
Satu jam yang dikatakan Dean, benar adanya. Miranda yang telah tiba dikantor keluarga, setelah perdebatannya dengan Adrian, membuat ia harus mengalah karena bagaimanapun harus menjaga perasaan sang kekasih barunya.
Mobil sedan itu terparkir di loby gedung perkantoran milik sang papa, membuat Miranda mencekal tangan Adrian sebelum mereka turun dari kendaraan seraya berkata, "Please ... jangan pernah mengatakan apapun sama ibu suri. Karena ibu suri tidak pernah menyetujui hubungan kita!"
Kedua alis mata Adrian menaut jadi satu, "Setahu aku, Ibu Suri Tina Talisa sangat humbel dalam bergaul. Beliau sangat menyukai musik dan semua jenis cerita-cerita baru. Apakah kamu tengah merencanakan sesuatu untuk ... agh, sudahlah. Mobil aku parkir di basemen atau di sini saja?"
"Taroh di sini saja, nanti security yang membawa ke basemen, kita turun!" Perintah Miranda, bergegas keluar dari kendaraannya.
Kehidupan Adrian sangat berbeda dengan Miranda. Ia tinggal di apartemen milik Awan, pasca perceraiannya dengan Reni. Duda satu anak itu justru memilih hidup nomaden atau berpindah-pindah karena tuntutan karier. Ia juga sangat mencintai dunianya yang memiliki citra buruk bagi orang-orang awam seperti mantan istrinya juga Miranda sendiri.
Bagi mereka musisi itu tidak lepas dari bayang-bayang wanita dan juga kehidupan bebas serta narkoba di luar sana. Walau sesungguhnya Miranda juga melakukan kebebasan, akan tetapi ia memiliki alibi 'melakukannnya dengan pria yang tidak menyukai kehidupan bebas, sama hal dengan dirinya'.
Dengan sengaja Adrian merangkul pundak Miranda ketika memasuki lift menuju lantai ruangan Pak Anderson dan ibu suri. Betapa mewahnya kantor milik pria Indonesia yang menjadi orang terpandang dan sangat profesional itu bagi kawula muda seperti Adrian.
Bagaimana tidak, Anderson yang rajin mengundang musisi, fotografer, atau apapun untuk acara formal produk alat berat mereka, selalu mengundang anak muda untuk mengisi acara-acaranya dengan bayaran cukup lumayan untuk berlibur selama dua bulan setelah menyelesaikan tugas mereka. Semua sudah diatur oleh pihak manajemen perusahaan serta manager band indie tersebut.
Pintu lift terbuka lebar, seketika semua rekan kantor Miranda sangat sibuk ketika melihat juga mendengar CEO perusahaan datang berkunjung untuk segera melakukan pemeriksaan terhadap kepala cabang termuda, Dean Alexander.
Mata Miranda tertuju pada seorang gadis yang menjadi secretaris keluarganya, kemudian bertanya, "Suci, papa dan mama datang kok enggak ngabarin, saya?"
Mendengar suara dan melihat anak pemilik perusahaan ada dihadapannya bersama seorang pria, gegas Suci membungkukkan badannya, "Maaf Mba Mir, ibu suri mendadak saja setelah melakukan virtual kemaren malam dengan Pak Dean. Sepertinya bapak juga mau memindahkan Pak Dean ke kantor pusat. Bapak juga sudah bicara dengan pimpinan pusat, mba."
"Sekarang Pak Dean ada dimana?"
"Di ruangan meeting, mba. Kita lagi nunggu Pak Anas dari PT. Anugerah. Jadi saya lagi mengumpulkan semua data."
Miranda tersenyum sumringah, melirik kearah Adrian yang sedikit menekan pundaknya karena mempertanyakan tentang Dean kepada Suci. Ia berbisik ketelinga pria tampan itu, "Kamu dengar sendiri, kan? Perusahaan lagi meng-audit Dean. Jadi kamu bisa tenang saat ini. Kita ke ruangan mama dulu, habis itu kamu boleh pergi latihan. Karena aku tidak mau mendengar rekan satu team-mu mempertanyakan keberadaan kamu!"
