteng tas, seketika terlepas dilantai lift untuk menikmati ciuman Miranda yang penuh perasaan dan hasrat. Kedua tangan kekar itu mendekap tubuh ramping Miranda, kemudian mendekatkan tubuh mereka untuk saling bercerita penuh kerinduan.


Akan tetapi, Miranda menepis tangan Dean yang akan menyentuh bagian kenyalnya dengan bisikan pelan, "Aku enggak bisa melakukanya sekarang sayang. Karena aku harus segera masuk kantor!" Ia melepaskan tangannya, begitu lift terbuka lebar.


Dengan langkah sedikit tergesa, Miranda keluar dari lift disusul dengan Dean yang mengikuti langkah sang istri dari belakang.


"Kenapa Miranda semakin berubah. Aku yakin ada sesuatu yang disembunyikannya. Apakah dia sudah putus dari Adrian, ataukah masih melakukan hal gila? Jika benar ... maka aku akan memberikan pelajaran padamu Mir ..." Dean bergumam dalam hati, seraya memperhatikan gerak-gerik Miranda.


Wanita cantik itu semakin tak acuh dengan Dean. Ia hanya tergesa-gesa mengurus semua kebutuhan diri sendiri sambil mendengus dingin karena waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. "Agh ... enggak ikut upacara lagi!" Ia mengumpat ketika tengah menata rambut panjangnya dengan berbagai macam jenis peralatan yang ada dihadapannya.


"Ehem ... cakep baju dinasnya sekarang." Dean berusaha memecah keheningan dikamar kecil itu sambil memainkan jemari dilayar pipih miliknya.


"Ogh ya, ini baju kebanggaan setiap hari selasa Sayang. Hmm ... kalau aku pulang agak sore, kamu makan di restoran dulu saja, ya? Maklum aku sudah terlambat masuk kantor, jadi selamatkan diri sendiri dulu, bye!" Miranda berlari kecil menghampiri Dean, kemudian mengecup bibir sang suami dengan senyuman manis.


"Aku cantik, kan?"


Dean mengangguk, "Cantik banget justru!"


Miranda tersipu malu, ia berlalu begitu saja meninggalkan Dean tanpa mau berbasa-basi lagi.


Meninggalkan Dean seorang diri di apartemen sang paman, membuat Miranda merasa lebih tenang dibandingkan menjadikannya sopir kemana saja, setelah menciptakan berbagai drama yang ia lakukan, agar sang suami tidak sibuk mengurusi pekerjaannya. 


Senyuman manis Miranda menguar diujung bibirnya, ketika berhasil membuat Dean memutuskan beristirahat di apartemen. "Enak saja dia minta-minta jatah ampe melas-melas gitu menyusul gue kekamar mandi. Ogah, gue enggak mau melakukannya kalau cuma buat kitik-kitikin doang. Males, ngotorin sellangkangaan gueh! Nanti kalau Adrian udah berangkat, baru deh gue pikir-pikir lagi ..."


Mobil sedan milik Monata memasuki halaman parkir gedung perkantoran narkotika daerah. Gegas Miranda keluar dari kendaraannya sedikit tergopoh-gopoh, ditambah perutnya yang terasa sangat lapar karena belum mendapatkan asupan nutrisi sejak bangun tidur dan meninggalkan Adrian seorang diri di hotel.


Benar saja, ketika kaki Miranda menuju ruangannya, Robert sudah berdiri didepan meja kerjanya.

__ADS_1


Dengan wajah sedikit menunduk, Miranda hanya tersenyum tipis, kemudian melebarkan senyuman maninya seraya berkata, "Pagi Bang." Ia menelan ludahnya sendiri, "Maaf telat masuk kantor. Ta-ta-tapi saya sudah finger print kok tadi jam setengah tujuh. Pas kantor masih tutup," kembali ia tersenyum sumringah dengan memperlihatkan gigi putih yang tersusun rapi.


Sedikit menggeram, Robert mendekatkan wajahnya dihadapan Miranda, "Terus ... kalau sudah finger print, kamu mau suka-suka datang ke kantor, begitu! Apa di rumah kamu tidak ada jam dinding, hmm? Kamu bisa melihat jam sekarang, Miranda?"


