Dicerai Karena Binal

Dicerai Karena Binal
Kamu kekasihku


__ADS_3

Dini hari yang tengah dipenuhi gairah cinta yang menggelora kembali melabuhkan cinta karena perasaan bersalah. Dua insan larut dalam decapan indahnya surga dunia. Erangan kedua insan duda dan janda melabur dalam hasrat rindu penuh kasih sayang.


Tanpa mau menunggu lama Adrian mendekap tubuh ramping Miranda, yang mereemas kuat lengannya. Ia mengecup lembut kening janda cantik yang tampak kelelahan karena lelah melayani hasrat pria dengan posisi yang membelakanginya sebelum melepaskan penyatuan mereka.


"Semenjak kita berpisah, sudah berapa banyak yang menikmati tubuh indah mu, Mir?" Terdengar bisikan Adrian dari arah belakang, sambil mendekap erat pinggang ramping yang sangat menggemaskan.


Mendengar pertanyaan Adrian, Miranda menggeliat, ia memperbaiki posisi mereka untuk saling bertatapan, "Apakah itu penting dalam hubungan kita? Apakah sejak awal kita ada komitmen untuk saling setia? Please Dri, rasanya pertanyaan mu itu tidak pantas untuk aku jawab, karena kegagalan kita dalam pernikahan sudah menjadi pengalaman dan kita melakukan ini karena story masa lalu."


Senyum manis yang semakin berkharisma menguar disudut bibirnya. Adrian menghela nafas panjang, ia mengusap lembut punggung telanjang Miranda sambil mengecup lembut kening janda cantik itu, "Tapi aku masih mencintaimu, Mir."


Akan demikian, ketika Adrian mengatakan cintanya, justru Miranda sudah terlelap masuk dalam dunia mimpi. Ia mengecup lembut bibir janda yang menjadi candunya kini, sambil mendekap erat tubuh ramping wanita cantik itu dengan penuh kasih sayang, "Sejak dulu, jika kamu merasa bahagia karena ulah ku, pasti akan tertidur seperti ini. Aku mencintaimu, Miranda Anderson ..." Ia mengulangi kecupan-kecupan manis itu.


***


Suasana kota Medan tak kalah padatnya. Kota terbesar nomor tiga setelah Surabaya tersebut, tampak raut panik wajah Dean karena harus mempertanggungjawabkan tanda tangan yang ia bubuh kan pada berkas pekerjaannya beberapa hari lalu.


Berkali-kali Dean mendecih menatap layar gawainya yang mengatakan dirinya melakukan penggelapan uang perusahaan. Dari pembicaraan melalui whatsApp group perusahaan, hingga email yang dikirim langsung oleh secretaris Anderson selaku pemilik dua perusahaan multinasional permodalan alat berat tersebut.


Dean menghela nafas panjang, ketika akan berangkat menuju bandara, "Abang berangkat dulu ke Jakarta. Semoga saja setelah penjelasan abang dengan Pak Anderson melalui virtual tadi malam dapat menemukan jalan keluarnya. Kamu hati-hati, ya? Jaga kesehatan dan anak kita yang ada dalam kandunganmu."


Perlahan Tyas menganggukkan kepalanya, kemudian tersenyum tipis menatap wajah sang suami yang sangat ia cintai, "Hmm ... setidaknya abang kan kenal dengan Pak Anderson. Secara Miranda itu teman kita waktu sekolah. Pasti dia tidak akan memberatkan abang sebagai orang kepercayaan perusahaan. Aku percaya sama abang," titahnya menguatkan sang suami agar tetap tenang.


Keduanya berpisah, Dean berangkat menuju bandara sesuai perintah Anderson yang akan terbang ke kota itu untuk menemuinya. Entahlah ... ia hanya bisa pasrah dengan semua kesalahan yang dilakukannya tanpa sengaja. Tidak terasa butiran bening itu menggenang di pelupuk mata, membuat dirinya memeluk erat tubuh Tyas penuh perasaan sebelum keberangkatan.


