
Suasana kota serumpun terasa sangat bersahabat. Semua orang tengah disibukkan dengan berbagai pekerjaan mereka, tak terkecuali dengan Miranda yang tengah dipusingkan dengan semua data di ruangannya.
Semenjak Dean dapat memberikan sesuatu yang sangat membahagiakan sebagai seorang wanita dewasa berstatus istri. Miranda tampak lebih bersemangat dan semakin terlihat berseri-seri walau harus menjadi istri siri.
Akan demikian, tidak untuk Adrian yang sangat sulit mendapatkan waktu dari Miranda. "Kemana anak itu, kenapa sudah tiga hari dia tidak pernah menjawab pesan ku ...?" Ia bertanya-tanya seorang diri dan memilih untuk menemui sang kekasih hati di kantor yang cukup jauh dari hotel tempat ia menginap.
Tidak menunggu waktu lama, Adrian memarkirkan mobil yang ia sewa di depan kantor badan narkotika. Dengan dandanan ala anak band yang sangat berbeda dari penampilan orang kantoran.
"Selamat siang Pak! Mau ketemu siapa?" tanya seorang security yang mengenakan pakaian seragam coklat.
Adrian yang baru keluar dari mobilnya, langsung menoleh kearah pintu masuk kantor seraya berkata, "Hmm ... saya mau menemui Bu Miranda, apakah beliau ada di kantor?"
Security itu melihat jam tangannya, kemudian berbicara dengan nada tegas, "Maaf Pak, ini masih jam sebelas. Jadi belum bisa keluar, karena Bu Miranda sedang sibuk!"
"Oke tidak masalah, saya tunggu di sini saja!" Ujar Adrian menunjuk kursi yang ada didepan pos security.
Tidak banyak bicara, security hanya bisa tersenyum kemudian berlalu menuju pos security melanjutkan pekerjaannya.
Adrian menghubungi Miranda melalui gawainya, ia tidak melihat mobil plat dua nomor milik Monata terparkir di sana. Membuat ia sedikit penasaran melihat kearah pintu masuk yang tampak dua orang pria gagah berbalut baju dinas hilir mudik membuka pintu kaca yang terkunci secara otomatis tersebut.
[Dimana sayang? Aku nunggu didepan pos security ...]
Pesan Adrian terkirim dan langsung dibaca oleh sang kekasih.
[Wait]
Hanya pesan sesingkat itu yang dikirim Miranda, membuat Adrian mengembangkan senyuman manisnya.
Tak lama menunggu, Adrian tampak tersenyum sumringah ketika melihat sosok Miranda yang melenggang dengan tergesa-gesa mendekatinya. Wajah cantik itu tampak panik, karena tidak menyangka bahwa sang kekasih hati akan mendatanginya ke kantor badan narkotika.
"Ngapain kamu kesini, Ay? Seharusnya kamu bisa telepon aku dulu, jangan langsung datang kesini!" Geram Miranda menarik tangan Adrian tanpa alasan.
Senyuman Adrian yang sejak awal tampak semanis gula, kini sedikit mengerenyit karena mendengar pertanyaan sang kekasih. "Emang kenapa? Enggak boleh ketemu sama wanita pujaan? Sudah bisa makan siang enggak, nih?"
"Bisa! Ayo ... cepetan, nanti hmm, eee ... nanti Pak Robert keluar!" Gegas Miranda mendorong tubuh Adrian agar bergegas mengambil mobil miliknya.
Jantung Miranda tengah berpacu. Bagaimana tidak sepuluh menit lagi Dean akan datang menjemput sang istri untuk makan siang bersama dan mencari rumah seperti pembicaraan mereka beberapa hari lalu.
Beberapa pasang mata memperhatikan kemesraan Miranda dan Adrian yang tampak tergesa memasuki mobil hitam dari kejauhan sambil mendengus kesal dari balik kaca ruangannya. "Perasaan tadi pagi anak itu diantar oleh mobil Monata, kenapa siang ini dijemput mobil beda lagi ...?"
Robert masih memperhatikan kendaraan roda empat itu akan berlalu, namun pemandangan yang sangat menarik perhatiannya, membuat pria paruh baya itu tersenyum lebar. "Beng ... nakal juga kamu, Dek Miranda ...!" Ia berlalu meninggalkan ruangannya untuk mengetahui apa yang terjadi.
Pemandangan yang dilihat oleh Robert merupakan kejadian tidak terduga. Bagaimana tidak, disaat mobil hitam milik Adrian akan keluar dari gerbang utama, mobil milik Monata yang dikendarai Dean berada dihadapan mereka berdua.
Seketika wajah Miranda tampak seperti orang kebingungan, jantungnya seakan berhenti berdetak ketika mendengar pertanyaan dari Adrian. "Siapa didalam mobil Om Monata, Mir?"
