Dicerai Karena Binal

Dicerai Karena Binal
Menjemput impian sebuah asa


__ADS_3

Di keheningan malam, gemerlap bintang menyinari kota metropolitan yang tampak cerah. Namun, cerahnya kota besar tak secerah hati Miranda yang masih menangis tersedu-sedu dikamar apartemennya. Jam dinding berdentang seakan tak pernah berhenti memberikan cobaan pada janda cantik tanpa anak tersebut.


Wajah mulus itu masih teringat akan Heru yang sangat baik memperlakukannya selama ini. Walau dirinya jualah yang meminta agar tidak mengikat hubungan mereka dengan komitmen apa pun, namun perasaannya seketika hancur berkeping-keping karena kebohongan pria gondrong melankolis tersebut.


Telinga Miranda seketika awas, mendengar dentingan lift yang akan naik menuju apartemennya. Ia melirik kearah jam di nakas, kemudian menutup tubuhnya dengan selimut yang sangat tebal, "Siapa yang datang, apakah Heru atau Adrian ...?"


Benar saja, pintu lift terdengar terhenti dan terbuka. Miranda semakin menajamkan pendengarannya, mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat kearah kamar. Tiba-tiba suasana menjadi sangat hening, tidak ada suara, ataupun langkah kaki kembali.


Seketika Miranda melihat tongkat baseball didalam kamarnya yang terletak disudut meja, kemudian berfikir untuk keluar kamar dan menghajar siapa saja yang berani mengendap-endap masuk ke apartemennya.


Kaki jenjang nan mulus yang hanya berbalut celana pendek hingga paha berbahan satin, dipadu tangtop tali spaghetti tanpa penyangga. Tubuh Miranda bergetar ketakutan, tangannya menggenggam erat tongkat baseball, bibirnya memelet-melet bak ikan nirwana yang tengah menghirup udara segar. Tangan mulus itu meraih kenop pintu dengan nafas tertahan agar daun pintu berbahan panil tidak menderit.


Miranda tidak memiliki ilmu bela diri, ia hanya janda manja yang kaya dan tidak pernah hidup susah sejak lahir ke dunia secara materi. Jantungnya berpacu dengan cepat, ketika melihat ruangan apartemen yang tampak remang-remang.


Perlahan Miranda melongokkan wajahnya untuk menyesiasati semua ruangan yang langsung tertuju pada ruang tamu juga ruang keluarga. Matanya semakin awas, pendengarannya hanya menangkap gemercik air dari wastafel, namun ia dikejutkan dengan tangan kekar seorang pria yang langsung mencekal lengannya.


"Agh!" Miranda terpekik sangat kuat, tongkat baseball terlepas begitu saja, karena merasa tubuh ramping itu didekap oleh hangatnya nafas beraroma mint yang hampir ia lupakan.


Kedua netra itu kembali bertemu, wajah pria nan terlihat samar membuat nafasnya semakin menderu. "Dean ... apa yang kamu lakukan di apartemen ku!?" Miranda menghardik keras pria yang masih menatapnya.


Tangan kekar itu mengusap lembut wajah mulus Miranda, menunjukkan satu paper bag yang berisikan makan malam, "Maaf, aku harus seperti maling dan sudah membuat kamu takut. Tapi aku khawatir karena kamu belum makan sejak sore, Mir. Hari masih jam sembilan malam, tapi kamu sama sekali tidak mengabari ku seperti biasa, bahkan kamu justru mengabaikan aku."


Kedua alis Miranda menaut, keningnya mengerenyit masam, ia meraih saklar lampu ruang keluarga yang berada dibelakang Dean agar dapat melihat wajah pria itu dengan sangat jelas.


Lampu ruangan menyala dengan sangat terang, Miranda menelan ludahnya ketika melihat wajah tampan Dean yang sangat ia cintai sejak dulu. Pandangannya semakin liar, ia masih belum dapat bersahabat dengan keadaan saat ini. Hatinya masih sakit dan hancur karena ulah Heru yang tega membohonginya.


