
Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Matahari telah tenggelam, tergantikan oleh sinar rembulan yang cukup terang menyinari pekatnya malam. Dua insan suami istri telah duduk dikursi makan, untuk menikmati makan malam bersama Keluarga Dean, atas undangan kakak tertua pria muda nan tampan dimata Miranda. Terdengar suara mendehem seorang wanita dari arah belakang mereka berdua yang tengah menunggu sang kakak serta suaminya untuk menikmati makan malam bersama.
"Ehem ..." Lia menghampiri adik kesayangannya dan melirik kearah Miranda dengan tatapan sedikit sinis seraya menghulurkan tangannya kearah istri kedua Dean, "Kenalkan, Lia dan ini suami saya, Adam!"
Mendengar suara Lia yang sedikit sinis berbicara padanya, Miranda sedikit menundukkan wajahnya, kemudian mengalungkan tangan kanannya ke lengan Dean, sebagai isyarat tidak nyaman. Bagaimana mau nyaman, bisa-bisanya Dean mengajak Miranda untuk datang ke kediaman kakak kandungnya, hanya karena ingin kembali ke kediaman Monata sesuai pembicaraan mereka berdua melalui telepon sepanjang perjalanan pulang.
Gegas Dean mengusap lembut tangan Miranda, kemudian memperkenalkan sang istri kepada Lia yang masih berdiri dan menatap istri kedua sang adik dari ujung rambut hingga kaki.
"Ini Miranda Anderson, Kak. Kebetulan dia dinas di badan narkotika nasional propinsi dan sudah mendapatkan posisi yang cukup baik untuk karirnya." Dean menghela nafas berat, kemudian tersenyum dan melirik kearah Miranda.
Jujur saja, Lia berdecak kagum melihat penampilan Miranda yang tampak elegan juga tenang, walau sesungguhnya wanita cantik itu merasa kurang nyaman. "Hmm ... pantas saja adikku tertarik sama wanita ini, ternyata dia memang lebih berkelas dari Tyas. Adikku saja yang bodoh, malah menikah dengan wanita itu. Pakai nangis-nangis segala tadi ditelepon." Sungutnya dalam hati mengenang kembali percakapannya dengan Tyas diseberang sana.
"Duduk!" Adam mulai bersuara agar suasana tampak tenang dan nyaman dihadapan Dean sembari melirik kearah Miranda. "Mana anak-anak, Ma?" Ia menoleh kearah sang istri untuk makan bersama kedua anak laki-laki mereka.
Gegas Lia memanggil kedua buah hatinya yang berada dilantai dua, "Kevin, Handri, makan yuk!"
__ADS_1
Terdengar sayup-sayup jawaban dari kedua anak remaja itu, "Deluan saja Ma! Kami sebentar lagi turunnya!"
Tidak ingin menunggu lama, Lia memberikan piring kepada Miranda juga Dean dengan senyuman manis diujung bibirnya, "Kita makan dulu dan nanti baru ngobrol serius!"
Akan tetapi, Miranda hanya mengulas senyum simpul dan menautkan sedikit alisnya karena asing dengan menu yang sangat aneh menurut mata juga seleranya. Ia mendekatkan wajahnya pada telinga sang suami, kemudian berbisik ketelinga Dean, "Sayang ... ini makanan apa? Kok ada keong kecil begini, bagaimana makannya? Aku tidak mau makan makanan hewan aneh ini. Bisa buatin aku telor dadar?"
Sejujurnya Dean yang sudah mengetahui makanan khas melayu dengan berbagai macam jenis makan ikan salai atau ikan diasapi hingga hitam, serta siput kecil yang dianggap sang istri sebagai keong. "Cobain dulu, deh! Jangan langsung bilang tidak suka." Titahnya menyendok kan nasi putih kepiring Miranda, serta memberikan satu ekor ikan salai goreng balado.
Entah mengapa, Miranda merengek manja, menolak ucapan suami tercintanya seraya berkata, "Aku enggak mau makan beginian, nanti kalau anak kita hitam bagaimana, aku lagi hamil, Sayang!"
Pernyataan Miranda yang mengatakan bahwa dirinya tengah mengandung anak Dean, Lia sebagai kakak tertua dan ipar Miranda terlonjak kaget. Bagaimana mungkin, adiknya baru membawa istri keduanya yang dinikahi secara siri, harus hamil ketika anak Dean bersama Tyas baru berusia beberapa bulan. "Apa!? Ka-ka-kamu hamil?" Ia bertanya seraya membulatkan kedua bola matanya.
