Dicerai Karena Binal

Dicerai Karena Binal
Memberi pelajaran


__ADS_3

Di malam itu juga, ditempat yang berbeda ... ternyata Anas membawa Beny juga Heru ke kediaman Monata untuk makan malam bersama agar bisa bertemu dengan Miranda sekaligus mendengar penjelasan sang keponakan yang mau menjadi istri kedua dari Dean Alexander.


"Mana Suci, Nas? Kenapa dia tidak ikut sama kalian?" Monata menyesap teh buatan Marisa dengan penuh kenikmatan, sembari melahap makanan yang ada dihadapannya.


Anas hanya tertawa kecil, mendengar pertanyaan Monata, menjelaskan semua yang terjadi, "Agh ... kayak tidak tahu saja bagaimana orang kepercayaan Anderson itu! Apakah kamu melupakan kasus penggelapan dana dua setengah milyar perusahaan? Dia dalangnya menurut data dan sengaja memberikan berkas kosong kepada Dean!"


Tawa Monata pecah, seketika ia langsung menyela ucapan Anas, "Anderson itu terlalu gampang percaya sama orang. Begitu juga Ibu Suri. Tidak pernah menyelidiki kasus per kasus berdasarkan pengalaman mereka." Sesalnya mengingat kebodohan sang abang tertua.


Gegas Anas mengangguk membenarkan ucapan Monata, "Aku juga kaget, tiba-tiba saja meminta aku memecat Dean tanpa memberikan alasan apapun. Akan tetapi, Multy Strada memberikan tunjangan kepada Miranda sebesar tujuh ratus juta, tapi sepertinya lebih." Ia menggidikkan bahunya melanjutkan ucapannya, "Kenapa kamu menikahkan Miranda dengan Dean? Apakah kamu tidak mengetahui bahwa anak itu sudah memiliki istri, hmm?"


Heru dan Beny yang mendengar pembicaraan kedua pria itu hanya tersenyum tipis dan saling menatap. Entah mengapa, mendengar cerita Miranda yang dinikahi oleh Monata secara siri dengan Dean membuat hatinya semakin hancur berkeping-keping. Rasa cinta yang dimilikinya membuat ia merasa di bodohi oleh keadaan juga kebohongan Miranda selama ini.


"Kenapa lo jahat banget sama gue, Mir? Apa salah gue sama lo, sampe tega banget menyakiti perasaan gue yang tidak bersalah selama ini. Lo anggap gue ini sahabat seperti apa ...?" Sesal Heru dalam hati.


Sementara itu dalam benak Beny hanya menggeleng seraya melongo mendengar cerita dua pria kakak beradik itu akan keputusan Miranda, sambil bergumam sendiri, "Cantik-cantik kok bodoh banget sih, lo! Dalam menilai cinta, Mir. Walaupun cinta, tapi enggak perlu melakukan hal gila yang merusak kebahagiaan wanita lain dong. Dean juga bodoh, mau menjandakan istri sendiri demi janda nakal seperti Miranda. Agh ... baru gue sadar, ternyata Dean itu tidak bisa menahan godaan janda nakal yang kesetanan seperti Miranda!"


Percakapan dua kakak beradik itu tidak ada habisnya, sehingga Monata menceritakan secara gamblang kejadian beberapa waktu lalu dengan Adrian. "Gitaris itu ternyata pemakai aktif shabu, Nas! Adrian juga yang telah menyakiti Miranda secara fisik, membuat Dean tidak bisa melakukan apapun terhadap keponakan kita!"


Dada ketiga pria itu seperti terbakar bara api yang penuh amarah. Bagaimana mungkin, Monata tidak memenjarakan Adrian akan kesalahan yang dia buat menyakiti Miranda secara fisik.


"Apa!? Terus, kamu tidak melakukan tindakan apapun untuk memenjarakan Adrian itu, Mon?" Anas menggeram, bahkan tampak rahangnya mengeras dan buku-buku tangannya mengepal kuat.


Apa yang dirasakan Anas, juga dapat dirasakan oleh Heru. Pria gondrong itu sangat mengetahui watak seorang Adrian yang sejak dulu sering menyakiti Miranda secara fisik. Namun lagi-lagi partner ranjangnya tersebut tidak bisa terlepas dari bayang-bayang Adrian. "****** Adrian! Awas kau jika bertemu sama gue! Gue balas perbuatan lo ...!" Ia mengedarkan pandangannya agar dapat mengendalikan emosinya.