Akan demikian, Miranda juga harus berpikir waras, karena perutnya memang sangat lapar. Ia meraih paper bag yang masih berada digenggaman Dean, sambil berlalu begitu saja menuju ruang makan. "Terimakasih, setidaknya berpikir juga membutuhkan tenaga. Tenaga akan kita dapatkan jika perut terisi dengan asupan yang cukup. Dah ... kamu bisa kembali ke apartemen mu, karena aku tidak membutuhkan mu saat ini."


Wajah Dean tampak kebingungan, ia melihat Miranda sangat aneh tidak seperti biasanya. Jantungnya juga masih berdebar-debar masih sama seperti dulu, karena tidak pernah disuguhkan dengan penampilan wanita cantik yang sangat menawan dan menggoda imannya sebagai pria normal serta sudah pernah merasakan hangatnya penyatuan itu.


"Ka-ka-kamu kenapa, apakah Adrian membuat masalah dengan mu? Aku tadi bicara dengan dia ketika kamu langsung meninggalkan kami berdua menuju ruangan ibu suri. Aku rasa dia bukan pria yang tepat untuk kamu, Mir."

__ADS_1


Kata-kata Dean tak mampu membuat hati Miranda luluh begitu saja. Janda cantik itu masih tidak memperdulikan ucapan sang mantan yang masih melihat dirinya mengambil piring, juga membuat minuman hangat selayaknya memiliki tamu di malam hari.


Lagi-lagi Dean bertanya dan melangkah mendekati Miranda yang sudah duduk di kursi makan. Ada perasaan kecewa dihatinya karena tidak pernah janda kembang itu memperlakukannya seperti malam ini. "Mir ... apakah kamu ada masalah? Biasanya kamu mau cerita sama aku. Kamu kenapa?"


Tampak pundak Miranda menghela nafas panjang, tangan halus itu kembali menutupi wajahnya kemudian menangis sejadi-jadinya. Tubuhnya bergetar, membuat Dean yang awalnya takut untuk mendekat akhirnya membawa Miranda dalam dekapannya.


Kepala Miranda bersandar diperut sispack Dean yang masih berdiri disampingnya. Ia sama sekali tidak membalas pelukan pria beristri itu, "Aku kecewa, Dean. Aku kecewa sama dia ... dia mengkhianati aku, dia tega membohongi aku. Walau kami tidak memiliki hubungan apa-apa, tapi dia telah menciptakan rasa bahagia dihati aku selama bersama, tapi apa? Dia justru lebih memilih model dan menghabiskan waktu bersama wanita itu."


Seketika dalam benak Dean hanya terbayang wajah Adrian yang akan melakukan apapun untuk bersama Miranda. "Sial tuh anak, punya dendam apa sih, dia sama Miranda sampai-sampai tega menyakiti hati wanita ini. Katanya cinta, tapi pengkhianat, dasar anak band! Tahunya cuma foya-foya, hidup tanpa arah. Pantas saja dia tidak pernah menemukan jodoh hingga saat ini, awas kau, ya ...!"


Perlahan Dean mengusap lembut punggung Miranda. Entah mengapa hatinya semakin merasa bersalah pada wanita yang selalu berharap kembali padanya. Ia memberanikan diri mengecup puncak kepala janda kembang itu dengan penuh perasaan bersalah. "Maafkan aku, Mir. Aku turut prihatin dengan hidup kamu, aku sangat sedih."


Tangis Miranda seketika terhenti, ia baru menyadari bahwa kini dirinya berada dalam dekapan Dean. Pria beristri yang selalu diinginkannya untuk menjadi apapun. Perlahan kepalanya mendongak menatap pria gagah yang memiliki pesona seorang pemimpin. Ketegasan dari rahang pria itu, membuat hatinya luluh lantak.


"Kita nikah Dean? Aku butuh status agar dapat melupakan mereka. Mungkin benar kata mama, kalau aku harus menikah agar hidupku lebih terarah, tenang, aku tidak akan mengganggu kebahagiaan mu bersama, Tyas. Aku rela menjadi istri kedua mu, aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan kamu dari tuntutan papa. Aku janji, akan menghentikan team meng-audit semua data, jika benar kamu tidak melakukannya!"


