
Di tempat yang berbeda, dua insan suami istri justru tengah berdebat karena merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan pernikahan mereka berdua, Tyas sebagai istri merasa bahwa Dean tidak pernah jujur padanya. Ia melihat sang suami yang selalu mencuri pandang kearah Miranda, membuat dadanya menggelegak panas karena perasaan cemburu.
"Cukup Tyas, cukup! Aku tidak pernah membohongi kamu, karena aku dan Miranda hanya berteman sebatas nya saja!"
Tyas menyunggingkan senyuman tipis disudut bibirnya, pikirannya tertuju pada bukti yang ia temuin di tempat pakaian kotor, sisa cairan milik Dean yang sudah mengering dan belum dicuci oleh pria beristri tersebut, "Ogh, berteman sebatas nya saja? Hah? Aku pikir Abang pria yang jujur, namun Abang sama saja dengan laki-laki hidung belang lainnya."
Lagi-lagi Tyas menunjuk jarinya kearah keranjang tumpukan kain kotor yang ada didekat pintu kamar mandi, "Itu yang di tumpukan kain, bekas apa, hmm? Apa Dean Alexander? Kamu habis bercinta dengan Miranda, kan? Karena aroma parfum kamu, sama dengan janda gatal itu!"
Rahang Dean seketika mengeras, dadanya bergemuruh bahkan tidak menyangka bahwa barang bukti lupa ia bersihkan, "Tyas, jaga mulut kamu!"
Seringai mengejek Tyas sangat jelas tersirat, "Jaga apa? Mulut yang mana harus aku jaga, Dean! Untung aku cepat tiba ke sini, jika tidak ... mungkin kamu akan setiap malam tinggal sama janda kembang itu, karena kalian tinggal bersebelahan, ya kan!?"
"Tyas!" Dean yang tak kuasa membendung amarahnya, seketika tersulut emosi dan akan melayangkan tamparan ke wajah sang istri, namun tertahan mengingat kehamilan Tyas yang mendekati proses persalinan.
Akan tetapi, Tyas justru mendorong tubuh Dean sekuat tenaga, karena perasaan kecewanya terhadap sang suami, "Apa!? Kamu mau tampar aku, hah? Tampar Dean, tampar! Aku tidak akan takut, karena kamu sudah mengkhianati pernikahan kita!" Ia berlalu begitu saja meninggalkan sang suami dengan perasaan yang penuh kecewa.
Hampir satu tahun setengah pernikahan mereka, akan tetapi hanya pengkhianatan yang ditorehkan Dean Alexander sebagai seorang suami karena tidak pernah menceritakan ada hubungan apa dengan Miranda sebelum menikah dengannya.
"Tyas, Tyas! Aku tidak pernah mengkhianati kamu!"
"Bohong! Karena aku mencium aroma percintaan kamu! Apa tidak ada tisu, hah! Kenapa harus pakai baju!" Tyas berteriak, membanting pintu kamar dengan sangat keras.
Dean tertegun, kali ini ia tidak dapat berkata apa-apa lagi. Mungkin kebodohan yang ia lakukan kala itu, hanya karena merasa nyaman karena Miranda yang sangat mengerti akan dirinya saat ini.
Kasus penggelapan dana perusahaan, sehingga membuat Dean terikat akan pekerjaan yang melibatkan dirinya dengan sang mantan kekasih masa lalu. "Tyas ... kamu tahu Miranda itu anak dari Pak Anderson! Dia pemilik perusahaan tempat suamimu bekerja, seharusnya kamu tidak boleh berpikir yang bukan-bukan karena aku mencari nafkah untuk keluarga kecil kita!"
"Shut up, Dean, whatever!"
__ADS_1
Kembali Dean hanya bisa terdiam, ia duduk di sofa ruang keluarga, setelah mendapatkan perlakuan kasar dari sang istri yang mendorongnya agar keluar dari kamar mereka.
***
Sudah hampir lima hari Miranda tidak mau bicara dengan Adrian. Ia membiarkan sang kekasih melakukan apapun pekerjaan dan kegiatan sebagai gitaris untuk acara kantor keluarganya hingga larut malam, tanpa mau bertanya seperti biasa.
Terdengar suara ketukan pintu dari arah ruang kerja Miranda, membuat janda cantik itu hanya menyahut dari arah dalam sambil mengerjakan semua pekerjaannya. "Masuk!"
Pintu ruang kerja Miranda terbuka lebar, ia melihat sosok Adrian yang juga menatapnya kemudian menghampiri dengan wajah sensual yang menggoda. "Baby, apakah kamu tidak merindukan aku, hmm?"
Sekilas Miranda hanya tersenyum kecil, kemudian menutup laptopnya dan merebahkan tubuhnya disandaran kursi kebanggaannya. "Kenapa Ayang? Bukannya Ayang bilang hari ini mau ke kampus, terus ada acara gladi resik untuk acara besok malam. Aku baru selesai mengerjakan beberapa laporan untuk segera aku kirim ke atasanku sebagai team promosi. Jadi kepala ku sedikit berdenyut."
Mendengar sang kekasih hati tercinta mengatakan bahwa kepalanya berdenyut, membuat Adrian langsung mendekati tubuh bagian belakang Miranda. "Aku pijet, ya? Bagian mana yang sakit dan berdenyut itu, hmm." Ia menyentuh bahu sang kekasih, membuat Miranda tertawa cekikikan karena merasa geli.
"Ayang, please ... jangan disini, nanti aku pengen lho!" Miranda merengek sedikit manja dan menggeser tangan Adrian dari pundaknya, kemudian memutar kursi kebanggaannya agar dapat berhadapan dengan duda beranak satu tersebut.