***


Di suasana yang berbeda, kemesraan dua insan yang sejak dini hari semakin terasa nikmat. Bagaimana tidak, Miranda meminta lebih dulu setelah melakukan ritualnya membersihkan diri. Entah berapa kali janda cantik itu mendesah dan mengerang penuh perasaan bahagia. Ia dapat melupakan Heru yang masih menjadi partner ranjangnya, hanya karena sentuhan Adrian yang penuh perasaan.


Cucuran keringat membasahi kulit mulus tampak mengkilap. Keduanya saling meluapkan rasa rindu selama ini terpendam, setelah lima tahun tidak pernah bertemu.


Miranda jatuh dalam dekapan Adrian, mengecup lembut bibir pria yang tak berubah memanjakannya, "Terima kasih ayang, kenapa kamu masih begitu terlihat seksi, sih?" geramnya dengan wajah memerah dan nafas tersengal.


Kedua tangan Adrian mendekap erat tubuh telanjang yang masih berada diatasnya, "Karena kamu menggunakan hati dan penuh kasih sayang melakukannya dengan ku."


Senyuman kecil dari bibir Miranda seketika berubah kesal karena ucapan Adrian. "Siapa bilang aku pakai perasaan. Semua ini kita lakukan karena kamu yang melakukan pertama kali dengan ku. Bukan karena perasaan cinta, melainkan kita sedang reuni."


"What?" Adrian tidak menyangka bahwa janda cantik itu hanya menganggap hubungan mereka berdua 'sedang reuni'. "Kamu sama sekali tidak memiliki perasaan sama aku? Bukankah kita masih bisa melanjutkan hubungan yang belum usai? Walau sesungguhnya aku kecewa dengan sikap kamu, tapi aku merasa nyaman dengan mu, Mir."

__ADS_1


Terasa Miranda menghela nafas berat, ia melepaskan tubuhnya dari dekapan pria yang masih menahan agar tidak menjauh, "Please Mir ... aku masih mengharapkan mu, baby."


Seketika itu Miranda langsung terkenang akan semua cerita Heru yang mengatakan bahwa Adrian hanya menjadikannya sebagai tempat persinggahan sesaat.


"Mira, Miranda!" Heru menahan tangan wanita yang akan bertemu dengan Adrian. "Apa yang kamu harapkan dari Adrian? Dia hanya pria yang memanfaatkan mu. Jangan pernah melupakan kesalahan pria berengsek itu. Dia juga sering melakukan kebebasan jika berpergian, Andrian tidak pernah mencintai mu, dia hanya mencintai tubuh mu!"


Langkah Miranda seketika terhenti, ia tidak menyangka bahwa sang kekasih hati yang selama ini ia pertahankan karena telah kehilangan Dean, membuatnya semakin membenci Adrian. Ditambah pria yang berstatus sebagai musisi sekaligus mahasiswa terbaik di salah satu universitas ternama kota kembang, sudah jarang menemui sang belahan jiwa karena padatnya jadwal manggung sebagai seorang musisi yang masih merintis.


Air matanya mengalir begitu saja, ia tidak menyangka bahwa Adrian mengkhianati cintanya selama ini. Miranda berbalik, pandangannya pias menatap kearah Heru yang selalu ada untuknya. "Jadi, aku harus bagaimana, Ru. Adrian janji akan datang ketika aku wisuda, tapi apa? Dia sama sekali tidak memberikan waktunya di saat kelulusan aku!" Ia menangis sejadi-jadinya dengan bahu bergetar, membuat Heru tersenyum tipis kemudian membawa wanita itu dalam pelukannya.


Tangan kekar itu mengusap lembut punggung Miranda, "See, kamu itu hanya bisa menangis. Cobalah kamu menjadi wanita yang tegar, tidak usah terlalu percaya dengan anak band yang sangat terkenal dengan kehidupan bebas mereka, Mir. Kamu bisa mendapatkan pria lebih baik dari Adrian. Aku akan melindungi mu, aku akan selalu ada untukmu."


