
Ruangan Robert sangat terasa sangat hangat. Miranda masih tampak terdiam, tanpa mau banyak bicara dan sesekali mencuri pandang kearah Renita juga putri kecil yang sangat bijak dalam bertutur kata. Sesekali tangan lembut itu mengusap wajahnya sendiri seraya menggeleng pelan. "Apa yang telah aku lakukan. Apakah jika aku berhenti dari sini dan kembali ke Singapura akan merubah kehidupan ku ...?"
Miranda merebahkan tubuhnya disandaran sofa sambil berpangku tangan dan mengalihkan wajah cantik itu menatap kearah jendela ruangan Robert. "Ogh ... aku sangat merindukan Heru yang tidak pernah memiliki drama apapun dalam hidupnya. Selama tiga tahun aku menghabiskan waktuku bersama Adrian, lagi-lagi anak itu membohongi aku. Ternyata Heru tidak pernah berbohong, justru Adrian lah yang sengaja menghancurkan masa depanku ..." Ia mengumpat dalam kekesalan hati yang penuh perasaan kecewa.
Masa remaja Miranda yang sudah berlalu meninggalkan sepenggal kisah luka tak pernah ada akhir. Ia kembali dihadapkan dengan masa lalu sangat membingungkan juga menyakitkan.
"Kita sambut, malam perpisahan dengan penuh bahagia dengan band kakak kelas kita yang biasa disapa artis papan atas Didi Riyadi atau Adrian!"
Suara riuh tepuk tangan adik kelas menyambut musisi terbaik sekolah elite Singapura itu dengan penuh suka cita dalam menikmati syair lagu yang dibawakan oleh sang vokalis. Kekaguman Miranda pada sosok Adrian terlihat sangat jelas. Ditambah ia telah dekat dengan pria yang berada diatas panggung tersebut selama dua bulan setelah menghabiskan malam pertama mereka.
Begitu indah, penampilan Adrian mampu membius beberapa pasang mata kaum Hawa yang sangat mengagumi sosok Adrian masa itu. Tidak banyak yang mengetahui hubungan sang gitaris dengan anak semata wayang Anderson karena Miranda masih mengejar cintanya, Dean.
Setelah malam perpisahan itu, Adrian memilih terbang ke kota kembang untuk melanjutkan kuliah juga karirnya dan meninggalkan Miranda dalam kesedihan.
Tangan Adrian masih mendekap erat tubuh Miranda, ketika wanita itu mengantarkan sang kekasih ke bandara setelah mendapatkan hasil yang sangat memuaskan untuk kelulusannya. "Kamu jaga diri, ya? Jangan lupa ... terus kabari aku, aku sangat mencintaimu, Mir. Aku akan selalu merindukan mu."
Hanya anggukan pelan yang Miranda berikan, ketika merasakan dekapan hangat yang tak lagi terasa. "Hati-hati, jangan lupa untuk memberikan kabar sama aku."
Adrian mengangguk, kemudian mengalihkan pandangannya menuju pintu keberangkatan, meninggalkan Miranda setelah merebut kehormatan gadis belia berusia 17 tahun tersebut. Tidak ada yang berubah, Miranda hanya melupakan sosok Adrian dalam sesaat karena masih mengharapkan Dean untuk menjadi kekasihnya.
Entah dari mana, Adrian selalu mendengar selentingan kabar tentang kedekatan sang kekasih selama mereka menjalani hubungan long distance.
[Yang benar Bro? Miranda ngejar-ngejar Dean, masih punya nyali anak itu? Kan sudah gue bilang waktu itu sama Dean bahwa Miranda sudah tidak perawan lagi ...]
Tawanya menyeringai kecil, ketika mendapatkan telepon dari salah satu sahabat sekolahnya, Joni.
[Ya ... begitulah. Kayaknya lo harus tinggal bareng sama Miranda. Gue dengar mereka akan kuliah bersama di Jogja, tapi enggak tahu juga. Namanya juga anak manja, coba saja lo cari tahu dari cewek lo ...]
