
Senyuman manis nan bahagia, terpancar jelas disudut bibir Miranda sebagai seorang istri sempurna ketika sarapan bersama Dean dan Marisa. Tanpa sungkan Miranda menyuapkan sang suami dihadapan Marisa sebagai isyarat bahwa pernikahan mereka berdua sangat bahagia.
Melihat kebahagiaan keponakan suami tercinta, Marisa tersenyum lebar sambil memberikan minuman hangat pada Miranda seraya bertanya, "Tadi malam pulang jam berapa, Mir? Om Anas dan dua karyawan Multy Strada kesini. Mereka nungguin kamu lama banget, lain kali kalau pergi-pergi itu kasih tahu, dong." Ia sengaja menyindir dihadapan Dean, karena tidak menyukai sifat pria itu akan masalah yang menimpa Miranda beberapa waktu lalu.
Senyuman Miranda seketika berubah menjadi sedikit garing. Ia hanya mengangguk kemudian tersenyum tipis melirik kearah Dean dengan sikap salah tingkah. "I-i-iya Tante, aku kelupaan ngasih kabar emang. Karena makan malam di rumah kakaknya Dean daerah limbungan." Ia menyeringai kecil, kemudian berkata lagi, "Oya Tante, hari ini aku mungkin hari ini aku ada dinas luar kota sama Bang Robert. Jadi mungkin pulang lusa, karena baru mendapatkan kabar tadi pagi."
Marisa menautkan kedua alisnya sambil mengalihkan pandangannya kearah travel bag mini milik Miranda, begitu juga dengan Dean yang tampak kebingungan karena belum mengetahui kegiatan sang istri.
"Kamu mau kemana memangnya, Mir?" Keduanya bertanya serempak dan langsung saling menatap, kemudian tertawa agar tidak terasa kaku.
Dengan santainya Miranda menjawab pertanyaan Marisa dan Dean, "Ada sosialisasi di kota madya. Tadi Nora yang kasih informasinya pas Daddy lagi mandi." Tangannya mengusap lembut pipi Dean, membuat Marisa semakin kebingungan.
"Daddy? Ma-ma-maksud kamu, kenapa harus memanggil Daddy, Mir?" Marisa semakin ingin tahu, karena tidak pernah mendengar Miranda memanggil Dean dengan sebutan 'Daddy'.
Dengan penuh percaya diri, Miranda mengusap lembut perutnya dan langsung mengatakan dengan tatapan mata berbinar-binar tentang kehamilannya. "Aku hamil, Tante Marisa." Ia meletakkan jari telunjuknya di bibir seraya berseru dengan nada manja, "Jangan kasih tahu sama Om Monata dan Om Anas dulu, karena nanti bisa heboh dunia silat Papa dan Mama."
Kedua bola mata Marisa membulat sempurna. Sejujurnya ia sangat bahagia mendengar tentang kehamilan sang keponakan, akan tetapi sedikit ragu ketika bersitatap langsung dengan Dean yang tersenyum simpul seraya mengusap-usap lembut punggung sang istri tercinta. "Ka-ka-kamu serius Miranda? Bagaimana jika Om Monata tahu atau justru terjadi sesuatu di perjalanan dinas kamu, hmm?"
Hanya helaan nafas dalam yang terlihat dari Miranda dan langsung menyandarkan kepalanya dipundak sang pria pujaannya, "Hmm ... kalau kenapa-kenapa pastinya ada Tante yang bisa jemput aku ke Dumai, kan? Aku hanya dinas dua hari dan lusa sudah tiba disini lagi. Mungkin Sayang aku ini akan menginap di rumah keluarganya, Tan!" Ia menjelaskan semua rencananya dihadapan Marisa.
Tentu saja, Marisa hanya menaikkan kedua bahunya, karena tidak tahu mau menjawab bagaimana yang merasa bangga pada kejujuran Miranda saat ini. "Ya sudah, kamu jaga kesehatan, besok lusa biar Tante yang anterin kamu periksa kehamilan di rumah bersalin ibu dan anak, kita ketemu sama Om Haris yang dulu sahabatnya Om kamu yang jelek itu." Ia mencebikkan bibirnya menunjukkan rasa kesal kepada sahabat sang suami.
__ADS_1
Melihat Marisa seperti ada masalah dengan Monata, Miranda hanya tertawa mengejek seraya bertanya, "Emang Om Haris kenapa sih, Tan? Kok dibilang jelek?"
Dengan penuh semangat Marisa mengatakan, "Hmm ... biar Om Haris saja yang cerita sama kamu, kalau kita sudah bertemu. Yang penting dia itu dokter menyebalkan!"
Miranda hanya tertawa kecil seraya menggelengkan kepalanya dan menoleh kearah Dean yang masih mendengarkan dua insan itu bercerita. "Sayang, kita jalan sekarang?"
Gegas Dean membawakan semua kebutuhan pekerjaan Miranda, dari tas laptop milik sang istri dan tas wanita berwarna peach yang pria itu sendiri sangat mengetahui berapa harga tas wanita tersebut.
