
Siang menjelang sore itu semakin terik, matahari bersinar sangat terang menyinari kota minyak tersebut, membuat Dean terus menghubungi Miranda dari gawainya. "Sayang angkat telepon aku ..." Ia menggeram setelah terlepas dari pihak kepolisian yang memberikan jalan, setelah mendapatkan telepon dari Monata.
Ya, Dean menghubungi Monata karena kejadian itu sehingga harus kehilangan kabar dari Miranda. "Sayang kamu dimana ..." geramnya mengepal kuat gawai yang ada ditangannya.
Cukup lama Dean menunggu kabar dari Miranda, namun lagi-lagi nama Tyas yang menghubunginya. Membuat ia menjawab panggilan telepon itu dengan nada sedikit tegas.
[Bisa kita bicarakan nanti! Jangan pernah meminta cerai, karena aku tidak akan pernah menceraikan kamu, Tyas]
Terdengar suara serak yang baru usai menangis tersedu-sedu diseberang sana, sambil menjawab pernyataan Dean.
[Kenapa Abang bohong sama aku, hmm? Bukannya Miranda itu pacaran sama Adrian. Oke, kalau Abang menginginkan janda gatal itu, silahkan. Aku tahu diri, Bang ... Miranda kaya, putri dari Anderson dan memiliki segalanya ...]
Cepat Dean menghardik sang istri agar tidak asal bicara.
[Jaga ucapan kamu, Tyas. Kamu tahu, bahwa Miranda rela melepaskan kekayaannya hanya karena ingin menjadi istri kedua dari Dean Alexander. Satu lagi, aku masih mencintai Miranda Anderson, Tyas]
Mendengar penjelasan sang suami yang penuh amarah diseberang sana, membuat dada Tyas terasa sangat sesak. Ingin sekali wanita berusia 26 tahun itu menghempaskan gawai yang ada di genggamannya, setelah mendengar kejujuran sang suami dari jarak jauh sangat menusuk jantungnya.
Sengaja Dean mengakhiri panggilan teleponnya, karena tidak ingin melanjutkan perdebatan tersebut hanya karena ia hilang kontak dengan Miranda. Namun, ia sangat yakin bahwa istri tercintanya itu dibawa oleh Adrian ke hotel yang ada diseberang jalan setelah flay over ada dihadapannya.
***
Ruangan enam kali lima itu tampak semakin tidak kondusif. Hotel bintang lima tempat Adrian menginap dan menyakiti Miranda seketika terlihat seperti penggerebekan perselingkuhan oleh team Robert yang dibantu Richard sebagai intel terkuat di propinsi tersebut. Bagaimanapun Adrian tidak akan bisa membela diri, barang bukti sudah tampak jelas dan nyata dihadapan Robert dan Richard sebagai kepala badan narkotika.
Robert mengedarkan pandangannya kearah meja rias, tampak botol air mineral yang sudah dikemas secara apik dengan sedotan dan pireks serta beberapa kristal yang masih berada dalam plastik klip.
Gegas Robert bergerak cepat meraih tubuh Miranda yang terlihat ketakutan karena ulah Adrian, kemudian menghardik pria bertato tersebut, "Ogh ... ini yang kau lakukan! Keparat sekali perbuatan mu!"
__ADS_1
Tangan yang akan melayang ke wajah Adrian seketika ditahan Miranda, "Jangan Bang. Please ... jangan buat dia seperti seorang buronan, aku mohon!" Ia menangis sambil menoleh kearah Adrian yang langsung dipiting oleh Richard karena melihat barang bukti dihadapan mereka.
Entahlah, suasana semakin kacau. Tiga sahabat sekaligus rekan musisi Adrian berhamburan masuk kekamar itu karena mendengar suara bariton Richard yang membentak keras gitaris mereka.
"Cepat jawab! Dimana lagi kau sembunyikan barang itu!" Richard sebagai orang terkuat untuk menghadapi para pemakai seperti Adrian menghempaskan tubuh gitaris tersebut dilantai kamar hotel.
Sofyan selaku manager band mereka, terlonjak seketika melihat Adrian yang masih ditanya oleh Richard. Sementara matanya menoleh kearah Miranda seakan-akan tidak menyangka bahwa wanita itulah yang menjebak sahabat mereka. "Maaf Pak, bisa lepaskan dia?" Ia meminta agar Adrian dilepaskan dan berbicara secara baik-baik.
Karena perasaan penasaran sama mereka, Richard menoleh kearah Robert yang memberikan isyarat dari tatapan mata mereka.
Cepat Robert memberitahukan kepada Sofyan, tentang kronologi Adrian, "Kami menemukan beberapa barang bukti berupa shabu dan alat hisap yang ada di kamar ini. Ditambah lagi, rekan kalian ini telah melukai kekasihnya sendiri!"
