
Gedung perkantoran milik Anderson tampak lebih sibuk dari biasanya. Di ruangan nan sejuk itu kembali duduk Dean yang langsung berhadapan dengan Anas, selaku partner bisnis Multy Strada. Dua puluh enam milyar yang menjadi angka permasalahan mereka dengan Dean selaku kepala cabang Medan, tidak terkoneksi dengan data yang dilaporkan pihak keuangan dan masih belum dapat dipertanggungjawabkan oleh pria beristri tersebut.
Satu alat berat bernilai fantastis itu, masih belum diketahui keberadaannya, serta pembayaran dari satu perusahaan yang menyewa untuk pelaksanaan kegiatan pemerintahan dalam perbaikan jalan di daerah serta beberapa perusahaan yang membutuhkan untuk membuka lahan perkebunan sawit juga perusahaan lain yang membutuhkan masih belum dapat menerima pembayaran hingga saat ini.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruang meeting. Membuat semua mata tertuju pada sosok Miranda yang langsung melenggang masuk kedalam ruangan atas permintaan Anderson.
"Papa manggil aku?" Sapa Miranda melirik kearah Dean juga Anas dan beberapa rekan lainnya.
Gegas Anderson menganggukkan kepalanya kemudian berkata dihadapan para karyawannya, "Mulai hari ini, kamu akan mengawasi Dean selama dua bulan. Sekalian pihak HRD akan membayar semua kebutuhan Dean selama menetap di apartemen yang bersebelahan dengan tempat tinggal kamu. Tolong kamu kondisikan semua pembayaran, karena papa percaya sama kamu!"
Mendengar ucapan sang papa yang tegas, Miranda tersenyum penuh kemenangan. Ini saatnya ia harus mengeluarkan semua jurus untuk menarik perhatian Dean Alexander sang mantan kekasih yang sangat dicintainya sejak duduk di kelas dua sekolah menengah atas. "Ogh, baik pa. Ada lagi?"
"Tidak ada, kamu minta pihak ketiga untuk meng-audit semua dana yang ada di seluruh cabang kita. Papa tidak bisa lama berada di sini. Kamu harus bekerja sama dengan beberapa karyawan yang lain. Jangan fokus pada promosi saja, papa akan menaikkan gaji kamu!"
Senyuman kecil dibibir merah itu tampak semakin mengembang lebar, karena ia dapat membantu Dean dan lebih dekat dengan pria beristri tersebut. "Masa bodoh dengan statusnya, yang penting aku tidak mengganggu rumah tangga dia dengan Tyas. Aku hanya menginginkan Dean, bukan yang lain ..."
Setelah mendengar beberapa penjelasan dari Anderson, Miranda kembali ke ruangan sang mama, karena perintah pria keturunan Padang tersebut. Sesekali matanya melirik kearah Dean yang hanya bisa menundukkan wajahnya.
Miranda menghela nafas panjang, ketika merebahkan tubuhnya di sofa ruangan sang direktur utama Multy Strada. Ia hanya bermain gawainya, memeriksa sosial media yang sudah beberapa hari diacuhkannya karena kehadiran Adrian.
Kedua alis Miranda menaut, mata indahnya menatap lekat layar pipih itu dengan seksama, membaca pesan inbox dari Tyas yang berbalas. Serta menerima pertemanan mereka selayaknya sesama alumni di sekolah yang sama. "Hmm, Tyas lagi on-line. Aku rasa dia tahu bahwa saat ini suaminya bermasalah dengan perusahaan keluargaku. Coba aku balas saja pesan wanita ini ..."
Gegas tangan lentik Miranda mengirimkan pesan pada Tyas.
[Hai, sorry beib ... slow respon, karena beberapa kegiatan. Kamu dinas dimana sekarang ...]
Tidak lama pesan terbalas.
[Ogh, tidak apa-apa, Mir. Aku masih berkarir sebagai orang sipil samsat Medan. Kamu sendiri bagaimana. Hmm, suamiku lagi kenak masalah sama perusahan keluarga kamu, bisa bantu, kan]
Hati Miranda bersorak gembira, ia sangat mengetahui bagaimana Dean yang akan memohon padanya malam nanti.
[Tenang saja beib. Kalau aku bantu tentu tidak ada yang gratis, dong ...]
Sengaja Miranda menuliskan hal itu, membuat Tyas membalas dengan emogi menangis.
[Tega bener kamu, aku siap memberikan apa saja, tapi kamu juga janji tidak menyeret suamiku ke pihak kepolisian. Karena aku akan melahirkan anak pertama kami. Kan enggak lucu kalau ayahnya di penjara]
__ADS_1
Membaca pesan Tyas, seketika hati Miranda merasa sedih. Bagaimana pun, ia seorang wanita yang dapat merasakan apa yang dirasakan wanita manis diseberang sana.