Ucapan Miranda yang terdengar seperti memohon dihadapannya, membuat Dean menelan ludahnya sendiri. Ia tidak menyangka diusia 24 tahun akan memiliki istri lebih dari satu. Ia terdiam, tenggorokannya seakan mengering bak di gurun pasir, jantungnya berpacu, membayangkan bagaimana perasaan Tyas yang tengah mengandung benihnya.


Tangan keduanya saling menggenggam erat, jemari halus itu sengaja mengusap lembut jari yang sama-sama bersih.


Miranda masih terisak, rencana makan malam yang ingin ia lakukan seketika berubah kenyang ketika Dean mengecup lembut punggung tangannya. "Nikahin aku, Dean. Aku janji aku akan memperjuangkan kamu agar tidak dipecat dari Anugerah. Aku akan bicara dengan Om Anas, karena dia itu abang kedua papa. Jadi aku bisa bicara dengan beliau. Please ... aku butuh status Dean, dan pernikahan lah yang akan menutup semua akses mereka. Aku janji untuk selalu baik, aku janji sama kamu."


Kembali Dean hanya bisa menghela nafas berat, ia belum bisa menjawab permintaan Miranda. Kepalanya terasa sangat penuh, niat awal yang hanya sekedar khawatir justru terperangkap dalam keadaan. Kepalanya terasa semakin berat, wajah Tyas seketika menari-nari dalam benaknya. "Ta-ta-tapi aku mau kasih kamu fasilitas yang bagaimana, Mir? A-a-a-aku bingung, kamu punya segalanya, aku akan di bunuh oleh Pak Anderson jika menyakiti putrinya."


"Reason!" umpat Miranda membuang pandangannya kearah lain dengan hati penuh kekesalan.


"Kok?"


"Ya, itu alasan kamu sejak kuliah! Kamu tidak mau menyentuh ku, karena kamu tidak percaya pada dirimu sendiri untuk membahagiakan aku. Why? Kenapa kamu bisa membahagiakan Tyas, kenapa tidak aku, Dean? Apakah karena aku putri dari Anderson dan Tina Talisa? Itu hanya alasan mu, karena kamu tidak siap untuk menjadikan aku istrimu! Pergilah, semua laki-laki sama saja, mereka akan datang sebentar, kemudian pergi begitu saja! Aku capek Dean, aku juga punya hati dan perasaan! Tinggalkan apartemen ku, karena aku mau beristirahat!"


Tangan Miranda sengaja menggeser makanan yang ada di meja makan sebagai isyarat bahwa hatinya tengah terluka dan kecewa. Semua makanan berserakan dilantai apartemen, kemudian meninggalkan Dean begitu saja. Namun, ketika Miranda akan melangkah masuk menuju kamarnya yang masih terbuka, terdengar suara Dean.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Adrian, apakah kalian masih sering menghabiskan malam bersama?"


Miranda mendecih, ia membalikkan badannya menatap wajah Dean sambil tersenyum simpul, "Jika aku menghabiskan malam dengannya, bukankah kita belum memiliki komitmen apapun, hah? Kamu lucu, aku masih cinta sama kamu, tapi kamu selalu menghindar. Ingat kamu menolak aku beberapa waktu lalu, hmm? Kamu tinggalkan aku begitu saja hanya karena Tyas. Aku hanya minta kamu, Dean! Kamu! Bukan mengemis harta benda yang kamu miliki bersama istrimu. Aku tekankan, yang aku butuhkan kamu, bukan uangmu. Kenapa kamu selalu membuat aku penasaran sejak dulu? Sejak kuliah, hingga saat ini! Agh ... aku lupa, mungkin kamu tidak mau menyentuh aku, karena kamu sudah pernah melakukannya sama Tyas waktu itu, tanpa sepengetahuan aku!"


"Miranda, stop!"