Ada kekesalan dihati Adrian kepada Miranda yang sejak tadi menginginkan dirinya menjauh dari sang kekasih hati. Namun, apa yang dikatakan janda muda itu, benar adanya. Gawai yang berdering menanyakan posisinya, membuat ia sedikit gelisah. "Ya sudah, aku ikut ketemu ibu suri dulu. Selesai itu aku latihan, dan mungkin akan langsung ke apartemen kamu jika pekerjaan ku sudah selesai."
Dengan wajah yang tampak bahagia, Miranda membawa Adrian ke ruangan sang mama yang berada tidak jauh dari tempat ia berdiri saat ini. Langkah kakinya terhenti di depan ruang meeting yang pintunya agak terbuka sedikit, melihat beberapa rekan kerja juga team audit berada di sana, dengan wajah Dean yang sangat serius ketika membaca semua berkas yang ada dihadapannya.
Dada Adrian seketika bergemuruh, ketika melihat pria gagah itu duduk berdekatan dengan Anderson. Tangannya mengepal kuat, karena Miranda masih berdiri lama menantikan sang pujaan hati memandang kearahnya. "Baby, apakah kita akan berdiri di sini sampai pria itu memandang kearah mu, hmm?"
Sadar pria yang sengaja mendekatkan wajah pada telinganya terkena rasa cemburu, Miranda langsung berjalan pelan menuju ruangan sang mama. Hatinya bercampur aduk, debaran jantung yang sama ketika masih sekolah, membuat Miranda tak mau banyak bicara.
Keduanya berhenti didepan pintu masuk ruangan direktur perusahaan, Miranda menghela nafas panjang, kemudian mendorong pintu kaca itu secara perlahan setelah mengetuk dua kali.
__ADS_1
Betapa bahagianya sang mama, ketika melihat putri kesayangannya berdiri dihadapannya. Membuat Miranda langsung berhamburan mendekati sang mama yang biasa di sapa ibu suri karena kebaikannya.
Dua wanita ibu dan anak itu saling berpelukan mesra selayaknya anak kecil yang tidak pernah dewasa, membuat AdrianĀ tampak salah tingkah karena merasa kehadirannya benar-benar tidak di butuhkan saat ini.
"Mama apa kabar, masih ingat sama Adrian anak band indie. Dia anak dari secretaris kedutaan, yang biasa kami sapa Didi Riyadi, ma?" Miranda menunjuk kearah Adrian yang masih berdiri didepan pintu ruangan yang sudah tertutup rapat.
Tina menoleh kearah Adrian, menganggukkan kepala sebagai isyarat bahwa dirinya masih mengingat musisi tersebut, "Ya masihlah sayang. Mana mungkin mama lupa sama teman kamu ini." Ia berdiri kemudian berjalan mendekati pria muda itu dan mempersilahkan Adrian untuk duduk di sofa sambil berbincang ringan, "Ayo duduk di sini. Sebentar, ya, saya hubungi office boy dulu. Kalian sudah makan?"
Miranda mengangguk, begitu juga Adrian, "Kami sudah makan, ma, mungkin hanya snack saja. Karena Adrian tidak bisa lama berada di sini. Dia mau latihan untuk acara kita seminggu lagi," titahnya mengusap lembut punggung pria yang tampak tersipu malu.
Melihat kedekatan Miranda dan Adrian kedua alis Tina yang tersulam sedikit penasaran dengan hubungan sang putri, langsung bertanya tanpa basa-basi, "Bagaimana Dri, apakah kamu sudah menikah?"
Jantung Adrian terus berpacu semakin kencang, ia menelan ludahnya karena mendengar pertanyaan ibu suri yang langsung tanpa ada ramah tamah seperti orang tua kebanyakan, "Maaf tante, kebetulan untuk status saya sudah berpisah, kebetulan saya duda dengan satu anak."
Tina mengangguk mengerti, kemudian duduk dihadapan dua insan itu kemudian bertanya lagi, "Berarti saat ini kamu stay di Jakarta atau Singapura?"
"Jakarta tante, bareng sama teman satu band juga. Saya juga sebagai tenaga pengajar di universitas terbuka saat ini. Sementara orang tua masih di Singapura karena masa dinas papa masih lima tahun lagi," jelas Adrian tanpa kebohongan.
Wajah cantik Tina melirik kearah sang putri, "Lihat tuh, Adrian, bisa jadi musisi, dosen dan mungkin akan mampu melakukan apa saja, tanpa meminta tolong dengan rekan orangtuanya. Kamu, mau jadi badan narkotika saja, menghubungi Om Monata segala, tapi tidak serius!"