[Enggak mungkin sehoror itu kali, neng. Kamu tenang saja, ya? Pak Anderson tidak akan memberatkan suamimu yang tampan itu dalam posisi sulit. Hanya diperiksa oleh beberapa team audit saja. Oke deh, kamu jaga kesehatan, ya ...]
[Iya Miranda Anderson. Oya, aku dengar kamu akan menikah dengan Adrian sang gitaris alumni sekolah kita? Bener enggak tuh, gosipnya ...]
Dada Miranda seperti disambar petir, membaca pesan singkat dari Tyas yang mengatakan bahwa Adrian akan menikah dengannya. Cepat ia menepis semua gosip murahan itu, karena tidak ingin Dean juga mengetahui kabar murahan tersebut.
[Sepertinya Adrian terlalu cepat mengambil keputusan. Aku masih menikmati kesendirian ku, sebagai janda kembang tanpa anak. Jadi jangan percaya hoax itu ...]
Pesan singkat itu kembali tak terbalas. Tyas tiba-tiba offline, begitu juga Miranda yang mendengar suara panggilan sang mama.
"Sayang, kita shoping dulu, yuk? Mama mau membeli beberapa kebutuhan papa kamu. Kami melupakan travel bag di ruang tunggu bandara tadi pagi, tapi sudah di urus sama sopir. Jadi kita ke mall dekat sini saja, sekalian belanja kebutuhan kamu juga." Tina melenggang dan langsung menarik tangan putri kesayangannya.
***
Keduanya tiba di salah satu pusat perbelanjaan kota metropolitan. Miranda yang tidak menyukai suasana keramaian, memilih tempat bermerk terkenal yang terlihat sepi pengunjung. Seperti biasa mereka menghabiskan waktu bersama selayaknya ibu dan anak, membuat salah seorang yang mengenal Tina Talisa menyapa wanita berusia 48 tahun tersebut.
"Ibu suri?" Sapa wanita pria itu mendekati Miranda dan Tina.
Begitu juga dengan Tina langsung menyambut baik tangan pria muda tersebut seraya bertanya, "Kamu Heru, kan, anak ibu bidan? Kamu di Jakarta, bukannya kamu berada di Shanghai kemaren?"
Heru tersenyum sumringah, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena merasa tatapan Miranda sangat tajam kearahnya. "I-i-iya bu. Ini lagi urusin model-model makanya kesini. Karena mereka baru selesai melakukan pemotretan di lantai tiga, mungkin malam ini langsung ke Bali."
Kening Miranda mengerenyit, ia melihat dua gadis semampai mendekati Heru, dengan suara tawa yang sangat menggoda bahkan tampak seperti sepasang kekasih. Dadanya bergemuruh, ia yang tidak pernah bermain dengan perasaan ternyata kini terlarut dalam suasana hati bercampur aduk. Berkali-kali janda cantik itu menelan ludahnya, menatap partner ranjangnya dengan penuh kebencian. "Ogh, jadi ini kelakuan kamu, **** you man ..." geramnya dalam hati tanpa mau tersenyum.
Tina yang mengenal Heru sebagai fotografer terbaik, namun tidak mengetahui kedekatan putrinya dengan pria muda tersebut, justru berkata dengan penuh keakraban, "Bagaimana kalau kita makan dulu? Mungkin besok pagi saya juga sudah kembali ke Singapura. Sudah lama juga kita tidak bertemu, jadi tidak salahkan?"
Mendengar ajakan sang mama, Miranda langsung menyela ucapan Tina, "Tidak usah ma. Kita langsung ke kantor saja, atau ke hotel. Karena aku ada janji sama Om Monata, sore ini dia mau ke kantor untuk membawa berkas-berkas aku."
Tanpa pikir panjang, Tina mengangguk setuju, "Ogh, ya sudah. Maaf ya, Heru. Saya jalan dulu, karena Miranda ada janji sama adik papa-nya. Biasa kalau anak manja, ya begini ... semua-semua minta di urusin," titahnya melenggang meninggalkan Heru yang masih terdiam tak bergeming.
Wajah Heru tampak tegang, ia tidak menyangka bahwa akan dipertemukan dengan Miranda setelah dua hari yang lalu berpisah dari janda cantik itu, "Sorry Mir. Aku bukan membohongi mu, tapi pekerjaan ku juga menuntut untuk melakukan semua ini ..."
Raut wajah Miranda berubah, hatinya seketika hancur, ia tidak menyangka Heru akan tega bermain-main dengan wanita lain selain dirinya yang sungguh luar biasa langsingnya. Bukan karena mencintai pria berambut gondrong tersebut, namun karena ia tidak menyukai kebohongan. "Kenapa kamu tega bermain dibelakang aku, Ru? Bukankah kita sudah berjanji akan selalu menjaga ... agh, aku membenci mu ...!" umpatnya penuh kekesalan.
