Dicerai Karena Binal

Dicerai Karena Binal
Siapa yang akan menjadi pemenang


__ADS_3

Benar saja, setelah melakukan makan siang bersama Monata juga Robert sebagai seorang pria mapan berpangkat. Miranda hanya tersenyum ketika pria mapan itu berbisik ketelinga nya.


"Bagaimana pernikahan mu dengan Dean, Mir?"


Terlihat Miranda tengah sibuk menutupi rasa kecewanya akan pernikahan tersebut, dengan satu senyuman tipis diujung bibirnya, "Baik Om. Dean lagi sibuk, ditambah dia dipecat dari Anugerah Finance dan saat ini bekerja sebagai debkoletor di satu Perusahaan Leasing."


Monata hanya tersenyum tipis mendengar cerita dari sang keponakan, "Baiklah, nanti malam jangan lupa untuk mampir ke rumah, ya? Tante baru kembali dari jalan-jalan sama ibu-ibu Bayangkari. Jadi ada oleh-oleh buat kamu dari Ibu Suri."


Entahlah, mendengar sang mama mengirimkan sesuatu untuknya seketika kedua bola mata indah milik Miranda berkaca-kaca karena merasakan kerinduan luar biasa terhadap kedua orangtuanya.


"Oya Om, kenapa Dean dipecat oleh Om Anas? Apakah memang terbukti bahwa Dean pelaku penggelapan dana perusahaan?"


Gegas Monata menggelengkan kepala sambil berkata dengan nada lembut, "Ibu Suri hanya ingin anak itu lepas dari tuntutan perusahaan. Karena sudah mengantongi siapa pelaku sebenarnya. Masih orang yang sama dan memberikan satu pekerjaan pada Dean disalah satu Leasing ternama. Sudahlah, tidak usah kamu pikirkan yang penting mama ingin kamu bahagia."  


Tersirat satu lagi kebahagiaan dari rona wajah Miranda yang sangat memahami bagaimana sifat sang mama. Walau masih menorehkan luka akan pertikaian mereka beberapa waktu lalu, namun ketegasan Tina memberikan efek positif bagi putri mereka agar peka dalam mengambil satu keputusan.


Miranda tidak pernah berhasil meraih kebahagiaan dalam mencari pasangan hidup. Entahlah, apakah ini merupakan kesalahan dimasa lalu atau justru ia terlalu bodoh dalam mengartikan satu hubungan yang menyangkut perasaan.


Mereka kembali ke kantor, tentu dengan berbagai rayuan pulau kelapa yang dijanjikan seorang Robert untuk Miranda, agar mau menjadi simpanan sang pria berpangkat tersebut.


"Setelah ini kamu mau kemana, Dek?" Robert bertanya, seolah-olah Miranda wanita yang mudah terlena akan pangkatnya.


Jujur saja, Miranda sedikit geli melihat pria paruh baya itu berbicara agak dekat dengan tubuhnya, "Hmm ... kayaknya saya mau bertemu teman dulu, Bang. Ada temen saya datang dari Jakarta, jadi tadi dia sudah share lokasinya untuk dijemput."


"Bagaimana kalau Abang anterin Adek? Biar ada temannya!"


"Ogh, tidak usah Bang! Saya bawa mobil sendiri, kok! Sekalian mau kerumah Om Monata juga mengambil kiriman Mama." Miranda bersusah payah untuk berkilah dari ajakan Robert.


Sengaja Miranda mempertegas cincin kawin yang masih tersemat dijari manis kanannya, membuat Robert sedikit menjauh sambil menggeram karena perlakuan sang anggota tidak seramah yang ada dalam benaknya. "Sial, tidak pernah wanita menolak aku untuk berkencan. Tapi wanita ini seolah-olah menghindari kontak dengan aku yang merupakan atasannya. Kalau aku kerjain dia, pasti Monata akan berperang dengan ku! Awas saja, pasti nanti dia akan menyerah begitu saja ketika dalam kegalauan hati jika ada masalah dengan suaminya ...!"