"Becareful Darl!" Marisa berseru, ketika melihat mobil sedan itu berlalu meninggalkan kediamannya.
Perlahan Marisa mengusap lembut dadanya sendiri, menghela nafas berat karena tidak menyangka bahwa keponakan sang suami akan merasa bangga untuk menjadi seorang istri siri daripada menjadi wanita satu-satunya. "Mira, Mira ... apa yang kamu pikirkan sehingga berbuat seperti ini. Tapi bener juga kata Uda, daripada ditiduri tidak dinikahi, lebih baik menjadi kedua tapi prioritas tanpa mengganggu ketenangan istri pertama Dean ..." Ia melangkah masuk ke dalam rumah, untuk melakukan kegiatannya sebagai Ibu Bayangkari.
Cukup lama Marisa melakukan ritualnya didalam rumah dengan berbagai kegiatan yoga, serta berbincang ringan dengan para sahabat sosialitanya juga menghubungi sang suami yang akan menjemputnya beberapa jam lagi.
Mendengar cerita sang istri diseberang sana, sontak membuat Monata kaget bukan kepalang. Ia terbatuk-batuk, merasa tidak nyaman ketika mendengarkan cerita Marisa.
[Kamu serius, Miranda hamil? Hmm ... kita harus memberitahu berita bahagia ini kepada Ibu Suri. Bagaimanapun, ini cucu pertama mereka dan akan menjadi kebanggaan bagi Keluarga Anderson ... Alhamdulillah ya Allah ...]
Berkali-kali Monata berucap syukur akan kabar kehamilan sang keponakan, membuat ia langsung mengakhiri panggilan telepon dengan istrinya untuk memberi kabar gembira itu kepada Anas juga keluarga besar mereka.
Ada kelegaan dalam hati Monata sebagai orang yang paling berjasa bagi masa depan Miranda, ketika mendengar kabar kehamilan tersebut. Ia sangat memahami bagaimana perasaan keluarga sang abang yang menolak pernikahan putri kesayangan mereka, namun masih memberikan semua fasilitas yang cukup kepada wanita pewaris tahta tersebut.
__ADS_1
[Apa, Miranda mengandung? Sudah berapa kali saya katakan kepadamu, jangan sampai anak itu hamil dulu, Mar. Karena kondisi dia itu masih menjadi yang kedua! Bagaimana jika mantan suami Miranda mendengar kabar ini? Keluarga Boni pasti tertawa bahagia, sementara saat ini dia menjadi pengusaha sukses nan kaya raya dengan judi online yang dimilikinya! Agh ... anak itu terlalu ceroboh ...]
Wanita yang selalu tampak muda itu, menolak kabar kehamilan putri kesayangannya, karena tidak ingin menjadi bahan fitnahan di dunia bisnis mereka atas kabar yang diberikan Marisa.
Mendengar celotehan Tina diseberang sana, Marisa hanya tertawa kecil seraya menjelaskan dan terdengar lebih membela Miranda.
[Rejeki tidak boleh di tolak, Kak. Bagaimanapun aku lihat Mira dan Dean tampak bahagia.]
Gegas Tina menjawab penuturan Marisa dengan kata-kata yang sedikit berbeda.
[Saya menikahkannya dengan Dean, karena ingin memberi pelajaran pada Mira, Marisa, bukan untuk mendengar kabar kehamilannya. Bagaimanapun, posisi Miranda itu tidak kuat sebagai yang kedua! Hak apa yang akan dia dapatkan, jika Dean menceraikannya. Terkadang Mira sama sekali tidak memikirkan dampaknya. Justru dengan bangganya dia membeli rumah milik Haris dan baru saya lunasi. Kamu bayangkan, mau jadi apa anak itu!]
Marisa hanya menghela nafas berat mendengar ucapan sang kakak ipar diseberang sana. Membuat ia hanya mengurut dada karena merasa kasihan pada Dean yang ternyata tidak pernah dianggap oleh Keluarga Anderson.
[Hmm ... coba nanti aku bicara sama Miranda ya, Kak? Kalau jadi berangkat lusa ke sini, kabari saja. Biar saya persiapkan kamar untuk Kakak dan Abang ...]
[Ya, palingan lusa saya akan berangkat, karena kita ada acara kantor. Sekaligus saya mau bicara dengan laki-laki bajingan itu. Apa yang dia kasih pada putriku, sehingga Miranda bangga sekali menjadi istri siri anak itu ...]
Setelah meletakkan gawainya diatas meja rias kamarnya, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar yang memanggil majikannya. "Nyonya ... ada tamu!"
"Siapa Bik?" Marisa berseru dan langsung membuka pintu kamar nan mewah.
__ADS_1
"Enggak tahu, Nya. Dua orang, laki sama perempuan. Dia nanya Non Miranda!"
Kening Marisa menaut tiga belas, darahnya mendesir ketika mengingat istri pertama dari Dean, "Apakah istri anak itu datang untuk mencari Miranda ...? Sial!"