Tangis itu semakin menjadi, bayangan Adrian akan bertanggung jawab penuh atas dirinya pupus begitu saja. Janji-janji yang selalu diucapkan Adrian pada Miranda hanyalah semu selayaknya seorang playboy yang terkenal mempermainkan perasaan wanita sedari sekolah.


Adrian memanglah abang kelas Miranda ketika sekolah di Singapura. Mereka mengenyam pendidikan di negeri singa itu karena orang tua yang meniti karir sebagai kedutaan perwakilan Indonesia.


Sangat berbeda dengan Miranda yang memang memiliki dua warga negara, karena Anderson menikah dengan Tina Talisa. Sang mama yang telah menjadi pengusaha sukses sebelum menikah dengan pria yang merupakan orang kepercayaan keluarga.


Pertemuan Miranda yang tampak mengidolakan Adrian ketika mengisi acara perpisahan sekolah mereka kala itu, membuat ia dibutakan oleh cinta yang penuh nafsu walau masih berharap pada Dean.


Perhatian Adrian yang mengalahkan sikap dingin Dean, membuat Miranda semakin terbuai ketika sang gitaris meminta haknya lebih dulu sebagai seorang kekasih.


Lagi-lagi tangan Adrian mengusap lembut wajah cantik Miranda, mengecup lembut bibir itu penuh perasaan, "Aku akan bertanggung jawab atas dirimu, Mir. Aku benar-benar tak kuasa lagi menahan rasa cintaku. Kita sudah cukup dekat, dan aku janji kita akan tinggal bersama jika kamu menyusul ku saat kuliah nanti."


Miranda menghela nafas dalam, meremas kuat lengan Adrian karena merasakan sesuatu benda yang sudah mengeras dibawah sana, akan menembus kulit terhalusnya dibawah sana. "Ahh ... sa-sa-sa-sakithh," rintihannya semakin terdengar, ketika gitaris pujaan hati menghentakkan pinggulnya untuk kesekian kali setelah beberapa kali gagal.


Kedua tangan Adrian menopang tubuhnya agar tidak menyakiti sang kekasih, kemudian menatap iris kecoklatan milik Miranda. Ia juga dapat merasakan getaran dari tubuh wanitanya yang penuh perasaan bercampur aduk karena masih kelas dua belas sekolah menengah atas.


Tampak buliran bening mengalir dari sudut mata Miranda, ketika memberikan mahkota terindahnya untuk pertama kali pada pria seperti Adrian yang terbuai akan janji masa remaja.


Adrian yang telah lulus dari sekolah bertaraf internasional tersebut, akan berangkat menuju kota kembang untuk menggapai semua cita dan asa yang sudah menjadi impiannya sejak kecil. Hanya janji manis terucap begitu saja sesuai perasaan Adrian, membuat Miranda terlena dan terlarut dalam buaian seorang pria muda.


Semua terjadi begitu cepat, kini keduanya kembali dipertemukan dalam kondisi dan status berbeda, duda satu anak untuk Adrian, janda tanpa anak untuk Miranda. Keduanya tertawa bahagia, ketika menikmati makan siang bersama setelah menghabiskan waktu selayaknya masa lalu.


Akan demikian, ketika keduanya tengah asyik menikmati hidangan yang sengaja dipesan Miranda dari restoran apartemen, kebahagiaannya kembali dikejutkan dengan deringan gawainya.


"My love 'Dean' ..." Bola mata Miranda sedikit liar, karena Adrian juga ikut menatap layar gawai milik sang wanita yang terletak diatas meja makan.

__ADS_1


Gegas Miranda mengecup lembut punggung tangan Adrian, agar mengalihkan perhatian sang pria itu untuk tidak merasa cemburu ataupun curiga. "Wait, ini urusan kerjaan."


Hanya anggukan yang Adrian berikan, kemudian melirik kemana arah tubuh indah itu berlalu meninggalkannya seorang diri dengan perasaan berkecamuk, bergumam dalam hati, "Sial! Lagi-lagi anak itu yang menjadi pengganggu hubungan ku dengan Miranda. Katanya dia sudah menikah, ngapain lagi masih menghubungi kekasih ku. Baru juga memulai, masih ada saja yang menggangu ..."