Mendengar omelan Robert yang tidak menyukai karyawannya datang terlambat, Hanya menelan ludahnya berkali-kali, "Ma-ma-maaf Bang." Ia menundukkan wajahnya dengan melawan dalam hati, "Buset nih, Pak Bos! Bisa galak juga kalau datang terlambat. Padahal, aku cuma telat bangun doang, ugh ..."


Kembali Robert membulatkan kedua bola matanya, menatap lekat iris mata indah milik Miranda dari jarak sangat dekat, "Kali ini kamu saya maafkan, Sayang. Tapi lain kali, kamu terlambat satu detik saja atau tidak ikut upacara, kamu saya suruh push up. Apa kamu mengerti, Dek Miranda!"


Miranda menganggukkan kepalanya kemudian melirik kearah Nora yang menatap nyalang kearahnya. Tidak mau mendapatkan serangan ataupun kesulitan dari partnernya dalam mengurus pekerjaan dari Robert, ia mencoba meyakinkan Nora lewat isyarat mata yang semakin membulat.


Perlahan Nora memanggil Robert dengan suara merdu mendayu-dayu bak lembayung biru, "Bang, Bang Robert, hari ini Abang ada pertemuan dengan pihak media. Kita ada kegiatan jam sepuluh, undangan dari wakil walikota."


"Hmm ..." Robert menjauhkan wajahnya dari Miranda yang sejak tadi menahan nafas juga tawa, membuat sang atasan langsung berlalu meninggalkan dua wanita cantik itu di meja kerja mereka masing-masing dengan hati penuh kesal.


Miranda sengaja mengambil finger print sebelum kembali ke apartemen, mengingat dia pasti akan lama dan tidak akan mendapatkan dispensasi jika terlambat masuk kantor dan akan mendapatkan surat cinta langsung dari pusat.


Mendapatkan kejadian hari itu, Miranda memohon pada sang paman untuk pindah ke divisi lain melalui, dengan alasan tidak suka berurusan dengan Robert.


[Om, please ... aku tidak suka bekerja dalam tekanan. Apa salah aku telat sekali, tapi menyindirnya berminggu-minggu. Ayolah Om ...]


Rengek Monata dihadapan Dean, ketika selesai makan malam.


[Mir, kita enggak bisa pindah begitu saja. Ini instansi pemerintahan Sayang, bukan milik Anderson. Enggak betah langsung pindah, tidak bisa begitu, dong ...]


[Ya, tapi aku enggak kuat Om. Di sindir mulu sama Bang Robert dihadapan karyawan lain]


[Ya sudah, kamu tenang saja. Namanya peraturan itu jangan dilanggar, sayang. Walau sesungguhnya peraturan itu banyak yang melanggar. Tapi ingat, itu bukan kita. Kamu mengerti ...]


[Hmm ...]


Setelah cukup lama mereka saling berbincang, akhirnya Miranda mengakhiri panggilan teleponnya. Ia meletakkan gawainya diatas nakas, kemudian menatap langit-langit kamar apartemen.


Perlahan Miranda mengusap perut Dean dan tidur di lengan pria yang sangat dicintainya. "Maafin aku beberapa hari ini sedikit mengacuhkan kamu, sayang. Karena pekerjaan ku sangat banyak sekali diberikan Pak Robert. Makanya aku pulang selalu terlambat!" Ia bersungut selayaknya orang yang sangat kesal.


Melihat istri keduanya sedikit cemberut, membuat Dean semakin mendekap tubuh Miranda dengan perasaan rindu. "Enggak apa-apa kok. Namanya juga kerja."


Ketika bibir itu akan saling menyapa, seketika gawai milik Dean berdering, disambut dengan suara bel apartemen berbunyi. Kening keduanya sama-sama mengerenyit masam.


Dean menoleh kearah gawainya, "Tyas, bukankah tadi sore sudah bicara panjang lebar. Kenapa nelepon lagi, sih ...?"

__ADS_1


Sementara Miranda sedikit cemas, karena sudah tiga hari dirinya tidak bertemu dengan Adrian. "Jangan bilang yang datang malam ini Adrian, bisa perang dunia ketiga gueh ..."


__ADS_2