
Sejujurnya ini pertama kali Miranda dicecar pertanyaan dari berbagai arah. Dari Adrian yang datang mendekati Miranda, Marisa yang tampak kebingungan mendengar ucapan Adrian dan Tyas yang ada di kediamannya, membuat keponakan Marisa yang itu tampak panik dan tak bisa berkata-kata.
Akan demikian, Dean hanya bisa menatap lekat kedua bola mata istri keduanya, mencari kejujuran dan mengingat kembali kejadian beberapa waktu lalu ketika dirinya mendarat di tanah melayu tersebut. "Jawab Mir, anak siapa yang ada didalam kandunganmu!"
Mendengar pertanyaan yang seakan-akan menyudutkan dirinya, Miranda menggeleng kemudian menyandarkan tubuhnya didinding ruang tamu sambil menatap memohon kearah Dean dengan mata berkaca-kaca. "I-i-ini anak kita Dean! A-a-a-aku yakin ini anak kamu!"
Semua kening orang yang ada diruang tamu mewah itu menautkan kedua alisnya dan saling bertatapan. Tyas memandang wajah Miranda lekat, begitu juga dengan Marisa dan Adrian yang tidak menyangka bahwa akan mengeluarkan kalimat 'yakin ini anakmu'.
Satu kemenangan bagi Tyas akan kejujuran Miranda yang masih ngambang, membuat dirinya langsung bersorak seraya berkata dengan nada tegas, "Nah ... aku yakin sekali, kalau Miranda ini hamil anak Adrian! Tapi dia selalu mengaku hamil dari suamiku Tante!"
Miranda menggeleng, ia tidak menyangka akan dipertemukan lagi dengan Tyas yang merupakan ular betina berkepala tiga. Cepat ia menepis ucapan Tyas yang seakan-akan tengah menyalakan obor kemenangan olimpiade atas kehancuran rumah tangga yang masih seumur jagung. "Tidak Dean! Jangan percaya, karena kamu juga harus tahu, kalau anak kamu yang ada di Medan itu bukan benih dari kamu dan Tyas yang mengatakan sendiri padaku!"
Dhuuuarr ...
Bak gayung bersambut, kemenangan selalu berpihak pada orang yang teraniaya. Membuat Tyas dan Dean saling menatap dan bibir Adrian tampak lebih ternganga karena tidak menyangka bahwa sahabat masa sekolahnya itu akan mengatakan hal sesungguhnya.
Kedua bola mata Dean membulat sempurna, kepalanya semakin berdenyut-denyut, membuat ia langsung mengerenyitkan keningnya kemudian bertanya kepada Tyas dengan wajah memerah, "Be-benarkah apa yang dikatakan Miranda, Tyas?"
Tidak ingin berdebat terlalu lama dihadapan Marisa karena perasaan malu, Tyas berhamburan memeluk tubuh Dean dan langsung menarik lengan sang suami agar mau ikut dengannya untuk berbicara. "Jangan percaya dengan mulut wanita penggoda itu Bang! Aku mohon, kita pergi dan aku kita harus menyelesaikan masalah serius ini!"
__ADS_1
Marisa hanya menghela nafas berat, sementara Miranda masih memohon pada Dean agar tidak meninggalkannya begitu saja karena sesaat lagi Robert akan datang menjemputnya untuk perjalanan dinas.
Sesungguhnya Adrian juga dibuat bingung atas perubahan sikap Miranda yang tampak biasa saja bertemu dengannya. Ia tidak menyangka bahwa Miranda akan secepat itu memasang tembok besar agar tidak kembali lagi pada dirinya sebagai seorang kekasih seperti dulu.
"Maaf Tan, aku harus segera mengambil perlengkapan kerja ku didalam kamar, karena sebentar lagi Pak Robert akan datang menjemput ku," tutur Miranda menoleh kearah Marisa yang langsung mengangguk setuju.
Melihat istri keduanya berlalu meninggalkan ruang tamu menaiki anak tangga, tanpa perasaan bersalah ataupun sungkan, Dean justru ikut mengejar Miranda tanpa menghiraukan Tyas yang semakin tersulut api amarah karena emosi.
"Mira, Miranda!" Dean mengejar langkah kaki sang istri yang tampak terburu-buru menaiki anak tangga karena perasaan khawatir akan kehamilannya. "Biar aku temani kamu mengambil dokumen dan mempersiapkan semua kebutuhan kamu!"
Senyuman Miranda seketika mengembang sempurna, ia tidak memperdulikan teriakan Tyas yang semakin menggila dibawah sana, membuat Marisa langsung menghardik keras tamu tak diundangnya pagi itu.