Miranda tampak mengalihkan pandangan, menggigit bibir bawahnya dengan wajah ketakutan, membuat Adrian langsung keluar dari kendaraannya secepat kilat.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Adrian, ketika melihat dari kaca depan mobil sedan tersebut secara dekat, tampak wajah Dean tengah membuka kaca juga menatap kearahnya.
Gegas Adrian menunjuk kearah Miranda, dengan langkah cepat ia menghampiri sang kekasih yang ketakutan kemudian membuka pintu mobil penumpang dan tanpa basa-basi lagi menghardik keras kekasih hatinya. "Keluar kamu! Keluar!!!"
Miranda yang sudah lama tidak mendapatkan perlakuan seperti itu dari Adrian bergidik negeri dan berusaha untuk menenangkan sang kekasih hati yang menatap nyalang kearahnya. "Ay, Ayang dengar dulu!" Ia berusaha mengusap lembut dada bidang Adrian.
"Apa yang harus aku dengarkan Miranda Anderson!" Murkanya Adrian dihadapan wajah cantik Miranda.
Jika diikutkan hatinya yang menggelegak panas, ingin sekali Adrian menghajar kekasihnya tersebut.
Akan tetapi bak pahlawan berkuda tampan, Dean langsung menahan tangan Adrian yang akan memukul wajah mulus itu, seraya berkata dengan lantang, "Satu sama Adrian! Karena saat ini Miranda istriku!" Ia menyeringai kecil, membuat Adrian tampak seperti terhina oleh kebohongan Miranda selama ini.
"A-apa! Istri?" Adrian mendecih, "Jangan ngimpi kau anak setan! Bukannya kau sudah menikah dengan Tyas? Bahkan kau sudah dipecat dari Anugerah Finance! Mau kau kasih makan apa Miranda!" hardiknya mendekatkan wajah dengan tangan mengepal kuat ingin menghajar pria yang pernah menjadi sahabatnya tersebut.
Wajah Miranda justru tampak semakin panik. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa akan mendapatkan kejutan luar biasa seperti siang itu.
Cepat Miranda meleraikan kedua pria tersebut, agar tidak terjadi baku hantam. Ia menatap lekat wajah Dean sambil tersenyum tipis dengan mata berkaca-kaca, berucap pelan seraya memohon, "Please ... kita pulang sekarang. Jangan buat malu ... ini kantor suamiku!"
Akan tetapi, tangan Adrian justru meremas kuat lengan Miranda dan menggujami satu pukulan ke wajah Dean. "Jangan pernah bermimpi kau! Karena Miranda milikku, jika kau tidak ingin aku menghubungi Tyas saat ini juga!"
"BHUG!"
"Agh!" Dean terjungkal ke tanah dan mencoba berdiri untuk menarik tangan sang istri.
Akan tetapi, Adrian yang memiliki tubuh lebih tinggi dari Dean langsung menarik tangan Miranda untuk masuk kedalam mobil miliknya, "Masuk!"
"Shut up! Mau jadi apa kamu menikah dan menjadi istri kedua dari pria seperti itu, hmm!" hardik Adrian semakin berani.
Miranda menggeleng, ia menangis sejadi-jadinya, namun tak kuasa menolak ketika Adrian memaksa dirinya untuk masuk kedalam mobil.
Dengan angkuhnya Adrian menoleh kearah Dean, mengeluarkan gawai miliknya, mencari nomor telepon Tyas walau dengan tangan bergetar hebat dan rahang mengeras, "Kau antar mobil ini ke apartemen, atau aku akan menghubungi istrimu! Jangan sok mau berpoligami jika kau tidak mampu laki-laki berengsek!"
Mendengar perkataan Adrian yang seakan memojokkannya. Dean hanya menggeleng ia sama sekali tidak ingin berdebat dengan sahabatnya itu karena Adrian memiliki kedekatan dengan Tyas.
Sekali lagi Dean berkata dengan nada tegas, "Jangan pernah kau sakiti Miranda karena sampai kapanpun dia tetap menjadi istriku!"
Terdengar suara tawa Adrian yang benar-benar menghubungi Tyas diseberang sana dan sengaja mengarahkan gawai miliknya dihadapan Dean. "Tyas akan menggugat cerai kau, Dean Alexander! Hah ... ngomong dinas, tapi ternyata menikmati indahnya memiliki istri dua!" Ia tertawa terbahak-bahak kemudian berlalu begitu saja memasuki mobil sewaannya.
Benar saja, Dean tidak dapat berpikir jernih dan membiarkan mobil itu berlalu begitu saja meninggalkannya didepan mobil milik Monata yang disaksikan beberapa rekan kerja sang istri.
Tanpa pikir panjang, Dean memasuki mobil sedan berwarna silver itu, mengejar kendaraan Adrian yang membawa Miranda didalamnya tanpa menghiraukan panggilan telepon dari Tyas dan beberapa pesan yang dikirim sang istri pertama melalui pesan whatsApp.
