Dicerai Karena Binal

Dicerai Karena Binal
Lupa memeriksa kondisi saat ini


__ADS_3

Jodoh, rezeki, maut, semua itu sudah dituliskan dalam takdir yang manjadi ketetapan Tuhan. Sangat berbeda rasanya jika Miranda tidak ingin merubah takdir hidupnya, untuk berjuang menjadi lebih baik selain menjadi istri kedua dari Dean Alexander. Cinta masa sekolah, cinta masa lalu yang akhirnya melumpuhkan kekuatan sakral pria beranak satu itu dengan Tyas.


Wanita yang selalu setia mengharapkan cintanya kepada Dean agar terbalas, tanpa adanya campur tangan dari Miranda sang janda gatal yang selalu berusaha untuk memisahkan pernikahan mereka.


[Bang ... aku minta cerai! Aku tidak mau kamu menghabiskan waktu bersama Miranda. Dia bisa mendapatkan apapun dari Pak Anderson, tapi tidak untuk memiliki kamu, Bang. Aku mencintaimu juga anak kita, Zian ...]


Tangis Tyas pecah diseberang sana, ketika menghubungi suami tercintanya.


[Sayang, aku mohon ... jangan memberikan aku pilihan yang sulit. Ini tentang perasaan Miranda yang harus aku jaga, Tyas. Kamu tahu sendiri aku, ternyata perusahaan tempat aku bekerja ini merupakan saham dari Anugerah Finance. Aku tidak ingin berdebat denganmu tentang Miranda, karena maaf ... aku juga masih mencintai dia]


Hati wanita mana yang tidak akan mendidih seketika, saat mendengar kejujuran suami tercinta dari jarak jauh yang masih mencintai masa lalunya. Masa lalu yang dianggap Tyas hanya menjadi perusak dalam hubungan pernikahannya bersama Dean.


[A-apa? Apa aku tidak salah dengar bahwa kamu mencintai Miranda, Dean ...]


Terdengar suara helaan nafas Tyas diseberang sana semakin terasa sangat sesak. Secara jarak mereka cukup jauh untuk menyelesaikan semua permasalahan yang semakin lama, semakin membuat kepalanya berdenyut bahkan jantungnya bisa saja berhenti berdetak.


[Dengar Bang, jika memang Miranda cinta sejati Abang ... silahkan, silahkan pergi! Kejar Miranda Anderson dan aku akan menggugat cerai kamu ...]


[What, ka-ka-kamu gila mau gugat cerai aku? Bukannya kamu tahu aku sangat mencintai anak kita! Please Tyas ... beri aku waktu untuk menyelesaikan semua tanggung jawabku, karena aku juga tidak ingin kehilangan pekerjaan ku lagi. Tolong mengerti aku, aku tidak ingin menjadi pengangguran karena tanggung jawab ku sebagai suami sangatlah besar]


Tak ingin berdebat lagi, Tyas mengakhiri teleponnya bersama Dean karena perasaan kecewanya yang sudah membuncah di ubun-ubun.


[Tyas, Tyas ...]

__ADS_1


Dean benar-benar kesal. Ia tidak menyangka bahwa sang istri akan kembali menuntut banyak atas kesalahan yang telah dilakukannya. Susah payah ia mengontrol emosinya, hanya karena tidak ingin mengikuti semua keinginan Tyas yang ingin menggugatnya.


"Mana bisa, aparatur menggugat cerai semudah itu. Apa dia tidak mikir apa, Zian juga butuh biaya yang cukup besar," tuturnya meletakkan gawai pipih itu diatas meja kerjanya.


Kedua tangan Dean meremas kuat rambutnya. Beberapa kali ia merutuki kebodohan Tyas yang ingin menceraikannya, tanpa memikirkan bagaimana anak mereka berdua. "Kamu itu terlalu kaku, Tyas! Seharusnya kamu sebagai istri itu merasa bangga jika suamimu dicintai oleh wanita kaya. Miranda itu sangat mencintai aku, Tyas. Dia tidak akan pernah melepaskan aku ..."


***


Cafe nan sejuk disalah satu pusat kota yang terletak di gedung pustaka pemerintahan, membuat Heru hanya tersenyum tipis ketika menatap wanita cantik itu melenggang mendekatinya. Miranda Anderson, yang sangat ia cintai dalam diam, semakin memiliki pesona karena melihat tubuh indah itu semakin tampak berisi.


Miranda mendekati Heru yang langsung mendekap tubuhnya ketika wanita cantik itu menyapanya.


"Hai Dear ... I love you!"


Helaan nafas Heru semakin berat. Perasaannya kembali bercampur dengan rasa rindu yang selama ini terpendam untuk Miranda. Sosok wanita cantik yang selalu diharapkannya untuk menjadi pendamping hidupnya suatu saat nanti.


"Sudah lama? Kenapa lo tidak memesan makanan?" Miranda melambaikan tangannya kepada salah satu waiters yang masih berdiri tidak jauh dari tempat mereka duduk.


Kembali Heru mengikat rambut ikalnya seraya menjawab pertanyaan Miranda dengan senyuman manis yang sangat menyenangkan. "Gue nungguin lo. Karena siang ini gue pengen makan bareng sama lo!"