Dalam benak Miranda justru tak memikirkan bagaimana perlakuan Robert. Ia justru tengah tertawa kecil melihat tingkah pria paruh baya tersebut, "Lo pikir, gue mau sama pria tua yang sok muda kayak lo. Ighs ... pengen rasanya pindah ke divisi lain, dari pada terus digoda bapak-bapak ..."


***


Waktu menunjukkan pukul setengah lima sore. Miranda tengah bergegas bersiap-siap untuk kembali ke apartemen milik Monata untuk bertemu dengan Adrian sang kekasih hati. Ada kegetiran dihatinya, mengingat status pernikahannya dengan Dean. Akan tetapi ia juga tidak menampik untuk tetap mempertahankan hubungan percintaan mereka dengan alasan long distance.


Akan tetapi, lagi-lagi Miranda dikejutkan dengan sosok sang atasan yang sudah berdiri dibelakangnya, sambil mendekatkan tubuh gagah itu tepat dibelakang bokongnya ketika wanita cantik itu sedikit membungkukkan badannya.


"Astaghfirullah!" Miranda terlonjak seketika, kemudian menoleh kearah belakang karena merasakan ada benda yang sangat menggangu kenyamanannya. "Bapak ngapain ngagetin saya!" hardiknya mengusap dada yang berdebar-debar.


Robert tertawa kecil melihat rona wajah ketakutan Miranda, membuat wanita berstatus istri kedua itu memendam amarah.


"Agh ... kamu terlalu berlebihan. Jangan marah-marah gitu dong, nanti cantiknya hilang!" godanya diwajah Miranda yang langsung menjauhkan tubuhnya dari sang atasan.


"I-i-iya tapi jangan tiba-tiba nongol tanpa suara dong, Pak! Kita masih di kantor. Dah, agh ... saya mau jalan dulu." Miranda bergidik kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Robert diruangan kerja tersebut.

__ADS_1


Ruangan mereka berada di divisi yang sama. Akan tetapi, Miranda berdampingan dengan secretaris pribadi Robert yang memiliki hubungan gelap tanpa pengetahuan para karyawan lainnya.


Mungkin mereka sudah mengetahui sepak terjang sang atasan. Akan tetapi, semua karyawan hanya menutup mata karena memang sudah rahasia umum bahwa Robert sangat menyukai istri orang dibanding janda kembang.


Kelainan, mungkin itu yang ada dalam diri Robert selama ini yang jauh dari ketiga anak mereka yang melanjutkan kuliah di salah satu universitas ternama di kota metropolitan.


Robert terkagum-kagum melihat Miranda berlalu meninggalkan ruangan kerjanya. "Kenapa wanita itu tidak menyukai aku? Sangat berbeda sekali dengan Nora yang sangat menyukai jika aku goda. Belum ngerasain mata bor Abang bekerja ya, Dek Miranda. Kalau sudah merasakan, kamu pasti tidak bisa lepas dan pasrah begitu saja jika Abang menggoda ..."


***


Di sisi lain, Miranda langsung melajukan kendaraan roda empat yang ia peroleh dari Monata. Bisa dikatakan wanita cantik itu sama sekali tidak memiliki harta sejak diusir dari apartemen keluarganya sendiri demi menikah dengan Dean. Begitu banyak yang ia korbankan hanya untuk mempertahankan cinta pertama masa sekolah.


Lampu kota serumpun itu sudah menampakkan sinarnya. Mobil sedan berwarna silver berhenti diruas jalan salah satu mall ternama yang memiliki hotel disampingnya. Gegas Miranda mengedarkan pandangan untuk mencari sosok Adrian yang katanya telah menunggu di loby hotel.


Dengan wajah tampak kebingungan ia mencari dimana Adrian sambil menggeser layar gawai yang berada disamping kirinya.


[Kamu dimana? Kok nginep disini, sih ...]


Miranda tampak kesal, karena perjalanannya cukup jauh dan mengalami kemacetan luar biasa ketika jam pulang kerja.


[Wait sayang, kamu parkir dimana ...]