"Kenapa? Kamu marah, jika aku menuduh mu mengkhianati aku selama kita menjalin hubungan sewaktu kuliah? Bukankah kita berpisah kota, kamu Jogja sementara aku di Bandung. Aku justru tidak tahu dimana Tyas kuliah, tapi kamu menikah dengan dia, sejak kapan kalian menjalani hubungan, pembohong besar!"


Mendengar tuduhan Miranda untuk dirinya, Dean berlari menghampiri janda cantik itu untuk menghentikan celotehan wanita yang tengah dilanda kegelisahan hati.


Entahlah ... kini Dean berusaha lebih agresif untuk menghentikan ucapan Miranda dengan caranya sebagai pria normal yang sangat menyayangi sang istri. Akan tetapi, kegundahan, segala tuduhan janda cantik itu, tak mampu ia redam selain memperlakukan hal itu.


Bibir keduanya saling menaut penuh gairah perlahan, namun Dean lebih agresif membuat Miranda tak kuasa menolak ketika tangan pria yang selalu ia idam-idamkan kembali membawanya menuju surga dunia. Tak ada penyesalan, tidak ada komitmen saat ini. Keduanya penuh gairah untuk saling melepaskan sebuah kerinduan yang dalam.


Entah sejak kapan keduanya berada didalam kamar nan sejuk, dan tubuh itu saling berbicara diatas ranjang peraduan. Tangan kekar itu berhasil meloloskan semua penghalang dari tubuh mulus nan seksi milik Miranda. Tubuh profesional yang sempurna, jauh dari tubuh Tyas sang istri tercinta jika dibandingkan berdekatan. Tangannya semakin liar ketika menjilati seluruh tubuh mulus itu bak singa jantan nan buas yang lapar.


Miranda terbuai, ia terlena, dadanya naik turun, hasrat ditubuhnya bergemuruh mengikuti alunan sentuhan tangan yang sangat menggairahkan. "Ahh ... I love you, Dean." Hanya ******* dan kalimat cinta itu yang lolos dari bibir Miranda, membuat Dean benar-benar tergoda akan geliat liar nan nakal seorang janda.


Erangan Miranda lagi-lagi lolos, ketika bibir Dean berhasil membuat bagian sensitifnya semakin mengkedut, ia benar-benar tak kuasa membendung rasa yang sangat dirindukannya selama bertahun-tahun. "Ahh, sayang ... itu nikmat sekali, kamu membuat aku gilahh ..."


Pria mana yang tidak akan tersenyum sumringah, melihat sang wanita pujaan menikmati permainan nakalnya. Seumur hidup, baru kali ini Dean melakukan hal yang dilarang agama, karena tuntutan pekerjaan yang sangat membebani pikirannya. Ia benar-benar melupakan Tyas, bahkan terlarut dalam suasana panas yang berbeda karena Miranda begitu menggoda imannya.


Kedua netra itu kembali saling menatap, dengan rambut yang berantakan sebelum Dean melanjutkan perjalanannya menuju surga dunia.


Dengan lembut, Dean mengecup lembut bibir Miranda, sambil menggesek miliknya dipintu masuk surga yang basah, "Apa kamu rela memberikannya padaku, sayang? Aku sudah tidak kuat untuk menahan lagi ..."


Senyuman manis dari bibir Miranda yang merah merona, sebagai isyarat bahwa dirinya ikhlas terbang melayang tinggi menembus nirwana bersama Dean.


Dean mendongakkan wajahnya menatap langit-langit kamar yang remang, jantungnya semakin berpacu dengan cepat, ketika miliknya melesak masuk kedalam lembah surga yang sangat indah dan penuh cinta. Kehangatan penyatuan membuat kedua saling memburu nikmat. Dessahan saling bersahutan, keringat mengucur deras membasahi tubuh keduanya dalam hasrat yang kini menyatu enggan terpisah.


Miranda menikmati indahnya sentuhan Dean yang sangat luar biasa, akan tetapi ...

__ADS_1


"Ahh ... maafkan aku sayang, aku cepat keluar karena pikiran ku." Dean menghentakkan pinggulnya lebih dalam, ketika Miranda masih berada diatas puncak nirwana untuk menjemput impian sebuah asa ...


__ADS_2