Gegas Sofyan membantu Adrian berdiri, kemudian menoleh kearah Miranda juga Awan dan langsung meminta pada sahabatnya untuk menutup pintu kamar itu dengan rapat.
Tidak menunggu lama, Adrian duduk di kursi meja rias sementara Miranda masih berada dibelakang Robert karena masih takut akan melihat wajah sang kekasih yang telah menyakitinya.
Membuat Miranda yang tidak pernah menyakiti Adrian dengan cara apapun selain meninggalkan pria itu, hanya berkata dengan nada pelan, "Bang ... tolong lepaskan Adrian. Aku mohon, kita selesaikan saja secara baik-baik dan aku tidak akan menuntut apapun."
Permintaan Miranda membuat kedua bola mata para pria yang ada didalam ruangan tersebut hanya membelalak tajam.
"Bodoh sekali anak ini, sudah dihajar habis-habisan oleh pria ini, malah mau berbuat baik padanya ..." Hanya umpatan kekesalan itu yang ada dalam benak Robert untuk Miranda.
Akan demikian, yang ada dalam benak Richard justru ini merupakan satu peluang untuk mendapatkan pundi-pundi uang yang sangat menggiurkan. "Agh ... tahu saja kakak ini aku lagi kehabisan uang ..." Ia menyeringai kecil sambil menarik kerah baju Adrian seraya bertanya, "Dari mana kau dapat barang ini, Bro?"
Lagi-lagi Adrian mengalihkan pandangannya kearah lain, menoleh kearah Awan yang pemakai aktif sama sepertinya. Mereka berdua memang menyembunyikan rahasia itu sejak dulu, karena menjaga nama baik band indie mereka yang masih merintis secara perlahan.
Gegas Adrian menggelengkan kepalanya, kemudian berkata lagi dengan nada datar dan wajah menunduk, "Saya dikasih tadi malam sama oleh team promosi. Ini hanya untuk menjaga stamina saja, Bang. Karena kegiatan kami cukup padat." Ia berbicara seolah-olah tidak melakukan kesalahan apapun.
__ADS_1
Hanya sunggingan kecil yang terlihat disudut bibir Richard, kemudian menghela nafas berat. "Ya ... kalau begitu kalian dalam pengawasan kami sampai selesai manggung. Itu tidak ada yang gratis, Bro! Pastinya kau ngerti lah kan. Kami disini berenam, kau tahu ... ini komandan kami!" tunjuknya mengarah kepada Robert.
Tentu saja Miranda sangat mengetahui bagaimana keinginan Robert untuk melakukan 86 atau perdamaian ditempat. Gegas ia bicara setelah memandang kearah Adrian dan melihat mata sendu itu, "Tidak usah takut, Bang Richard. Saya akan mempersiapkan berapapun yang kalian minta hari ini."
Dengan tangan bergetar Miranda mencari gawainya yang ternyata tergeletak diatas ranjang, kemudian berkata dengan suara berat. Namun pandangannya seketika pias saat nama Dean menghubunginya.
Tanpa menunggu lama, Miranda menoleh kearah Robert sambil berkata pelan, "Maaf Bang ... Om Monata menghubungi aku!" Ia berlalu menuju kamar mandi yang dihadang oleh Anto juga Defri berdiri didepan pintu tersebut.
Cepat Miranda menutup pintu kamar, kemudian menjawab panggilan telepon tersebut.
[Ya sayang, kamu dimana]
Tangis Miranda kembali pecah menjawab panggilan telepon Dean dengan suara tertahan.
[Ka-ka-kamu dimana, Mir? Maaf, aku telat nyampe di hotel karena dibawa ke pos lampu merah sama polisi. Tapi sudah beres, sekarang aku di loby hotel]
[Tunggu aku dibawah, aku segera kesana]
Gegas Miranda mengakhiri panggilan teleponnya dengan Dean hanya karena tidak ingin berdebat tentang perselingkuhannya dengan Adrian. Gegas Miranda menghubungi Monata memohon perlindungan untuk sang kekasih.
[Ya Mir ...]
[Om, call Pak Robert sekarang! Aku tidak ingin melihat Adrian masuk bui, karena bagaimanapun kesalahan itu dari aku dan malam ini aku akan menginap dengan Dean di rumah, Om]
Sejujurnya, Monata tidak mengerti apa yang dibicarakan sang keponakan. Namun, mendengar suara Miranda yang berbicara dengan tersedu-sedu membuat ia tidak banyak bertanya.
[Ya sudah, Om tunggu kamu dirumah. Om hubungi Robert dulu, ya ...]
__ADS_1
[Terimakasih Om]