
Dengan jantung dag dig dug sheer, Miranda sedikit bergidik karena khawatir yang kini menekan bel apartemen milik pamannya itu, merupakan kekasih hati yang tak sempat ditemuinya selama beberapa hari.
"Siapa sih ...?" Miranda mengusap lembut dadanya, melihat kearah Dean yang langsung berhambur masuk ke kamar mandi karena sang istri menghubunginya.
Langkah kaki Miranda nan jenjang keluar dari kamar menuju pintu ruang tamu apartemen. Ia mengintip dari balik pintu untuk melihat siapa yang datang malam-malam begini.
Di tempat yang berbeda, Adrian justru tengah menghabiskan malam bersama sahabat band indie-nya yang akan mengisi acara disalah satu hotel bintang lima kota serumpun atas undangan salah satu perusahaan ternama. Ia sengaja tidak menghubungi Miranda karena sangat mengetahui bagaimana kesibukan sang kekasih sebagai aparatur sipil negara.
Adrian bergumam dalam hati, "Hmm ... pasti Miranda sudah tidur dan tidak mau menghadiri acara malam ini. Karena sejak kemaren dia membalas chat ku 'iya, iya, iya saja' ..."
Perlahan Awan merangkul pundak Adrian seraya berseru dihadapan sahabatnya, "Bagaimana kabar putri kesayangan pewaris tahta, Pak Anderson, Bro? Bukannya doi sudah pindah ke sini?"
Mendengar pertanyaan sahabatnya sesama musisi, Adrian justru tertawa kecil, "Doi lagi sibuk. Makanya gue enggak mau mengganggu pikirannya. Apalagi beberapa hari ini kita sibuk latihan untuk acara ini." Ia menyesap teh manis hangat dihadapannya sambil melanjutkan ucapannya, "Palingan besok gue temuin dia di kantor, secara gue tidak tahu tempat tinggal dia yang sekarang. Lagian dia tinggal di apartemen milik Om Monata. Segan gue mau berkunjung!"
"Ciee ... tumben urat segan lo tiba-tiba muncul," celetuk Sofyan kemudian memberikan gitar yang baru ia ganti senarnya.
Adrian tertawa terbahak-bahak, "Ya iyalah. Biar gue dikira cowok yang tahu diri. Kalau mau menghabiskan malam bisa di hotel saja, kan? Toh gue tidur malam juga sendiri. Ngomong-ngomong anak tunggal Multy Strada gue jadi kangen, tapi pasti dia sudah tidur jam segini!" Ia melirik ke jam tangan yang melingkar ditangan Awan.
Mereka justru meminta Adrian untuk menghubungi sang kekasih hati yang memang tidak menampakkan puncak hidungnya setelah menghabiskan malam bersama beberapa waktu lalu.
"Hubungi dong, jangan-jangan dia lagi menghabiskan malam dengan pria lain!" Sofyan sengaja membuat Adrian kepikiran sang kekasih.
Cepat Adrian menyela ucapan Sofyan, "****** lo, mana berani Miranda macam-macam. Apalagi semenjak Heru melakukan kesalahan ditambah Dean dipecat dari Anugerah Finance. Tidak ada lagi yang berani mendekatinya, jadi saat ini sangat jelas kalau Adrian gitaris kalian yang menjadi penakluk hati Miranda Anderson!"
"Ciee ... sombong! Giliran diselingkuhi baru tahu rasa lo, apalagi saat ini dia menjadi orang sukses di badan narkotika." Lagi-lagi Sofyan menyela celotehan Adrian, "Tapi kok mau sih, cewek lo menjadi aparatur dibanding menikmati kekayaan orang tua. Dia itu enggak main-main lho, Dri, anak tunggal, pewaris tahta!" Serunya lagi, membuat Adrian hanya mencebikkan bibirnya.
Benar saja, Miranda sama sekali tidak menjawab panggilan telepon Adrian karena disibukkan dengan kedatangan tamu yang tidak diundang.