__ADS_1


Beny hanya bisa mengusap dada, seraya menggeleng sambil tersenyum penuh dendam. "Gue rasa Miranda ini tidak akan pernah bertemu dengan pria baik, kalau dia sendiri tidak berubah, dasar janda nakal! Ia mengumpat dalam hati seraya mendekatkan wajah ketelinga Heru yang duduk bersebelahan dengannya. "Lo bawa saja Miranda meninggalkan kota ini, Bro! Tidak usah terlalu banyak pikiran kalau lo memang cinta sama tuh perempuan begok!"


"Ssht ... jangan keras-keras, bisa-bisa terdengar sama dua pria ini, gue yang jadi tumbal. Janganlah ... yang penting kalian sudah tahu siapa Adrian, tanpa harus gue menjelaskan pada lo, lo pade!" Heru menyeringai kecil sambil mengusap lembut dagunya yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus sebagai seorang seniman.


Tidak ingin mendengar cerita tentang Miranda secara detail, Heru membawa Beny untuk bersantai di area kolam renang sebelum acara makan malam bersama mereka dimulai karena menunggu Miranda yang 'katanya akan kembali beberapa saat lagi'.


Perlahan Heru menghembuskan asas rokok putihnya ke udara, ketika menikmati keindahan kediaman mewah milik Monata malam itu. Pikirannya seketika dipermainkan oleh drama Miranda beberapa bulan lalu yang tidak menceritakan secara detail permasalahannya pindah ke kota minyak tersebut.


Kembali Heru memutar posisi duduknya agar bisa melihat wajah Beny yang manis duduk disampingnya sambil menikmati pekatnya malam selayaknya pasangan homogen.


Kedua netra pria itu saling bersitatap, membuat Heru berpikiran yang tidak-tidak tentang Beny. "Eh ... anak jin! Lo normal, kan?"


Cepat Beny bergidik kemudian menjawab pertanyaan Heru dengan nada tinggi, "Anjiir ... lo pikir gueh cowok apose, hmm?" Ia menyibakkan rambutnya yang tidak seberapa itu dengan jari melentik-lentik bak seorang wanita jadi-jadian.


Mendengar hinaan pria gondrong itu seketika Beny menjawab dengan guyonan, "Gini-gini gue masih suka semek buat di eweew, ya? Bukan batang kayak lo, ******!" Balasnya lagi melemparkan kotak rokok yang sama kearah Heru.


Kedua-nya sama-sama tertawa cekikikan, membuat Marisa hanya tersenyum tipis melihat kedua pria muda yang tampak akur tersebut. Sehingga memberikan perintah kepada asisten rumah tangganya, untuk membawakan makanan kepada mereka.


"Gue pikir lo, emang hombreng. Habis badan lo kotak-kotak sih!" Heru tertawa terbahak-bahak, membuat wajah Beny terasa sangat panas.


Cepat Beny menyela celotehan Heru sambil mencebikkan bibirnya seraya menjawab ketus, "Gue cinta ya ... sama Poppy dan tidak mungkin gue akan menyia-nyiakan wanita baik seperti dia, hanya untuk sekedar memberikan bokong semok gue sama cowok-cowok nakal diluar sana!"


Heru mengangguk-angguk sambil mengusap wajahnya, "Kenapa sih, sahabat lo itu memilih Dean, Bro? Apa yang diharapkan oleh Miranda dari Dean, hah?"

__ADS_1


Hanya helaan nafas dalam yang langsung keluar dari bibir Beny, sambil menjawab pertanyaan Heru, "Ck ... gue juga lemes sama keputusan anak itu yang memilih resaign dari Multy Strada dan bekerja seperti ini. Apa dia lupa ya, dengan tidak kerja saja, anak bodoh itu sudah mendapatkan penghasilan saham dari perusahaan Anderson sampe saat ini!" geramnya mendengus kesal.


"Kadang nih, ya ... gue ampe bilang sama Miranda, lo jangan terlalu berambisi untuk berharap terlalu banyak sama pria beristri. Kalau Miranda mau nih, ya ... dia bisa jadi istri simpanan pejabat sekalian, atau balik sama suami pertamanya yang denger-denger semakin tajir!" Beny merebahkan badannya disandaran kursi dan melanjutkan ucapannya, "Daripada ngarepin Dean! Kaya kagak, wajah juga pas-pasan ... cakepan juga gue kemana-mana! Bahkan ni ya ... sama lo saja masih kerenan gue, Bro!"