Miranda hanya tersenyum manis, membuat Heru semakin menggila akan pesona sahabatnya tersebut. "Ngaco lo!" Ia menghela nafas berat, kemudian memesan beberapa makanan juga cemilan untuk dirinya juga Heru. "Ngomong deh! Ngapain lo kesini? Kalau kesini cuma mau minta waktu untuk menghabiskan malam bersama, mohon maaf. Gue sudah tobat, karena saat ini gue menjadi istri Dean. Jadi yah ... gue harus berusaha menyelamatkan pernikahan gue!" tuturnya tanpa dosa.


Mendengar penjelasan dari Miranda seperti itu, Heru hanya menggeleng kemudian menyandarkan tubuhnya disandaran kursi restoran dan kembali meminta kejelasan. "Jadi lo pindah dari Jakarta, hanya untuk sekedar menjadi istri kedua? Tega lo, ya? Mendingan lo sama gue atau balik sama suami pertama, deh, buat malu aja! Lo nikah sama suami orang yang sudah memiliki anak. Apa tidak ada pilihan lain, Mir. Please ... gue cinta sama lo, gue enggak mau lihat lo seperti ini, Mira!"

__ADS_1


Miranda tampak kesal mendengar celotehan Heru yang sangat memojokkannya sebagai seorang wanita. Keningnya mengerenyit, kedua alisnya turun naik, kemudian bertanya dengan nada datar, "Emang kalau gue jadi istri kedua, apa itu salah? Toh gue hanya pengen status doang, kok!" sesalnya mendengkus.


"Ck ... apa lo lupa kalau pria itu punya anak sama istrinya Mira! Kita ini ada darah Sumatra. Lo bukan di Singapura, dengan bangganya menjadi istri simpanan seorang CEO. Lo ini anak Anderson dan Ibu Suri, toh gue masih single dan masih berharap sama lo!" Lagi-lagi Heru masih membanting harga dirinya dihadapan Miranda, agar wanita cantik itu mengakhiri permainan gilanya sebagai seorang istri kedua.


Mendengar celotehan Heru, Miranda justru tertawa cekikikan. Ia tidak menyangka bahwa pria gondrong, bertatto itu masih mengharapkannya. "Gue bahagia, Ru!" Cepat ia mengalihkan perhatian kearah lain, karena tidak ingin memperlihatkan rasa kecewanya terhadap Dean Alexander sebagai suami.


Tawa mengejek Heru terlihat sangat jelas, ketika mendengar kalimat 'bahagia' keluar dari bibir partner ranjangnya. "Are you sure? Kamu bahagia, hmm?" Ia mengusap lembut punggung tangan Miranda dan langsung mengecupnya. "Aku tahu bahwa kamu menyimpan rahasia, Sayang. Kita bersama itu walau hanya enam bulan, tapi aku tahu kepuasan kamu sampai limit mana."


Wajah Miranda semakin merah padam, bibir nan merona itu tampak bergetar dan tatapan mata yang tidak seperti biasanya. "Sok tahu lo! Ingat Heru, kita ini hanya soulmate, tidak lebih! Hubungan kita hanya sekedar saja, tidak pernah ada perasaan istimewa!"


"Oya?" Heru melepaskan tangannya dari tangan Miranda seraya berkata dengan nada tegas, "Soulmate, tidak ada perasaan? Kita melakukannya dengan perasaan Miranda! Gue tahu, lo! Kalau lo memang merasa bahagia dan nyaman, lo tidak akan mungkin menemui gue ... karena gue bisa membedakan kapan lo merasa cukup dalam bercinta!"


Kedua bola mata Miranda membulat besar, ia tidak menyangka bahwa Heru benar-benar membuatnya semakin salah tingkah. Sesungguhnya ia tidak akan pernah mau menemuinya, jika kebutuhan seksualnya yang tinggi terpenuhi dengan cukup. Begitulah yang dilakukan Miranda dengan Adrian, sehingga laki-laki itu pergi dan Heru dapat menggantikan sesuatu kebahagiaan yang berbeda padanya, sebagai wanita yang memiliki gairah tingkat tinggi dalam urusan ranjang.


Dengan demikian, Miranda langsung menyeret kursinya agar semakin dekat duduk disamping Heru, "So?" Ia mengedipkan sebelah matanya dan pria itu hanya tertawa terbahak-bahak seraya mengejek.


"Lo lagi galau, ya? Gue itu tahu bagaimana lo, Mir!" Godanya sambil mendehem kemudian mendekatkan wajah mereka, "Lo gemukan, lo lagi hamil?"


Sheer ...


Darah Miranda mendesir, tampak dari raut wajahnya semakin salah tingkah dan langsung menggeleng, karena tidak ingin melanjutkan percakapan mereka. "Ighs ... apalagi sih, nih? Kayak dukun, deh!"


"Serius, gue tahu lo! Karena nyokap gue bidan, Mira!"

__ADS_1


"Aduh ... duh ... duh ... agh, kok gue lupa untuk memeriksakan kondisi saat ini. Jangan sampai gue hamil anak Adrian! Gue ... agh, sial!" umpatnya dalam hati.     


__ADS_2