"Ngapain kamu kesini malam-malam?" Miranda memangku tangannya dan berdiri didepan pintu apartemen milik Monata.
Defri tersenyum tipis, memberikan paper bag kepada Miranda, "Disuruh Bapak kesini, Kak. Katanya harus sampai ditangan Kakak. Makanya aku hanya menjalankan tugas, Kak!"
Tampak Miranda hanya menghela nafas berat karena mengira bahwa yang datang merupakan Adrian. "Sialan ni, Bang Robert. Ngapain dia pake kirim-kirim makanan segala, dia pikir aku orang susah banget apa? Apa dia tidak tahu bahwa aku ini putri tunggal Pak Anderson dan Tina Talisa ..." Ia mengumpat dalam hati, mengambil paper bag itu dari tangan Defri kemudian bertanya lagi, "Ada lagi, hmm?"
Defri menyeringai kecil, sambil menggelengkan kepalanya dan berlalu meninggalkan apartemen milik Monata tersebut dengan perasaan salah tingkah. "Izin Kak, aku harus pulang!"
"Ya!" Miranda menutup pintu apartemen dengan rapat, kemudian menguncinya dan mematikan lampu ruang tamu.
Setelah menerima paper bag dari Robert, perasaan Miranda menjadi tidak karuan. Pikirannya seketika dipermainkan oleh hal-hal mistis yang tidak masuk akal. "Ngapain Bang Robert ngirim-ngirim beginian? Bukannya dia tahu kalau aku tidak suka makan berat seperti ini kalau malam ..."
Miranda membuka paper bag itu, kemudian memeriksa apa saja yang diberi sang komandan padanya. "Jangan-jangan pria jelek itu memberikan obat perangsang atau bahkan paku atau cacing," tuturnya dalam hati.
Benar saja, ketika Miranda masih mencium aroma makanan yang ada dihadapannya itu, Dean justru muncul dibelakang Miranda seraya merebut tempat makan dari tangan sang istri kedua.
"Tahu saja, kalau aku lapar banget sayang! Tadi tidak sempat makan, rupanya kamu malah pesan makanan lewat aplikasi!" Dean duduk disamping sang istri, sambil mengambil sumpit karena tidak kuat mencium aroma kwetiau goreng seafood yang menjadi kegemarannya selama di Medan.
__ADS_1
"Ini sangat lezat, sayang!" Kembali Dean berseru sambil melahap makanan tersebut tanpa menawarkan pada Miranda.
Wajah cantik itu hanya tersenyum tipis, kemudian beranjak untuk mengambil gelas juga air putih untuk suami tercinta. "Bagus deh kalau enak. Itu dari Pak Robert, Dean, bukan aku beli dibawah. Aku sengaja belum makan, takut dibubuhi racun! Kalau kamu mati lebih dulu, palingan aku di tuntut Tyas!" Ia tertawa cekikikan.
Mendengar penjelasan Miranda seperti itu, Dean justru menghentikan makannya kemudian melirik kearah sang istri. Ia bertanya dengan mulut melongo, "Sudah tinggal dikit, baru ngomong kalau ini pemberian Pak Robert. Lagian tumben banget dia memberikan kamu makanan seperti ini?"
"Mana aku tahu. Dia itu bos paling aneh, makanya aku juga heran. Kan, aku juga mau pindah divisi tapi enggak dibolehin sama Om Monata. Ya sudah, aku ikut sajalah." Miranda masih enggan mencicipi masakan Chinese food tersebut, walau sesungguhnya ia sangat menyukai kwetiau goreng seafood jika siang hari.
Setelah Dean melahap makanan pemberian Robert dan menghabiskan sebatang rokok di balkon apartemen sambil menikmati angin malam yang cukup sejuk, tiba-tiba tubuh pria itu merasakan sesuatu di tengkuk belakangnya. "Kok aku jadi pengen gini ...?"