Sementara Tina yang melihat perubahan pada sikap sang putri hanya bisa tersenyum tipis, sambil bertanya tentang Adrian, "Kamu pacaran sama gitaris itu, Mir? Mama lihat kamu cocok dengan dia. Daripada harus menjanda tiga tahun, apalagi kamu masih muda. Kamu harus menikah agar kehidupan kamu lebih terarah. Ingat jangan buang-buang masa muda mu, sayang. Kasihan umur kamu, mama juga pengen punya cucu."
__ADS_1
Mendengar pernyataan sang mama, hati Miranda seperti tersayat sembilu. "Cucu, sementara aku selalu menggunakan pengaman jika berhubungan intim dengan Heru. Agh, aku melupakannya ketika berhubungan dengan Adrian. Sialan anak itu, apa dia sengaja menjebak aku, awas saja kalau sampai hamil, aku belum siap ..."
Lagi-lagi Miranda hanya tersenyum lirih melirik kearah Tina, "Jujur aku menjalin relationship dengan Adrian, ma. Tapi untuk menikah mungkin aku harus berpikir dua kali lipat, karena dia tidak menetap di sini. Aku tidak biasa berjauhan."
Dengan penuh kelembutan Tina mengusap lembut punggung Miranda, "Jika Adrian mau, dia bisa membantu mama di sini. Daripada harus memperkerjakan orang lain seperti Dean, justru mengambil uang kita dalam jumlah yang sangat banyak, nak."
Miranda menelan ludahnya, ternyata sang mama juga memiliki pemikiran yang sama dengan Anas, atasan Dean. Bahwa mereka sama sekali tidak percaya dengan semua bukti yang diberikan pria beristri itu. Hingga memeriksa Dean dengan cara seperti ini. "Agh ma, belum tentu Dean yang melakukannya, bukan? Bisa jadi ini hanya satu kesalahan yang tanpa disengaja."
Hanya anggukan yang Tina berikan, karena ia mengetahui bahwa sang putri masih berharap pada pria beristri yang pernah menjadi kekasih masa sekolah.
Mobil berlalu begitu cepat menuju gedung perkantoran milik Anderson. Miranda menghela nafas panjang, ketika melirik jam yang melingkar ditangan kanannya, bergumam dalam hati, "Agh, sudah jam enam saja. Aku ketemu Beny dulu, habis itu pulang ke apartemen ..."
Ketika mobil SUV milik Anderson terparkir di loby perkantoran, tampak sang papa dan Dean telah menunggu di sana.
Miranda kaget bukan main, karena Anderson meminta putrinya untuk membawa Dean ke apartemen milik perusahaan yang bersebelahan dengan tempat tinggalnya.
Kembali Anderson menegaskan kepada sang putri dihadapan Dean, "Papa akan berangkat besok pagi ke Singapura. Ingat pesan papa, jangan berpikir aneh-aneh untuk berkarir di badan narkotika. Kamu harus fokus mengembangkan perusahaan kita, kamu mengerti!"
Wajah cantik itu kembali menekuk, ia menoleh kearah Beny yang berjalan mendekatinya, hanya menjawab singkat, "Iya pa."
Tina memberikan semua belanjaan Miranda, kemudian mengucapkan perpisahan pada sang putri, "Kalau kamu free malam ini, datang saja ke hotel, ya? Mama masih rindu sama kamu," serunya sebelum pintu mobil mewah itu tertutup rapat.
Hanya anggukan dan lambaian tangan yang Miranda berikan kepada kedua orangtuanya, kemudian menoleh kearah Dean yang tengah berbincang dengan Beny.
Beny bertanya pada Dean, sambil melirik kearah Miranda, "Mau berangkat sekarang, Pak Dean? Kebetulan saya mau mengantarkan putri kesayangan ibu suri pulang."
Miranda menggeleng, "Biar gue aja sama bapak ini, bro. Gue mau makan dulu, tadi enggak sempat makan. Gue pake mobil lo, ya? Mobil gue dibawa gitaris, jadi aja gue kayak anak jalanan," tuturnya dengan wajah semakin sendu.
Janda cantik yang terbiasa ceria, kini tampak seperti tengah merahasiakan sesuatu darinya. Gegas Beny memberikan kunci mobil miliknya, kemudian bertanya sedikit pelan, "Lo baik-baik saja, kan nyet, atau lo lagi datang bulan?"
Miranda hanya menggeleng, kemudian berjalan pelan menuju parkiran. Akan tetapi kembali berbalik seraya berseru, "Eh, lo ikut aja deh, Ben. Gue lagi malas nyetir, lagi mumet otak gue!"
dan Dean saling menatap, akan demikian pria beristri itu lebih memilih diam, memberikan ruang pada Beny untuk mengendarai kendaraannya.
Dean bergumam dalam hati, "Kenapa Miranda? Apakah Adrian menyakiti hatinya ...?"
Sementara dibenak Beny hanya menerka-nerka, "Tumben ni bocah enggak semangat. Padahal dia berharap buat jadi istri kedua Pak Dean. Kenapa dia tiba-tiba berubah kayak ayam boiler yang terkena flu burung ...?"
__ADS_1