Sementara itu Miranda langsung menjawab telepon dari Dean.


[Ya halo]


[Aku sudah berada di Jakarta, siang ini akan bertemu dengan Pak Anderson di kantor. Apakah kamu ada di kantor]


Kening Miranda mengerenyit, ia belum menerima kabar apapun tentang sang papa. Justru dirinya juga melupakan janjinya dengan Monata tentang niatnya untuk menjadi seorang aparatur sipil negara dalam membasmi narkotika. Berkali-kali ia menepuk jidatnya, merutuki kebodohannya sendiri.


[Ogh, ya, ya, tadi malam mama menghubungi aku sih, tapi aku lupa. Bukankah kalian akan bertemu di Singapura? Kenapa harus di Jakarta ...]


[Hmm, aku yang meminta, karena tidak mau dipindahkan ke pelosok, Mir. Justru aku akan diaudit dikantor pusat, dan mungkin aku akan berada di sini selama beberapa bulan, tergantung hasil pemeriksaan]


Mulut Miranda ternganga lebar, ia menoleh kearah Adrian yang masih menatapnya, membuat dirinya menjadi salah tingkah. Ingin rasanya ia berteriak, akan tetapi ia juga harus menjaga sikap dihadapan sang kekasih karena keduanya baru menyatakan bahwa akan menjalin komitmen untuk merajut asa kembali. "Ogh Tuhan, bagaimana ini ... kenapa harus secepat ini sih. Dean cinta pertama aku, sementara Adrian juga pria yang pertama kali menyentuh aku. Tenang Mir ... cooling down, jangan panik, jangan sampai Baby Adrian cemburu. Karena kalian baru saja jadian ..."


[Miranda, kamu masih mendengarkan aku ...]


[Ogh, ya ... kamu kabari saja jam berapa bertemu dengan papa. Karena aku masih di apartemen. Palingan papa menginap di hotel kami. Karena tidak mungkin dia akan menginap di apartemen ku ...]


Lagi-lagi Miranda sok serius, karena melihat Adrian berjalan mendekatinya.


[Baiklah Mir, karena aku butuh kamu saat ini. Kita bertemu satu jam lagi]


Sambungan telepon terputus, namun tangan Adrian membuat Miranda sulit untuk menarik nafas karena bingung dengan suasana hatinya yang semakin berbunga-bunga. Ia menggigit bibir bawahnya, melihat tangan kekar itu mulai mengusap bagian sensitifnya.


"Ogh ayang, please ... aku harus ke kantor hari ini. Papa ku datang ke Jakarta, jadi aku harus masuk kantor untuk menemui mereka. Oya, bukankah kamu juga ada sesi latihan? A-a-a-atau kamu mau bawa mobil a-a-a-aku?"


Kening Adrian mengkerut, kembali ia mencari kejujuran dari netra wanita yang terus berbohong padanya, "Are you oke, baby?"


Miranda menelan ludahnya, ia semakin gelisah, "Ya, ya, aku oke ... hmm, aku siap-siap dulu untuk ke kantor. Ayang lanjut makan siangnya, karena ya, aku mau ke kantor."


Melihat sang kekasih hati yang terus berbohong, Adrian hanya berkata sambil berteriak tegas, "Aku akan menemani mu, baby. Karena aku ingin bertemu dengan Pak Anderson!"


Langkah kaki Miranda terhenti, kemudian menoleh kearah Adrian seraya bertanya, "What?" wajah cantik nan menggoda tersebut, tak menyangka bahwa sang kekasih mulai over protective pada dirinya. "Tidak Adrian, karena ibu suri ada di sini, aku tidak ingin mama ku marah jika mendengar celotehan mu, jadi lupakan saja!"

__ADS_1


"Aku akan tetap ikut, karena kamu kekasih ku!"


__ADS_2