Dicerai Karena Binal

Dicerai Karena Binal
Tambah lagihh


__ADS_3

Setelah menikmati makan malam bersama keluarga, Miranda berpamitan dengan keluarganya untuk kembali ke apartemen milik Monata yang ia huni selama empat bulan menetap di Pekanbaru.


"Makasih ya, Tanteku. Kalau Ibu Suri menghubungi Tante, tolong bilangin kirimin coklat kesukaan aku, mama biasa tahu, tuh." Miranda tertawa lepas tanpa sengaja mengalungkan tangannya di lengan Adrian.


Mengerti akan sikap keponakannya, membuat Monata hanya bisa tersenyum tipis, mengurut dada sambil merangkul Marisa yang berdiri disampingnya.


Mereka berpamitan, membuat Adrian dapat leluasa untuk mempertanyakan apa yang didengarnya ketika nama Dean disebut oleh Marisa.


Akan demikian, saat Adrian tengah fokus pada stir kemudi menuju hotel, gawai Miranda berdering, membuyarkan pertanyaan duda beranak satu tersebut.


"Sebentar ya, Yang, Beny menghubungi aku." Miranda meletakkan benda pipih itu ditelinga kirinya.


[Hmm, ape lo ...]


[Aaa ...]


Terdengar suara teriakan Beny diseberang sana membuat Miranda menjauhkan gawainya dari cuping kanannya karena sangat memekakkan gendang telinga.


[Apaan sih lo? Nelepon cuma untuk teriak-teriak doang, kesel gue]


[Eh ... anak durhaka, Malin Kundang yang sudah terkatung-katung, masih saja nyusahin]


Miranda sedikit bergidik dan memindahkan gawainya kecuping sebelah kiri.


[Apaan sih lo? Kenapa, emang gue buat nenek lo miskin, hmm ...]


[Ya iyalah, paru-paru gue susah napas karena kebijakan Pak Anderson dan Ibu Suri yang memberikan pesangon pada anaknya yang baru berkerja selama dua tahun. Lo nyadar enggak ini penghinaan buat gue yang sudah tujuh tahun mengabdi di Multy Strada, tahu lo]


Mendengar celotehan Beny di seberang sana, membuat Miranda tertawa cekikikan.


[Lo lucu deh, kalau ada muka lo di sini ... gue timpuk pake kunci stir, nyebelin banget]


[Dimane lo, Nyet? Tadi Popy sudah mengirimkan uang tujuh ratus juta atas perintah emak, bapak, lo anak durhaka! Jadi tolong lo jadi bini kedua yang akur ya ... sama bini pertama, jangan buat ulah lagi]


Miranda tertawa lepas, ia merasa bahagia kerena Beny menghubunginya, tapi berpikir sejenak, "Kenapa mama minta perusahaan kirim uang? Pasti Om Monata yang cerita sama mama, kalau gaji gue di sini cuma lima juta aja enggak nyampe." Ia menyeringai lebar sambil melirik kearah Adrian yang masih fokus pada stir kemudi.


[Lagi dijalan. Baru pulang makan malam bersama dirumah Om Monata. Jadi nih dijalan pulang ...]


[Tumben sekali anak owner Multy Strada minta-minta? Idup lo sudah jauh dari kata bahagia, ya? Semenjak jadi istri kedua]


[Eh, anak setan alas, keturunan jin iprit, gue lagi dijalan, ada Adrian juga. Jadi jangan banyak bacot lo. Nanti kalau gue rindu, gue telepon lo balik, ya ... bye, bye, bye Beny Asoka]


Entah apa yang ada dalam pikiran Beny kala itu. Yang pasti mendengar nama Adrian membuat dirinya semakin berpikir keras, "Bagaimana jika Miranda hamil dan Dean mengetahui itu bukan anaknya ...?"

__ADS_1


Mobil sedan silver dua digit itu berhenti di loby hotel, membuat Miranda sedikit ragu untuk turun menemani Adrian.


"Yuk, kita turun. Aku kasih saja ya, kuncinya sama security. Biar kita tidak jauh berjalan."


Lagi-lagi Miranda tampak gugup tidak seperti biasanya. Wajah cantik itu hanya tersenyum tipis enggan untuk menatap iris mata Adrian. Sejujurnya ia juga merindukan pria yang masih menjadi kekasihnya tersebut, namun kini dirinya dibuat serba salah dan tampak semakin kebingungan harus berbuat apa.


"Mir!" Kembali Adrian memanggil nama sang kekasih.


"Ogh ..." Miranda menolehkan wajahnya dan langsung membuka pintu mobil.  


Kini keduanya telah berada di loby hotel, dengan jantung berdebar-debar dan tidak senyaman biasanya karena status membuat Miranda hanya bisa menghela nafas dalam bergumam dalam hati. "Maafin aku, Dean. Aku pikir setelah menjadi istrimu, aku tidak akan pernah berselingkuh. Tapi ternyata kamu bukan pelabuhan terakhir ku, karena masih belum bisa untuk mengecewakan Adrian ..."


