
Suasana ruangan Miranda terasa sangat hening. Hanya terdengar suara ketikan jemari di keyboard laptop yang tengah menyibukkan dua insan tanpa saling bicara. Janda dan duda yang tampak sama-sama serius mengerjakan semua pekerjaan mereka, sehingga membuat keduanya terlena akan kesibukan masing-masing.
Wajah cantik Miranda seketika menoleh kearah pintu yang diketuk dari arah luar ruangannya. Matanya seketika beradu pandang dengan Adrian yang menghentikan pekerjaannya sesuai permintaan satu perusahaan yang ia dapat melalui link. Sangat berbeda dengan janda muda cantik nan menawan dihadapannya.
"Siapa Yang? Rasa-rasanya aku tidak ada janji dengan orang lain," tutur Miranda mengusap lembut wajah cantiknya.
Gegas Andrian berdiri dari sofa, kemudian menjawab singkat, "Ya masuk!" Ia menarik pintu kaca, ternyata, "Dean? Ngapain anak binatang ini datang ke ruangan kekasih aku ..." Ia menoleh kearah Miranda, lalu memberikan ruang pada sang kekasih untuk menyambut sang mantan dengan perasaan bercampur aduk.
Tanpa perasaan sungkan, Dean melangkahkan kaki memasuki ruangan cinta satu malamnya yang tampak gelisah dikursi kebanggaan itu. "Hai Mir," sapanya membuat Miranda semakin salah tingkah karena takut dua pria dihadapannya itu akan saling adu kekuatan.
Gegas Miranda berdiri, kemudian berjalan pelan mendekat pada Adrian yang masih tampak seperti menahan amarahnya. "Ya Dean, ada apa? So-sorry, bukannya kamu ada dikantor Om Anas, ya, ke-ke-kenapa justru ada di sini?"
Dean menghela nafas berat, wajahnya memerah ketika melihat Adrian langsung menggenggam erat jemari Miranda yang berdiri disamping kanannya. Ia berkata dengan senyuman sinis yang menyiratkan permusuhan antara mereka berdua, "Hmm ... sorry Mir. Tadi aku ada kirim data ke alamat email yang kamu kasih. Jadi aku rasa kamu belum membacanya, lagian om kamu ada di sini. Tuh, mereka lagi diluar, kebetulan juga kita kedatangan Om Monata dari Polda."
Entah mengapa, Miranda tersenyum sumringah. Ia tahu tujuan Monata datang ke kantornya, apalagi kalau tidak mengurus semua berkas yang dibutuhkan untuk menjadi badan narkotika. Ia menoleh kearah Adrian, kemudian mengusap lembut wajah sang kekasih dengan penuh perasaan untuk menutupi satu kesalahan, "Kamu di sini saja, ya? Aku ketemu Om Monata dulu. Ini menyangkut karir aku untuk menguji kemampuan dan mempergunakan ijazah aku!"
Adrian hanya mengangguk satu kali, dengan rahang masih mengeras bahkan matanya masih nyalang menatap Dean yang masih berdiri dihadapannya. Sementara sang kekasih berlalu begitu saja.
Sejujurnya, Miranda sangat mengetahui bagaimana sifat Adrian yang memang tidak bisa menahan amarahnya. Sifat arogan juga emosi yang selalu beralasan tepat dalam menilai seseorang membuat dirinya sedikit sulit untuk menghadapinya.
Di mata Miranda, Adrian bukanlah pria idamannya yang bekerja di kantoran. Melainkan hanya seorang tenaga profesional yang tidak memiliki masa depan jika mereka akan hidup bersama suatu hari nanti. Sementara Dean, mampu berjuang untuk menjadi seorang karyawan yang berprestasi dengan predikat kepala cabang berprestasi walau saat ini harus mengalami permasalahan.
Itulah yang menjadi pertimbangan bagi Miranda sebagai seorang janda, yang tidak suka meminta pada kedua orangtuanya, walau sesungguhnya ia duduk manis saja masih di cukupkan oleh sang papa tercinta.
__ADS_1
Miranda melenggak-lenggok mendekati Monata yang tengah asyik berbincang dengan saudara kandungnya, Anas.
"Hai Om!" Miranda menyapa Monata dan Anas sambil merangkul dua pria yang tampak gagah itu dengan penuh kasih sayang secara bergantian selayaknya seorang keponakan perempuan.
Monata yang mendekap erat tubuh keponakannya yang langsung menoleh kearah putri kesayangan Anderson, "Hai Darling, hmm ... calon badan narkotika ini, Nas!" Ia melirik kearah Anas sang kakak kedua.
Anas justru langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu gedung perkantoran milik Anderson ketika pelukan hangat itu terurai, sambil berkata sedikit berbisik, "Ngapain sih, kamu mau kerja begitu? Lebih baik, kamu fokus pada tujuan perusahaan papa, Mir."
Miranda mengangguk setuju apa yang dimaksud oleh Anas, akan tetapi ia hanya tersenyum sambil berkata, "Pengennya begitu Om, tapi aku pengen membuktikan pada papa dan mama bahwa aku juga bisa menggunakan ijazah ku. Setidaknya tidak sia-sia aku kuliah selama empat tahun di Bandung, kan? Walau hanya jurusan ekonomi, tapi setidaknya ijazah ku berguna," titahnya mengusap rambut yang tergerai panjang.
Anas dan Monata saling berpandangan, mereka berdua hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku keponakan perempuannya yang terlalu berambisi untuk menjadi seorang aparatur negara.
