
Kedua paha mulus itu terbuka lebar, ketika merasakan kenikmatan luar biasa menyentuh bagian sensitifnya yang tersembunyi lebih dalam lagi. Tangan halus Miranda meremas kuat lengan suami tercinta, ketika bibir itu meluumaat dan tubuh itu menggelinjang hebat karena kegelian dalam merasakan kenikmatan yang tiada tara dalam mencapai pelepasan dan kenikmatan dalam bercinta.
"Ahh ..." Miranda menggeliat liar ketika Dean mellumat ujung bagian kenyal yang terasa kencang sambil meremas lembut penuh perasaan.
Sementara itu, Dean justru semakin bergairah untuk mendaratkan senjata pamungkasnya di paha mulus Miranda tanpa bisa melakukan manuver ke lembah kenikmatan surga milik wanita cantik yang tengah mengandung benih cinta mereka. "Hmmhh ... ahh Sayanghh ..."
Peluh keduanya mengucur deras tanpa memperdulikan Robert yang sudah menunggu diarea bawah kediaman Monata, bersama Marisa.
"Maaf Bu Marisa, dimana Miranda? Apakah dia tidak tahu ada jadwal dinas hari ini? Kenapa justru saya harus menunggu keponakan Anda? Tadi dia izin sebentar, karena tengah membayar pajak di perumahan yang baru dia beli." Robert sedikit berdecak kesal, karena tidak menyangka bahwa kedatangan harus menunggu Miranda turun dari lantai dua.
Dengan demikian, Marisa hanya tersenyum tipis seraya berkata, "Silahkan tunggu saja di sini Bang. Karena Miranda baru saja kembali dan ada dilantai dua. Mungkin dia melepas rindu dulu bersama suaminya. Kayak enggak tahu saja kalau anak muda mau pergi dinas." Ia berlalu begitu saja meninggalkan Robert diruangan tamu, karena perasaan kesal, setelah berhasil meminta Tyas dan Adrian pergi meninggalkan kediamannya dengan cara tidak hormat.
Mendengar ucapan Marisa yang seolah-olah masih tersulut emosi, karena pertikaiannya disebabkan ulah keponakan sang suami, membuat kepala ibu tiga anak itu berdenyut-denyut. 'Beginilah kalau menikah dengan suami orang. Malah membuat malu keluarga sendiri!' Sesalnya bergumam dalam hati.
Cukup lama Robert harus menunggu munculnya Miranda yang terbilang cukup lama, membuat pria bertubuh tinggi dan paruh baya itu mendengkus kesal. 'Kemana Dek Miranda? Kenapa sampai jam segini dia belum turun juga ...?'
Akhirnya Robert sedikit terkejut ketika mendengar dari kejauhan suara samar wanita yang tengah menangis dengan sangat keras. Tak ayal, membuat pria itu berdiri dari duduknya kemudian mencari arah suara yang sangat dikenalinya. 'Miranda ...' Sesalnya dalam hati, 'Kenapa dia menjerit seperti itu? Apakah suaminya menyakitinya?'
Entah kejadian apalagi yang terjadi pagi itu. Yang pasti semua penghuni kediaman Monata mendengar suara tangis dari arah lantai dua.
"Miranda!" Marisa memekik dari arah ruang makan, berlari kencang menaiki anak tangga dan berpapasan dengan Dean yang akan berlalu meninggalkan keponakan suaminya itu dalam kepiluan hati sebagai istri kedua.
Dengan cepat, Marisa menahan lengan Dean yang akan berlalu meninggalkan kamar Miranda seraya berkata, "Apa yang kamu lakukan kepada keponakan suamiku?"
__ADS_1
Gegas Dean melepaskan tangannya dari genggaman Marisa dan menatap tajam kearah wanita mapan tersebut. "Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku Tante, coba saja tanyakan kepada keponakan Tante itu, anak siapa yang ada didalam kandungannya!"
Tawa Marisa menyeringai lebar, ia menggeleng kemudian kembali bertanya, "Apakah itu bukan anak mu? Bukankah kalian sudah sering menghabiskan waktu bersama dan saat ini keponakan ku tengah mengandung, kamu justru menanyakan anak siapa? Hah? Dimana otakmu Dean Alexander!" Ia benar-benar tersulut api amarah.
Sejujurnya Marisa tidak ingin melihat pertikaian didalam rumah megahnya. Akan tetapi, isak tangis Miranda yang semakin terdengar sangat mengharukan membuat satu tangan pria langsung melilit dileher Dean.
"Kau apakan Miranda lelaki keparat!" Robert yang sejak tadi menunggu sekretaris barunya tadi di ruang tamu rumah megah Monata, langsung mendorong tubuh Dean dan langsung tersungkur dilantai.
Kaki Robert menginjak punggung Dean, dengan satu tangan pria beristri duan itu ia tarik keatas juga memelintirnya sehingga Dean terpekik karena rasa sakit ketika satu tangannya terkunci dan tidak dapat bergerak lagi.
"Katakan padaku, kau apakan pegawai ku anak setan!" Robert semakin menekan kakinya yang terbalut sepatu PDL kepolisian dan sedikit menundukkan kepalanya agar bisa melihat wajah pria yang masih meringis menahan rasa sakit. "Cepat katakan, apa yang kau lakukan kepada Miranda!" Hardiknya lagi dengan suara semakin garang.