Saat pintu lift hotel terbuka lebar, tanpa disangka-sangka Miranda dikejutkan dengan kehadiran sang atasan, Robert. Yang baru akan keluar dari lift tersebut bersama Nora.


Wajah mereka saling bertatapan, keduanya tampak salah tingkah, membuat Miranda hanya bisa tersenyum lirih sambil merangkul lengan sang musisi yang berada disampingnya.


Robert berusaha tersenyum dihadapan Miranda. Akan tetapi, Nora justru mencubit kecil lengan sang atasan agar tidak salah tingkah dihadapan rekan kerjanya.


Dengan sedikit menunduk hormat Miranda tersenyum geli seraya menyapa lebih dulu, "Bang, Nora!"


"Eh, iya, iya, iya, ka-ka-kamu ngapain kesini? Apakah i-i-ini suami kamu, hmm?" Robert bertanya seolah-olah tengah meremehkan Adrian.


Gegas Miranda menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum menjawab pertanyaan sang atasan, "Iya Bang, ini suami saya." Ia menoleh kearah Adrian seraya berkata lagi, "Maaf Bang, kami permisi."


"Apa itu? Tatto-an begitu, telinga pakai tindik satu, rambut ala-ala artis timur tengah, jadi pria seperti itu pilihan Miranda. Apa enggak salah orang, anak itu milih suami?" Kening Robert kembali mengkerut, "Kata si Monata, suami Miranda karyawan Leasing. Kenapa karyawan Leasing ada tatto dan tindik? Aku rasa Miranda ini demen juga main-main kayak aku. Kan, jadi bergerak dan terasa keras pula mata bor Abang, Nora! Harus cepat terselesaikan ini."


Mereka berlalu meninggalkan hotel dengan tergesa-gesa, agar tidak ketahuan oleh istri Robert, begitu juga suami Nora.


Akan demikian, Miranda langsung mendapatkan serangan mendadak dari Adrian begitu pintu kamar miliknya tertutup dengan rapat. Sejak tadi ia tak mampu menahan hasratnya setelah empat bulan berpisah dari wanita yang ia ketahui masih berstatus janda tersebut.


"Ayanghh ..." Miranda melepaskan ciuman liar Adrian yang perlahan turun bagian tubuh mulusnya.


Mendengar Miranda melenguh, Adrian tersenyum sumringah. Ia menganggap bahwa sang kekasih sudah tak kuasa untuk bermain-main lagi dengannya.


Miranda terlena, tubuhnya mengisyaratkan agar Adrian terus memberikan kenyamanan yang selalu ia dambakan. "Ahh ..." Dessahannya semakin tak tertahan.


Adrian sangat mengetahui dimana titik-titik sensitif Miranda. Sejak sekolah hingga saat ini, wanitanya itu cenderung lebih agresif dibandingkan mantan istri terdahulu.


Keduanya berpacu saling memburu kenikmatan. Kembali Miranda kalah jika ditagih tentang kesetiaan, karena tidak mampu membendung hasrat mudanya. Pernikahan bersama Dean yang ia anggap akan selalu menjaga komitmen, kandas sudah karena penyatuan cinta yang tak tak pernah berhenti begitu saja.


"Ahh ..." Adrian menghentakkan pinggulnya lebih dalam, dengan peluh membasahi tubuh keduanya. Tubuh mengkilap itu langsung berbaring disamping sang kekasih seraya mengatur nafas. 


Begitu juga Miranda, nafasnya masih tersengal-sengal, kerinduan akan belaian seorang pria selama empat bulan berjauhan dari Adrian akhirnya dapat terlampiaskan, dengan tatapan mata menatap langit-langit kamar hotel sedikit pias.

__ADS_1


Entah apa yang Miranda rasakan, kali ini ia melakukan kesalahan diawal pernikahannya dengan Dean. Pria yang ia gadang-gadang dapat memberikan kenyamanan akan janji kesetiaan, akhirnya terkhianati oleh nafsu yang tak terbendung.  


Perlahan Adrian memiringkan tubuhnya, hanya untuk menatap wajah cantik Miranda yang masih penuh dengan peluh seraya berbisik perlahan, "Berapa kali, hmm?"


Mendengar pertanyaan Adrian seperti itu membuat Miranda langsung menoleh secepat kilat, sambil menepuk pundak sang kekasih dengan tersipu-sipu, "Apaan sih? Kamu tuh jorok, belum mandi malah ngajakin mesum aja. Kita mandi dulu, yuk, baru istirahat!" 


Tanpa menunggu lama, Adrian langsung menggendong tubuh ramping Miranda membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan diri bersama, sambil melanjutkan perjalanan memberikan kebahagiaan batin bagi dua insan yang baru bertemu.