Miranda masih sibuk dengan membersihkan semua wadah makanan yang berserakan karena ulah sang suami di wastafel dapur minimalis. Seketika ia dikejutkan akan tangan nakal Dean dari arah belakang.
"Agh, Dean!" Miranda berteriak keras karena kaget dengan tangan nakal sang suami yang langsung meremas kuat buah dadanya.
Wajah Dean yang sudah memanas, membuat Miranda semakin merasa tidak nyaman. Tangan kekar itu bergetar, bahkan kedua bola mata Dean membeliak bak orang over dosis.
"Please Sayang, aku kangen banget samahh kamuhh!" Dean memohon, membuat jantung Miranda hampir terlepas karena melihat wajah sang suami tak seperti biasanya.
Melihat kondisi suaminya yang sudah diambang batas kesadaran, perlahan tapi pasti, Miranda melakukan semua keinginan Dean yang sudah on entah sejak kapan.
Dalam benak Miranda dipenuhi tanda tanya, namun masih enggan mempertanyakan tentang hal itu karena Dean sudah semakin beringas dari seekor singa jantan kelaparan.
Nafas Miranda memburu, tangannya meraih kepala sang suami yang seakan-akan melahap nikmat dibawah sana, membuat tubuhnya meminta lebih untuk segera menuntaskan kerinduan mereka berdua.
Dean dengan penuh semangat empat lima mendominasi permainan bersama Miranda, istri kedua. Tubuhnya mengkilap bahkan sangat bersemangat dan tahan lama membuat wanita itu tak berhenti untuk mengerang penuh kenikmatan.
"Ahh sayanghh ... punya kamu enak banget ..." Dean meracau bak seorang pria kesepian yang tidak pernah mendapatkan kebahagiaan seperti saat ini.
Sementara Miranda yang ingin berganti posisi hanya bisa pasrah karena sang suami tidak ingin melepaskan penyatuan mereka. Lebih dari tiga puluh menit, Miranda membuka kaki jenjangnya dengan lebar, membuat ia menarik tubuh Dean karena merasa pegal dengan posisi yang semakin membuatnya tidak nyaman.
Pertempuran dua insan suami-istri itu semakin panas, membuat seseorang diseberang sana yang tengah menunggu panggilan telepon dari Miranda merasa gelisah.
"Kok belum menghubungi aku anak itu? Agh, jangan-jangan Defri tidak mengantarkan kwetiau itu. Dasar sopir tidak becus ...!" Robert mengumpat dalam hati, kemudian menghubungi sang sopir sekaligus ajudannya.
[Dimana ...]
[Izin Pak. Baru sampai rumah, pesanan sudah saya berikan langsung kepada Kak Miranda]
Kening Robert mengkerut masam, sambil memijat-mijat miliknya yang sejak tadi sudah on fire membayangkan bagaimana rasanya bercinta dengan Miranda.
[Kok belum dia belum memberikan kabar pada saya ...]
[Ogh, enggak tahu juga Pak]
[Miranda sendiri atau ada orang tadi di apartemen itu]
__ADS_1
[Hmm ... kayaknya sendiri deh, Pak. Coba Bapak samperin saja, karena tadi Kak Miranda sudah mau tidur. Takutnya beliau langsung tertidur setelah makan kwetiau dari Bapak]
Robert tertawa terbahak-bahak, mendengar celotehan Defri.
[Tidak mungkin dia bisa tidur, karena saya memberikan hmm, ya sudahlah! Kamu istirahat sana, saya coba cek warga dulu. Mana tahu rejeki saya ...]
[Siap-siap Pak. Izin ya Pak ...]
[Oke, malam]
Tidak mau menunggu lama, Robert langsung meraih kunci mobilnya dan berlalu meninggalkan kediamannya menuju apartemen Monata untuk memastikan ikan tangkapannya sudah masuk perangkap. "Jika tidak bisa dengan cara sehat, terpaksa Abang pakai jalan singkat, Dek Miranda, yang penting Abang pengen sekali merasakan hangatnya penyatuan dengan tubuh mu yang sangat seksi dan proporsional."