Celotehan Beny yang tanpa saringan, ibaratnya kenalpot racing yang tidak menggunakan saringan, membuat Heru bergidik kemudian melemparkan tisu yang ada ditangannya, "Geer banget lo anak jin! Miranda itu sukanya sama musisi, fotografer kayak gue, mana mau die sama laki-laki aneh kayak lo!"


Beny tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Heru seraya menjawab dengan entengnya, "Tapi dari musisi dan fotografer, Miranda hanya memilih meninggalkan lo dan sang gitaris demi karyawan sampah pilihan seperti Dean Alexander!" Ia tertawa sambil menatap lekat kearah langit nan gelap.


"Gue enggak tahu apa yang ada dalam benak anak itu! Jujur gue juga sakit, Bro ... sama kayak lo. Bisa-bisanya kita disandingkan dengan pria seperti Dean. Kalau gue bilang ni, ya ... Miranda itu kurang bersyukur atas apa yang dimilikinya saat ini." Beny semakin menuangkan rasa kecewanya.


"Oke lah ... dia menjadi bagian nengok-nengok di negara ini, tapi apa dia mau sih, meninggalkan gaji dua puluh lima juta sebulan di Multy Strada demi mendapatkan upah minimum dengan tunjangan yang hanya enam jutaan lah! Kebayang enggak sih, pengaruhnya Dean itu sangat merusak urat syaraf Miranda agar bisa berpikir waras, hmm? Helo ... lo bayangin deh, gimana cara berpikir Miranda Anderson yang lahir dari rahim seorang wanita sehebat Tina Talisa!" Wajah Beny semakin berubah merah, hanya karena perasaan kesal yang teramat sangat kepada Miranda. 


Heru mengangguk membenarkan, "Bagaimana kalau besok, lo gue jemput ke kantor leasing, kita sarapan bareng sama Miranda. Gue pengen lihat, ruangan kerjanya dan kita bisa mempengaruhi otak kirinya agar bisa kembali berfungsi dengan baik. Selama ini dia terlalu menggunakan otak kanan karena kebucinan yang tidak masuk akal." Serunya lagi membuat Beny langsung menyela ucapan Heru.


"Syukur deh, kalau otak kanannya berfungsi dengan baik! Takutnya gue, dia malah kagak pake otak sangking beraninya melawan Ibu Suri, itu saja yang membuat kita-kita kecewa! Pilihan hidupnya!" Beny menjentikkan jarinya, disambut oleh Heru dengan tawa yang semakin hangat.


Akan tetapi, mereka dikejutkan dengan suara bariton Anas yang memanggil dari arah dalam rumah mewah tersebut, "Beny, Heru! Kita pulang ke penginapan sekarang. Sepertinya kita terlalu lama menunggu Miranda. Besok saya akan mengintrogasi suaminya, untuk saya jadikan kain pel di anak perusahaan kita! Seenaknya saja dia mau mengambil keuntungan menikahi keponakan saya, dia pikir keponakan saya tidak punya perasaan!"


Sontak ucapan Anas, membuat Heru dan Beny tertawa kegirangan seraya berkata, "Mampus tuh bocah! Bisa dijadikan gembel bulukan si Dean. Sok-sokan mau punya istri dua, satu aja bingung kasih makannya, ini dua!" Mereka berlalu meninggalkan area kolam renang, menghampiri Anas yang masih berbincang-bincang dengan Monata sambil berjalan menuju pintu utama.


"Baiklah, aku permisi. Jangan lupa untuk pertemukan aku dengan Adrian juga, Mon! Karena aku tidak suka caranya memperlakukan Miranda. Kalau kamu tidak bisa menjebloskannya ke penjara, maka dia akan aku berikan kepada pihak debkolektor kita yang ada di mes. Yang penting, jangan sampai Miranda tahu, rencana kita!" Anas kembali menegaskan dan diangguki setuju oleh Monata.


"Sesekali kita harus memberikan pelajaran, kepada orang yang tega menyakiti keponakan kita satu-satunya. Akan aku amankan sama team patroli, tenang saja!" 

__ADS_1


   


__ADS_2