Kembali Monata bertanya pada Miranda, setelah duduk berhadap-hadapan dengan dua orang yang merupakan keluarga dekatnya, "Om sudah bicara dengan kepala badan narkotika Medan. Mereka bilang sudah full, tapi kalau kamu mau, kita coba di Riau. Kan dekat dengan oma dan opa."
Dengan sangat santai Adrian menyalami Anas juga Monata, membuat Miranda semakin berdecak kagum pada sang kekasih hati, walau matanya masih tertuju pada Dean yang berlalu begitu saja menuju ruang meeting.
Entah apa yang dibicarakan Adrian dengan Dean didalam ruangan Miranda, membuat kedua pria itu semakin tampak seperti menabuh genderang perang yang elegan. Tidak ada pilihan, janda cantik itu harus menentukan sikapnya.
Cukup lama mereka berbincang-bincang ringan di ruang tamu perusahaan, sehingga Beny datang hanya karena ingin mengajak Miranda untuk bertemu dengan team event organizer yang biasa mereka gunakan jika ada acara akbar meluncurkan produk terbaru alat berat perusahaan tersebut.
Beny menundukkan tubuhnya, ketika melewati dua pria mapan yang masih berbincang hangat dengan Adrian juga sang keponakan perempuan mereka. "Permisi Om, hmm ... saya butuh Miranda untuk bertemu Kelvin di restoran. Mereka orang event yang mau masukin barang-barang ke Hotel Talisa," jelasnya sambil senyum-senyum tipis melirik sang gitaris tampan tersebut.
Anas yang tengah bersantai hanya mengangguk seraya menjawab, "Ya ... silahkan. Kami duduk di sini saja tidak masalah, kan? Saya lagi menunggu pihak accounting kalian. Siapa namanya?"
__ADS_1
"Popy, Om!" jawab Miranda menoleh kearah Adrian yang juga menatapnya.
Anas menjentikkan jemarinya, kemudian berkata lagi pada Miranda, "Ya sudah, kamu lanjut saja dulu untuk event. Sepertinya kamu sudah dekat sekali dengan gitaris band indie ini. Om doakan semoga saja kamu cepat menikah!"
Mendengar doa dari Anas seketika darah Miranda mendesir seketika. Bagaimana mungkin ia akan secepat itu untuk menikah dengan Adrian, walau sesungguhnya mereka sudah lama saling mengenal dan mulai hari ini tinggal bersama.
Tampak wajah Miranda semakin merasa bersalah, karena pengkhianatan yang dilakukannya bersama Dean malam tadi. "Agh ... belum sekarang memikirkan pernikahan Om. Masih mau fokus sama karir dan main-main dulu menikmati masa muda. Nanti kalau sudah bertemu dengan yang pas, baru kita serius membicarakan tentang pernikahan."
Tidak banyak bicara, Adrian hanya tersenyum tipis mendengar celotehan Miranda, walau sesungguhnya hatinya seperti tersiram air keras oleh kejujuran sang kekasih yang sangat menyakitkan. "Apakah Miranda masih memiliki dendam sama aku, atau jangan-jangan dia masih berambisi untuk melanjutkan hubungan gilanya dengan Dean ...?"
Kembali wajah cantik itu melirik kearah Adrian seraya bertanya, "Ayang mau ikut sama aku ke restoran, atau mau di sini?"
Kedua pria dewasa, Anas dan Monata hanya tersenyum tipis mendengar ucapan sang keponakannya, "Biar Adrian di sini dulu. Karena Om ada urusan dengan dia!" tegas Anas membiarkan sang keponakan berlalu bersama Beny.
Keduanya berlalu meninggalkan ketiga pria itu, kemudian Anas mencondongkan tubuhnya ketika melihat dua orang itu menghilang dari pandangannya, untuk dapat lebih dekat berbicara dengan Adrian dan tidak di dengar oleh pihak manapun, "Apakah kamu sudah menemukan kejanggalan dari laporan keuangan kantor cabang Medan, Dri?"
Sambil menyesiasati sekelilingnya, Adrian menjawab pertanyaan Anas dengan bukti yang baru di kirim oleh rekan satu team-nya, "Hanya dua milyar yang tidak terditeksi, Om, dan kami masih meng-audit semua data yang dikirimkan oleh kantor Om tadi malam. Jadi saya rasa ini kerja sama, agar mendapatkan keuntungan dalam penggelapan dana. Mudah-mudahan benar, jika Dean tidak terlibat. Tapi di sini ada tanda tangan dia, jadi Dean juga tidak bisa mengelak nya!"
Perlahan Anas menelan ludahnya, pria yang ia anggap sebagai kepala cabang terbaik ternyata berani melakukan hal keji itu, jika semua terbukti. "Kapan saya mendapatkan hasil akhir, untuk memberikan keputusan, Dri?"
"Mungkin di saat saya kembali dari Lombok, Om. Karena saya ada manggung di beberapa tempat setelah event Multy Strada selesai, tapi saya usahakan secepatnya."
Lagi-lagi dan lagi Anas hanya mengusap wajahnya kasar, "Saya yang mereferensikan Dean Alexander pada Anderson, ternyata dia yang berulah, siapa dibelakang mereka? Apakah dia sengaja melakukan ini karena himpitan ekonomi? Tidak mungkin, menurut HRD Medan data Dean baik-baik saja, bahkan istrinya juga bekerja. Agh ... pasti apapun yang tersimpan rapi akan terbongkar dengan sendirinya ...!"
__ADS_1