"A-a-a-aku hanya menceraikannya! Ka-ka-karena dia telah mengkhianati aku, Bang!" Dean menjawab dengan terbata-bata, ketika pipinya merasakan sepatu hitam mengkilap itu semakin menekan wajahnya.
Marisa terbelalak, ia tidak menyangka bahwa Miranda telah diceraikan oleh Dean hari itu juga. "Apa? Cerai?" Teriaknya sambil berlari mencari keberadaan Miranda.
Tangan halus nan lembut itu merangkul lengan Marisa dengan sangat kuat. Miranda menangis sejadi-jadinya, membuat ibu tiga anak itu langsung mengecup lembut kepala Miranda.
"Tenanglah sayang, pikirkan kondisi kamu saat ini. Kamu tengah mengandung, Mir." Marisa berusaha tenang dan mengajak Miranda agar naik keatas ranjang yang masih tampak berantakan.
Miranda masih menangis, ia berbicara dan merasa terzolimi, "Dean menceraikan aku, Tante. Dia tidak percaya bahwa aku mengandung anaknya."
"Cup, cup, cup Sayang. Jangan menangis seperti ini. Mungkin saja Dean lagi khilaf dan mempercayai semua ucapan Adrian ataupun Tyas. Kamu tenang dulu ya?" Marisa meraih gelas yang ada diatas nakas, kemudian mengambil air minum untuk Miranda.
__ADS_1
Susah payah Marisa menenangkan sang keponakan Monata, karena tidak menyangka hari itu menjadi sangat memilukan karena sifat Dean yang hanya mempercayai pertikaian pagi itu.
Sejujurnya Dean tidak ingin melihat Miranda seperti itu, akan tetapi kejujuran istri kedua-nya yang mengatakan jujur tentang ketidakpuasan di ranjang, membuat pria satu anak itu berpikir bahwa Miranda telah meremehkannya sebagai seorang pria yang berstatus suami.
"Jadi kamu puas dengan Adrian? Atau mungkin benar adanya, kalau anak yang ada dalam kandungan mu merupakan anak Adrian, Mir!" Tukas Dean ketika mendengar Miranda meminta bermain-main kembali dengan cara yang biasa pasangan halal lakukan.
"Kenapa kamu justru berpikir begitu Dean? Wajar aku meminta hak ku sebagai istri padamu, tapi apa? Apa kamu pernah memenuhi kebutuhan hasrat ku sebagai seorang istri sebagai seorang wanita normal?" Miranda yang tengah berada diambang batas gairahnya, terbawa emosi karena merasa kepalanya yang sedikit berdenyut-denyut karena perasaan ingin terlampiaskan.
Kening Dean mengerenyit, wajahnya memerah karena perasaan malu. "Apa maksud mu? Apakah selama ini yang kita lakukan kamu tidak pernah puas? Bukankah kamu mencintai aku apa adanya Miranda Anderson?" Sergahnya tidak terima akan ucapan Miranda yang semakin menuntut.
"Aku sangat mencintaimu, tapi aku tidak pernah puas dengan hubungan ranjang kita yang jauh dari kata normal. Sampai kapan kamu harus menggunakan jarimu untuk memuaskan aku, kenapa tidak menggunakan anuhh mu! Apa kamu tidak normal dan tidak dapat memberikan kepuasan padaku!?" Miranda menjawab sambil berpangku tangan.
Mendengar jawaban Miranda seperti itu, sontak saja membuat darah Dean mendidih hingga keubun-ubun. Baru beberapa detik mereka mengahibiskan waktu diranjang peraduan itu, kini harus menerima permintaan sang istri yang sangat menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang suami juga pria yang memiliki dua istri.
Telunjuk Dean mengarah ke wajah Miranda, "Miranda Anderson, hari ini juga aku menceraikan mu, karena kebinalan mu! Aku tidak akan memperdulikan mu, karena aku yakin, anak yang ada dalam rahimmu bukan benih ku! Melainkan benih Adrian, karena kau masih menjalin hubungan dengannya!"
Bibir mungil nan tipis juga wajah cantik itu seketika berubah menjadi sendu, mulut merah merona itu menganga, pipinya nan mulus dan putih tampak memerah. Bagaimanapun, Dean merupakan cinta masa sekolah yang sangat baik.
Miranda menggeleng pelan, pandangannya pias, bibirnya kembali bergetar, "Tidak Dean. Kita tidak pernah akan bercerai karena aku sangat mencintaimu! Please, jangan lakukan itu padaku, karena aku sudah melakukan apapun untuk mu, untuk kita!"
"Tidak Mir! Aku tetap akan menceraikan mu dan aku akan bicara pada Om Monata!"
"Jangan Dean, aku mohon, maafkan aku!" Miranda bersimpuh di kaki Dean hanya untuk memohon.
__ADS_1
Dean seakan tidak peduli dengan permintaan Miranda, yang pasti ia memilih pergi meninggalkan kamar, akan tetapi wanita yang tengah mengandung benih cinta yang belum diketahui pasti siapa ayahnya berteriak keras memanggil nama suami siri-nya.
"Dean! Dean ... jangan ceraikan aku! Aku mohon!"