Lia menelan ludahnya, ia melirik kearah Dean yang tertunduk kemudian menoleh kearah kiri dimana Adam hanya bisa menahan senyuman manisnya dan sengaja mengembangkan bibirnya sebagai isyarat agar tidak terpancing emosi. Ia menutup matanya, untuk tetap tenang dengan helaan nafas dalam. "Ogh ... kamu mau telur, ya? Apakah kamu tidak bisa melakukan sendiri?"
Cepat Dean menyela ucapan sang kakak tercinta seraya bertanya kepada Miranda dengan penuh kelembutan, namun sedikit curiga dengan ucapan istri keduanya. "Are you sure, ka-ka-kamu hamil?"
__ADS_1
Tanpa sungkan, Miranda menganggukkan kepalanya dan langsung didekap erat oleh Dean dihadapan kakak juga Abang iparnya. "Terimakasih Sayang. Kalau benar kamu hamil, aku akan memenuhi semua keinginan kamu. Kamu mau telur dadar atau ceplok, tadi?" Dean berceloteh tanpa menunggu Miranda menjawab pertanyaannya.
Miranda menghela nafas berat, seraya bergumam dalam hati, "Hmm ... semoga saja anak yang ada dalam kandungan aku ini, merupakan anak Dean, bukan Adrian ...!" Ia hanya memberikan keningnya, agar sang suami mengecupnya sepenuh hati.
Kehamilan Miranda, merupakan satu keinginan bagi Dean. Dengan wanita pewaris tahta ini mengandung cucu pertama untuk Keluarga Anderson, maka ia akan menjadi orang nomor satu untuk Multy Strada serta orang kepercayaan Anderson dan Tina Talisa, hanya itu yang ada dalam benaknya.
Karena menurut Dean, ia telah berhasil memberikan kenyamanan kepada Miranda walau harus menghabiskan dana di rekening pribadinya atas permintaan sang istri yang ingin membeli rumah secara cash tanpa mau berhutang dengan bank. "Untung aku pinter ... jadi ini merupakan kesempatan emas untuk menjadi CEO di Multy Strada juga bisnis Ibu Suri yang lainnya."
Akan tetapi, lagi-lagi Dean menepuk jidatnya sendiri, "Jangan senang dulu Dean, karena masih ada Tyas yang akan menjadi penuntut umum dengan semua rencana mu. Apalagi besok dia sudah tiba di Pekanbaru, aduh ... bisa hancur dunia ku!"
Tidak ada pilihan, Lia sebagai tuan rumah dengan sangat terpaksa ia membuatkan telor dadar sesuai permintaan Miranda. "Mau dipake-in kecap manis enggak, nih?"
Miranda menoleh kearah Lia yang tengah memaksakan telur dadar, membuat ia merasa sangat diperhatikan oleh sang kakak ipar, "Hmm ... pake saja Kak, tapi jangan terlalu banyak. Aku terbiasa makan sapi lada hitam dan salad sayuran."
Ucapan Miranda seperti itu, seolah-olah membuat Lia sebagai seorang ipar bagi istri kedua adiknya hanya mendengkus dingin. "Ya Allah, kenapa Dean malah mau menjadikan anak manja ini sebagai istri ...?" geramnya masih terus memasakkan telur yang diminta Miranda.
__ADS_1
Ingin sekali Lia menghardik atau bahkan menyuruh Miranda melakukannya sendiri, namun kembali ia teringat tentang pembicaraannya beberapa waktu lalu pada Dean, yang mengatakan bahwa ia benar-benar mencintai Miranda karena merupakan anak kesayangan Anderson dan Tina Talisa. "Hmm ... pantas saja Dean sangat royal sama anak manja ini. Sampai-sampai mau menguras tabungannya yang rencana untuk umroh sama orang tua."
Tidak ada pilihan lain, selain mendukung Dean tetap mempertahankan rumah tangganya bersama Miranda, sesuai keinginannya untuk mendapatkan posisi terbaik serta ternyaman dalam karirnya. "Untung cantik, kalau tidak entahlah. Tapi tunggu dulu, kemaren Tyas bilang Miranda ini memiliki hubungan spesial dengan laki-laki yang menjadi sahabatnya, apakah dia hamil dengan pria lain ...?" Pikiran Lia mulai menerawang jauh.