Dicerai Karena Binal

Dicerai Karena Binal
Rasa penasaran


__ADS_3

Suasana hati Miranda seketika berubah menjadi bahagia karena perhatian Adrian yang sangat hangat memperlakukannya. Entah itu untuk merebut hati janda cantik tersebut, ataukah karena janjinya kepada Tina Talisa yang menghubunginya setelah melakukan sesi latihan di studio malam itu.


[Maaf Adrian, bisakah kita bertemu di hotel saya]


Pertanyaan ibu suri membuat Adrian yang tengah berada dalam kebisingan musik, hanya menjawab singkat.


[Ba-ba-baik tante, apakah Miranda berada di hotel]


[Ogh ... tidak, oke saya tunggu, ya ...]


Entah ingin merasa senang atau bahkan khawatir karena mendapatkan telepon dari ibu suri, membuat Adrian mendekati sang vokalis sekaligus manager band mereka, Sofyan sambil berbisik, "Kita udahan, ya? Sudah tiga jam kita latihan, gue rasa sudah cukup. Kebetulan dapat telepon dari Ibu Suri Multy Strada, takutnya nanti kemalaman gue tiba dihotel mereka."


Gegas Sofyan mengangkat satu tangannya, sebagai isyarat bahwa latihan malam itu telah selesai. Ia kembali menoleh kearah Adrian, "Serius, apakah di butuh kita-kita atau lo doang?"


"Hmm ... kayaknya gue doang, deh. Makanya kita makan di seputaran Hotel Talisa saja, jadi kalau ada apa-apa gue hubungi, lo."


Mendengar penuturan Adrian yang sangat meyakinkan membuat Sofyan bersemangat dengan senyuman lebar yang sangat manis semanis gula.


Benar saja, musisi ternama itu berpisah dengan team-nya. Menuju tempat yang dijanjikan oleh ibu suri. Dengan langkah kaki sedikit tergesa, Adrian tiba di restoran hotel dan disambut hangat oleh Tina juga Anderson.


"Adrian ini, kekasih putri kita pa," tutur Tina seolah-olah Miranda benar-benar akan menikah dengan duda beranak satu tersebut.

__ADS_1


Anderson mengangguk setuju, kemudian mempersilahkan Adrian duduk bersama mereka. "Silahkan, saya juga mendengar dari Beny bahwa kamu yang akan mengisi acara minggu depan. Saya berharap kamu memberikan performa terbaik agar perusahaan terus menggunakan band kamu."


Wajah Adrian tampak tersenyum bahagia, ia sedikit lega karena dapat memberikan sesuatu yang positif akan pertemuan yang tidak disengaja dengan Miranda. "Ini satu kebetulan saja, om, tante. Karena saya sudah lama tidak bertemu dengan Miranda. Ya ... hampir lima tahun kami berpisah setelah lulus kuliah dan putri kalian meninggalkan kota kembang."


Tina mengangguk membenarkan, "Ya, Miranda pergi ke Nurnberg-Jerman, pulang-pulang minta nikah, kami menikahkannya dengan anak sahabat di Singapura, ternyata bermasalah. Sekarang sudah tiga tahun dia menyandang status janda. Hingga saat ini tidak mau kembali ke Singapura dengan alasan mau di sini dulu."


Adrian hanya mengangguk, ia tampak tenang ketika Anderson kembali bertanya padanya.


"Oya, saya dengar kamu juga consultant keuangan? Saya sudah meminta Anas dari PT. Anugerah untuk mengirimkan laporan keuangan perusahaan ke link kamu yang terdaftar. Kami membutuhkan bantuan kamu, karena kami kehilangan banyak dana. Ya ... walau itu tidak seberapa, tapi kami harus melakukannya!"  


Kembali Adrian terbayang wajah Dean, ia bergumam dalam hati, "Apakah ini ada sangkut pautnya dengan Dean? Ogh, pantas saja anak itu di kirim perusahaannya kesini. Ternyata ..." seringainya mengembang lebar dan mengalihkan pandangannya kearah lain.


Mereka tersenyum sumringah, ada rona kelegaan diwajah Anderson juga Tina akan jawaban Adrian. Tanpa sungkan wanita cantik yang masih tampak awet muda itu berkata lagi penuh semangat, "Kamu yang sabar ya, menghadapi Miranda. Anak itu belum bisa move on dari Dean, saya rasa kalian satu sekolah dan sama-sama saling mengenal."


Entah ingin berteriak bahagia karena mendapatkan lampu hijau untuk terus melanjutkan hubungannya dengan janda kaya nan molek itu, atau bahkan Adrian harus meredam egonya dalam menghadapi Miranda yang masih enggan sepenuhnya memberikan cintanya. "Saya akan berusaha tante, walau sesungguhnya sangat sulit untuk merebut hati seorang janda."