__ADS_1
Ketika Adrian mengakhiri panggilan teleponnya dengan adik kelasnya yang merupakan sepupunya. Seketika itu pula ia kedatangan wanita cantik Renita yang sudah mulai dekat dengannya.
Gadis berparas ayu yang merupakan pendatang dari seberang Riau. Renita mengambil jurusan kedokteran universitas ternama kota kembang karena mendapatkan beasiswa kala itu. Kedekatan Adrian dan Renita semakin terlihat intens karena jarak yang memisahkannya dengan sang kekasih Miranda.
"Hai ... kok kamu tahu aku tinggal disini?" Adrian berdiri dari duduknya, kemudian mendekati Renita dan membawa gadis itu ke kamarnya.
Tawa Renita yang tampak sangat manis semanis gula, membuat Adrian berpikir untuk memiliki kekasih lain selain Miranda. "Hmm ... tidak ada salahnya aku menjalin relationship dengan gadis ini. Toh, dia sangat menyukai aku ... kalau tidak suka, mana mungkin anak kedokteran akan mendekati musisi yang masih belum jelas seperti aku ..."
Tanpa sungkan, Renita hanya tertawa kecil, sambil duduk dibibir kasur yang terletak dilantai kamar empat kali lima tersebut. "Ya tahu, dong. Kamu kan terkenal di kampus ku, apalagi saat kamu dan band kamu manggung di cafe kintamani membawakan top fourty. Coba deh, bawa lagu-lagu baru. Pasti seru!" Tuturnya membuka plastik yang ia bawa untuk makan siang Adrian.
Siapa yang tidak merasa gembira, melihat gadis cantik, pintar bahkan sangat sopan memberikan perhatian kepada Adrian yang masih belum mendapatkan jati dirinya kala itu.
Keduanya semakin dekat, membuat Renita meminta kepada Adrian untuk menikahinya secara agama, sebelum khilaf dalam perilaku yang jauh dari kata sopan. Pria gagah yang telah mengukir tangan kirinya dengan lukisan tatto yang sangat mengejutkan calon dokter tersebut.
Adrian tengah menikmati indahnya cinta gadis sebaik Renita seraya melumaat bibir tak begitu tipis itu penuh hasrat dan kerinduan setelah dua minggu tidak bertemu. "Tenang sayang ... aku akan menikahi kamu, jikalau kamu membuktikan bahwa kamu sangat mencintai aku dan tidak akan pernah meninggalkan aku."
Bersusah payah Renita untuk menolak sentuhan Adrian yang seolah-olah memaksanya, membuat gadis itu kembali mengelak lagi, "Jawab aku, sejak kapan kamu tatto-an begini Adrian! Kamu tidak berpikir bahwa langkah kamu masih panjang, hmmhh ..."
Siapa yang tidak akan terlena dengan indahnya janji seorang pria muda dikala nafsu mulai memburu menuntut hak sebagai pasangan kekasih yang baru menjalani dunia percintaan selama enam bulan. Akan tetapi, penolakan Renita kala itu, membuat Adrian merasa kecewa akan sikap sang calon dokter tersebut.
"Kamu sok jual mahal! Dengar ya, Ren, aku akan mendapatkan semua keinginanku dan kamu akan menyesal telah menolak aku saat ini!" hardiknya ketika melihat Renita berlalu meninggalkan kamar kosnya.
Hingga akhirnya, Adrian dapat leluasa untuk membujuk Miranda untuk tinggal bersamanya di kota kembang, demi membalaskan sakit hatinya kepada Renita yang menolaknya beberapa waktu lalu.
Keduanya sama-sama tinggal disalah satu rumah kos yang tidak jauh dari kampus Miranda, sesuai pilihan Adrian sebagai pria yang selalu memperlakukan gadis belia itu dengan berbagai macam drama yang diciptakannya. Tidak ada yang menyangka bahwa Adrian akan menyakiti Miranda secara fisik untuk pertama kalinya, ketika mendapatkan surat cinta dari Dean yang wanita itu bawa ketika lulus sekolah menengah atas.