"Aku rasa kamu itu bukan orang susah. Karena kulit kamu sangat bersih menggoda, bahkan lebih putih dari Nora. Besok Abang akan mengurus kamu untuk pindah menjadi sekretaris menggantikan posisi Nora ..." gumamnya lagi sepanjang perjalanan membelah pekatnya malam.
Sementara itu Miranda dan Dean masih terus melepaskan kerinduan berbalut hasrat yang membara. Tubuh wanita yang sejak dulu mengharapkan sentuhan luar biasa seperti malam ini dari sang suami, membuat tubuhnya bergetar hebat berkali-kali.
Dengan nafas tersengal-sengal, Dean melepaskan penyatuannya setelah mencapai puncak kenikmatannya dalam waktu cukup lama.
Wajah Miranda tersenyum sumringah, menyiratkan bahwa dirinya merasa puas akan servis sang suami yang sangat menyenangkan persediaannya. "I love you, Dean."
Perlahan bibir merah itu mengecup lembut kening istri keduanya, "I love you too, Mir. Bagaimana, apa kamu puas?"
Jemari lentik nan putih bersih itu, bermain-main di dada bidang Dean dengan senyuman manis yang tengah menikmati indahnya cinta malam itu. "Aku sangat bahagia, Sayang." Ia berpikir sejenak, "Wait ... yang kamu makan cuma kwetiau, tapi kok bisa kamu super hmm malam ini, hah?"
Dean tidak mempermasalahkan akan hal itu. Baginya dapat memberikan kepuasan pada Miranda itu merupakan hal yang menjadi impiannya sejak dulu. "Yang penting aku sangat mencintaimu, Mir. Besok kita bisa mencari tempat tinggal yang baru kalau kamu tidak sibuk," titahnya masih mengusap lembut punggung telanjang istrinya dengan mata tertutup.
"Terserah saja, yang penting kamu tinggal dulu sama aku di sini. Jangan pulang dulu ke Medan, aku butuh kamu."
"Hmm ..."
Keduanya saling berpelukan mesra, dengan peluh mengering begitu saja di bawah balutan selimut tebal menutupi tubuh anak manusia yang tengah reuni mesra.
"Ternyata Dean tidak perlu dituntut untuk selalu on. Ternyata dia juga bisa on sendiri dan nakalnya luar biasa. Hmm ... Tyas, suamimu telah masuk dalam pelukanku. Mau langsung pindah tangan, kah ...?" Miranda tersenyum sumringah menatap wajah tampan Dean yang sudah terlelap masuk dalam dunia mimpinya.
"I love you, sayang ..."
Sementara diluar sana, Robert yang tidak berani memanggil nama Miranda karena ada beberapa pasang mata menatap kearahnya, membuat ia mengurungkan niat buruknya untuk menghabiskan malam bersama wanita pujaannya.
"Cari siapa, Bang? Kayaknya penghuni apartemen itu sudah tidur, deh!" Sapa dua orang security yang sedang memapah satu pria tengah mabuk berat.
Tanpa mau menjawab Robert yang sudah sejak tadi berdiri didepan pintu apartemen milik Monata mencicit keluar dari koridor apartemen, agar tidak ada satu orangpun yang menaruh curiga padanya.
Secara, siapa yang tidak mengenal beliau seorang pria berpangkat di badan narkotika propinsi.
"Sebentar-sebentar, kalau tidak salah pria itu Pak Robert, kan?" tanya security tersebut pada rekan kerjanya.
__ADS_1
"Agh ... mana mungkin Pak Robert kepala propinsi badan narkotika mau main-main sama istri orang!" tegas security itu sambil membuka pintu apartemen milik penghuni yang mereka papah, karena mengetahui tentang Miranda merupakan keponakan Monata Keluarga Anderson.
"Ya, ya, ya ... kita salah lihat kali!"