
Langkah kaki Miranda keluar dari ruang kerja Robert bersama Renita juga Melodi berjalan beriringan, menuju pintu keluar gedung perkantoran berlantai dua tersebut. Tidak ingin banyak bicara, wanita cantik yang dibalut mini dress tanpa lengan itu hanya menghela nafasnya dalam-dalam kemudian memijat tengkuk leher nan terasa pegal setelah mendengarkan semua cerita dari Renita.
"Saya permisi dulu, ya? Oya, Mba Miranda ... bagaimana kalau siang ini kita makan dulu? Kebetulan ada yang ingin saya bicarakan," ucap Renita menoleh kearah Robert yang enggan ikut campur dengan permasalahan yang tengah dihadapi karyawan bertubuh moleknya tersebut.
Senyuman manis, menguar disudut bibir Miranda seraya berkata, "Maaf Mba ... sepertinya tidak hari ini. Karena saya ada urusan dengan suami!"
Bibir Renita membulat berbentuk huruf 'O' kemudian mengangguk mengerti, "Ogh ... oke-oke! Next time kita ketemu, ya? Maaf, sekali lagi saya permisi!" Ia berlalu meninggalkan kantor badan narkotika propinsi tersebut tanpa mau berkata-kata lagi.
Ada setitik kesedihan tersirat dalam hati Miranda, melihat wanita berhijab itu berlalu meninggalkannya. Ia tersenyum tipis seraya menggigit bibir bawahnya dan menoleh kearah Robert, "Pak ... izin dulu, ya?" Tuturnya seraya melanjutkan ucapannya, "Tadi saya kesini karena Adrian menghubungi. Besok pagi saya baru masuk kantor!"
Perasaan Robert semakin dibuat berbunga-bunga mendengar ucapan lembut wanita yang masih belum jelas statusnya tersebut, ia mengusap lembut punggung Miranda karena posisi berdiri mereka saling berdekatan. "Kamu hati-hati ya, Dek? Kalau ada apa-apa, hubungi Abang. Pokoknya Abang akan selalu ada buat Adek."
Mendengar penuturan seperti itu dari bibir Robert, membuat Miranda sedikit bergidik kemudian berlalu meninggalkan kantor milik negara tersebut seroang diri. "Agh ... sepertinya aku harus segera menyelesaikan satu-satu urusan ku dengan Dean juga Adrian. Setelah ini, aku akan menentukan sikap ku! Bisa saja aku pulang ke Singapura, atau justru aku tetap berada di sini dengan meminta Heru datang kesini menemani aku."
Mobil silver berplat dua nomor itu melaju kencang menuju kantor Dean yang berada tidak jauh dari kantornya. Ia memarkirkan kendaraannya dengan baik. Kening Miranda mengerenyit masam, ketika menoleh kearah gawai yang berdering. "No number, who ...?"
Miranda menjawab dengan suara malas sambil merebahkan tubuhnya di jok kemudi.
[Hmm ... halo]
[Miranda? Kamu dimana ...]
Kening Miranda mengkerut, ia mencoba mengingat suara lengkingan siapa diseberang sana.
__ADS_1
[Who? Siapa ini ...]
[Tyas ...]
Darah Miranda mendesir seketika, susah payah ia menelan ludah kemudian menghela nafas panjang dengan jantung berdebar-debar yang membuat dirinya semakin salah tingkah.
[Ogh ya ... ada apa Tyas? Apakah ada yang bisa aku, bantu]
Terdengar dengan jelas seringai Tyas yang mengejek dirinya diseberang sana.
[Hmm ... apakah ini kelakuan seorang putri kesayangan Anderson, Miranda? Aku belum sempat untuk menginjakkan kaki di sana, tapi aku bisa pastikan bagaimana hidup mu setelah merebut suami aku]
Kedua alis Miranda menaut, ia tampak lebih bahagia karena mendengar ancaman dari Tyas diseberang sana. Bibir seksi nan merona itu kembali basah karena berulang kali wanita cantik itu membasahinya dengan gerakan lebih sensual.
[What, lo lagi ngancam gue? Hei Tyas, gue tidak pernah ingin menyakiti lo. Tapi apa lo lupa cara lo yang udah kasar sama gue, hmm? Wajar saja gue nikah sama Dean, toh laki kita juga berhak bahagia, dong]
[Ogh, punya nyali kau telah berhadapan dengan aku, hah? Kau tinggal bersama Adrian, tapi suami aku yang kau ganggu, apa maksud kau? Apa kau enggak takut dengan penyakit kelamin yang akan menggerogoti ******** mu yang menjijikkan itu, hah? Dasar wanita ****** kau, perempuan tidak tahu di untung. Pantas saja Pak Anderson tidak mau mengakui kau sebagai putrinya, ternyata impian mu sejak dulu itu merupakan menjadi seorang pelakor, perebut suami orang, kau tahu kan ... Dean telah menikah sama aku, hmm! Ingat Miranda, keluarga Dean tidak akan pernah menerima kau sebagai istri sahnya, walau sesungguhnya kalian sudah menikah tapi itu tanpa izin ku sebagai istri sah]
Seringai Miranda tersirat di sudut bibirnya, ia tertawa kecil sambil mengusap lembut hidung mancungnya.