Cepat Adrian menyela ucapan sang kekasih, "Reason!" Ia langsung mengalihkan pandangannya kearah lain, dengan wajah ketus yang tampak memerah karena perasaan cemburu tak tertahankan lagi.
Miranda hanya mampu menundukkan wajahnya, sementara Tina tersenyum sumringah karena menganggap bahwa putri kesayangannya tidak pernah menutupi semua rahasia tentang hubungannya dengan beberapa pria, yang berusaha merebut hati anak kebanggaannya saat ini.
"Kalau kamu mau dekat dengan oma, kamu bisa kok, stay di Pekanbaru, atau bahkan di Medan. Lebih nyaman, karena di sana ada mes perusahaan, kan?" titah Tina dihadapan Miranda juga Adrian.
Hati pria mana yang tidak akan menggelegak panas karena perasaan penasaran yang bercampur cemburu. Adrian menghela nafas berat, memijat pelipisnya kemudian berkata, "Saya permisi dulu, tante. Karena hari ini ada jadwal latihan. Mungkin kita bisa bertemu lain waktu," ia berdiri kemudian menoleh kearah Miranda yang tampak semakin gelisah juga serba salah.
Melihat Adrian yang sudah berdiri dihadapannya, gegas Miranda juga berdiri untuk mengantarkan sang kekasih hati menuju pintu lift.
Sementara Tina juga ikut berdiri, kemudian berjalan mendekati Adrian, "Ya sudah, salam untuk manager band kamu, ya? Jangan lupa berikan yang terbaik untuk performa kalian minggu depan. Karena akan ada investor asing juga yang hadir di acara kita. Sukses buat kamu, ya Dri."
Adrian menganggukkan kepalanya, menyalami tangan halus ibu suri, kemudian mencium punggung tangan itu penuh rasa hormat.
Ibu mana yang tidak tergoda dengan kesopanan seorang pemuda tampan. Tina Talisa bukanlah wanita materialistis yang memandang profesi seseorang. Ia sangat memahami bagaimana para pria berjuang diluar sana, agar dapat memberikan kehidupan yang layak bagi wanita yang dicintai.
Miranda sedikit berbisik pada Tina, "Ma, aku anterin Adri dulu, ya? Nanti aku kesini lagi."
__ADS_1
Tina mengangguk setuju, kemudian beranjak menuju meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
Dengan hati tersulut api cemburu karena kehadiran Dean dikantor mereka, Adrian melangkah menuju lift lebih cepat. Ia tidak ingin berlama-lama berada di gedung itu. Ingin rasanya ia pergi membawa Miranda keluar dari gedung perkantoran tersebut. Namun niatnya kembali urung karena tahu statusnya yang belum memiliki hak penuh atas sang kekasih.
Miranda yang tergopoh-gopoh mengejar langkah kaki Adrian, menarik lengan pria itu karena perasaan kesal, "Wait Dri, kamu kenapa sih?"
Seketika langkah kaki Adrian terhenti karena mendengar suara tegas Miranda yang tidak menyukai caranya sejak dulu. Didepan pintu lift, ia membalikkan badannya, kemudian menoleh kiri dan kanan hanya untuk memastikan bahwa tidak ada yang melihat pertikaian antara mereka berdua.
Dengan cepat Adrian menyandarkan tubuh sang kekasih ke dinding yang tertutup pilar, kemudian langsung menatap lekat manik wanitanya. "Apa kamu tahu bahwa aku sedang cemburu, hmm?"
Jantung Miranda seakan-akan berhenti berdetak, ia tidak menyangka bahwa Adrian akan cemburu seperti ini padanya. Perlahan kepalanya mengangguk, kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain karena tidak ingin orang-orang kantor mengetahui tentang hubungannya yang baru beberapa jam, dengan nada sedikit gugup ia berkata untuk meyakinkan pria gagah yang memiliki tatto di tangan kanannya, "Tolong Dri, kita di kantor papa. Aku tidak ingin berdebat di sini. Karena aku juga makan gaji dan mengikuti semua aturan kantor," kilahnya menghindari pertikaian.