[Diluar mall, ada mobil sedan berwarna silver dengan plat BM 85 VP ...]


[Oke sayang ...]


Tidak lama menunggu, Miranda dapat melihat sosok Adrian yang celingak-celinguk memastikan keberadaannya. Ia membuka kaca mobil kemudian memanggil Adrian dengan penuh perasaan rindu.


"Ayang!" Miranda berseru seraya melambaikan tangan.


Pemandangan itu membuat Adrian langsung mengerjabkan kedua bola matanya dan mendekati mobil sedan tersebut. "Hai sayang!"


"Masuk cepetan, macet ini!" Miranda masih melirik kearah kaca spion yang ada disisi kanan agar tidak mendapatkan klakson dari orang belakang.


Tanpa menunggu lama, Adrian langsung berhambur memasuki mobil sedan tersebut dan langsung meraih tubuh Miranda yang sangat dirindukannya.


"Agh ... jangan peyuk-peyuk di sini. Masih macet, nanti aku diklakson sama orang belakang. Kita ke rumah Om Monata dulu, ya? Ada urusan!" Miranda kembali fokus pada stir kemudi tanpa mau menerima pelukan Adrian walau hanya sekedar kecupan manis.


Mobil melaju kencang menuju kediaman Keluarga Miranda, Monata. Tanpa ada basa-basi ataupun manja-manja seperti dulu, membuat Adrian lagi-lagi menautkan kedua alisnya melihat perubahan sang kekasih hati.


"Kamu kenapa sih, apa yang terjadi. Kok, kamu berubah sama aku, hmm?"


Miranda menelan ludahnya sendiri, dadanya semakin terasa tidak nyaman karena sesungguhnya hubungan mereka pun belum berakhir. "Maaf Ayang, tadi itu macet banget. Jadi aku sedikit panik, biasanya di Jakarta kamu yang nemenin aku. Kalau kamu enggak ada, selalu Beny yang nyetir buat aku. Sekarang, aku melakukan semua sendiri ... jadi agak repot." Ia berusaha berkilah agar Adrian tidak mencurigai bahwa dirinya telah menikah dengan Dean.


Cukup lama mereka saling bercerita ringan, akhirnya mobil itu memasuki area perumahan elite yang berada dikota minyak tersebut. Kemudian Miranda memarkirkan kendaraannya di sebuah rumah bertingkat, membuat Adrian berdecak kagum dengan kemewahan Keluarga Miranda.

__ADS_1


"Ini rumah Om Monata, Mir?"


"Iya, keren ya? Yuk turun ... aku laper. Nanti kalau sudah beres dari sini baru kita mesra-mesraan. Kebetulan aku kangen sama kamu." Miranda mengecup lembut bibir Adrian agar tidak menaruh curiga.


Kecupan manis itu membuat Adrian sedikit bertindak agresif, karena sudah hampir empat bulan tidak bertemu dengan sang kekasih, karena kesibukannya sebagai musisi sekaligus dosen.


Wanita mana yang tidak terbuai dengan sentuhan kecil sang kekasih yang diidam-idamkan sejak beberapa bulan lalu. Pernikahan Miranda dengan Dean sama sekali tidak memberikan kebahagiaan apapun karena pertikaian antara mereka dua hari setelah pernikahan.


"Ahh Ayang, please ... aku lapar!" Miranda merengek, sengaja menghindari kontak mata dengan Adrian.


Adrian yang sudah memahami bagaimana sifat Miranda, hanya mengusap lembut kepala sang kekasih kemudian mengikuti kemana langkah kaki itu membawanya.  


Dengan penuh perasaan bahagia, Monata menyambut sang keponakan tercinta namun sedikit kaget karena Miranda membawa Adrian bersama ke kediamannya.


"Adrian?" Monata memeluk Adrian, sambil memandang sinis kearah Miranda.


Wajah cantik itu tampak kebingungan, Miranda tampak lebih salah tingkah ketika sang tante menanyakan hal yang sangat mengejutkan, "Hai sayang ... waduh, ini Dean, ya?"