[Wowh ... makasih yah? Setidaknya lo mengakui bahwa aku ini wanita yang dinikahi Dean secara sah. Walau itu dalam agama, tapi setidaknya kami sudah menikah. Soo ... kalau aku sakit kelamin, pasti kamu juga kena dong ...]
Miranda tertawa cekikikan, membuat Tyas diseberang sana semakin tersulut api amarah.
__ADS_1
[Oh ... apakah tidak ada yang mau menikahi mu secara sirih di dunia ini? Kenapa harus Dean, Miranda, kenapa bukan Adrian, atau siapalah yang single untuk menjadi suami pelepas hasrat liar kau itu, hah? Apa kau tidak ingat kami sudah memiliki anak dan keluarga kau lebih kaya. Bahkan kau bisa meminta apapun yang kau inginkan didunia ini, asal jangan Dean! Suami aku, Miranda ...]
Tangis Tyas pecah diseberang sana, membuat Miranda bersorak gembira karena merasa bahwa lawannya telah kalah. Ia kembali menelan ludahnya, kemudian tersenyum simpul seraya menjawab dengan angkuhnya.
[Kau tahu, apa yang aku inginkan di dunia ini, hmm? Bukan Adrian ataupun siapa orang terkaya di dunia ini Tyas! Melainkan yang aku inginkan, Dean menjadi suami ku, tanpa harus memikirkan bagaimana perasaan mu di sana ...]
[Dasar ****** kau, Miranda! Wanita terkutuk, wanita tidak memiliki perasaan kasihan sesama wanita. Janda gatal yang tidak tahu di untung ...]
Mendengar perkataan yang sangat kasar dari Tyas, Miranda justru tak mengacuhkan ucapan dan ancaman wanita bertubuh kurus tersebut.
[Maaf ... jika suami lo memang baik, pasti dia tidak akan tergoda oleh pesona seorang janda muda seperti gue. Apa lo lupa, gue tidak akan pernah melepaskan Dean. Sampai kapanpun ... Dean milik gue, sampai dia mencampakkan lo dan menikahi gue secara resmi. Lo bisa hina gue, tapi lo tidak akan pernah bisa mendapatkan hati Dean lagi ... karena itu semua milik gue, are you understand]
[Mira ---]
Gegas Miranda mengakhiri teleponnya dengan Tyas. Seketika itu, pandangannya semakin liar juga berkaca-kaca. Ia tidak menyangka akan seberani ini pada wanita yang merupakan istri sah dari sang suami. "Dasar wanita bodoh! Seharusnya lo bisa mempertahankan Dean dengan berbagai cara. Sejak kapan Miranda akan mengalah, Tyas. Walau kita ini saling mengenal sejak dulu ... apakah lo lupa, lo sudah mengambil milik gue. Dan gue akan merebutnya dengan berbagai cara ..." Ia mengumpat sambil melemparkan benda pipih itu di bangku sebelahnya, kemudian memilih turun dari mobil untuk bertemu sang suami tercinta yang sudah dua hari tidak bertemu dengannya.
Miranda tampak elegan, memasuki kantor leasing yang berada dikota minyak tersebut. Tanpa sengaja ia melihat seorang pria paruh baya yang sangat dikenalinya, namun langkahnya diberhentikan oleh pihak security yang lebih dulu mencegatnya. "Om Anas ...?" Ia tampak kebingungan.
"Maaf Bu, silahkan isi buku tamu!" Perintah security sambil memberikan pulpen kearah Miranda.
Cepat Miranda menggeleng, ia menepis pulpen yang diberikan security sambil berlari kecil mendekati sang paman. "Om Anas!" Sapanya sambil menoleh kearah Suci juga beberapa orang dari Anugerah Finance.
Akan demikian, security yang memberikan pulpen tersebut menarik lengan Miranda, "Maaf Bu, isi dulu buku tamunya! Ibu mau ketemu siapa?"
__ADS_1
Kening Miranda mengerenyit, kedua alisnya menaut seraya berkata dengan nada tegas dan lantang, "Saya mau bertemu suami saya, Dean Alexander! Tolong panggil dia, sebelum kamu saya pecat!"
"Wowh ... berani sekali kamu, Miranda!"