"Bagaimana dengan pria yang ada didalam ruang meeting, kamu masih berharap sama dia, kan?" Adrian semakin mendekatkan wajahnya dengan pipi mulus Miranda.
Miranda menelan ludahnya susah payah, tangannya sengaja menahan dada Adrian yang ia akuin sangat gila dan berani melakukan apa saja untuk berjuang kali ini, "To-tolong jangan di sini, aku akan mendapatkan surat peringatan dari manager HRD, Adrian. Please ... aku janji tidak akan melakukan kesalahan apapun, asal kamu juga bisa menjaga komitmen hubungan kita!"
Seringai mengejek dari Adrian menguar dari sudut bibirnya seraya berkata, "Ternyata kamu terlalu takut dengan sebuah aturan. Aku rasa kamu juga akan takut jika melanggar komitmen hubungan kita yang baru saja jadian. Jadi jangan macam-macam dengan ku, karena aku akan melakukan apapun untuk membahagiakan juga menghancurkan kamu kali ini, baby!"
Miranda menganggukkan kepalanya sebagai isyarat mengerti. Perlahan ia mendorong tubuh Adrian yang semakin mendekat padanya. Kedua matanya terpejam, ketika Adrian sudah mulai menghembuskan nafas yang terasa menusuk ke pori-pori halusnya, membuat bulu kuduk itu semakin meremang seraya memohon, "Pleasehh ..."
Gegas Adrian mengecup leher jenjang itu, meninggalkan jejak kemerahan disana, sebagai tanda kepemilikannya, "Kamu milikku, baby, jangan berharap pria beristri itu akan mendapatkan perhatian mu ... are you understand ...?"
Miranda yang memiliki hasrat seksual yang sangat tinggi, meremas kuat ujung jaket dikenakan Adrian, "Jangan mengancam ku seperti ini, saat ini aku justru menginginkan mu ..." Ia mengalungkan tangannya di pundak sang kekasih, kemudian mendekatkan tubuhnya agar lebih intim pada duda beranak satu tersebut.
Senyum kemenangan menghiasi wajah tampan sang musisi, ia melepaskan dekapan Miranda sambil berbisik nakal, "Malam ini aku akan memenuhi semua kebutuhan mu, tidak sekarang, baby ..."
Kaki Miranda seakan luruh tak berdaya karena mendengar penolakan dari Adrian, tapi siapa sangka, Dean Alexander menyaksikan kemesraan sang mantan kekasih dengan musisi yang pernah ia pergoki beberapa tahun silam di kota kembang.
"Ehem ..." Dean mendehem, hanya untuk mengejutkan kedua insan yang saling menggoda karena akan melewati toilet yang ada dibalik pilar gedung perkantoran tersebut.
Tentu saja Miranda langsung memperbaiki posisi berdirinya yang sangat intens dengan Adrian, sedikit menjauhkan tubuhnya dari sang kekasih, sambil melirik malu kearah Dean. Hanya bisa berkata lembut sambil mengusap wajahnya sendiri, dengan perasaan yang tampak serba salah, "Kamu hati-hati, ya? A-a-a-aku keruangan mama dulu." Ia berlalu begitu saja, meninggalkan Adrian dan Dean yang saling diam tanpa mau menyapa.
Melihat Miranda telah berlalu meninggalkan mereka berdua, gegas Adrian mendekati Dean. "Hmm ... ternyata kau yang meminta Miranda untuk pindah ke Sumatra, hah? Jangan mimpi, bro, karena wanita itu hanya milikku, sampai kapanpun!" Ia berlalu meninggalkan pria yang pernah menjadi sahabatnya itu lebih dulu, akan tetapi kata-kata Dean menyulut api amarahnya ...
"Jangan salahkan aku, jika aku akan merebut Miranda dari mu! Saat ini, jangankan kalah, seri saja aku tidak mau karena dia janda nakal yang menggoda!" Tukasnya berlalu memasuki pintu toilet tanpa menghiraukan Adrian.
Hati kekasih mana yang tak tersulut emosi, ketika sang kekasih dinyatakan penggoda bahkan janda nakal. Ia bergumam dalam hati penuh sesal, "Sial ... sudah berani dia berhadapan dengan aku! Aku akan mencari tahu informasi tentang Tyas melalui group alumni, awas kau Dean ...!"
__ADS_1