Akan demikian, Adrian yang sudah lama merindukan kehangatan sang kekasih justru terus menggoda Miranda yang tak pernah menolak keinginannya. Wajah cantik dan tampan itu saling berpandangan, selayaknya pasangan kekasih yang sudah lama tidak bertemu.
"Aku enggak marah, Ayang. Cuma kecewa saja akan sikap kamu, karena harus mengundang Tyas tanpa memberitahu aku dulu. Apakah selama ini aku selalu melarang kamu membawa siapa saja ketika kita tinggal bersama. Please ... hargai aku, Dri. Karena aku sangat merindukan sosok pria yang menghargai aku sebagai seorang wanita, hanya itu permintaan ku sejak kemaren, tidak banyak!"
Tatapan mata yang saling berpandangan itu hanya bisa menahan ego masing-masing, ketika mengingat pertengkaran mereka beberapa waktu lalu.
Adrian menghela nafas panjang, ia sangat mengetahui bagaimana sifat Miranda yang enggan berbaikan jika masih mereka masih disibukkan dengan berbagai kegiatan. "Oke, selesai acara malam besok ... bagaimana kalau kamu ikut dengan aku ke tiga daerah untuk mengisi acara musik. Aku ingin menikmati indahnya malam di Lombok bersama kamu, sayang!" Ia mengusap lembut paha Miranda, kemudian menyelusupkan satu kakinya untuk melebarkan kedua kaki sang kekasih agar posisi mereka semakin tak berjarak.
"Really?"
"Hmm ..."
__ADS_1
Sungguh diluar dugaan sang wanita, usapan lembut tangan Adrian mampu memberikan satu kerinduan yang selama ini terpendam dalam benaknya tak kuasa berkata 'jangan sekarang'.
Kakinya terbuka, menikmati permainan Adrian yang sangat luar biasa dibawah sana walau hanya menggunakan jemari lentik nan khas jika memetik gitar.
"Ahh ..." Miranda terbuai, ia terlena, membuat sang kekasih hati tersenyum bahagia melihat wanitanya semakin terbuai seperti saat ini.
Keduanya semakin larut dalam ruangan kerja tanpa menghiraukan apapun diluar sana. Miranda yang tak kuasa membendung rasa gairahnya, perlahan tangannya membuka semua benang yang menempel diantara mereka berdua. Pelan tapi pasti, semua itu sangat menyenangkan bagi dua insan janda dan duda yang tengah terbakar api gairah siang itu.
Tubuh Miranda tengah berada di atas meja kerjanya, dengan kedua kaki melilit di pinggul Adrian, menikmati indahnya sentuhan cinta yang menghujam miliknya dengan penuh gairah muda. Bibir saling menaut bahkan tak pernah terlepas, memberikan keindahan bagi janda cantik itu ketika sampai pada satu titik kenikmatannya.
"Ogh, yes Ayanghh ... please ... lebihh dalamhh ..." Erang Miranda membuat Adrian memompa lebih cepat dengan penuh perasaan bahagia, memandangi tubuh semok nan montok itu akan meraih puncak kebahagiaannya.
Akan tetapi, ketika lidah mereka saling menaut untuk saling melengkapi dalam membahagiakan pasangannya, pintu ruangan Miranda dibuka lebar oleh Dean. Membuat keduanya kalang kabut melepas penyatuan mereka dengan cara yang sangat mengejutkan.
"Damn it!" Teriak keduanya tampak panik.
Dean termangu, jantungnya seakan berhenti berdetak, nafasnya seakan tercekat hingga tenggorokan, melihat adegan panas yang sangat menggairahkan, membuat ia terpaku melihat kearah dua insan yang tengah mereguk indahnya cinta.
Sementara Miranda langsung mendorong tubuh Adrian dari atas tubuhnya sehingga terpental Kedinding ruangan, kemudian merunduk dibawah meja kerjanya. "Bisa enggak kamu mengetuk dulu pintu ruangan saya, hah!" Ia menghardik pria yang masih berdiri didepan pintu.
Begitu juga Adrian, ia meringis menahan sakitnya ketika kepala belakangnya terbentur ke dinding dan langsung meraih baju dilaintai untuk menutupi bagian intinya yang masih berdiri tegap. "Lo! Bisa sopan sedikit enggak, sih?" sesalnya mengenakan pakaian menatap tajam kearah Dean.
Lagi-lagi Dean hanya terdiam, wajahnya tampak merah padam kemudian berkata, "Ma-ma-maafkan a-a-a-aku! Ta-ta-tapi tadi aku sudah mengetuk pintu dua kali, akan tetapi tidak ada jawaban. A-a-a-aku hanya ingin memberikan laporan ini, sesuai perintah Pak Anderson. Permisi!"
Gegas Dean meletakkan berkas yang ada ditangannya diatas meja depan sofa, kemudian mencicit keluar ruangan agar tidak menerima makian lagi dari Adrian ataupun Miranda.
Dada Dean masih terus berpacu, ia tidak menyangka bahwa Miranda akan senekat itu diruang kerjanya. "Ogh Tuhan, bagaimana imanku tidak tergoda dengan janda secantik Miranda. Aku harus segera menikahi Miranda, agar dia terlepas dari kehidupan bebas seperti ini, harus, bahkan wajib ..."
__ADS_1
Akan tetapi, Dean masih enggan untuk beranjak dari depan ruangan yang tertutup itu, membayangkan betapa sensualnya wajah sang janda kaya seperti Miranda. "Kita bersaing secara sehat Adrian, karena aku yakin bahwa Miranda tidak akan pernah bisa menolak ku ..."