***


Ditempat terpisah, Dean tengah mengemasi semua pakaiannya untuk melakukan perjalanan dinas selama tiga minggu ke wilayah Sumatra bagian tengah sesuai wilayah yang ada didalam list pekerjaannya.


Dengan penuh perasaan bahagia, Tyas yang merasa bahwa suaminya semakin semangat empat lima dalam bekerja, membantu Dean memasukkan beberapa pakaian kantor milik suami tercinta.


"Bang, ini mau dibawa enggak?" Tyas menunjuk satu kemeja berwarna cream yang menjadi pakaian kesukaan sang suami sebagai baju favorit.


Bagaimana tidak, baju kemeja mewah itu termasuk dalam hadiah terindah yang diberikan Miranda sehari sebelum mereka berdua menikah.


Dean menoleh kearah kemeja bermerek terkenal tersebut, seraya mengambil dari tangan sang istri dengan senyuman manis yang sedikit tertahan. "Aku ingin kita memperbaiki pernikahan kita, Mir ..."


Tyas yang tidak memiliki perasaan curiga pun hanya tersenyum, kemudian beringsut mendekati sang putra kesayangannya yang telah mereka beri nama Zian. Mendengar suara rengekan anaknya yang sudah berusia lima bulan tersebut, membuat ia langsung memberikan asi-nya sambil mengusap lembut kepala sang putra kesayangan.


"Odol sama sabun ada di tas kecil itu, Bang." Tyas menunjuk kearah lemari kecil yang berada disudut meja rias yang sudah dipersiapkannya seraya bertanya, "Abang menginap di tempat Kak Lia, kan?"


Entah mengapa, Dean langsung menelan ludahnya sendiri ketika mendengar pertanyaan sang istri. Ia menjawab pertanyaan itu sambil mengedarkan pandangannya kearah lain agar tidak terlihat tengah menyembunyikan sesuatu dari sang istri. "Kayaknya enggak, deh. Karena rumah Kak Lia lumayan jauh. Jadi Abang menginap di mes kantor saja."


Mendengar jawaban seperti itu, Tyas tersenyum lega karena sang suami telah dapat melupakan Miranda sang mantan masa lalu suami tercinta. "Pokoknya, jangan macam-macam lagi, Bang. Kita sudah punya anak, tanggungan sudah ada. Gajiku hanya cukup untuk membayar rumah dan motor!" Ia kembali menegaskan. 


"Abang tahu sendiri, semenjak Abang dipecat dari Anugerah Finance tanpa alasan yang jelas, keuangan kita kembali ketitik nol lagi. Ditambah Abang bilang gaji bulan kemaren masih dikirim buat Mama." Lagi-lagi Tyas mencoba mengingatkan kepada sang suami.


Tampak Dean tidak bisa berkata-kata lagi. Sejujurnya gaji yang ia terima bulan lalu cukuplah besar, namun ia memiliki tanggung jawab atas Miranda yang sudah hampir empat bulan tak diacuhkannya. Membuat dirinya harus memberikan nafkah lebih karena tidak bisa hadir untuk menemani sang istri kedua.


Tidaklah mudah bagi Dean yang tidak memiliki pengalaman dalam berbagi. Apalagi mengingat syarat berpoligami yang sangat jauh dari benaknya sejak dulu. Akan tetapi, kegigihan Miranda mendekatinya dengan status janda yang sangat mempesona, membuat imannya benar-benar diuji.


Perlahan Dean mendekati sang istri, kemudian duduk disamping Tyas yang tengah menyusui Zian sedikit berbisik menggoda, "Sebelum pergi, boleh kan?"


Senyuman manja seorang istri ketika mendengar bisikan maut untuk bermadu kasih, membuat Tyas langsung membalikkan tubuhnya yang sudah setengah terbuka setelah memastikan anak mereka tertidur.


"Boleh dong. Kalau Abang pergi tiga minggu, aku kan pasti kangen. Yang penting jangan nakal lagi, apalagi sampai ketemu sama Miranda!" Tyas mengalungkan tangannya dileher sang suami dengan penuh perasaan bahagia. 


Mendengar nama sang istri kedua disebut istri pertama, gegas Dean mellumat bibir sang istri, agar tidak terkenang akan kesalahannya beberapa bulan lalu, walau sesungguhnya ia telah menikahi Miranda secara siri. "Maafkan aku, sayang. Perasaanku juga masih mencintai Miranda ..."


Kedua insan suami-istri yang masih sama-sama muda itu saling melengkapi dalam membahagiakan pasangannya, walau sesungguhnya Tyas selalu dibuat kecewa oleh Dean yang hanya memikirkan dirinya sendiri dalam bercinta menghabiskan malam. "Banghh ... tambah lagihh, aku belumhh."

__ADS_1


 


__ADS_2