"Jawab aku, berarti kalian masih sering menghabiskan waktu bersama, hah? Jawab aku, Miranda!" Hardik Adrian melemparkan satu botol air mineral di wajah Miranda.
__ADS_1
"Itu hanya surat, Dri ... surat perpisahan ka-ka-kami ..." Menerima perlakuan kasar dari Adrian, Miranda menangis sejadi-jadinya karena tidak harus berkata apa lagi. Membuat seluruh penghuni kos, berhamburan mendekati kamar gadis muda yang tertutup rapat tersebut.
BRAK!
Gegas Heru membuka pintu kamar yang terkunci dari dalam, dengan satu tendangan kemudian menghajar Adrian tanpa ampun.
Suasana semakin tidak kondusif, ketika Heru melihat wajah Miranda yang terluka karena perbuatan Adrian untuk pertama kalinya. "Bangsat lo, musisi bajingan tidak tahu diri! Lo tahu siapa gadis yang lo hajar ini, hah!" teriaknya kembali menghajar wajah pria yang masih berusaha membela diri.
Beberapa gadis yang tinggal dirumah kos tersebut, membawa Miranda keluar dari kamar itu atas perintah Heru. Sementara laki-laki yang tampak urakan itu masih menghajar Adrian tanpa ampun.
BHUG!
"Agh!" Erangan Adrian kembali terdengar, membuat Heru semakin menggila untuk memberikan pelajaran kepada gitaris arogan tersebut.
"Bangsat lo, beraninya sama cewek! Cepat lawan gue, anjing!" Heru menyeret tubuh Adrian dengan sangat kasar hingga terjerembab dilantai kamar nan mewah itu, membuat pria tersebut semakin tidak bisa berbuat apa-apa.
Semenjak kejadian itu, Heru mengakhiri hubungan Miranda dengan Adrian, agar wanita cantik tersebut tidak pernah bertemu kembali dengan sang gitaris. Namun tidaklah mudah bagi pria yang memiliki hoby sebagai fotografer tersebut memisahkan wanita cantik itu dari para pria yang ingin memanfaatkannya sebagai wanita kaya nan manja.
Pikiran Heru, ketika Miranda berpisah dari Adrian akan melabuhkan cintanya pada dirinya sebagai pahlawan masa itu. Ternyata ia kehilangan Miranda yang lebih memilih terbang ke Jogjakarta untuk menemui Dean Alexander pria pujaannya.
"Kemana Miranda, Tya?" tanya Heru pada satu gadis pendatang dari Lampung yang sudah mulai dekat dengannya karena mereka kuliah satu kampus.
"Hmm ... tadi malam Miranda dapat telepon dari Jogja, nah ... gue enggak tahu anak itu ngapain kesana. Mungkin nyusul cinta lamanya kali. Lo kayak enggak tahu aja, kebiasaan anak orang kaya. Kalau suka, ya ... justru pergi saja. Tanpa menghiraukan perasaan lo yang mati-matian mau melakukan apa saja!" Ejek Tya seraya mematik rokok putih yang ia ambil dari tangan Heru.
Kembali Heru menghela nafas berat, sambil tersenyum lirih, "Kapan gue dapat ya, Ti? Gue suka, tapi malah anak itu pergi-pergi mulu. Gimana caranya gue deketin Miranda, ya?"
Tya justru tertawa cekikikan, mendengar celotehan Heru yang sangat menyedihkan, "Lo kuat-kuatin tuh ... nyali lo, biar enggak sakit hati sama cewek manja itu. Tunggu aja, kalau jodoh tidak akan kemana, kok!"
__ADS_1
"Jodoh lo bilang, sudah babak belur ... baru nyampe ke tangan gue, gitu? Sedih amat nasib gue, Tya!" geram Heru meremas kuat lengan gadis itu dengan sangat kuat.
"Njiiir ... derita lo lah! Atau lo jedotin tuh, kepala si anak manja ke dinding, biar dia bisa melihat siapa yang benar-benar tulus sama dia!"