[Apa maksudnya Miranda istri, Abang]
[Jawab Bang]
[Bisa angkat telepon aku, Dean Alexander]
__ADS_1
[Aku pikir Abang sudah berubah, ternyata sama sekali tidak pernah berubah. Aku minta cerai Dean Alexander ...]
Mobil milik Dean melaju sangat kencang, mengikuti mobil Adrian dari belakang yang menuju ke hotel tempat pria itu menginap. "Sialan anak itu, berani sekali dia membawa Miranda ke hotel! Anjiing banget kau, Dri, sejak dulu kau selalu merusak kebahagiaan aku dengan Miranda ..." umpatnya mendengus kesal.
Akan tetapi, saat mobil milik Monata tengah melaju dijalan raya yang hampir memasuki wilayah hotel. Mobil yang dikendarai Dean dihentikan oleh kendaraan kepolisian dan memberikan isyarat agar menghentikan kendaraannya.
Dengan berat hati Dean menghentikan kendaraannya seraya memukul keras stir kemudi, "Agh! Sial, sial, kenapa harus menerobos lampu merah, sih! Berengsek kau, Dri!"
***
Ditempat yang berbeda Miranda justru tampak semakin kalut. Bagaimana tidak, Adrian benar-benar menyakitinya secara fisik dengan berbagai macam pukulan yang diarahkan oleh pria arogan itu kepada sang kekasih.
Entah berapa kali Miranda menerima tamparan serta kekerasan lainnya yang membuat ia hanya terus menangis.
"Jawab aku, Mir! Sudah berapa kali kamu tidur dengan Dean, hah?" hardiknya, membuat Miranda hanya bisa memeluk tubuhnya sendiri, dengan raut wajah ketakutan.
"Ogh, kau masih belum mau bicara, hmm!" Adrian mengambil gesper kulitnya untuk menghajar sang kekasih membuat Miranda bertekuk lutut dikaki pria itu.
"Maafkan aku, Dri. Dari dulu hingga saat ini aku masih mencintai Dean ..." tangis Miranda menggema dikamar hotel yang disewa oleh perusahaan selama konser.
Mendengar pengakuan Miranda yang masih mencintai Dean, sontak membuat pria gagah itu terdiam tak bergeming. Hati Adrian terasa sangat sakit karena pengakuan sang kekasih yang belum dapat melupakan Dean.
Adrian mengalihkan pandangannya kearah lain, merasakan tangan lembut seorang Miranda masih bersimpuh dikakinya. Dengan senyuman sinis yang menguar diujung bibirnya membuat ia harus mengikuti permainan sang kekasih.
"Jadi, sudah berapa lama pernikahan kau dengan Dean?"
Miranda masih menangis, ia tidak mampu untuk berkata-kata lagi, karena tubuhnya merasakan sakit yang sangat luar biasa.
Sifat Adrian yang selalu ingin menang sendiri sejak dulu, membuat pria itu justru membentak Miranda dengan sangat keras, "JAWAB Mir! Sudah berapa lama pernikahan mu dengan Dean!"
Miranda yang tampak ketakutan langsung menjawab pertanyaan Adrian dengan terbata-bata, "Em-em-empat bulan, Dri."
"Anjiing kau, Mir!" Adrian menendang kakinya yang masih dipegang oleh Miranda, membuat tubuh wanita itu terjerembab dilantai kamar.
Miranda menangis histeris, ia sama sekali tidak menyangka bahwa Adrian masih sama seperti dulu jika kecewa akan sikapnya. "Lebih baik kamu pergi tinggalkan aku sendiri, jangan sakiti aku seperti ini, Adrian!"
Seringai mengejek menguar dari ujung bibir Adrian dengan wajah penuh dendam. "Pergi? Terus aku menyerahkan mu dengan laki-laki beristri seperti itu? Hah?" Ia tertawa kecil sambil menarik keras rambut panjang Miranda, kemudian mendongakkan wajah cantik itu agar mau menatapnya.
"Aku menyakiti mu seperti ini, karena sejak kita tinggal bersama, tapi kau selalu memikirkan perasaan Dean. Saat ini kau masih melakukan hal yang sangat memalukan sehingga mau menjadi istri simpanan seorang Dean?" geramnya, masih meremas kuat rambut Miranda.
Bersusah payah Miranda melepaskan cengkraman tangan Adrian dan akhirnya berhasil ia lepaskan, kemudian meraih tas miliknya yang berserakan dilantai, untuk segera kabur dari hotel bintang lima tersebut.
Adrian mengejar Miranda yang telah berhasil meraih kenop pintu, namun ditahan oleh pria bertato tersebut. Akan tetapi dengan cepat Miranda meraih apa saja yang ada didekatnya untuk bisa terlepas dari cengkraman sang kekasih.
"Lepaskan aku, Adrian! Aku tidak ingin melihatmu lagi!" teriak Miranda dengan sekuat tenaga sambil memukulkan sesuatu di kepala Adrian.
"Agh, Mir!"
__ADS_1