Tidak terima atas hardikan seorang Marisa selaku istri dari seorang pria berpangkat, Tyas yang sudah meraung-raung di ruang tamu mewah itu hanya bisa menjawab, "Tapi suamiku ada dirumah Tante! Tolong kembalikan suamiku Tante, aku mohon! Aku yakin kalau janda gatal itu yang berusaha untuk terus menggoda suamiku! Tolong Tante, jangan rebut suami aku, bilang sama keponakan mu, dia bisa mencari laki-laki lain tapi jangan suami aku!" teriaknya semakin tak terkendalikan.
Rasa hati Marisa ingin sekali tertawa terbahak-bahak mendengar lulungan tangis seorang wanita yang teraniaya oleh suami sendiri seperti Tyas. Akan tetapi, ia sebagai wanita dapat melihat bahwa dari tatapan mata istri pertama Dean ini menyimpan satu rahasia yang sangat jauh lebih besar dari kasus dengan keponakan tercintanya.
Sebagai seorang ibu bhayangkari yang aktif dan selalu memberikan motivasi kepada wanita-wanita teraniaya diluar sana, membuat dirinya sedikit berbisik ketelinga Adrian, "Tolong tenangkan wanita ini, sebelum Om Monata kembali kesini karena kamu masih menjadi tahanan kota. Tolong kerja samanya dan mengerti akan Miranda karena saya akan bertanya serius!"
Adrian hanya mengikuti semua perintah Marisa, agar tidak memperpanjang semua masalah yang niat awal ingin merebut Miranda kembali, tapi tak kuasa membendung amarah Tyas yang meledak-ledak tak terkendalikan.
__ADS_1
Dilantai yang berbeda, didalam kamar nan sejuk dan mewah itu, Miranda justru menangis terisak-isak di dada Dean. Ia tidak menyangka bahwa Tyas akan datang untuk melakukan penyerangan padanya dalam waktu yang kurang tepat.
Dean yang masih penasaran akan ucapan Miranda dibawah tadi, kembali mempertanyakan tentang anak laki-lakinya bersama Tyas yang berada dikota Medan. "Katakan padaku, apa benar Tyas pernah mengatakan bahwa anak kami bukan putra kandungku?"
Dengan wajah sembab dan masih mendekap erat tubuh Dean yang terus mengusap lembut punggungnya hanya mengangguk perlahan, "Iya. Tyas sendiri yang bilang, tapi coba pastikan saja dari test DNA atau lihat raut wajah anak kamu, mirip Daddy-nya enggak? Kalau enggak, ya berarti selama ini kamu diselingkuhi Tyas!" Ia menyeringai sambil mengusap lembut wajah cantiknya yang masih basah karena linang air mata.
Terlihat rahang Dean menggeram, ia tidak menyangka bahwa sang istri pertama akan berani melakukan hal gila yang tidak disangka-sangka. Selama masa dinas yang selalu menjadi panutan selama pernikahan mereka ternyata hanyalah semu tentang kesetiaan.
Ditambah pertemuan yang tidak disengaja dengan Miranda dan memutuskan untuk menikahi wanita cantik itu secara siri, atas permohonan Miranda setelah meninggalkan fasilitas keluarga yang tidak ternilai harganya. Membuat Dean benar-benar mengacungkan jempol untuk putri pewaris tahta Multy Strada.
"Jujur saja Mir, apakah kamu juga masih mencintai Adrian? Apakah benar kamu pernah menghabiskan waktu dengan Adrian selama menikah dengan aku, hmm?" Kembali Miranda dikejutkan dengan pertanyaan Dean, membuat Miranda langsung pura-pura sakit kepala karena melihat jakun sang suami yang turun naik ketika menelan ludahnya.
"Aduh duh duh ... Sayang, kepala ku tiba-tiba kok jadi sakit begini? Aku yakin anak kita tidak ingin Daddy-nya bertanya yang tidak-tidak." Miranda langsung melepaskan dekapan Dean yang langsung membopong tubuh ramping itu keatas ranjang peraduan mereka berdua.
Merasakan ketulusan seorang Dean terhadap dirinya, tanpa menghiraukan tangisan Tyas yang masih terdengar dibawah sana, membuat Miranda langsung mellumat bibir Dean secara sensual dengan menutup kedua telinga pria itu ketika merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Tak ingin menunggu lama, Dean yang tampak masih kebingungan sedikit beringsut untuk membalas semua pengorbanan Miranda yang sangat nyata untuk dirinya.
"Mir ... kalau Pak Robert datang kesini bagaimana?" Tanya Dean ketika melepaskan penghalang antara mereka berdua.
__ADS_1
Miranda yang sudah berada diambang batas kesadarannya, hanya berdecak penuh gairah dan hasrat dengan nafas memburu meminta kepuaasan sebelum keberangkatan dinas. "Geseekin jari kamu saja, Sayanghh ... aku sudah tidak kuathh lagihh ..." Eraangnya tanpa menjawab pertanyaan Dean seraya membuka lebar kedua paha mulusnya, membuat sang suami mabuk kepayang akan hausnya kasih sayang yang menggunakan perasaan cinta.