Kembali tawa mereka pecah, Tina justru menggeleng membayangkan bahwa putrinya tidak bisa setia jika berjauhan. "Kuncinya, jangan pernah tinggalkan Miranda seorang diri, karena dia itu sangat membutuhkan perhatian ekstra selayaknya seorang baby," titahnya memberikan wejangan tentang Miranda yang sedikit banyaknya sudah diketahui oleh Adrian, karena kedekatan masa lalu mereka berdua.


"Hmm ... iya tante. Kalau begitu, saya permisi dulu karena rekan saya menunggu di lesehan depan hotel ini," Adrian menunjuk kearah para rekan setimnya yang tengah menikmati makan malam bersama.


Tina tersenyum sumringah, wajah cantik keibuan itu menganggukkan kepala kemudian memberikan amplop cukup tebal kepada gitaris muda tersebut, "Ini buat jajan kamu dengan teman-teman. Salam buat manager kamu yang sensitif itu."

__ADS_1


Gegas Adrian menolak amplop pemberian ibu suri, akan tetapi wanita itu terus memaksanya agar menerima pemberiannya.


"Jangan pernah menolak, karena rejeki kalian mungkin di titipkan Tuhan melalui tangan saya! Selamat malam, dan jaga kesehatan kamu, ya?"


Mendengar suara lembut Tina Talisa yang sangat baik hati juga ramah, membuat Adrian mengantongi amplop coklat tersebut seraya menunduk hormat dihadapan Anderson juga wanita murah hati itu, "Sekali lagi terima kasih, tante. Saya menunggu kehadiran tante minggu depan di hotel ini. Saya permisi ..."


Dengan adanya kedekatan Adrian dan kedua orang tua Miranda, membuat dirinya semakin yakin, bahwa kesalahan masa lalunya yang terdahulu dapat ia tebus karena telah merusak kehormatan sang gadis pewaris tahta pada masa remaja.


Entah berapa kali, Adrian mendapatkan ledekan dari para sahabatnya karena memberikan amplop yang cukup untuk mereka bagi berempat. Wajah tampan itu tersenyum lebar, ketika memperlihatkan rejeki malam itu sebagai seorang musisi yang multitalenta.


"Gile lo, bro! Lo apain anak orang, bisa-bisanya ibu suri ngasih kita uang dua juta seorang. Anjiir ... gue harus kecup kaki Ibu Suri nih, pas manggung nanti," seru Sofyan menerima pembagian uang yang diberikan Adrian padanya.


Adrian menaik turunkan kedua alisnya, dengan gigi putih yang tampak jelas, "Iya dong ... yang penting niat kita ini tulus dalam melakukan apapun. Gue juga enggak nyangka bakal dapet rejeki nomplok tengah malam." Ia tertawa terbahak-bahak, memuji diri sendiri.


Awan yang menerima sejumlah uang cukup lumayan malam itu, "Alhamdulillah ... jadi mobil gue enggak jadi ditarik leasing nih. Dapet tambahan mendadak dari ibu suri. Cepet lo nikahin anaknya, bro. Lagian gue lihat lo cocok banget sama Miranda itu, tinggi, seksi, kakinya bro ... mulus nggak ada noda. Lo emang pionir untuk band kita!" Ia menepuk-nepuk pundak Adrian.


"Ya ... jadi mulai besok kita latihan sore saja, kebetulan gue ada job sampai siang. Gue selesaiin dulu, baru kita latihan. Nah ... malam ini gue sudah bisa pindah ke apartemen cewek gue, bro ... lo bisa undang tuh, si Mina tanpa takut ketahuan gue lagi!"


"****** lo, ampe di tuduh gue hombreng sama cewek gue, setan! Habis manis ****** di buang ya! Dasar cowok nomaden, jual no rumah lo di Bogor, beliin apartemen di sini. Lumayan, kan ... biar enggak dibilang orang susah!" Awan menyela celotehan Adrian.


Mereka tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan sahabat yang serasa keluarga. Akan tetapi, hati Adrian menjadi lebih sakit ketika mendengar suara ******* sang kekasih pujaan hati dengan mantan masa lalunya. "Sampai kapan kamu begini, Miranda! Itu hanya rasa penasaran mu saja. Apakah aku tidak memuaskan untukmu? Jujur aku kecewa padamu, tapi aku akan memberikan semua bukti untuk membuka mata hati mu, dalam melihat Dean ..."

__ADS_1


__ADS_2