Kedua alis Adrian mengkerut ketika mendengar Marisa menyebut nama Dean. "Dean??? Apakah Miranda sering bertemu dengan Dean selama di sini? Setahu aku anak itu memang memiliki kakak di sini. Agh ... tidak, tidak, tidak ... tidak mungkin Miranda mengkhianati aku sebagai kekasihnya ..."


Cepat Miranda menepis pertanyaan Marisa, kemudian menarik tangan sang tante agar tidak asal bicara dihadapan Adrian agar menjauh dari dua pria tersebut. "Ssht ... dia itu musisi kebanggaan Mama, Tante. Please ... jangan bahas-bahas Dean di sini!"


Raut wajah kebingungan semakin terlihat di wajah Marisa. Ia tidak mengerti dengan apa yang ada dalam benak keponakan suaminya tersebut. "Miranda, jangan macam-macam karena Tante tidak suka dengan cara kamu!"


Miranda memejamkan kedua matanya, ia menggeram memohon pada Marisa, "Please Tan, aku sama dia belum putus. Jadi jangan bicara apapun tentang Dean di sini, karena Adrian itu merupakan sahabat dari istri suami ku!"


Mulut Marisa ternganga lebar, kedua bola matanya membulat besar karena tidak menyangka bahwa sang keponakan lebih gila dari yang ada dalam benaknya. "Dasar janda nakal perebut suami orang kamu, awas saja kalau kamu berani selingkuh sama pria itu!"


Miranda tertawa cekikikan, "Tenang Tante, aku enggak selingkuh. Tapi hanya bobar!"


"Bobar? Apa itu bobar?"


"Bobo bareng, Tante Marisa." Miranda tertawa lepas seraya memeluk tubuh wanita yang seumuran dengan sang mama tercinta.


Berkali-kali Marisa mencubit Miranda karena perasaan kesal akan ucapannya. "Hati-hati kenak penyakit. Terus kalau berhubungan gunakan pengaman, nanti kalau hamil kamu malah kebingungan mikir siapa bapak anak kamu!"


Miranda menelan ludahnya sendiri, apa yang dikatakan Marisa benar adanya. Akan demikian ia masih dapat bernafas lega karena selama menikah dengan Dean, pria itu belum pernah menyentuhnya hingga saat ini. "Iya Tante bawel. Aku selalu berusaha untuk menunda kehamilan. Karena masih fokus untuk ngumpulin duit buat beli rumah di sini."


"Good!" Marisa merangkul pundak sang keponakan menuju ruang makan, memberi ruang bagi sang suami berbincang ringan dengan pria yang dibawa oleh Miranda. "Oya, SK kamu sudah keluar, kan?"


"Sudah Tante, emang kenapa?" Sahut Miranda sambil membantu menata piring di meja makan.


"Kan bisa kamu taroh dulu di bank. Nanti kamu cicil setiap bulan, lumayan juga kamu bisa menabung. Nanti Tante bantuin deh ... untuk beli perabotannya. Daripada tinggal di apartemen, mending kamu punya rumah sendiri yang memiliki tetangga," titah Marisa. 


Miranda terdiam, sejujurnya ia tidak begitu suka tinggal diarea perumahan yang terkadang membingungkan. Apalagi di kota kecil yang jauh dari kata mewah. Ia sengaja menutup rapat identitas dirinya, agar orang lain tidak bertanya tentang apa sebenarnya tujuan Miranda bekerja di pemerintahan seperti saat ini.

__ADS_1


"Apa sih yang mau kamu kejar menjadi istri kedua dari Dean, Mir?" Pertanyaan Marisa mengejutkan lamunan wanita yang tengah berdiri dikursi ruang makan tersebut.


"Hmm, apa yah?" Miranda tertawa kecil hanya menjawab dalam hati. "Jika Tyas tidak menghinaku, mungkin aku berpikir ulang menjadi istri kedua. Saat ini aku ingin melihat siapa pemenangnya ..." 


__ADS_2